Tag Archives: Recommended

Modul : Dari Data ke Kebijakan

Rapid Outcome Mapping Approach

Rapid Outcome Mapping Approach

Ada sebuah buku pedoman baru yang kelihatannya berguna untuk para praktisi kebijakan dan pembangunan. Judul aslinya ROMA: A guide to policy engagement and influence. Tujuannya sederhana, yakni memberi petunjuk tentang cara mempengaruhi pembuatan kebijakan dengan metode yang praktis, namun berbasis temuan atau fakta. Sangat sejalan, atau justru didorong, dengan semakin maraknya semangat evidence-based policy. Buku pedoman ini diterbitkan oleh Overseas Development Institute yang memiliki reputasi baik dalam meneliti masalah pembangunan, khususnya dalam lingkup negara berkembang. ROMA (singkatan dari Rapid Outcome Mapping Approach) kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dapat diunduh di sini.

Selamat mengaplikasikan!

Producing Indonesia

Producing IndonesiaAda sebuah buku menarik yang entah kapan akan saya baca. Kendalanya dua: 1. Buku ini tidak mudah didapatkan karena sejauh ini baru bisa diimpor 2. Kemalasan saya untuk menyiasati waktu yang makin lama tampak makin berkurang untuk dapat menikmati bacaan yang bermutu (Ok, masalah nomor 2 ini sebenarnya masalah saya sendiri. Objectively, waktu tidak mungkin berkurang. Atau?).

Nah, lantaran dua masalah tersebut, sayangnya saya belum mampu memberi uraian ataupun ulasan lebih lanjut atas isi dan tujuan buku tersebut. Yang saya tahu, kelihatannya ia akan sangat berguna bagi siapapun yang tertarik dengan masalah produksi pengetahuan di Indonesia maupun Indonesia sebagai sebuah obyek kajian. Buku ini tidak lagi berbicara soal Indonesia sebagai fenomena, melainkan bagaimana Indonesia dibentuk sebagai sebuah ‘disiplin ilmu’ dalam kajian kewilayahan, oleh para Indonesianis. Menarik (setidaknya bagi saya).

Nah, pertanyaan pertama yang mau saya ajukan terkait buku ini adalah:  Adakah yang punya?  #Gakmodal.

Sociosite

Sociosite

Sociosite

Dulu saya pernah bercita-cita untuk menjadikan blog ini sebagai online repository berbagai situs yang resourceful. Tapi apa daya, kemalasan saya ternyata jadi penghalang utama. Nah, beruntunglah kita karena ada situs yang bernama sociosite. Dibuat dan dikelola oleh beberapa akademisi gendeng di Amsterdam, laman ini memuat (hampir) semua hal yang esensial dalam ilmu sosial. Termasuk nerdy jokes yang hanya lucu di kalangan tertentu. A latest muse of mine.

Adythia Utama: A Man For All Occasions

 

Di balik lensa, di depan komputer, di atas panggung, ataupun di meja makan penjaja kuliner ibukota, Adythia Utama adalah sosok yang dapat memberikan sensasi tersendiri dalam berbagai situasi di atas. Ya, anak muda yang satu ini memang membagi bakatnya ke dalam banyak bidang. Film, musik, penulisan and whatnot. Tokoh muda yang banyak menginspirasi sesamanya.

“I’m everything you’re not”, ujarnya mantap, ketika diminta menggambarkan dirinya dalam tiga kata oleh wartawan everlastinggaze. Well, melebihi tiga kata sih, tetapi cukup dahsyat bukan? Yeah, we do think so.  Setidaknya dia tidak sok merendah dengan menyebut dirinya sebagai ordinary man/boy. Kalau semua orang dalam profil facebook mereka mengaku sebagai manusia biasa, maka Adit adalah contoh anak muda dengan kepercayaan diri yang sehat. Dalam hal ini Anda tidak perlu membuang waktu mendengarkan Mario Teguh, tiru saja kawan kita yang satu ini. Penuh imajinasi, ramah dan pemalu adalah kesan pertama yang terpancar dari balik kaca matanya. “Dibeliin nyokap kok”, ungkapnya polos.

Lajang yang menempuh studi perfilman di Institut Kesenian Jakarta ini terbilang giat dalam berkesenian. Selain menggeluti bidang film, utamanya dokumenter, ia juga meramaikan kancah musik lokal dengan dua proyek utamanya : Individual Distortion dan Depriver. Eksperimentasi musik era digital yang tinggal diperhalus di beberapa bagian. Apa sih sebenarnya yang  membuat Adit begitu mencintai musik? “Listen to the beat. If it moves you, it’s good. If not, it ain’t worth shit”, ujarnya dalam bahasa inggris aksen Amerika, yang sontak mengingatkan saya pada pembawa acara Paranoia. Lantas ia menyebutkan nama beberapa musisi favoritnya. Beruntung, beberapa dari mereka ada yang kami kenal sehingga obrolan pun mengalir dengan baik.

Selain musik? Makan!! Adit, yang di kalangan pengguna internet juga banyak dikenal dengan nama disasterhead, adalah pendiri dan pengasuh blog pengulas makanan Jajalable. Janjinya untuk menghadirkan kuliner cult memang berhasil ditepati. Selain sukses mengulas makanan yang variatif, ia juga mengundang berbagai kalangan (utamanya wanita muda) untuk menulis sehingga menu yang ditampilkan tidak monoton. Tidak lupa, karya akhirnya semasa di IKJ juga berhubungan dengan makanan, dan kampung halamannya,  Sumatera Barat. Judulnya: tambuah ciek! Bukti bahwa anak muda metropolitan seperti Adit tidak lupa pada tanah kelahirannya.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, Adit memang tidak menutup diri dan mata terhadap berbagai hal baru. Jika perempuan menutup hatinya terhadap Adit, itu adalah perkara lain. Perkara yang juga enggan dibahas oleh Adit. “No komen.. ”. Mudah-mudahan kami tidak terlalu menyinggung perasaannya.

Memang, ketika ditanya tentang wanita yang sedang dekat dengan dirinya, ia hanya  menjawab, “Tai ah”, sembari membuang muka. Dan tertawa lepas beberapa saat kemudian. Tawa yang menandakan sebuah kebahagiaan terdalam, sekaligus mengakhiri wawancara singkat ini dengan riang. Setelah diam sesaat, dan mendengar suara jangkrik, Adit lantas bangkit berdiri dan berkata: “Laper dah gw. Cari makan yuk. Gw traktir dah.”  sembari mengajak kami mencari gerai Seven Eleven terdekat.