Close but not close enough

September 2021 saya memperoleh kesempatan untuk pergi ke Ceko. Utamanya, saya datang untuk mengikuti konferensi EUROSEAS yang diadakan kembali secara hibrid di Olomouc.

Tetapi saya membawa agenda terselebung saya  melakukan napak tilas. Napak tilas sebenarnya juga tidak tepat. Yang lebih tepat sebenarnya saya ingin mengetahui tempat bersejarah bagi keluarga saya, tempat di mana mendiang ayah pernah kuliah. Menziarahi masa lalu beliau.

Dari seorang peserta EUROSEAS asal Ceko yang pernah tinggal di Solo (Tomas), saya  diberi banyak tips soal interlocutor yang layak saya jumpai atau wawancara. Tomas, yang fasih berbahasa Indonesia, memberikan nama-nama yang tidak terlalu asing setelah saya coba telusuri. Internet memang lebih pandai dan membuat penelusuran jejak lampau seperti tanpa tantangan. Nama pertama yang ia sebut ternyata Ronny Marton, yang menjadi inspirasi Surat Dari Praha, kemudian Soegeng Soejono, yang kisahnya sudah cukup banyak didokumentasikan dan juga cerita  Bismo Gondokoesomo. Idenya adalah untuk pergi ke Praha selepas konferensi dan menjumpai para warga senior tersebut di kota tempat mendiang Ayah kuliah.

Continue reading

Roadtrip #6 | Surabaya-Banyuwangi-Bali PP

Tambal ban Ertiga. Foto heboh biar clickbait.

Aneh rasanya menulis tentang perjalanan ini. Sebab, saya menulisnya di penghujung 2021, alias empat tahun setelah saya melakukan perjalanan tersebut. Tapi saya rasa merasa ini hutang yang harus dilunasi. Sewaktu melakukan road trip tersebut, saya sudah berniat untuk mendokumentasikan cerita yang saya alami agar tidak menguap begitu saja. Tapi ya, namanya juga nawaitu. Kapan itu dikerjakan memang perkara lain. Menulis ini ibarat menciptakan mesin waktu dalam bentuk WordPress.

Jadi, di penghujung 2017 saya memutuskan untuk berjalan jauh. Awalnya keinginan saya hanya untuk singgah ke Taman Nasional Baluran, yang foto-fotonya mulai banyak berseliweran di kanal media sosial. Sudah saatnya melihat langsung, gumam saya. Ketika memeriksa lokasi Baluran di Googlemaps, saya mendapati perasaan tanggung. Baluran terletak antara Surabaya dan Banyuwangi, meski secara jarak lebih dekat ke kabupaten. Saya tidak terlalu tertarik untuk menghabiskan waktu di ibukota Jatim, tetapi terpikat untuk mampir di Banyuwangi yang sedang naik daun itu. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat jalur Bandara Juanda – Taman Nasional Baluran – Bali (via Ketapang-Gilimanuk) Banyuwangi -Bandara Juanda sebagai rute utama trip berdurasi enam hari ini.

Persinggahan pertama di Taman Nasional Baluran sangat berkesan. Saya berkesempatan untuk mengobrol dengan si Bapak Penjaga Taman (sayangnya saya lupa namanya – padahal sempat bertukar nomor hape),  yang curcol banyak tentang pengelolaan taman nasional. Malamnya saya menginap di dalam wisma dengan alunan suara alam yang..susah bikin tidur. Salah sendiri. Tapi tidak apa. Paling tidak jadi bikin semangat bangun pagi dan lekas cabut ke destinasi berikutnya. Ini beberapa foto-fotonya sebagai sampel. Continue reading