Tag Archives: Pendidikan

Mengawal RUU PT: Sebuah Refleksi

Dan RUU itu pun berkurang satu huruf.

Setelah lebih dari satu tahun dirumuskan di DPR, RUU Pendidikan Tinggi resmi disahkan pada Jumat (13/07) silam. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam perjalanan advokasi RUU tersebut, dan inilah saat yang tepat untuk merefleksikan prosesnya demi perbaikan sistem pendidikan nasional.

Perdebatan soal substansi dan eksistensi UU ini saya anggap final. Palu telah diketuk, dan mereka yang berkepentingan dengan UU ini, baik pro maupun kontra, telah mengambil sikap. Saya pun demikian. Tak perlu dipertanyakan, regulasi apapun yang mempertaruhkan nasib pendidikan (tinggi) dari segi aksesibilitas dan kualitas tidak perlu didukung.

Namun, pelajaran yang seharusnya kita ambil masihlah sangat saru. Benarkah kita telah melawan dengan cara-cara yang tepat? Apakah ‘amunisi’ itu telah kita arahkan pada sasaran yang sesungguhnya? Hal ini, misalnya, bisa diterjemahkan ke dalam satu pertanyaan sederhana: ‘Benarkah RUU ini murni inisiatif DPR?’ Continue reading

Pendidikan Tinggi dalam Pusaran Pasar

The business mind, having its own conversation and language, its own interests, its own intimate groupings in which men of this mind, in their collective capacity, determine the tone of society at large as well as the government of industrial society. . . .We now have, although without formal or legal status, a mental and moral corporateness for which history affords no parallel.

John Dewey, 1930, p. 41[1]

Kebijakan, harus mengarah pada kebajikan. Kebaikan umum, kebaikan bersama. Dalam tiap kebijakan, faktor utama yang seharusnya menjadi landasan adalah aspek kepentingan atau kebaikan bersama (bonum commune), dimana tujuan kebijakan publik adalah untuk mengatur kehidupan bersama, dan cita-cita bersama. Itulah esensi dari tiap produk kebijakan, terlepas dari tingkatan yang diatur dan aktor yang mengatur.

Masa depan pendidikan tinggi di Indonesia bisa jadi akan ditentukan oleh sebuah kebijakan yang niscaya akan disahkan oleh DPR. Produk hukum tersebut adalah RUU Pendidikan Tinggi yang sudah satu tahun lebih digodok di Senayan dan akan menentukan kiprah perguruan tinggi di seluruh pelosok Nusantara. Mengingat efeknya yang cukup besar, substansi RUU tersebut menjadi arena pertarungan berbagai kelompok yang berkepentingan pada kondisi dunia pendidikan.

Dalam hal pendidikan tinggi, tiap produk kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak eksekutif maupun legislatif seharusnya berpatokan pada cita-cita luhur untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa. Tugas kebijakan pendidikan tinggi adalah untuk memastikan bahwa akses terhadap Perguruan Tinggi merupakan hak yang dimiliki oleh tiap warga negara, tanpa terkecuali dengan memastikan bahwa pendidikan tinggi merupakan public goods yang terjaga roh akademiknya.  Namun, mencermati berbagai arah kebijakan pemerintah dewasa ini, kejanggalan akan cepat terasa.  Continue reading

Pak Rektor dan si iMac

Ada banyak rumor yang beredar tentang perpustakaan pusat Universitas Indonesia yang sedang dalam tahap penyelesaian pembangunan. Secara resmi, pada hari jumat 13 Mei 2011 (waw, Friday the 13th),  perpustakaan yang hanya memuat 3-5 juta buku ini (bandingkan dengan National Library of China, Beijing: 22 juta, atau Vernadsky National Scientific Library of Ukraine, Kiev dengan 13 juta buku) resmi dibuka.

Dengan semangat pembuktian berbagai rumor tersebut, saya pun mengayunkan langkah menuju mercusuar baru kampus UI.

