Roadtrip #8 – Norway

Awalnya saya berniat untuk membawa si Alfa Romeo keliling Eropa. Jalan jauh sendirian kayak di Into the Wild atau Motorcycle Diaries. Rute yang terbayang adalah start dari Amsterdam – Wolfsburg – Berlin – Olomouc (tempat konferensi EUROSEAS), lalu mulai trip liburan via Warsaw – Danzig – feri menuju Stockholm – Oslo – Gotheburg (museum Volvo) – lalu turun ke Hamburg dan kembali ke Amsterdam.

Phew. Terdengar ambisius dan memang demikian. Sebulan sebelum EUROSEAS dimulai, si Alfa Romeo mutung dan pesakitan. Aki lah, oli lah. Untung tidak jadi ūüėÖ. Rute panjang dari Eropa Timur ke Utara akhirnya dibatalkan. Setelah membolak balik halaman Epic Drives of the World nya Lonely Planet, akhirnya saya memutuskan untuk bermain-main di Norway saja. Pilihan jalur roadtripnya banyak, dan untuk menentukan rute mana yang akan saya tempuh, saya menghabiskan beberapa hari untuk browsing dan membandingkan jalur.

Pertimbangannya beberapa: kemurahan akomodasi perjalanan dan pemandangan yang mau dicari. Norway memang tidak terlalu besar, tetapi kota yang bisa disinggahi juga tidak terlalu banyak. Ditambah dengan biaya hidup (pengeluaran) yang sangat tinggi, perjalanan di Norway bisa bikin tekor kalau tidak dipertimbangkan dengan baik. Yang jelas, saya ke Norway bukan untuk mencari Aurora seperti kebanyakan orang Indonesia yang mulai pergi ke Tromso berjamaah.

Akhirnya, ini rute yang saya pilih:

Oslo – Bergen – Geiranger – Trollstigen – Kristiansund – Lillehammer – Oslo

Continue reading

Close but not close enough

September 2021 saya memperoleh kesempatan untuk pergi ke Ceko. Utamanya, saya datang untuk mengikuti konferensi EUROSEAS yang diadakan kembali secara hibrid di Olomouc.

Tetapi saya membawa agenda terselebung saya  melakukan napak tilas. Napak tilas sebenarnya juga tidak tepat. Yang lebih tepat sebenarnya saya ingin mengetahui tempat bersejarah bagi keluarga saya, tempat di mana mendiang ayah pernah kuliah. Menziarahi masa lalu beliau.

Dari seorang peserta EUROSEAS asal Ceko yang pernah tinggal di Solo (Tomas), saya  diberi banyak tips soal interlocutor yang layak saya jumpai atau wawancara. Tomas, yang fasih berbahasa Indonesia, memberikan nama-nama yang tidak terlalu asing setelah saya coba telusuri. Internet memang lebih pandai dan membuat penelusuran jejak lampau seperti tanpa tantangan. Nama pertama yang ia sebut ternyata Ronny Marton, yang menjadi inspirasi Surat Dari Praha, kemudian Soegeng Soejono, yang kisahnya sudah cukup banyak didokumentasikan dan juga cerita  Bismo Gondokoesomo. Idenya adalah untuk pergi ke Praha selepas konferensi dan menjumpai para warga senior tersebut di kota tempat mendiang Ayah kuliah.

Continue reading

#Roadtrip 7 – To Switzerland and back

Ada satu peristiwa di 2019 yang membuat keputusan untuk berjalan jauh menjadi mudah. Menyetir sendiri sepertinya mewakili peristiwa tersebut. Dan menyetir sendiri menjadi terapi. Seperti itulah kira-kira saya menjelaskannya ke diri sendiri. I just had to do it. Jadi, setelah mengumpulkan draf Bab pertama disertasi saya (yang tentunya tidak layak untuk dapat disebut sebagai Bab), saya mencari rute yang ringan tetapi sekaligus cukup menantang. Ada perasaan seperti ingin mendaki gunung tetapi tidak membuat jantung berdebar. Ada juga perasaan ingin menjajal tempat baru tetapi masih familiar. Akhirnya pilihan saya jatuhkan kepada rute berikut:

Amsterdam-N√ľrburgring-Black Forest-Z√ľrich-Interlaken-Bastogne War Museum-Amsterdam

Continue reading

Roadtrip #6 | Surabaya-Banyuwangi-Bali PP

Tambal ban Ertiga. Foto heboh biar clickbait.

Aneh rasanya menulis tentang perjalanan ini. Sebab, saya menulisnya di penghujung 2021, alias empat tahun setelah saya melakukan perjalanan tersebut. Tapi saya rasa merasa ini hutang yang harus dilunasi. Sewaktu melakukan road trip tersebut, saya sudah berniat untuk mendokumentasikan cerita yang saya alami agar tidak menguap begitu saja. Tapi ya, namanya juga nawaitu. Kapan itu dikerjakan memang perkara lain. Menulis ini ibarat menciptakan mesin waktu dalam bentuk WordPress.

