Siantar Express

Pada dasarnya, saya memang suka nyupir. Apalagi jika hobi itu bisa menghasilkan cuan!

Tapi semua ini sebenarnya kebetulan. Sebelum berangkat ke Belanda untuk mengawali studi S3, saya sudah menyiapkan SIM Internasional karena sudah berencana akan melakukan roadtrip ke sana ke mari. Tak disangka, fakta bahwa saya memiliki SIM Internasional ini juga berguna bagi kawan-kawan yang membutuhkan jasa transportasi untuk berbagai keperluan di Amsterdam.

Setelah beberapa kali membantu rekan-rekan senior pindahan secara ikhlas (dibayar dengan makanan dan hibah barang), seorang kolega justru menyarankan saya untuk meresmikan jasa yang tiada tara ini. “Iya juga ya” ungkap hati kecil sembari melihat celana yang sobek-sobek karena tersangkut tangga sewaktu membantu pindahan. Celana yang sobek ini adalah dramatisasi tentu, tetapi berkat petuah bijak kolega saya, muncullah ide bisnis brilian yang sejauh ini belum ditandingi start-up manapun di Belanda. Setidaknya itulah keyakinan saya.

Maka lahirlah Siantar Express. Tidak ada basis legal dan izin usaha, tapi semua diketahui oleh malaikat Raqib. Model bisnisnya pun sederhana: Kerjakan dengan baik, nanti pelangganmu akan menyiarkannya kepada yang lain. Yang penting WA selalu siaga.

Tetapi mengapa memilih nama Siantar Express? Pertama, karena Siantar adalah permainan dari kata Si-Antar: dia yang mengantarkan. Kedua, karena siantar saya anggap singkatan dari “siap” dan “antar”. Ketiga, karena Pematang Siantar adalah kota kelahiran mendiang ayah dan menjadi bagian identitas saya, si putra Batak yang paling tidak meneruskan citra orang Tapanuli sebagai supir ulung (tertawa menggelegar).

Continue reading

Resensi: The Great Regression

Data Buku

  • Judul buku                   : The Great Regression
  • Penyunting                  : Heinrich Geiselberger
  • Penerbit                      : Suhrkamp
  • Tahun terbit                : 2017
  • Jumlah halaman         : 197 + x

Francis Fukuyama pernah memprediksi akhir dari ‘sejarah’. Baginya, berakhirnya Perang Dingin dan meningkatnya arus globalisasi, adalah pertanda bahwa peradaban dunia telah mencapai titik tertinggi dan demokrasi liberal telah menjadi mutlak. Gagasan ini ia ajukan dalam bukunya “The End of History and the Last Man” pada tahun 1992. Hari ini, atau dua puluh tujuh tahun kemudian, kita semua tahu bahwa tata kelola dunia mungkin tidak pernah sedemikian semrawut. Alih-alih semakin terkonsolidasi, tatanan dunia terlihat semakin terfragmentasi alias terpecah belah. Ada dua fenomena utama yang mencerminkan keretakan tatanan dunia: Brexit di Britania Raya dan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat. Di balik dua peristiwa ini, ada segudang fenomena lain yang mendera hampir semua masyarakat di seperti migrasi, populisme, ketimpangan ekonomi, rasisme dan gender.

Continue reading

Menyoal Reputasi. Dan Pengetahuan

Akhir-akhir ini saya gemas melihat media massa (terutama cetak) yang tampak kehabisan stok artikel segar dan pemikiran baru. Sebagian besar penulis yang membagikan pemikirannya terdengar kadaluwarsa dan gagap dalam mengikuti perkembangan zaman. Masalahnya tidak terletak pada minimnya pemikir atau cendekiawan baru, melainkan pada keraguan para pemilik otoritas lama untuk menjaring penulis dan pemikir anyar. Well, setidaknya itu yang saya yakini. Saya menyederhanakan masalah ini pada minimnya reputasi yang dimiliki para penulis dan pemikir muda ini. Nah, kebetulan sekali saya menemukan artikel yang persis mengulas masalah ini: Reputasi.

