Tag Archives: Jalan Jalan

Waterloo, Belgium

Lelah dengan kuliah, saya memutuskan untuk bertamasya ke daerah Benelux dengan seorang kawan. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah situs bersejarah Waterloo, tempat di mana Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan terakhirnya dan menjadi titik balik sejarah Eropa. Mind-blowing (padanan bahasa Indonesianya apa dong?)Kedahsyatan pertempuran Waterloo mungkin tidak tergambar dalam foto-foto di bawah, tapi ini lah sedikit oleh-oleh yang bisa saya bagikan. 

Butte du Lion, tugu peringatan pertempuran Waterloo. sumber : pribadi

Butte du Lion, tugu peringatan pertempuran Waterloo. sumber : pribadi

Continue reading

Meliput Berlinale 2013

Dapat kejutan di awal tahun: diminta untuk meliput Berlin International Film Festival 2013 untuk seorang kawan di Jakarta. Permintaan seperti ini mah tidak mungkin ditolak. Alhasil, hanya beberapa hari setelah mengerjakan ujian akhir semester, saya berangkat ke Berlin, kota yang selalu menerima saya dengan tangan terbuka. 

Sayang, ketika tanggal 13 Februari tiba, sebagian besar artis yang saya nantikan sudah kembali meninggalkan acara tersebut. Artis dan sutradara seperti Ethan Hawke, Julie Delpy, Michael Winterbottom atau Richard Linklater sudah terlanjur pulang. Ah, tapi tak apa, saya datang untuk mencari sensasinya, bukan artisnya. Dan memang, meski bukan merupakan festival film megah dan bertabur bintang Hollywood, Berlinale sudah memiliki resep sendiri yang membuatnya dekat dengan komunitas pembuat dan pencinta film. Continue reading

Bertemu Saudara di Timor Leste

Perjalanan menuju Timor Leste diawali dengan tergopoh-gopoh. Karena teman saya yang bule lupa membawa surat keterangan Setneg bahwa bebas pajak dan tidak terkena NPWP, maka kami harus kembali keluar bandara dan menarik uang dari ATM. Tapi tidak semudah itu, karena waktu ternyata sudah mepet dan kami harus benar-benar berlari untuk sampai ke pintu pesawat.

Berhasil! Terengah-engah kami akhirnya masih bisa mencapai gate 9 bandara Ngurah Rai, dimana ternyata masih banyak orang telat lainnya mengantri. Dengan menumpang Merpati kita akhirnya bertolak menuju DIli, dimana paspor saya mendapatkan stempel pertamanya setelah sekian lama. Kesan pertama setelah sampai di sana? Banyak sekali bule yang berseliweran. Entah itu turis ataupun orang-orang yang mendapatkan pekerjaan dan penghasilan dari negara yang baru lahir ini.

Kesan itu berlanjut ketika kita memasuki kota Dili. Sangat mudah untuk menemukan kendaraan operasional lembaga internasional, dan juga, produk-produk internasional di toko ataupun pom bensin. Akhirnya saya menyimpulkan: Bukan, orang-orang asing tersebut bukan turis. Mereka memang bekerja di sini dan mengisi kekosongan sebagai konsultan, staf ahli, pemasok barang dan sebagainya. Mereka mengisi keahlian yang dibutuhkan oleh sebuah masyarakat, tetapi ternyata belum mampu diisi oleh penduduk setempat sendiri. Apa jadinya jika UN dan sejumlah lembaga itu keluar dari Timor Leste? Itu yang menjadi pertanyaan saya sedari menginjakkan kaki negara tetangga ini.

Continue reading

Pontianak

Jujur, rasa penasaran saya lebih besar daripada pengetahuan saya tentang Pontianak. Yang saya tahu hanya bahwa Pontianak merupakan ibukota Kalimantan Barat, dan dilewati sebuah sungai. Belakangan saya baru ingat, bahwa sungai itu bernama Kapuas.Yah begitulah, pengetahuan geografi saya memang tidak terlalu membanggakan. 

