Resensi: The Great Regression

Data Buku

  • Judul buku                   : The Great Regression
  • Penyunting                  : Heinrich Geiselberger
  • Penerbit                      : Suhrkamp
  • Tahun terbit                : 2017
  • Jumlah halaman         : 197 + x

Francis Fukuyama pernah memprediksi akhir dari ‘sejarah’. Baginya, berakhirnya Perang Dingin dan meningkatnya arus globalisasi, adalah pertanda bahwa peradaban dunia telah mencapai titik tertinggi dan demokrasi liberal telah menjadi mutlak. Gagasan ini ia ajukan dalam bukunya “The End of History and the Last Man” pada tahun 1992. Hari ini, atau dua puluh tujuh tahun kemudian, kita semua tahu bahwa tata kelola dunia mungkin tidak pernah sedemikian semrawut. Alih-alih semakin terkonsolidasi, tatanan dunia terlihat semakin terfragmentasi alias terpecah belah. Ada dua fenomena utama yang mencerminkan keretakan tatanan dunia: Brexit di Britania Raya dan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat. Di balik dua peristiwa ini, ada segudang fenomena lain yang mendera hampir semua masyarakat di seperti migrasi, populisme, ketimpangan ekonomi, rasisme dan gender.

Uniknya, yang kerap menjadi tersangka utama atas kesemrawutan global ini adalah proses serupa yang diharapkan menjadi solusi atas permasalahan dunia dewasa ini, yaitu globalisasi. Di mata para pendukungnya, globalisasi ekonomi alias pasar bebas, adalah jawaban pamungkas atas berbagai hambatan dunia seperti demokratisasi yang terhambat di negara berkembang. Bagi mereka, tidak ada demokrasi dalam berpolitik tanpa kebebasan dalam ekonomi.

Globalisasi dalam bentuk seperti ini, di saat yang sama, juga dikecam oleh para aktivis dan ilmuwan berhaluan sosial demokrat dari negara berkembang yang melihat dampak negatif dari pasar bebas bagi ekonomi kaum lemah. Protes kian marak dan puncaknya, mungkin, terekam dalam demonstrasi masif pada pertemuan puncak WTO di Seattle, AS, tahun 1999.

Ternyata, ada yang luput dalam kritik globalisasi ini. Sebagian besar pengamat tidak menyadari bahwa korban globalisasi bukan hanya para petani dan kaum ekonomi lemah di negara berkembang, melainkan juga kelas pekerja di negara adidaya seperti AS dan negara industri maju lainnya. Globalisasi, demikian poin penting yang harus kita pahami sekarang, juga berdampak buruk secara internal di negara industri maju.

Tidak ada satu cerita tunggal yang dapat menguraikan permasalahan pelik dunia saat ini. Keberadaan lima belas narasi dalam buku The Great Regression menjawab kebutuhan kita untuk memahami akar persoalan dunia, terutama yang menyangkut gejala pelemahan demokrasi dan kebangkitan populisme. Sebab, ibarat kebakaran hutan, kita perlu mengetahui titik api yang paling utama sembari mencegah ia menjalar lebih luas. Kali ini, kita paham bahwa titik api itu terletak di negara-negara yang justru kita kenal sebagai pelopor demokrasi dan dedengkot globalisasi.

Ada satu benang merah dari lima belas artikel tersebut: Eksklusi sosial. Rasa terpinggirkan, terkucilkan, terperdaya dan terasingkan adalah hal yang sangat nyata. Jika suara dalam bentuk protes sulit menghasilkan perubahan, maka dalam kasus Brexit dan kemenangan Trump, pemberian suara melalui pemilihan atau referendum telah mengejawantahkan perasaan terasing tersebut.

