Tag Archives: Gibberish

Pulang Kampung

” But tomorrow I’ll be a different person, never again the person I was. Not that anyone will notice after I’m back in Japan. On the outside nothing will be different. But something inside has burned up and vanished. Blood has been shed, and something inside me has gone. Face turned down, without a word, that something makes its exit. The door opens; the door shuts. The light goes out. This is the last day for the person I am now. The very last twilight. When dawn comes, the person I am won’t be here any more. Someone else will occupy this body.”

Haruki Murakami. Sputnik Sweetheart. Page 189. 

Senjakala Chomsky

Noam Chomsky public lecture @DW Global Media Forum

Sumber/source: DW Global Media Forum 2013

Terkadang seorang intelektual atau cendekiawan tak ubahnya seorang artis. Hal ini terasa benar ketika saya menghadiri kuliah umum Noam Chomsky di Bonn, 17 Juni 2013 silam. Kata ‘peserta’ mungkin lebih tepat diganti dengan kata ‘penonton’. Karena pengalaman yang lebih pas adalah menonton Noam Chomsky, bukan mendengarkan atau menyimak.  Continue reading

Gagal Move On

Mendengar kata Jerman, sang pseudo intellectual akan merasa terangsang. Di kepalanya muncul kata Marx, Hegel, teori kritis Frankfurt School, Nietzsche, Dahrendorf dan seabreg tokoh yang lazim ia gunakan sebagai wewangian dalam tulisan. Sayang, sang pseudo intellectual lupa bahwa kalender sudah mencatat tahun 2013. Sementara ia masih menganggap dirinya hidup di tahun 1950, zaman di mana Jerman masih memiliki banyak etalase pemikiran, bahkan sedang mengalami masa keemasan baru berkat proyek para pemikir mereka di Universitas Frankfurt, yang kita kenal dengan mazhab Frankfurt School. 

Continue reading

Adythia Utama: A Man For All Occasions

 

Di balik lensa, di depan komputer, di atas panggung, ataupun di meja makan penjaja kuliner ibukota, Adythia Utama adalah sosok yang dapat memberikan sensasi tersendiri dalam berbagai situasi di atas. Ya, anak muda yang satu ini memang membagi bakatnya ke dalam banyak bidang. Film, musik, penulisan and whatnot. Tokoh muda yang banyak menginspirasi sesamanya.

“I’m everything you’re not”, ujarnya mantap, ketika diminta menggambarkan dirinya dalam tiga kata oleh wartawan everlastinggaze. Well, melebihi tiga kata sih, tetapi cukup dahsyat bukan? Yeah, we do think so.  Setidaknya dia tidak sok merendah dengan menyebut dirinya sebagai ordinary man/boy. Kalau semua orang dalam profil facebook mereka mengaku sebagai manusia biasa, maka Adit adalah contoh anak muda dengan kepercayaan diri yang sehat. Dalam hal ini Anda tidak perlu membuang waktu mendengarkan Mario Teguh, tiru saja kawan kita yang satu ini. Penuh imajinasi, ramah dan pemalu adalah kesan pertama yang terpancar dari balik kaca matanya. “Dibeliin nyokap kok”, ungkapnya polos.

Lajang yang menempuh studi perfilman di Institut Kesenian Jakarta ini terbilang giat dalam berkesenian. Selain menggeluti bidang film, utamanya dokumenter, ia juga meramaikan kancah musik lokal dengan dua proyek utamanya : Individual Distortion dan Depriver. Eksperimentasi musik era digital yang tinggal diperhalus di beberapa bagian. Apa sih sebenarnya yang  membuat Adit begitu mencintai musik? “Listen to the beat. If it moves you, it’s good. If not, it ain’t worth shit”, ujarnya dalam bahasa inggris aksen Amerika, yang sontak mengingatkan saya pada pembawa acara Paranoia. Lantas ia menyebutkan nama beberapa musisi favoritnya. Beruntung, beberapa dari mereka ada yang kami kenal sehingga obrolan pun mengalir dengan baik.

Selain musik? Makan!! Adit, yang di kalangan pengguna internet juga banyak dikenal dengan nama disasterhead, adalah pendiri dan pengasuh blog pengulas makanan Jajalable. Janjinya untuk menghadirkan kuliner cult memang berhasil ditepati. Selain sukses mengulas makanan yang variatif, ia juga mengundang berbagai kalangan (utamanya wanita muda) untuk menulis sehingga menu yang ditampilkan tidak monoton. Tidak lupa, karya akhirnya semasa di IKJ juga berhubungan dengan makanan, dan kampung halamannya,  Sumatera Barat. Judulnya: tambuah ciek! Bukti bahwa anak muda metropolitan seperti Adit tidak lupa pada tanah kelahirannya.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, Adit memang tidak menutup diri dan mata terhadap berbagai hal baru. Jika perempuan menutup hatinya terhadap Adit, itu adalah perkara lain. Perkara yang juga enggan dibahas oleh Adit. “No komen.. ”. Mudah-mudahan kami tidak terlalu menyinggung perasaannya.