Di tengah jalan, slogan “green campus, world class campus” pun terngiang-ngiang di benak saya. Dalam hati saya mengingat kata-kata seorang dosen yang memelesetkan istilah world class campus menjadi working class campus, mengingat kondisi para pegawainya yang carut marut. Dosen saya ini adalah mantan guru pak rektor. Terbukti memang, murid gemar kencing berlari.

Syahdan, saya memasuki perpustakaan yang terjanjikan itu. Saya berusaha untuk menjaga fikiran yang terbuka dan tidak asal mencecar tanpa dasar yang jelas. Mudah-mudahan juga tidak ada wangi kopi Starbucks yang menggoda, seperti banyak digunjingkan.  Saya juga berharap bioskop yang ramai dibicarakan itu tidak terwujud. Kalau ada saya batal shalat Jumat deh!

Begitu memasuki perpustakaan dari sisi timur, saya membaca kata-kata yang terukir di kaca dalam bahasa yang tidak saya pahami. Tapi saya yakin artinya pasti bagus. Keren. Secara arsitektur, perpustakaan ini memang patut dapat skor 3-4 dari 5 bintang. Saya hanya bisa mengomentari luas ruangan yang jauh dari kesan sempit. Sepertinya ia dirancang untuk merepresentasikan pikiran mahasiswa yang harus terbentang luas. Mungkin. Saya rasa mahasiswa arsitektur lebih patut berkomentar soal ini.

Konon pula  gedung perpustakaan ini dirancang dengan konsep sustanaible building. Apalagi, sebagian kebutuhan energi menggunakan energi surya. Mudah-mudahan juga pikiran para pengunjungnya bersifat sustainable, alias tidak sekali pakai habis. Amin.

Cita-cita untuk meningkatkan minat membaca mahasiswa memang sudah berhasil, bahkan di hari pertama. Terbukti, saya berhasil mengabadikan mahasiswi yang sedang membaca sebuah ebook berjudul facebook. Ini buku kan yah??

Saya heran dengan nada-nada sinis yang mengatakan orang Indonesia malas membaca. Ha! (maaf,sarkas memang nama belakang saya)

Setelah mengitari beberapa ruangan dan lantai di gedung tersebut, saya nyaris frustrasi mencari seorang pemandu yang menjelaskan pengunjung soal sejarah, lokasi dan fungsi ruangan yang ada. Untungnya, saya berhasil menemukan target operasi saya: komputer iMac! Saya tidak berhasil menghitung jumlahnya satu-per satu, tetapi konon jumlahnya mencapai 500. Banyak? Wah, kan katanya perpustakaan bisa menampung 10.000 pengunjung per hari. Ga sebandiing lah yaa dengan 500 komputer.

Harga sebuah iMac 21 inch seperti yang digunakan di perpustakaan UI adalah Rp 11 juta. Berarti, total biaya yang tertelan ialah 5,5 miliar. Itu hanya 5,5% dari keselurahan anggaran, yakni sekitar 110 miliar. Tidak sedikit memang, tetapi selama itu bisa meningkatkan peringkat UI di Times Higher Education Index, jalan apa pun bisa ditempuh. 500 iMac = World Class Campus. Sepertinya Itulah logika mereka.

Perlu dicatat, I have nothing against Apple. Saya sendiri pengguna Macbook. Poinnya di sini adalah, apakah harus menggunakan iMac? Bukankah komputer sejenis banyak yang lebih murah dan dapat menghemat anggaran? Belum lagi biaya perawatan komputer Mac yang relatif lebih mahal. Menurut saya, penggunaan iMac ini adalah minus besar dari segi efisiensi. Mari berharap bahwa tidak ada yang rusak dalam waktu dekat, mengingat kita (orang Indonesia) punya masalah besar dalam kultur perawatan dan pemeliharaan fasilitas publik.

Nah, yang merawat fasilitas ini siapa nanti? Saya lalu teringat dengan demonstrasi para pegawai UI pekan lalu yang menuntut kejelasan soal status kepegawaian mereka. Ironis. Di saat gedung megah ini bakal berdiri tegak, para pegawai, termasuk para pengajar, bahkan tidak tersentuh persoalan mendasarnya. Mungkin hal ini tidak terhitung dalam indikator kampus terbaik di dunia.

