Tag Archives: Jalan Jalan

Babad Tanah Papua I

Petualangan perdana menuju tanah Papua dimulai pada hari minggu petang, dengan Damri dari Blok-M menuju Sukarno Hatta. Di saat warga Jakarta masih mengumpulkan tenaga untuk menghadapi hari Senin, saya sudah tidak sabar untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk dan polusi ibukota. Akhirnya gerbang 4 terminal 2 Sukarno Hatta menyambut saya.


Masih dua jam tersisa di arloji sebelum pesawat lepas landas, dan saya pun memutuskan untuk sedikit berputar-putar di Bandara Sukarno Hatta yang sedang berbenah agar layak disebut sebagai Bandara Internasional. Hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Sukarno Hatta menjadi lebih bersih dan bisa dibedakan dengan terminal bus.
 
Tetapi, kondisi Sukarno Hatta masih jauh tertinggal dengan Bandara Sultan Hasanuddin yang menjadi persinggahan pertama pesawat GA 650. Ya, Pelabuhan udara di kota Makassar ini memang pantas dipuji lantaran desain dan penataan ruangannya yang apik.
Meskipun kami hanya menunggu 20 menit, namun persinggahan sejenak itu memberi kesempatan untuk mengambil nafas yang dalam karena ruangan bandara yang terkesan besar dan lega, sangat jauh dari kesan bandara yang sumpek dan penuh dengan lautan penumpang, seperti umumnya bandara-bandara di daerah. Perjalanan di tengah malam berlanjut ke arah Biak, tempat pesawat kembali mengisi bahan bakar. Diiringi hujan, pesawat menelan puluhan liter bahan bakar sementara para penumpang berteduh dalam mimpi mereka.

Dan tak terasa, di balik ketebalan awan, tanah hijau papua mulai menampakkan diri. Warna hijau dan biru yang terlihat bergantian di bawah sayap Garuda menggoda mata untuk terus memandang ke luar pesawat.

Dan, tak lama kemudian, kapten dengan suaranya yang khas pilot Garuda, mengumumkan akhir dari perjalanan selama 6 jam. Penderitaan pantat para penumpang pun berakhir seiring dengan mendaratnya pesawat di Bandara Sentani. Akhirnya, berhasil! Sampai juga di tanah Papua.


Bandara Sentani yang mungil menjadi pintu gerbang menuju kota Jayapura yang secara topografis terdiri atas perbukitan dan juga pantai. Kondisi yang unik ini tidak memungkinkan Jayapura untuk dihuni banyak orang, karena terbatasnya dataran yang bisa dijadikan permukiman.
Akhirnya, kita pun disuguhi pemandangan rumah-rumah yang nyempil di antara bukit-bukit.

Hal ini sungguh menarik. Selain karena menyajikan pemandangan yang tak lazim kita temukan di kota-kota lain di tanah air, keadaan ini juga berpengaruh pada pola permukiman warga Jayapura. Menurut penuturan seorang tukang ojek yang sudah 12 tahun menetap di kota tersebut (ia asli dari Manado), pola permukiman juga dipengaruhi oleh profesi dan latar belakang seseorang.

Sebagai contoh, warga Bugis dan Makassar banyak yang tinggal di pinggir Danau Sentani lantaran profesinya sebagai nelayan. Pendatang lain seperti kelompok Jawa banyak menetap di daerah kota karena berkecimpung dalam wirausaha.
Bahkan, menurut sang tukang ojek, perbandingan penduduk pendatang dengan penduduk asli sekarang sudah menjadi 60:40. Meskipun keabsahan data itu bisa dipertanyakan, namun secara sepintas hal itu bisa kita percaya. Baik di pasar,di jalanan dan angkutan umum, ataupun di dalam pemerintahan,dengan mudah kita dapat menemui warga pendatang.

Pembangunan dan Peminggiran

 
Di balik ketidakaturan tata ruang kota itu, tersimpan suatu warna tersendiri. Warna itu adalah perbedaan budaya yang dibawa oleh masing-masing kelompok, baik itu etnis, agama, yang dibawa ke dalam masyarakat kota Jayapura. Asal bisa dikelola dengan baik, berbagai macam warna itu sebenarnya bisa menghasilkan suatu gambar yang menarik dan cerah.
 
 
Tetapi yang ada saat ini ialah kelompok masyarakat yang hidup dalam satu tempat tanpa benar-benar berinteraksi satu sama lain. Akibatnya, tiap kelompok masih hidup dengan membawa satu stereotip tentang kelompok lain di dalam kepala mereka, dan kelompok pendatang cenderung melihat masyarakat asli papua dengan stigma sebagai pemalas, suka pesta, dan tidak memiliki pandangan ke depan. Padahal, menurut para pendatang, orang bisa dengan mudah memperoleh uang jika mau mengerjakan apa pun. Karena di papua saat ini uang banyak berputar dan tidaklah sulit untuk bisa ikut kecipratan. Syaratnya hanya mau mengerjakan apa pun yang bisa dikerjakan. Dan etos ini yang tidak dimiliki penduduk asli, menurut para warga pendatang.
 
Karakter lain yang disematkan kepada penduduk asli ialah kebiasaan mereka yang suka minuman keras, sehingga muncul lelucon bahwa orang Papua, jika kaya, hidup di jalanan. Karena setelah memperoleh uang banyak, mereka biasanya akan berfoya-foya dengan mabuk-mabukan, hingga tidak sadar dan tidur di jalan. Sementara jika sedang miskin dan tidak punya uang, mereka tinggal di rumah.
 
Cerita lain adalah pelaksanaan Otsus yang menurut berbagai pihak masih gagal. Otsus hanya berguna bagi mereka yang duduk di tampuk kekuasaan dan dengan demikian berkuasa karena menjadi pembuat kebijakan. Cerita lama, mereka yang dekat dengan penguasa pun lebih mudah mendapatkan izin usaha dan eksplorasi SDA. Jadi, tidak heran jika di daerah Papua sekarang banyak berseliweran mobil-mobil SUV dan juga beberapa sedan menengah ke atas, bahkan dengan pelat B (Jakarta). Konon, mobil-mobil tersebut adalah mobil pengusaha dan mobil pejabat ataupun aparat setempat yang kini memperoleh mobil sebagai bingkisan dan pelican usaha-usaha yang sedang dan akan dibuka di daerah Papua. Jika kita datang ke sebuah kota seperti Jayapura, Wamena, Merauke dsb, maka yang harus kita ingat ialah bahwa apa yang ada kota hanyalah singgahan sementara dari kekayaan yang berputar di dalam hutan dan balik bukit, yakni kekayaan alam yang sesungguhnya. Dan sebagian besar uang yang dikeruk di sana tidak lari ke kota, tetapi langsung keluar dari Papua itu sendiri.

Ah, tetapi tulisan ini tidak bermaksud untuk menganalisis secara mendalam proses pembangunan dan perubahan yang sedang terjadi di tanah Papua. Sebaliknya, penulis hanya ingin member pandangan sekilas dan mengajak pembaca berkunjung ke sana suatu waktu, ketimbang menghamburkan uang untuk belanja ke Singapur. Lihat saja eloknya danau Sentani di samping, bagaimana mungkin kita tidak ingin membasahi kaki di dalamnya?

Selain itu, Jayapura menjanjikan kita pemandangan pantai dan laut yang menggiurkan. Seandainya waktu dan uang saya memadai, saya pasti akan kembali ke tanah Papua.