Tiba di Pontianak, saya disuguhi pemandangan bandara yang mungil alias kecil. Taksi yang berkeliaran di kota pun juga kecil, yakni Daihatsu Ceria. Berbeda dengan sungai Kapuas yang sangat lebar dan menjadi urat nadi transportasi Kalimantan Barat. Sebelum menginjakkan kaki di hotel, saya dibawa ke tugu Khatulistiwa, penanda posisi kota Pontianak yang persis berada di garis khatulistiwa. 

Jujur, tidak banyak hal yang saya ketahui tentang ibukota Kalimantan Barat ini; kecuali tentang ekspansi lahan kelapa sawit yang gila-gilaan di wilayah ini. Sama dengan daerah lainnya di Borneo, Kalimantan Barat menyimpan segudang potensi, namun menampakkan wajah yang penuh ironi, seperti daerah Singkawang yang dihiasi kemiskinan dan cerita soal perdagangan manusia di wilayah perbatasannya. Potensi wisata juga tersimpan di daerah ini, tetapi sayangnya belum dikelola dengan baik. Hal ini terlihat dari obyek wisata keraton Kadariyah yang menyimpan banyak fakta historis menarik, tetapi dibiarkan berdebu dan terlupakan.

Selain sejarah yang menyisakan sebuah keraton, Pontianak juga memiliki minuman yang unik, yakni lidah buaya. Pelepas dahaga yang biasa disajikan di warung-warung makan ini dari rasa dan rupanya menyerupai nata de coco. Pelengkap jajanan khas Pontianak adalah kue Bingka, kue yang mengingatkan pada…ah saya pun tidak bisa menyamakannya dengan kue-kue sejenis. 

Sementara di sore hari, kegiatan yang paling asyik adalah memandangi aktifitas di sungai Kapuas sambil menunggu perginya matahari.

 

Terakhir, sebagai penutup, yang merangkum perjalanan singkat ke Kalimantan, saya melihat-lihat dan mencoba merasakan tinggal di rumah Dayak. Walau tidak mendapatkan imajinasi tersebut karena hanya merupakan simulasi atas kehidupan yang tidak terbayangkan oleh orang kota, saya cukup senang melihat arsitektur dan hiasannya. Lumayan, daripada lumanyun. :)

Sayang, saya tidak sempat melihat perkebunan sawit yang mengepung wilayah Kalimantan Barat. Karena di sanalah terdapat kehidupan yang sesungguhnya. Sementara Pontianak hanyalah potret atas impian untuk menjadi sebuah kota metropolitan yang tidak pantas untuk dikejar.

Sabang Saja

"Dari Sabang sampai Meeraaauukeee, berjajar pulau-pulau.."

Nah, kalau Sabang sendiri letaknya di pulau manaa hayoo?? 

Setiap kali memperingati hari kemerdekaan RI dan peringatan kenegaraan lainnya pada zaman SD, saya dibuat penasaran dengan nama ini : Sabang. Setelah membuka atlas di rumah (ini konteksnya masih saya yang zaman SD yah), saya baru sadar bahwa nama wilayah yang sering terucap itu adalah sebuah kota di ujung barat Indonesia, di Aceh. Sebagai anak yang hanya bisa tinggal di Jakarta, saya tentu dibuat penasaran olehnya.

Rasa penasaran itu baru terobati sekitar 15 tahun kemudian, atau persisnya pada bulan Desember 2009, ketika saya mendapat kesempatan untuk menginjakkan kaki di Nanggroe Aceh Darussalam, termasuk di Sabang yang banyak digunjingkan itu. Di kalangan turis backpacker, terutama internasional, Sabang dikenal sebagai "harta karun" karena relatif belum tersentuh dan seramai pulau lainnya di wilayah Asia. Dan sayangnya, justru orang Indonesia sendiri banyak yang belum mengetahui keelokan garis terdepan nusantara ini. Saya sendiri pun seperti hendak bertemu dengan gebetan ketika tiba di sini. 