Para penulis dalam buku ini berlatar belakang akademisi (seperti Arjun Appadurai, Nancy Fraser, mendiang Zygmunt Baumann atau Bruno Latour), jurnalis senior (seperti Paul Mason dan Robert Misik) dan pengamat atau filsuf seperti Slavoj Zizek. Dengan pendekatannya masing-masing, mereka berusaha untuk memahami kekisruhan yang terjadi di dunia dan negara mereka sendiri. ‘Kelelahan terhadap Demokrasi’ atau democracy fatigue, adalah istilah yang ditawarkan Appadurai misalnya, untuk lebih memudahkan kita dalam membaca peta situasi politik yang ada. Nancy Fraser membandingkan apa yang ia sebut ‘neoliberalisme progresif’ versus populisme reaksioner. Banyak kebijakan diulas dan berbagai kelemahan para pemikir maupun aktivis berhaluan kiri disorot. Pada akhirnya, semua mengakui bahwa tanda-tanda seperti meningkatnya ketimpangan ekonomi, stagnasi pendapatan, privatisasi sektor publik tidak pernah ditanggapi dengan sungguh.

Namun, dari lima belas artikel yang tersusun, barangkali ulasan Paul Mason yang paling ilustratif dan mengena dalam menggambarkan kisruhnya kehidupan sosial di Eropa, terlebih Inggris. Ia menggambarkan bagaimana di kota kelahirannya, Leigh, rasisme perlahan terkikis sejak era 1970 namun menyusup kembali dalam dekade terakhir seiring dengan stagnannya kualitas kehidupan kelas pekerja. Di tengah percepatan arus globalisasi, tidak ada peningkatan upah dan jaminan sosial bagi kelas pekerja, sementara persaingan (dalam pasar kerja, status dan representasi politik) semakin menajam antara warga kelahiran Inggris dan pendatang – juga akibat kebijakan migrasi dan mobilitas Uni Eropa.

Kisah yang diangkat Paul Mason ini diiyakan oleh para penulis lainnya, meski dengan konteks dan ilustrasi yang variatif. Namun semuanya menggarisbawahi bahwa semenjak krisis finansial global pada tahun 2008, ada satu kelompok yang suaranya diredam dan akhirnya meledak, yakni para White old men. Inilah ironi terbesar globalisasi. Mereka yang memenangkan Trump, dan mereka pula yang menghendaki perceraian Inggris dengan Uni Eropa. Di saat kaum kiri negara berkembang seringkali dituduh sebagai musuh globalisasi, White Old Men setidaknya untuk sementara, berhasil mewujudkan disrupsi atas globalisasi.

Posisi Indonesia dalam memandang persoalan dunia saat ini sangatlah menarik. Di satu sisi kita menghadapi persoalan yang sama dalam bentuk kebangkitan politik identitas. Di sisi lain, kita mungkin termasuk negara yang bisa memberi masukan dalam hal membendung arus ‘populisme kanan’ beserta biaya sosial yang harus dibayar. Tetangga kita, Filipina, telah memilih jalan lain yang berbahaya, sebagaimana juga telah ditempuh oleh Brasil. Di saat yang sama, kita juga telah menyaksikan bagaimana politik identitas telah melihat sisi terkerdil kita dalam kasus Pilkada Gubernur DKI 2016 silam. Indonesia sering kali dianggap sebagai laboratorium berdemokrasi. Walau, sebagaimana negara lainnya, kita pun tidak imun terhadap berbagai guncangan yang dialami masyarakat dunia.

Namun bagi para penulis, situasi yang kita alami ini adalah kesementaraan. Tidak ada satupun yang percaya bahwa humanisme global dan demokrasi liberal menghadapi kebuntuan. Ia hanya sedang berjalan mundur. Di dalam buku ini pun semua penulis sepakat bahwa kemunduran demokrasi adalah prakondisi yang memungkinkan hadirnya sebuah kaum yang lebih progresif – terutama dalam kematangan mengelola ekonomi dan politik.

Apapun jalan yang ditempuh oleh masing-masing negara, kesimpulan yang paling jelas hanyalah satu: Tidak ada bola kristal bagi perkembangan dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.