Di dalam Luar Batang

JpegSudah delapan bulan lebih saya membiarkan blog ini terbengkalai. Begitupun dengan indera dan rasa saya. So I had to reconnect, somehow, with life. Common life. Akhirnya saya memilih untuk melarikan diri dengan tetap tinggal di kota. Pergi ke sebuah tempat di mana hidup tidak dibiarkan terbuang secara percuma. Seperti di Luar Batang. Jpeg Saya memilih untuk menjalani Shalat Jumat di Masjid Keramat Luar Batang. Meski hanya menginjakkan kaki sekilas di sana, saya bisa mulai memahami perjuangan yang dilakukan warga setempat untuk mempertahankan tempat tinggal mereka. It’s about existence. Apalagi jika kita melihat lingkungan Luar Batang yang terhimpit permukiman baru nan ‘modern’. Tidak heran jika mereka mencaci Ahok. Ahok, bagi mereka, adalah representasi orang-orang yang akan ‘menghabisi’ hidup mereka. In a sociological sense, of course.

Sayang saya tidak menyempatkan diri untuk ngobrol dengan warga setempat. Tapi melihat lingkungan Luar Batang yang terjepit pembangunan di luar kuasa mereka, saya kembali teringat akan apa yang penting untuk dilakukan jika kita memang memilih bekerja untuk kebenaran. I shouldn’t be complaining.

Menyoal Reputasi. Dan Pengetahuan

Akhir-akhir ini saya gemas melihat media massa (terutama cetak) yang tampak kehabisan stok artikel segar dan pemikiran baru. Sebagian besar penulis yang membagikan pemikirannya terdengar kadaluwarsa dan gagap dalam mengikuti perkembangan zaman. Masalahnya tidak terletak pada minimnya pemikir atau cendekiawan baru, melainkan pada keraguan para pemilik otoritas lama untuk menjaring penulis dan pemikir anyar. Well, setidaknya itu yang saya yakini. Saya menyederhanakan masalah ini pada minimnya reputasi yang dimiliki para penulis dan pemikir muda ini. Nah, kebetulan sekali saya menemukan artikel yang persis mengulas masalah ini: Reputasi.

Continue reading

Universities in Indonesia: Overcoming Inertia  

Spanduk Mahasiswa FISIPOL UGM

A banner at FISIPOL UGM (Credit: Author)

Indonesia’s higher education is in dire need of an overhaul. To describe the current situation as a crisis, as done by Jonathan Pincu in his article, might however be a slight exaggeration. A more thorough comprehension is needed to be able to pinpoint the roots of persisting issues.

Since the central government introduced autonomy for seven state universities at the beginning of the new Millennium, the regulatory framework of Indonesia’s higher education institutions altered. The management of state universities is now decentralized, with the promise of greater academic freedom and financial independency. Universities were allowed, and required, to seek their own funds and adapt to market mechanisms. However, over the years, failure in raising and managing funds efficiently also meant that universities were forced to raise tuition fees as a means of covering operational costs.

Established universities, particularly the Gang of Four (UI, ITB, UGM, IPB) capitalized on this newly gained autonomy by improving their marketability. These four entities have the liberty to maximize their political capital in pursuing commercial interests, often neglecting students who seem rather hapless (but often also disinterested) in resisting disempowering policies. Campaigns to become world universities were launched while at the same time, peripheral universities -a term used to describe any university based outside of Java- are having a hard time catching up with even national standards.

Continue reading

Soal Jarak Pandang

Kita semua jengah menonton acara gosip. Setidaknya, asumsi penulis adalah bahwa orang yang membuka indoprogress dan Oase sudah sedemikian melek terhadap hingga emoh menonton acara yang mengumbar privasi orang yang kita sebut dengan artis.

Akan tetapi, jengah menonton infotainment bukan berarti kita tidak suka mengikuti perkembangan hidup orang lain. Saya termasuk penggemar berita transfer pemain bola, kawan yang lain hafal dengan kebiasaan musisi indie yang gonta ganti label, sementara kawan yang lainnya lebih terbiasa lagi dengan gosip-gosip kepala daerah (konon itu keterampilan yang dia pelajari selagi menjadi konsultan Pilkada). Tapi yang rasanya paling renyah akhir-akhir ini di kalangan tertentu adalah gosip soal bagi-bagi jatah komisarasi BUMN atau ada juga yang menyebutnya Komisaris independen. Gosip ini jauh mengalahkan gosip soal kemungkinan reshuffle kabinet. Kabinet sudah tentu merupakan pertarungan politik, tetapi komisaris BUMN? Rasionalisasi apa yang bisa dilakukan atas ini? Dan yang terpenting, siapa yang menentukan pembagian kue-kue jenis baru ini? Continue reading

Mencari Pengguna Riset

Permasalahan riset di Indonesia mendesak untuk ditangani. Hal ini telah diulas dengan seksama oleh beberapa penulis sebagaimana dimuat oleh Kompas (3/08/14 dan 13/08/14). Dalam paparan tersebut, terlihat bahwa masalah yang disorot adalah minimnya kualitas serta luaran dari riset di Indonesia. Dalam eksplorasi beberapa cara perbaikan serta tahapannya, terlihat bahwa pada akhirnya, kemauan politik akan kembali menjadi penentu. Memang, seperti halnya berbagai tantangan lain di negeri ini, masalahnya kembali pada persoalan struktural dan institusional, yakni dari peran negara hingga pada desain kelembagaan untuk mengatasi isu tersebut. Ini dikaitkan dengan ihwal penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang diharapkan dapat mempermudah pengelolaan dunia riset dan mendorong kualitas pelaksanaannya. Imbas praktis yang utamanya diharapkan adalah peningkatan anggaran untuk riset yang selama ini hanya berkisar 0,08 dari total pendapatan domestik bruto (PDB) pada tahun 2013.