Cara paling mudah menuju Sabang adalah melalui pelabuhan di Banda Aceh. Tinggal beli tiket kapal cepat seharga Rp 7.000,00 , dan selebihnya kita tinggal menikmati pemandangan laut lepas selama kurang lebih 45 menit. Tiba di pelabuhan, hal pertama yang terpikirkan adalah mencari sarana transportasi. Sayang, di Sabang belum terdapat angkutan umum seperti mikrolet atau bus, sehingga pilihan yang paling masuk akal adalah menyewa mobil, seperti Avanza yang dihargai Rp 350.000- 400.000 per hari, dengan supir. 

Sebagai catatan, Sabang adalah wilayah pelabuhan bebas, sama seperti Batam atau Singapura. Sabang pun sebenarnya menyimpan potensi untuk menjadi sentra perdagangan, dan pintu masuk bagi aktifitas niaga di Aceh secara khusus. Hal yang menarik, di Sabang kita dapat dengan mudah menemui kendaraan impor dari beragam merk yang dihargai cukup mahal atau tidak masuk ke wilayah lain di Indonesia, seperti Toyota Supra, Lancer Evo7 dan 8, Mitsubishi Voltz, Honda Fit,dll. Kota kecil ini pun membuat kita merasa seperti berada di luar negeri. Konturnya yang berbukit-bukit sedikit mengingatkan pada kota-kota pesisir selatan Itali. Tapi sepertinya di Sabang tidak ada mafia seperti di sana.

Sebagai turis, supir mobil sewaan biasanya akan membawa Anda ke Tugu Kilometer Nol, yakni titik terluar resmi nusantara. Inilah batas terluar NKRI di sebelah Barat, atau ujung bibir sebelah kiri Indonesia. Tugu yang dari segi bangunan tidak terlalu istimewa ini melempar saya balik ke zaman SD : "Oh jadi ini toh maksudnya dari Sabang sampai Merauke."  Yep, tugu inilah wujud dari keberadaan Sabang sebagai titik paling jauh di sisi Barat Indonesia dan penanda kedaulatan NKRI dari segi wilayah. 

Perjalanan ke titik nol yang memakan lebih dari 1 jam harus dihadiahi dengan istirahat. Di Sabang, turis biasanya menginap di resort yang terdapat di pinggir pantai. Bentuknya bukan bangunan permanen, tapi seperti pondokan yang terbuat dari bambu dan kayu, sehingga terasa sangat alami dan langsung berhubungan dengan pantai. Resep yang sama juga dipakai oleh Fredi, seorang warga negara Afrika Selatan yang membuka pondokan Freddi Santai Sumur Tiga, tempat saya menginap di Sabang.


Dan inilah pantai yang bisa diakses langsung dari pondokan Freddies. Hanya dua kata : luar biasa. Deru ombaknya dijamin membuat anda tidak ingin tidur. Atau sebaliknya, mengantar Anda begitu cepat ke dalam alam mimpi. Laut yang relatif belum tersentuh ini memang sangat menggoda, dan membuat saya ingin menabung untuk dapat kembali menjumpainya. Semoga saja.

Oh iya, jawabannya, di Pulau Weh :)

Bangka

Ini perjalanan pertama saya ke pulau Bangka. Dan saya datang dengan kepala kosong, tetapi dengan sebuah ekspektasi yang cukup besar. Ternyata, kota Pangkalpinang sangat bersih dan lumayan banyak diisi dengan rumah- rumah tingkat. Sidik punya selidik, rumah – rumah bertingkat tersebut ternyata berisi burung Wallet. Yep, sarang burung wallet di sana justru lebih bagus daripada rumah si pemilik sarang itu sendiri. Mereka yang gemar memelihara burung, Wallet, pasti tahu bahwa keuntungan yang diperoleh cukup besar sehingga sebuah sarang yang bagus sama dengan investasi yang menjanjikan. Setelah itu, makan siang di tempat yang konon sudah cukup terkenal dan menjadi menu wajib buat mereka yang doyan wisata kuliner, yaitu Mie Koba. Yang membuat mie ini istimewa adalah kuahnya yang dibuat dari kari daging ikan. Rasanya ? Gurichchchchc. Dan bisa diperoleh di bawah ceban alias Rp 10.000.

Continue reading