Lalu, apakah gedung yang dilengkapi dengan bioskop dan Starbucks adalah indikasi akan kualitas internasional? Indikator akan jeratan globalisasi dan konsumerisme sih iya. Setahu saya, di berbagai kampus skala global, kampus dengan kultur akademik yang kuat adalah universitas yang mampu menyediakan iklim belajar dan riset yang steril dari segala bentuk komersialisasi dalam kehidupan kampus keseharian.

Juga, di mana peran perpustakaan fakultas jika semua buku diborong ke perpustakaan pusat? Mengapa semuanya sekarang tersentralisasi, bahkan sampai ke urusan administratif yang justru merepotkan kegiatan belajar mengajar di tingkat fakultas?

Setelah sekitar 20 menit berpusing-pusing dalam gedung yang dicanangkan sebagai perpustakaan terbesar di Asia Tenggara, saya memutuskan untuk lanjut shalat Jumat ke MUI yang hanya berjarak satu menit. Dalam 1 menit tersebut, ada 5 poin yang terlintas di benak saya:

  

      

  1. Mudah-mudahan gosip soal Starbucks itu tidak benar

  2. Mudah-mudahan gosip soal bioskop 21 itu tidak benar

  3. Mudah-mudahan gosip soal iuran Rp 300.000,00 itu tidak benar

  4. Mudah-mudahan koleksi bukunya benar-benar mencapai 5 juta (dan lebih), yang berarti koleksi buku baru bertambah, terutama dari segi kualitas.

  5. Tamat riwayatmu jika poin 1-3 ternyata bukan gosi  p

  

Secara arif, kita harus mengakui nilai tambah yang dihasilkan perpustakaan ini. Sewajarnya, gedung ini menjadi motivasi bagi civitas akademika untuk menghasilkan karya dan inovasi yang lebih baik lagi. Ini adalah fasilitas yang harus dimanfaatkan tanpa batas. Sebaliknya, ia juga harus menjadi pengingat bahwa UI memiliki banyak prioritas lain yang selama ini terabaikan. Di balik bayang-bayang gedung ini, nasib UI dan perguruan tinggi lainnya dipertaruhkan melalui RUU Perguruan Tinggi yang akan disahkan tahun ini. Hantu komersialiasi terlihat jelas di dalamnya.

Sadarilah bahwa nasib pendidikan tinggi tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan mercusuar ala UI di bawah rektornya saat ini. Agenda utama pendidikan tinggi bukanlah mengejar peringkat, melainkan memperluas akses yang adil bagi semua lapisan masyarakat dan mendorong kampus sebagai inkubator inovasi dan di tengah masyarakat. Kalau saya ingat lagi masalah penutupun pintu Kutek dan pintu Barel, saya rasa UI malah hanya menjadi inkubator masalah bagi warga di lingkungan sekitar.

Mari berharap perpustakaan ini tidak menjadi simbolilasi dari sebuah menara gading baru. Syukurlah, saya tidak sendirian dengan opini tersebut. Beberapa kawan dari BEM UI membentangkan spanduk di stasiun yang berisikan komentar-komentar ini:

Lalu, apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita petik dari pembangunan gedung ini? Bagi saya sangat sederhana namun sangat prinsipil dan dapat menggambarkan karakter dan cara pandang seseorang. Yakni kepekaan, kejelian, dan kepedulian seorang pemimpin. Saya mengakui rektor UI saat ini memiliki visi yang jelas, dan mengetahui di mana ia ingin melihat kampus dan dirinya dalam beberapa tahun ke depan. Tetapi di situ ia perlu menyeimbangkan visi tersebut dengan kepekaan dalam membaca prioritas yang dihadapi secara operasional, dan problem struktural yang menjerat pendidikan tinggi. Sayangnya, beliau tampak hanya sibuk mengurus halaman depan dan mengabaikan kebun belakang. Padahal, dari kebun belakang itulah ia memetik sayur dan buah yang memenuhi kebutuhan pangan sehari-harinya.

