Resensi: The Great Regression

Data Buku

  • Judul buku                   : The Great Regression
  • Penyunting                  : Heinrich Geiselberger
  • Penerbit                      : Suhrkamp
  • Tahun terbit                : 2017
  • Jumlah halaman         : 197 + x

Francis Fukuyama pernah memprediksi akhir dari ‘sejarah’. Baginya, berakhirnya Perang Dingin dan meningkatnya arus globalisasi, adalah pertanda bahwa peradaban dunia telah mencapai titik tertinggi dan demokrasi liberal telah menjadi mutlak. Gagasan ini ia ajukan dalam bukunya “The End of History and the Last Man” pada tahun 1992. Hari ini, atau dua puluh tujuh tahun kemudian, kita semua tahu bahwa tata kelola dunia mungkin tidak pernah sedemikian semrawut. Alih-alih semakin terkonsolidasi, tatanan dunia terlihat semakin terfragmentasi alias terpecah belah. Ada dua fenomena utama yang mencerminkan keretakan tatanan dunia: Brexit di Britania Raya dan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat. Di balik dua peristiwa ini, ada segudang fenomena lain yang mendera hampir semua masyarakat di seperti migrasi, populisme, ketimpangan ekonomi, rasisme dan gender.

Continue reading

Sudahkah Manusia Indonesia Berpikir?

Catatan: tulisan ini harusnya dipublikasikan di Indoprogress, tetapi redaksi mereka sepertinya punya pertimbangan sendiri 🙂

Tulisan ini baiknya dibaca sebagai kelanjutan artikel Pembangunan dan Kemiskinan Imajinasi, di mana penulis berargumen bahwa salah satu penyebab carut marut pembangunan Indonesia adalah ketidakmampuan membayangkan sesuatu di luar konsepsi pembangunan yang telah ada. Bahwa kemampuan mengabstraksikan masa depan Indonesia, terutama dalam sistem ekonomi, seolah terbatas pada pilihan antara kapitalisme dan sosialisme. Di sini, persoalan lebih mendasar yang hendak diangkat ke permukaan adalah masalah eurosentrisme yang membuat kita, manusia Indonesia, tampak miskin dalam mengartikulasikan angan kita akan sesuatu yang ideal. Pengetahuan tampak terbatas, tidak membuat subyek poskolonial dapat bersuara, seperti diungkapkan Gayatri Spivak. Continue reading

Wawancara dengan Prof. Google

Siapa yang tidak kenal Prof.Google? Siswa SD hingga mahasiswa doktoral memanfaatkan jasanya sebagai sumber ilmu pengetahuan di era post modern ini. Meskipun kita hampir tiap hari berhubungan dengannya, sosok sebenarnya tetaplah merupakan sebuah misteri. Wawancara ini terbilang eksklusif karena selama ini Prof. Google memang cukup tertutup dan tidak pernah memberi wawancara langsung. Berikut ini wawancara eksklusif seorang wartawan dengan Prof. Google di kediamannya di Silicon Valley.

Journalist (J) : It’s a pleasure to have you with us, Mr. Google. How is everything going?

Google (G) : Frankly, not so well…I feel a little bit exhausted lately…my therapist also told me to take some rest.

 

Continue reading