Memang, ketika ditanya tentang wanita yang sedang dekat dengan dirinya, ia hanya  menjawab, “Tai ah”, sembari membuang muka. Dan tertawa lepas beberapa saat kemudian. Tawa yang menandakan sebuah kebahagiaan terdalam, sekaligus mengakhiri wawancara singkat ini dengan riang. Setelah diam sesaat, dan mendengar suara jangkrik, Adit lantas bangkit berdiri dan berkata: “Laper dah gw. Cari makan yuk. Gw traktir dah.”  sembari mengajak kami mencari gerai Seven Eleven terdekat.

Kita Semua Peduli Lingkungan. Tapi Siapa Yang Peduli Sama Buruh ??

 

Tua-muda, kaya-miskin (terutama yang kaya sebenarnya), eksekutif, legislatif, Deddy Mizwar sampai Yudi Latif. Kita semua peduli sama isu lingkungan dan pemanasan global. Ya iyeaalaah. Kalo bumi angus, kita juga ikut modar. Fenomena gerakan lingkungan hampir sama panasnya dengan pemanasan global itu sendiri. Sebuah petanda yang bagus dan menunjukkan bahwa kita, tua-muda, kaya-miskin (terutama yang kaya sebenarnya), eksekutif, legislatif, Deddy Mizwar sampai Yudi Latif, ternyata masih bisa peduli dan tidak hanya memikirkan soal perut saja dalam hidup ini.

Ah, tetapi, kamu tahu tidak reaksi mereka, ketika sadar akan ada aksi bersama untuk merayakan hari buruh pada tanggal 1 Mei ?

" Wah macet dehhh.."

"..emm..masih aja tuh pada demo?

" emang apa lagi sih yang mereka minta?"

"Aghh, kan gw hari ini mau ke EX, kenapa ga demo hari lain aja sih?!!? "

Dan itu adalah komentar dari kita, atau mereka, yang katanya peduli sama isu lingkungan. Mungkin, mereka belum pernah berfikir, bahwa tangan yang memproduksi Panasonic Inverter, Toyota Prius, atau yang membangun perumahan hijau serta menyulam kantong plastik degradable adalah tangan saudara mereka.

Dan saudara mereka itu hanya menuntut haknya, termasuk untuk melampiaskan ekspresi mereka dan menguasai jalanan ibukota untuk setidaknya 5 jam saja. Dalam 1 hari. Yang kebetulan jatuh pada tiap tanggal 1 Mei. Dan kita, tua-muda, kaya-miskin (terutama yang kaya ), eksekutif, legislatif, Luna Maya sampai Thalita Latief, sudah terbiasa hanya memikirkan hak diri sendiri, tanpa sadar betapa hak jutaan orang Indonesia masih belum terpenuhi. Karena yang kita fikirkan hanya hak untuk sampai ke mal tanpa macet.

Hari gene cuma ngomong pemanasan global ?? Pernah denger soal Sistem Jaminan Sosial Nasional ??

 

Selamat Hari Buruh Kawan !! Di atas keringatmu, Boediono tertawa senang.

It is a Suicide Machine

The idea of suicide is not a strange one in this city. In fact, the city itself is going suicidal.The spirit of life may be in its highest form, but it is illuminating. What you need to see from this city are not the center stages, not the skyrocketing towers. What you have to ask yourself is what happens behind the sliding doors and beneath the basement.

Doping is the most appropriate word to describe an unsustainable way of building a city that has become uncivilized in many aspects. Because this city has always been high, if you know what I mean. Development only took place due a high dose of loans, hot money and financial capital that circulates in the elite.

 

Continue reading

Wawancara dengan Prof. Google

Siapa yang tidak kenal Prof.Google? Siswa SD hingga mahasiswa doktoral memanfaatkan jasanya sebagai sumber ilmu pengetahuan di era post modern ini. Meskipun kita hampir tiap hari berhubungan dengannya, sosok sebenarnya tetaplah merupakan sebuah misteri. Wawancara ini terbilang eksklusif karena selama ini Prof. Google memang cukup tertutup dan tidak pernah memberi wawancara langsung. Berikut ini wawancara eksklusif seorang wartawan dengan Prof. Google di kediamannya di Silicon Valley.

Journalist (J) : It’s a pleasure to have you with us, Mr. Google. How is everything going?

Google (G) : Frankly, not so well…I feel a little bit exhausted lately…my therapist also told me to take some rest.

 

Continue reading