Mencari Pengguna Riset

Permasalahan riset di Indonesia mendesak untuk ditangani. Hal ini telah diulas dengan seksama oleh beberapa penulis sebagaimana dimuat oleh Kompas (3/08/14 dan 13/08/14). Dalam paparan tersebut, terlihat bahwa masalah yang disorot adalah minimnya kualitas serta luaran dari riset di Indonesia. Dalam eksplorasi beberapa cara perbaikan serta tahapannya, terlihat bahwa pada akhirnya, kemauan politik akan kembali menjadi penentu. Memang, seperti halnya berbagai tantangan lain di negeri ini, masalahnya kembali pada persoalan struktural dan institusional, yakni dari peran negara hingga pada desain kelembagaan untuk mengatasi isu tersebut. Ini dikaitkan dengan ihwal penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang diharapkan dapat mempermudah pengelolaan dunia riset dan mendorong kualitas pelaksanaannya. Imbas praktis yang utamanya diharapkan adalah peningkatan anggaran untuk riset yang selama ini hanya berkisar 0,08 dari total pendapatan domestik bruto (PDB) pada tahun 2013.

Continue reading

Modul : Dari Data ke Kebijakan

Rapid Outcome Mapping Approach

Rapid Outcome Mapping Approach

Ada sebuah buku pedoman baru yang kelihatannya berguna untuk para praktisi kebijakan dan pembangunan. Judul aslinya ROMA: A guide to policy engagement and influence. Tujuannya sederhana, yakni memberi petunjuk tentang cara mempengaruhi pembuatan kebijakan dengan metode yang praktis, namun berbasis temuan atau fakta. Sangat sejalan, atau justru didorong, dengan semakin maraknya semangat evidence-based policy. Buku pedoman ini diterbitkan oleh Overseas Development Institute yang memiliki reputasi baik dalam meneliti masalah pembangunan, khususnya dalam lingkup negara berkembang. ROMA (singkatan dari Rapid Outcome Mapping Approach) kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dapat diunduh di sini.

Selamat mengaplikasikan!

Revolusi Mental dan Pesan Mochtar Lubis

Geert-Hofstede Cultural Survey

Pendekatan kultural sebagai sebuah pisau analisis sudah lama ditanggalkan oleh ilmuwan sosial Indonesia. Menyimak perdebatan yang berkembang dalam dua sampai tiga dekade terakhir, terlihat bagaimana sebagian besar melarikan diri ke dalam perdebatan soal pembentukan diskursus (Foucaldian), tarik menarik agensi – struktur atau setia dengan mazhab marxisme dan berbagai variannya.

Di tengah dinamika yang sebenarnya tidak dinamis-dinamis amat itu, beberapa pekerjaan rumah yang dititipkan oleh Mochtar Lubis kepada kita tak kunjung tersentuh. Tahun 1977, ia berseloroh secara serius tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang menjengkelkan dan menghambat laju peradaban kita. Koentjaraningrat pun pernah membahasnya lewat buku Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.

Kala itu, pandangan kedua pemuka opini ini cukup diperhatikan, tetapi tidak ditindaklanjuti, meski menjadi catatan perjalanan bangsa yang cukup signifikan. Yang gagal dilakukan oleh Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat adalah membuktikan, atau setidaknya, mengumpulkan bukti yang cukup dengan kaidah ilmiah, yang dapat menjadi rujukan tentang karakter orang Indonesia, di kemudian hari. Continue reading

Statistik à la Hans Rosling

Hans Rosling. Sumber:http://www.ourprg.com/

Hans Rosling. Sumber: http://www.ourprg.com/

Mencerna data bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika data tersebut menyangkut populasi dunia dan angka kemiskinan global. Butuh keterampilan khusus untuk mampu menampilkannya secara menarik tanpa menghilangkan esensinya yang paling utama: memaparkan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Untuk itulah Hans Rosling dikenal dan dicari: untuk memudahkan kita dalam memahami tren kemiskinan dan kependudukan dunia. Bermula sebagai peneliti kesehatan, akademisi asal Swedia ini sekarang terkenal karena pendekatannya yang kreatif dalam menampilkan data statistik di berbagai forum global. 