Melihat sepak terjang rektor ini, saya jadi ingat seorang presiden di negeri antah berantah yang dicecar oleh rakyatnya karena ketidakpekaan, tetapi disanjung oleh dunia internasional karena sikapnya yang patuh dan penuh hormat. Konon, presiden tersebut yang akan meresmikan perpustakaan ini nantinya. Wah, kebetulan sekali yaaa?

Saya jadi ingat lagi kutipan dosen saya yang mengingat kata-kata pak rektor: “Saya hanya punya dua pilihan: meninggalkan sesuatu untuk UI tetapi dibenci, atau disukai oleh orang-orang tanpa meninggalkan apa-apa.”

Tenang. iMacnya ga bakal dibenci kok Pak.

 

Hardiknas Minus Inspirasi

Pertama-tama, selamat hari pendidikan nasional. Ucapan tersebut perlu kita sampaikan, mengingat tanggal 2 Mei kita seolah diwajibkan untuk sekali dalam satu tahun menyisakan simpati kita pada pendidikan.  Seperti sebuah ritual, kita digiring ke lapangan upacara, mendengarkan pidato kepala sekolah, guru atau seorang pimpinan dan menundukkan kepala sejenak. Bukan karena termenung atau tertegun, tetapi karena terik matahari yang menjemur kita di siang bolong. Upacara adalah kegiatan yang sebenarnya tidak pernah disukai oleh pesertanya. Tanyakan saja kepada anak-anak. Esensi dan penjiwaan nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah upacara hilang oleh ragam formalitas dan simbol-simbol yang menyederhanakan. Nasib hardiknas pun tidak jauh berbeda. Yang ada mungkin hanyalah sebuah pengulangan.

Continue reading

Menuju Keunggulan Glokal

 

Di tengah terowongan gelap pendidikan yang seolah tak berujung, muncul cahaya kecil dari Surakarta, tepatnya dari kampus Universitas Sebelas Maret Solo. Cahaya tersebut datang berupa kabar pendirian Institut Javanologi yang bertujuan untuk memberi ruang bagi pengkajian budaya Jawa dan revitalisasi nilai luhurnya.

 Berita ini mungkin tidak terlalu menarik jika dilihat secara sempit, yakni sebatas peningkatan kualitas institusi kampus UNS, atau bahkan secara etnosentris, dengan melihatnya sebagai upaya pengagungan budaya Jawa yang mengesampingkan kajian kebangsaan dan nation building.

 Penglihatan yang lebih seksama dengan sudut pandang yang lebih luas akan melihatnya justru dengan sangat berbeda.

 Saat ini pendidikan nasional dihadapi dengan sebuah krisis identitas. Pernyataan ini didasari polemik konsep sekolah bertaraf internasional baik untuk sekolah negeri dan swasta, standarisasi yang terlalu mengacu pada tolak ukur internasional, dan kebijakan lainnya yang mengerdilkan siswa dan guru, mengekor pihak lain tanpa membangun sebuah rasa percaya diri. Akibatnya, pendidikan nasional menjadi ajang pertaruhan jati diri manusia dan bangsa Indonesia.

Continue reading

Mencermati Politik Pendidikan

 

Layaknya sebuah barang dagangan, pendidikan tidak pernah sepi pembeli. Lapak yang digelar si pedagang tidak pernah kekurangan pengunjung. Isu pendidikan memang senantiasa laku untuk dijual. Perannya yang sangat strategis dan menentukan membuat pendidikan menjadi ajang perebutan berbagai kepentingan. Dan tidak terkecuali kekuasaan. Mulai dari tingkat nasional hingga ke pelaksanaan PAUD.

Pada zaman kolonial, kebijakan politik dalam pendidikan bisa dilihat dalam penggolongan jenis sekolah sesuai dengan strata yang berlaku di dalam masyarakat. Bagi pribumi, sekolah yang dapat diakses hanyalah sekolah bumiputera, berbeda dengan sekolah bagi kaum Belanda dan timur asing, yang dapat memasuki sekolah lebih bagus seperti ELS.