Continue reading

Modul : Dari Data ke Kebijakan

Rapid Outcome Mapping Approach

Rapid Outcome Mapping Approach

Ada sebuah buku pedoman baru yang kelihatannya berguna untuk para praktisi kebijakan dan pembangunan. Judul aslinya ROMA: A guide to policy engagement and influence. Tujuannya sederhana, yakni memberi petunjuk tentang cara mempengaruhi pembuatan kebijakan dengan metode yang praktis, namun berbasis temuan atau fakta. Sangat sejalan, atau justru didorong, dengan semakin maraknya semangat evidence-based policy. Buku pedoman ini diterbitkan oleh Overseas Development Institute yang memiliki reputasi baik dalam meneliti masalah pembangunan, khususnya dalam lingkup negara berkembang. ROMA (singkatan dari Rapid Outcome Mapping Approach) kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dapat diunduh di sini.

Selamat mengaplikasikan!

Producing Indonesia

Producing IndonesiaAda sebuah buku menarik yang entah kapan akan saya baca. Kendalanya dua: 1. Buku ini tidak mudah didapatkan karena sejauh ini baru bisa diimpor 2. Kemalasan saya untuk menyiasati waktu yang makin lama tampak makin berkurang untuk dapat menikmati bacaan yang bermutu (Ok, masalah nomor 2 ini sebenarnya masalah saya sendiri. Objectively, waktu tidak mungkin berkurang. Atau?).

Nah, lantaran dua masalah tersebut, sayangnya saya belum mampu memberi uraian ataupun ulasan lebih lanjut atas isi dan tujuan buku tersebut. Yang saya tahu, kelihatannya ia akan sangat berguna bagi siapapun yang tertarik dengan masalah produksi pengetahuan di Indonesia maupun Indonesia sebagai sebuah obyek kajian. Buku ini tidak lagi berbicara soal Indonesia sebagai fenomena, melainkan bagaimana Indonesia dibentuk sebagai sebuah ‘disiplin ilmu’ dalam kajian kewilayahan, oleh para Indonesianis. Menarik (setidaknya bagi saya).

Nah, pertanyaan pertama yang mau saya ajukan terkait buku ini adalah:  Adakah yang punya?  #Gakmodal.

Statistik à la Hans Rosling

Hans Rosling. Sumber:http://www.ourprg.com/

Hans Rosling. Sumber: http://www.ourprg.com/

Mencerna data bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika data tersebut menyangkut populasi dunia dan angka kemiskinan global. Butuh keterampilan khusus untuk mampu menampilkannya secara menarik tanpa menghilangkan esensinya yang paling utama: memaparkan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Untuk itulah Hans Rosling dikenal dan dicari: untuk memudahkan kita dalam memahami tren kemiskinan dan kependudukan dunia. Bermula sebagai peneliti kesehatan, akademisi asal Swedia ini sekarang terkenal karena pendekatannya yang kreatif dalam menampilkan data statistik di berbagai forum global. 

Simak profilnya di Guardian dan presentasinya di TEDSelamat belajar dan terkesima 🙂

Referensi Poskolonialisme dan Pembangunan

Akhir-akhir ini saya banyak menggeluti teori poskolonial dalam kaitannya dengan kritik pembangunan. Ada kemungkinan saya akan menggunakan perspektif ini untuk seterusnya dalam membedah dan mengkritisi pembangunan di Indonesia. Tetapi itu persoalan konsistensi pemikiran.

Untuk sementara, saya mencantumkan beberapa referensi yang saya anggap berguna sebagai pisau bedah. Perlu dicatat di sini bahwa kajian poskolonial yang saya gunakan berbeda dengan kritik poskolonial dalam sastra atau teori budaya sebagaimana lazim dikenal. Di sini, secara khusus, poskolonialisme ditekankan sebagai kritik terhadap teori pembangunan Barat, yang lantas berupaya mengemansipasi subyek pembangunan di negara ‘Dunia Ketiga’. Maka, tidak semua bacaan poskolonialisme tepat sebagai referensi kritik pembangunan. Gagasan ini baiknya dilengkapi dengan gagasan post-development, yang akan memperkaya kritik tersebut dengan terapi kontra-pembangunan. Tapi tentu ini adalah daftar bacaan subyektif dari pandangan saya semata. Semoga bermanfaat! Continue reading