Simak profilnya di Guardian dan presentasinya di TEDSelamat belajar dan terkesima 🙂

Referensi Poskolonialisme dan Pembangunan

Akhir-akhir ini saya banyak menggeluti teori poskolonial dalam kaitannya dengan kritik pembangunan. Ada kemungkinan saya akan menggunakan perspektif ini untuk seterusnya dalam membedah dan mengkritisi pembangunan di Indonesia. Tetapi itu persoalan konsistensi pemikiran.

Untuk sementara, saya mencantumkan beberapa referensi yang saya anggap berguna sebagai pisau bedah. Perlu dicatat di sini bahwa kajian poskolonial yang saya gunakan berbeda dengan kritik poskolonial dalam sastra atau teori budaya sebagaimana lazim dikenal. Di sini, secara khusus, poskolonialisme ditekankan sebagai kritik terhadap teori pembangunan Barat, yang lantas berupaya mengemansipasi subyek pembangunan di negara ‘Dunia Ketiga’. Maka, tidak semua bacaan poskolonialisme tepat sebagai referensi kritik pembangunan. Gagasan ini baiknya dilengkapi dengan gagasan post-development, yang akan memperkaya kritik tersebut dengan terapi kontra-pembangunan. Tapi tentu ini adalah daftar bacaan subyektif dari pandangan saya semata. Semoga bermanfaat! Continue reading

Post Development: Apa dan Mengapa

Pekerja proyek Gandaria City. 2011

Di Indonesia, kata dan konsepsi ‘pembangunan’ teramat keramat. Padahal, maknanya tidak pernah dimengerti, apalagi digugat. Pembangunan sebenarnya memiliki arti yang bersayap. Ia tidak semestinya dianggap berkesudahan, alias final. Sebagai sebuah kata kerja, dan aktifitas, membangun juga menyiratkan sebuah kelanjutan. Coba gunakan kata memelihara, merawat atau pun membongkar, merusak, menghancurkan, atau merubuhkan sebagai tindak lanjut membangun. Logikanya, secara konseptual, dalam risalah ‘pembangunan’, perlu ada cara pandang alternatif yang menanggapi stagnasi gagasan pembangunan.

Hal ini terlebih relevan, jika pembangunan yang kita kenal ternyata hanya membangun, tetapi tidak menghidupi. Lebih-lebih jika pembangunan hanya berlaku untuk segelintir, dan tidak sesama, apalagi semua. Di sinilah makna kata membangun perlu dibongkar, atau setidaknya ditinjau kembali.

Continue reading

A Paradox Called MP3EI

The world has gathered in Rio de Janeiro to discuss the future of mankind. Despite ending without clear results, Rio+20 revolved around the green economy as a major theme, in the context of sustainable development and poverty eradication. When delivering his speech at the conference, president Susilo Bambang Yudhoyono viewed that the current challenge is in combining “sustainable growth” with “equity”, stating that “We need to move from a ‘greed’ economy to a ‘green’ economy,”.

Indeed, twenty years after the 1992 Rio Conference, the world has gone through many lessons in democracy and development. If there is one thing that shall be highlighted, then it is the fact that we are in a high time of altering our views on development. In recent decades, the development paradigm has clearly shifted away from the one dimensional ‘economic-growth’ approach. Since scholars and policy makers became more aware of the importance in embracing people’s participation and putting emphasis on the sustainabilty of progress, doing development has become a more delicate task to do. But apparently, not every country has the awareness and capacity, or will, to make a U-turn in terms of development. Continue reading

Bertemu Saudara di Timor Leste

Perjalanan menuju Timor Leste diawali dengan tergopoh-gopoh. Karena teman saya yang bule lupa membawa surat keterangan Setneg bahwa bebas pajak dan tidak terkena NPWP, maka kami harus kembali keluar bandara dan menarik uang dari ATM. Tapi tidak semudah itu, karena waktu ternyata sudah mepet dan kami harus benar-benar berlari untuk sampai ke pintu pesawat.