Contoh kebijakan pendidikan seperti itu, oleh Louis Althusser diistilahkan dengan Ideological State Apparatus, dimana pendidikan berfungsi untuk menanamkan norma, nilai, cara pandang, kepercayaan dan moralitas penguasa ke dalam diri anak dan siswa untuk mentransmisikan dan melestarikan ideologi penguasa atau pemerintah. Juga masih cukup segar dalam ingatan, bagaimana Orde Baru menjadikan pendidikan sebagai corong untuk menyuarakan ideologi negara penguasa yang harus diamini oleh semua pihak, dimulai dari anak-anak. Dengan demikian, pendidikan berperan strategis untuk melanggengkan tampuk kepemimpinan.

Continue reading

Revisiting Our Schools

 

Indonesia is at the brink of an economic upturn. Several outlooks and comments have predicted a bright year for Indonesia in 2011, in terms of investment and economic growth. The term CIVET, an abbreviation for Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey,South Africa, is said to be the new magical word, replacing BRIC (Brazil, Russia, India, China) as the well-known term for emerging countries in the global economic map.
 
It is of course pleasing to know that Indonesia is stepping up the global ladder. But merely relying on economic results and performance to measure a country’s progress would show a one-sided way of thinking.We would become one dimensional men, as Herbert Marcuse suggested. Thus,even if economic growth would hit 6-6,3% in this year as officially targeted, what significance would it have to the society and its welfare? Can economic improvement assure social improvements?
 
 

Wacana Pendidikan Alternatif Indonesia

 

Tidak ada yang perlu didefinisikan secara baku di bawah istilah pendidikan alternatif. Yang ada sebenarnya hanyalah ekspektasi akan sebuah bentuk pendidikan yang berbeda dari yang kita kenal (pendidikan formal/schooling) pada umumnya.  Secara sosio-historis, pendidikan direduksi fungsi dan maknanya sebagai sebuah bentuk penyekolahan semata, sebagai akibat dari industrialisasi dan modernisasi. Arti pendidikan yang secara luas adalah pembelajaran manusia sebagai upaya terus menerus untuk mengenal diri dan dunianya dalam rangka memerdekakan dirinya sebagai sebuah subyek, direduksi menjadi pembelajaran formal di dalam sekolah, dengan kebutuhan untuk melengkapi diri dengan keahlian formal yang memungkinkan seseorang untuk kemudian ikut serta dalam lapangan kerja.

Selayang Pandang Pendidikan Nasional

Di Indonesia, pendidikan formal menemukan bentuknya pada masa kolonial, didorong oleh politik etis pemerintah kolonial yang sesungguhnya juga dipicu oleh kebutuhan tenaga pribumi administratif terdidik murah (clerk), selain karena desakan dari tokoh-tokoh liberal Belanda pada saat itu. Adapun tokoh lokal/nasional yang dapat dikatakan sebagai perintis pendidikan formal di Indonesia sebelum masa kemerdekaan adalah KH Ahmad Dahlan yang pada 1918 mendirikan sekolah formal Madrasah Muallimin Muhammadiyah sebagai sekolah kader di Yogyakarta, dan juga Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922.


Pasca kemerdekaan dan periode-periode berikutnya, pemerintah Indonesia mencoba membentuk sebuah sistem pendidikan yang komprehensif namun terlalu banyak melewati proses trial and error, dengan keterbatasan infrastruktur dan pengajar yang mumpuni untuk mencetak manusia Indonesia baru. Kritik terbesar yang dialamatkan kepada pemerintah adalah sifatnya yang hanya meneruskan sistem pendidikan warisan kolonialisme, dan tidak pernah mampu merancang bangunan pendidikan yang berpijak pada lokalitas dan kekhasan yang dimiliki masyarakat Indonesia. Nasibnya pun kian diperparah oleh politisasi era Orde Baru, dimana pendidikan dimanfaatkan untuk mempertahankan status quo dan menjadi alat penamanan ideologi tunggal Pancasila serta mengekang wacana pembelajaran alat kritis dan cenderung lebih berat pada pemanfaataan otak kiri.

Rendahnya perhatian pada pembangunan sosial dan alokasi anggaran pendidikan dan sektor publik lainnya, menjadi benih ketidakmerataan pendidikan dan minimnya aksesibilitas. Di sinilah pendidikan alternatif mengambil perannya. Walau akhirnya dipandang sebatas sebagai pendidikan non-formal, pendidikan alternatif muncul dalam ragam bentuk dan pola.