Adythia Utama: A Man For All Occasions

 

Di balik lensa, di depan komputer, di atas panggung, ataupun di meja makan penjaja kuliner ibukota, Adythia Utama adalah sosok yang dapat memberikan sensasi tersendiri dalam berbagai situasi di atas. Ya, anak muda yang satu ini memang membagi bakatnya ke dalam banyak bidang. Film, musik, penulisan and whatnot. Tokoh muda yang banyak menginspirasi sesamanya.

“I’m everything you’re not”, ujarnya mantap, ketika diminta menggambarkan dirinya dalam tiga kata oleh wartawan everlastinggaze. Well, melebihi tiga kata sih, tetapi cukup dahsyat bukan? Yeah, we do think so.  Setidaknya dia tidak sok merendah dengan menyebut dirinya sebagai ordinary man/boy. Kalau semua orang dalam profil facebook mereka mengaku sebagai manusia biasa, maka Adit adalah contoh anak muda dengan kepercayaan diri yang sehat. Dalam hal ini Anda tidak perlu membuang waktu mendengarkan Mario Teguh, tiru saja kawan kita yang satu ini. Penuh imajinasi, ramah dan pemalu adalah kesan pertama yang terpancar dari balik kaca matanya. “Dibeliin nyokap kok”, ungkapnya polos.

Lajang yang menempuh studi perfilman di Institut Kesenian Jakarta ini terbilang giat dalam berkesenian. Selain menggeluti bidang film, utamanya dokumenter, ia juga meramaikan kancah musik lokal dengan dua proyek utamanya : Individual Distortion dan Depriver. Eksperimentasi musik era digital yang tinggal diperhalus di beberapa bagian. Apa sih sebenarnya yang  membuat Adit begitu mencintai musik? “Listen to the beat. If it moves you, it’s good. If not, it ain’t worth shit”, ujarnya dalam bahasa inggris aksen Amerika, yang sontak mengingatkan saya pada pembawa acara Paranoia. Lantas ia menyebutkan nama beberapa musisi favoritnya. Beruntung, beberapa dari mereka ada yang kami kenal sehingga obrolan pun mengalir dengan baik.

Selain musik? Makan!! Adit, yang di kalangan pengguna internet juga banyak dikenal dengan nama disasterhead, adalah pendiri dan pengasuh blog pengulas makanan Jajalable. Janjinya untuk menghadirkan kuliner cult memang berhasil ditepati. Selain sukses mengulas makanan yang variatif, ia juga mengundang berbagai kalangan (utamanya wanita muda) untuk menulis sehingga menu yang ditampilkan tidak monoton. Tidak lupa, karya akhirnya semasa di IKJ juga berhubungan dengan makanan, dan kampung halamannya,  Sumatera Barat. Judulnya: tambuah ciek! Bukti bahwa anak muda metropolitan seperti Adit tidak lupa pada tanah kelahirannya.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, Adit memang tidak menutup diri dan mata terhadap berbagai hal baru. Jika perempuan menutup hatinya terhadap Adit, itu adalah perkara lain. Perkara yang juga enggan dibahas oleh Adit. “No komen.. ”. Mudah-mudahan kami tidak terlalu menyinggung perasaannya.

Memang, ketika ditanya tentang wanita yang sedang dekat dengan dirinya, ia hanya  menjawab, “Tai ah”, sembari membuang muka. Dan tertawa lepas beberapa saat kemudian. Tawa yang menandakan sebuah kebahagiaan terdalam, sekaligus mengakhiri wawancara singkat ini dengan riang. Setelah diam sesaat, dan mendengar suara jangkrik, Adit lantas bangkit berdiri dan berkata: “Laper dah gw. Cari makan yuk. Gw traktir dah.”  sembari mengajak kami mencari gerai Seven Eleven terdekat.