Continue reading

Semakin Kenal, Semakin tak Sayang

Setelah kurang lebih empat tahun tidak berkunjung, saya akhirnya kembali ke tempat di mana saya ‘dilahirkan’. Dilahirkan dalam arti belajar, mengumpulkan pengalaman dan memperoleh gelar sarjana. Ya, ke Departemen itulah saya kembali berkunjung. Dan pengalaman yang saya peroleh hanya mengkonfirmasi asumsi saya selama ini: Bahwa manusia-manusia di dalamnya kadung nyaman dan tertidur di dalam kandangnya.

Saya, yang kemudian memang hanya bisa memandang dan berkomentar dari luar, kok malah merasa iba dengan kondisi di dalam kandang itu. Tidak ada pikiran terbuka dan apresiasi terhadap dunia yang terpancar dari manusianya. Tidak ada semangat untuk membuka diri terhadap orang baru, yang notabene adalah orang lama yang telah mereka didik. Entah dengan baik atau tidak. Yang pasti, kami bertemu sebagai orang asing yang sudah saling kenal. Seperti itulah mungkin sebaiknya hubungan ini dijaga. Demi obyektifitas yang konon harus dipelihara seorang akademisi. Karena seperti itulah mereka memandang mereka.

Modul : Dari Data ke Kebijakan

Rapid Outcome Mapping Approach

Rapid Outcome Mapping Approach

Ada sebuah buku pedoman baru yang kelihatannya berguna untuk para praktisi kebijakan dan pembangunan. Judul aslinya ROMA: A guide to policy engagement and influence. Tujuannya sederhana, yakni memberi petunjuk tentang cara mempengaruhi pembuatan kebijakan dengan metode yang praktis, namun berbasis temuan atau fakta. Sangat sejalan, atau justru didorong, dengan semakin maraknya semangat evidence-based policy. Buku pedoman ini diterbitkan oleh Overseas Development Institute yang memiliki reputasi baik dalam meneliti masalah pembangunan, khususnya dalam lingkup negara berkembang. ROMA (singkatan dari Rapid Outcome Mapping Approach) kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dapat diunduh di sini.

Selamat mengaplikasikan!

Di Manakah Institut Teknologi Kalimantan?

Artikel Wikipedia untuk Institut Teknologi Kalimantan

Artikel Wikipedia untuk Institut Teknologi Kalimantan

Ada satu lagi bukti keajaiban negeri ini. Konon, beberapa hari sebelum melepas jabatannya, SBY meresmikan universitas terbesar di Asia, yakni Institut Teknologi Kalimantan. Singkat cerita, jika Institut Teknologi Kalimantan tersebut kita cari di Google, maka yang keluar adalah janji tentang sebuah universitas maha mutakhir yang akan menjadi kebanggaan Indonesia, dan Kalimantan. Waw. Sayang saja, meski mampu membebaskan lahan seluas 300ha, para pengelolanya belum mampu mendirikan sebuah situs resmi :D

Bahkan tidak ada satupun berita (atau foto) mengenai peresmian universitas tersebut.

Muungkiiin, itu cara mereka agar orang-orang yang penasaran (seperti saya) langsung datang ke bumi Borneo untuk mencari universitas yang bersangkutan.  *nyengir*

Producing Indonesia

Producing IndonesiaAda sebuah buku menarik yang entah kapan akan saya baca. Kendalanya dua: 1. Buku ini tidak mudah didapatkan karena sejauh ini baru bisa diimpor 2. Kemalasan saya untuk menyiasati waktu yang makin lama tampak makin berkurang untuk dapat menikmati bacaan yang bermutu (Ok, masalah nomor 2 ini sebenarnya masalah saya sendiri. Objectively, waktu tidak mungkin berkurang. Atau?).

Nah, lantaran dua masalah tersebut, sayangnya saya belum mampu memberi uraian ataupun ulasan lebih lanjut atas isi dan tujuan buku tersebut. Yang saya tahu, kelihatannya ia akan sangat berguna bagi siapapun yang tertarik dengan masalah produksi pengetahuan di Indonesia maupun Indonesia sebagai sebuah obyek kajian. Buku ini tidak lagi berbicara soal Indonesia sebagai fenomena, melainkan bagaimana Indonesia dibentuk sebagai sebuah ‘disiplin ilmu’ dalam kajian kewilayahan, oleh para Indonesianis. Menarik (setidaknya bagi saya).

Nah, pertanyaan pertama yang mau saya ajukan terkait buku ini adalah:  Adakah yang punya?  #Gakmodal.