Continue reading

Sawitmu, Sekolahku

"The more expensive a school is, the more crooks it has"
J.D Salinger – Catcher in the Rye

Di tengah-tengah perumahan Bumi Serpong Damai yang asri dan tertata rapih, berdirilah sebuah bangunan menawan yang jika dipandang dari kejauhan, hampir menyerupai sebuah mal. Letaknya persis di pojok, perempatan Jalan.. Posisinya yang strategis menyiratkan harga tanahnya yang pasti cukup mahal. Apalagi jika dikalikan dengan luas lahan yang ditempati.


Bangunannya sendiri mungkin hanya menempati 5/8 dari luas lahan. Tetapi, dengan tiga lantai yang dimiliki, bangunan itu pasti dapat menampung banyak ruangan dan manusia, untuk keperluan apapun. Keberadaan sebuah gedung bertingkat tiga di wilayah BSD bukan sesuatu yang luar biasa. Puluhan ruko dan sentra niaga dapat kita temui di kota satelit tersebut.

Sama halnya dengan gedung yang telah digambarkan di atas. Apa yang terdapat di dalam gedung tersebut adalah fasilitas yang sepertinya dicari-cari oleh penduduk kota tersebut. Sebuah kebutuhan utama, sekaligus hak dasar tiap warga negara Indonesia. Sesuatu yang kita namakan pendidikan. Dalam realita kebendaan, kita mengenalinya dalam bentuk ruangan segi empat yang kita namakan sekolah.
 
Ternyata, gedung bertingkat tiga di pojok jalan T.M. Pahlawan Seribu, BSD, yang ternyata merupakan sebuah sekolah itu, juga memiliki sebuah nama. Sinarmas World Academy mereka memanggilnya dan merupakan produk terbaru dari kelompok taipan Sinar Mas yang, menurut penuturan mereka, adalah wujud dari kepedulian terhadap dunia pendidikan Indonesia. Memajukan pendidikan nasional, sembari mempertahankan privilese sekelompok orang, mungkin adalah istilah yang tepat.
siapkan minimal 100 juta

Privilese ini memang sebuah kemewahan. Sebanding dengan kemegahan gedung, luas lahan dan tentu juga bayaran sekolah, adalah fasilitas yang ditawarkan Sinar Mas cs. Mulai dari satpam dengan metal detector lengkap dengan senyum hangat, hingga ke guru bule yang ga ngerti apa kata anak-anak. Sebuah keadaan yang akan semakin umum di pendidikan swasta, akibat tren sertifikasi internasional dalam dunia pendidikan. Ah, toh orang tua dari anak-anak ini memang tidak pernah berniat untuk mengajarkan anak-anak mereka untuk peduli pada lingkungan sekitar. So why should they give a damn anyway, right?

Di wilayah bumi lain, ribuan kilometer dari sekolah tersebut, di tengah hamparan hutan dan belantara rimba, berjejerlah ratusan, dan bahkan ribuan pohon kelapa sawit. Kelapa sawit adalah versi lain dari kisah soal blood diamond. Ini adalah cerita soal lingkungan alam dan sosial yang terlantar akibat pengerukan sumber daya yang meresahkan. Dan, pemilik perkebunan tersebut adalah tangan-tangan yang menggelontorkan miliaran rupiah untuk membangun sebuah world academy. Meja dan bangku di sekolah tersebut adalah hasil dari pembabatan paru-paru masyarakat di sebuah wilayah yang hanya mereka kenal dari foto di buku. Itu juga kalau kurikulumnya mengizinkan mereka untuk belajar soal Geografi Indonesia.
 

Ah, tapi saya sudah kebayang koq bagaimana guru mereka akan mengajarkan geografi. Dalam bahasa Inggris tulen, berujarlah guru pirang mereka : “Kids, this area here is Riau. That is where you can find palm oil and tropical rainforest. Both are natural resources which are good for the economy. “

That is where your daddy got the money to pay your ridiculous tuition fee.