Jalan Buntu Ilmu Sosial Alternatif

Mulanya ingin menandingi ilmu sosial arus utama. Perbedaan pandangan dalam tata kelola lembaga membuat intelektual muda malah berjalan sendiri-sendiri.

DUA puluh-an ilmuwan sosial muda berkumpul di Malang pada November 1986. Selain Moeslim Abdurrahman, dalam pertemuan bertajuk “Mencari Ilmu-Ilmu Sosial yang Berwawasan Indonesia” itu hadir antara lain Roy Tjiong, Hermawan Sulistyo, dan Wilarsa Budiharga.

Mereka resah terhadap realitas ilmu sosial yang ada. Dalam pandangan mereka, ilmu sosial saat itu terlampau steril dan tidak menunjukkan semangat perubahan. Ruh keberpihakan tidak ada. Kalaupun ada, ia berpihak kepada rezim.

Kritik mereka terutama dialamatkan kepada Himpunan Indonesia untuk Pengembangan ilmu-Ilmu Sosial (HIPIIS), organisasi yang berdiri pada 1975 dan berisikan para begawan, seperti Selo Soemardjan, Taufik Abdullah, Koentjaraningrat, atau Alwi Dahlan. Menurut Moeslim Abdurrahman cs., terlalu banyak Ilmuwan yang sekadar manut pada agenda negara. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya tandingan dari akademisi berkesadaran untuk menghadirkan ilmu sosial yang berkomitmen pada perbaikan masyarakat.

Berbekal ilmu dan perspektif teranyar yang mereka peroleh dari studi di perantauan serta semangat pembaruan, mereka menyiapkan langkah-langkah untuk bertanding melawan para penyokong  ilmu sosial arus utama. Sebagai tindak lanjutnya, mereka mendirikan Asosiasi Peneliti Indonesia (API).

“Para gelandangan intelektual ini memerlukan wadah yang lebih formal,” tutur Roy Tjiong.

Asosiasi ini tidak didesain sebagai organisasi formal dengan struktur kerja yang baku, melainkan sebagai jaringan yang dinamis, dengan ragam simpul di tingkat daerah atau kota. Ini pilihan sadar untuk menandingi

API bertugas mengkoordinasi jaringan kerja yang meliputi beberapa kota besar di Indonesia: Jakarta, Bandung, Malang, Banda Aceh, Pekanbaru. Jaringan kerja itu diupayakan dapat mengadakan berbagai penelitian dan pengembangan riset di tingkat lokal. Guna menyamakan perspektif dalam metodologi, API mengadakan dua kali Pelatihan Metodologi Penelitian Transformatif (PMPT).

Namun, alih-alih memuluskan jalan bagi ilmu sosial alternatif, berbagai inisiatif tersebut justru menghadapi kemelut. Perbedaan pandangan yang tak berujung terlampau sering muncul dalam upaya pengorganisasian gerakan intelektual ini. Salah satu contoh, Hermawan Sulistyo, yang baru saja menyelesaikan studinya di Amerika Serikat, mengaku sebagai pendiri sah API dan tidak mengindahkan kehadiran peneliti lain dalam API.“Prof Kiky (begitu ia kerap disapa, red.) padahal sering menyediakan rumahnya sebagai tempat berdiskusi para aktivis ilmu sosial ini,” ungkap Saleh Abdullah.

Terkadang, pertikaian bersifat ideologis sehingga menyulitkan penentuan agenda dan prioritas yang kemudian menjadi batu sandungan organisasi. Ini terlihat jelas ketika penentuan penyandang dana, mereka terbagi antara yang pro dan kontra dengan pilihan untuk bermitra dengan Toyota Foundation.

Persoalan lain yang juga mengemuka adalah struktur organisasi yang tidak akomodatif terhadap aspirasi para anggota. Akibatnya, mekanisme dan pembagian kerja cenderung tidak jelas.

 “Berbagai hambatan yang bersifat ‘teknis organisatoris’ berjumpa dengan banyak masalah ‘substantif-teoritik’,” kata Roy Tjiong.  Sebagai akibatnya, menurut Wilarsa Budiharga, “himpunan ini kemudian terpecah menjadi beberapa wadah baru.”

Beberapa ilmuwan yang tersisa lalu mengadakan pertemuan lanjutan di Bandung. Berdasarkan dokumen evaluasi LPIST,mereka sepakat melahirkan Forum Ilmu Sosial Transformatif dan (FIST) Pengembang Ilmu Sosial Transformatif (PIST) –PIST kemudian berubah menjadi LPiST (Lembaga Pengembangan Ilmu Sosial Transformatif).

FIST dikelola oleh Hari Wibowo, mantan aktivis mahasiwa Bandung yang kemudian menjadi redaktur jurnal Prisma. Sementara, LPiST digawangi mendiang Ayi Bunyamin dan Sylvia Tiwon, akademisi Indonesia di UC Berkeley.

FIST kerap menghelat lokakarya mengenai ilmu sosial dan agenda perubahan sosial. Cita-cita mengenai ‘transformasi’ menjadi benang merah berbagai diskusi yang diadakan di LIPI tersebut. Bahkan kongres yang diadakan FIST juga diadakan di LIPI. Keberadaan Hermawan Sulistyo maupun Wilarsa Budiharga (kakak kandung Wiladi) membantu fasilitasi kegiatan tersebut, sesederhana untuk meminjamkan ruangan berdiskusi. Sosok seperti Daniel Dhakidae dan Ignas Kleden turut meramaikan berbagai perhelatan itu.

Untuk mendokumentasikan sekaligus menyebarkan pemikiran mereka sekaligus menampung pemikiran ilmuwan lain, API dan FIST lalu menerbitkan Majalah Transformasi. Pendanaannya disokong  Hivos, lembaga sosial-akademis asal Belanda. Para peneliti muda seperti PM Laksono dan Farchan Bulkin ikut menggoreskan pandangan mereka mengenai ilmu sosial dalam majalah itu. Majalah yang kontennya hampir menyerupai Prisma itu juga menyajikan temuan-temuan terbaru dari riset-riset lapangan mereka.

Namun, Transformasi hanya sempat terbit dua kali akibat kemelut di tubuh API. Setelah bubar, orang-orangnya lantas mendirikan ASAS dan GALANG. Dalam bab Inclusion and Exclusion: NGOS and Critical Social Knowledge (di dalam buku Social Science and Power in Indonesia), duet sosiolog Rochman Achwan dan Meuthia Ganie Rochman mengakui keberadaan LPIST sebagai institusi yang sempat memberi warna alternatif pada ilmu sosial era 1980-1990. Namun memang, keberadaanya hanya sebatas umur jagung.

Para punggawa ilmu sosial alternatif akhirnya mencari jalan masing-masing. Ada yang membangun karier di LIPI, sebagian berupaya memelihara gagasan transformasi secara konsisten dengan mendirikan LSM Insist di Yogyakarta, ada pula yang tidak terdeteksi keberadaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.