Jadi, di penghujung 2017 saya memutuskan untuk berjalan jauh. Awalnya keinginan saya hanya untuk singgah ke Taman Nasional Baluran, yang foto-fotonya mulai banyak berseliweran di kanal media sosial. Sudah saatnya melihat langsung, gumam saya. Ketika memeriksa lokasi Baluran di Googlemaps, saya mendapati perasaan tanggung. Baluran terletak antara Surabaya dan Banyuwangi, meski secara jarak lebih dekat ke kabupaten. Saya tidak terlalu tertarik untuk menghabiskan waktu di ibukota Jatim, tetapi terpikat untuk mampir di Banyuwangi yang sedang naik daun itu. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat jalur Bandara Juanda – Taman Nasional Baluran – Bali (via Ketapang-Gilimanuk) Banyuwangi -Bandara Juanda sebagai rute utama trip berdurasi enam hari ini.

Persinggahan pertama di Taman Nasional Baluran sangat berkesan. Saya berkesempatan untuk mengobrol dengan si Bapak Penjaga Taman (sayangnya saya lupa namanya Рpadahal sempat bertukar nomor hape),  yang curcol banyak tentang pengelolaan taman nasional. Malamnya saya menginap di dalam wisma dengan alunan suara alam yang..susah bikin tidur. Salah sendiri. Tapi tidak apa. Paling tidak jadi bikin semangat bangun pagi dan lekas cabut ke destinasi berikutnya. Ini beberapa foto-fotonya sebagai sampel. Continue reading

Roadtrip #3 Duisburg-Belanda-Belgi PP. | Waterloo, Belgium

Lelah dengan kuliah, saya memutuskan untuk bertamasya ke daerah Benelux dengan seorang kawan. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah situs bersejarah Waterloo, tempat di mana Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan terakhirnya dan menjadi titik balik sejarah Eropa. Mind-blowing (padanan bahasa Indonesianya apa dong?). Kedahsyatan pertempuran Waterloo mungkin tidak tergambar dalam foto-foto di bawah, tapi ini lah sedikit oleh-oleh yang bisa saya bagikan. 

Butte du Lion, tugu peringatan pertempuran Waterloo. sumber : pribadi

Butte du Lion, tugu peringatan pertempuran Waterloo. sumber : pribadi

Continue reading

Satudarah di Duisburg

Cerita ini antara penting dan tidak. Jadi, di Duisburg, kota kecil tempat saya menimba ilmu yang sering saya bandingkan dengan Cikarang, rupanya ada juga tawuran antar geng. Geng motor lebih tepatnya. Bukan sesuatu yang menghebohkan memang, tapi lumayan juga untuk menghilangkan rasa sepi. Kalau di Jakarta bikin kesal, di sini, berita semacam ini bikin hidup terasa lebih berdenyut. Jarang bre!

Nah, yang bikin lebih penasaran adalah oknum yang terlibat tawuran: Satudarah dan Bandidos. Satudarah? Yap, persis. Reaksi saya pun sama. Apalagi ketika melihat emblem geng motor tersebut:

Continue reading

Meliput Berlinale 2013

Dapat kejutan di awal tahun: diminta untuk meliput Berlin International Film Festival 2013 untuk seorang kawan di Jakarta. Permintaan seperti ini mah tidak mungkin ditolak. Alhasil, hanya beberapa hari setelah mengerjakan ujian akhir semester, saya berangkat ke Berlin, kota yang selalu menerima saya dengan tangan terbuka. 

Sayang, ketika tanggal 13 Februari tiba, sebagian besar artis yang saya nantikan sudah kembali meninggalkan acara tersebut. Artis dan sutradara seperti Ethan Hawke, Julie Delpy, Michael Winterbottom atau Richard Linklater sudah terlanjur pulang. Ah, tapi tak apa, saya datang untuk mencari sensasinya, bukan artisnya. Dan memang, meski bukan merupakan festival film megah dan bertabur bintang Hollywood, Berlinale sudah memiliki resep sendiri yang membuatnya dekat dengan komunitas pembuat dan pencinta film. Continue reading

Bertemu Saudara di Timor Leste

Perjalanan menuju Timor Leste diawali dengan tergopoh-gopoh. Karena teman saya yang bule lupa membawa surat keterangan Setneg bahwa bebas pajak dan tidak terkena NPWP, maka kami harus kembali keluar bandara dan menarik uang dari ATM. Tapi tidak semudah itu, karena waktu ternyata sudah mepet dan kami harus benar-benar berlari untuk sampai ke pintu pesawat.

Berhasil! Terengah-engah kami akhirnya masih bisa mencapai gate 9 bandara Ngurah Rai, dimana ternyata masih banyak orang telat lainnya mengantri. Dengan menumpang Merpati kita akhirnya bertolak menuju DIli, dimana paspor saya mendapatkan stempel pertamanya setelah sekian lama. Kesan pertama setelah sampai di sana? Banyak sekali bule yang berseliweran. Entah itu turis ataupun orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dan penghasilan dari negara yang baru lahir ini.

Kesan itu berlanjut ketika kita memasuki kota Dili. Sangat mudah untuk menemukan kendaraan operasional lembaga internasional, dan juga, produk-produk internasional di toko ataupun pom bensin. Akhirnya saya menyimpulkan: Bukan, orang-orang asing tersebut bukan turis. Mereka memang bekerja di sini dan mengisi kekosongan sebagai konsultan, staf ahli, pemasok barang dan sebagainya. Mereka mengisi keahlian yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat, tetapi ternyata belum mampu diisi oleh penduduk setempat sendiri. Apa jadinya jika UN dan sejumlah lembaga itu keluar dari Timor Leste? Itu yang menjadi pertanyaan saya sedari menginjakkan kaki negara tetangga ini.

Continue reading