Berhasil! Terengah-engah kami akhirnya masih bisa mencapai gate 9 bandara Ngurah Rai, dimana ternyata masih banyak orang telat lainnya mengantri. Dengan menumpang Merpati kita akhirnya bertolak menuju DIli, dimana paspor saya mendapatkan stempel pertamanya setelah sekian lama. Kesan pertama setelah sampai di sana? Banyak sekali bule yang berseliweran. Entah itu turis ataupun orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dan penghasilan dari negara yang baru lahir ini.

Kesan itu berlanjut ketika kita memasuki kota Dili. Sangat mudah untuk menemukan kendaraan operasional lembaga internasional, dan juga, produk-produk internasional di toko ataupun pom bensin. Akhirnya saya menyimpulkan: Bukan, orang-orang asing tersebut bukan turis. Mereka memang bekerja di sini dan mengisi kekosongan sebagai konsultan, staf ahli, pemasok barang dan sebagainya. Mereka mengisi keahlian yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat, tetapi ternyata belum mampu diisi oleh penduduk setempat sendiri. Apa jadinya jika UN dan sejumlah lembaga itu keluar dari Timor Leste? Itu yang menjadi pertanyaan saya sedari menginjakkan kaki negara tetangga ini.

Continue reading

Pontianak

Jujur, rasa penasaran saya lebih besar daripada pengetahuan saya tentang Pontianak. Yang saya tahu hanya bahwa Pontianak merupakan ibukota Kalimantan Barat, dan dilewati sebuah sungai. Belakangan saya baru ingat, bahwa sungai itu bernama Kapuas.Yah begitulah, pengetahuan geografi saya memang tidak terlalu membanggakan. 

Tiba di Pontianak, saya disuguhi pemandangan bandara yang mungil alias kecil. Taksi yang berkeliaran di kota pun juga kecil, yakni Daihatsu Ceria. Berbeda dengan sungai Kapuas yang sangat lebar dan menjadi urat nadi transportasi Kalimantan Barat. Sebelum menginjakkan kaki di hotel, saya dibawa ke tugu Khatulistiwa, penanda posisi kota Pontianak yang persis berada di garis khatulistiwa. 

Jujur, tidak banyak hal yang saya ketahui tentang ibukota Kalimantan Barat ini; kecuali tentang ekspansi lahan kelapa sawit yang gila-gilaan di wilayah ini. Sama dengan daerah lainnya di Borneo, Kalimantan Barat menyimpan segudang potensi, namun menampakkan wajah yang penuh ironi, seperti daerah Singkawang yang dihiasi kemiskinan dan cerita soal perdagangan manusia di wilayah perbatasannya. Potensi wisata juga tersimpan di daerah ini, tetapi sayangnya belum dikelola dengan baik. Hal ini terlihat dari obyek wisata keraton Kadariyah yang menyimpan banyak fakta historis menarik, tetapi dibiarkan berdebu dan terlupakan.

Selain sejarah yang menyisakan sebuah keraton, Pontianak juga memiliki minuman yang unik, yakni lidah buaya. Pelepas dahaga yang biasa disajikan di warung-warung makan ini dari rasa dan rupanya menyerupai nata de coco. Pelengkap jajanan khas Pontianak adalah kue Bingka, kue yang mengingatkan pada…ah saya pun tidak bisa menyamakannya dengan kue-kue sejenis. 

Sementara di sore hari, kegiatan yang paling asyik adalah memandangi aktifitas di sungai Kapuas sambil menunggu perginya matahari.

 

Terakhir, sebagai penutup, yang merangkum perjalanan singkat ke Kalimantan, saya melihat-lihat dan mencoba merasakan tinggal di rumah Dayak. Walau tidak mendapatkan imajinasi tersebut karena hanya merupakan simulasi atas kehidupan yang tidak terbayangkan oleh orang kota, saya cukup senang melihat arsitektur dan hiasannya. Lumayan, daripada lumanyun. 🙂

Sayang, saya tidak sempat melihat perkebunan sawit yang mengepung wilayah Kalimantan Barat. Karena di sanalah terdapat kehidupan yang sesungguhnya. Sementara Pontianak hanyalah potret atas impian untuk menjadi sebuah kota metropolitan yang tidak pantas untuk dikejar.