Tag Archives: Food for Thought

Now brewing: Mapping think tanks in Post-Soeharto Indonesia

I am currently working on a rather unexplored theme, namely the role of think tanks in producing knowledge within the post-Soeharto era. One of the central questions that I’m asking is how think tanks influence the policymaking process with regard to their ideological position, provided they have any. Hence, the key to answering this question is by locating them on a well-calibrated left to right scale, measuring their disposition through publications, mission statement and other recent works.

This study will be conducted independently and is not commissioned by the organization to which I’m currently attached. If you have any ideas or insights on how I could approach this work, feel free to contact me. I will welcome any kind of input as it can only enrich my perspective. Cheers!

Dosa Kelas Menengah

Catatan: Mengawali tahun baru dengan melampiaskan rasa kesal. Bad writing, good catharsis. 

Antri Crocs

Tiada cara yang lebih baik untuk mengawali sebuah tahun baru selain dengan mengumbar optimisme berbalut skeptisisme. 2012 adalah momen emas ekonomi Indonesia, begitu ungkap para pakar ekonomi pasar. Setelah 2011 membuktikan tajinya, 2012 adalah momen yang tepat untuk menekan gas-habis-habisan. Sampai benar-benar habis.

Sebagai seorang non ekonom (dikotomi yang paling sahih dalam dunia ilmu sosial: ekonom dan non-ekonom. Tidak ada tempat bagi antropolog, sosiolog, sejarawan.), saya merasa inilah saatnya bagi para ekonom dan pengamat pasar modal untuk tampil necis dan siap sedia membawa gel rambut, karena sepertinya di tahun shio Naga ini mereka akan sering diundang stasiun TV untuk menyihir pemirsa dengan mantra-mantra GDP, PDB, cadangan devisa, ekspor, nilai tukar,  pertumbuhan ekonomi, dll.

 

Walhasil, Indonesia tampaknya telah berhasil memenuhi janjinya, yakni menjadi salah satu motor sekaligus poros perputaran ekonomi global.  Jumlah penduduk yang kebenarannya hanya diketahui petugas sensus dan Tuhan, terbukti menjadi mantra lain yang mujarab bagi investasi asing: pasar yang tumpah ruah. 2012 akan kembali melanjutkan tren tersebut dimana uang di dalamnya terus berputar, walau hanya di tempat yang itu-itu juga.

 

 


Continue reading

Puasa dan Pajak Kendaraan Bermotor

Selamat. Anda telah bertemu kembali dengan ritual tahunan menahan lapar dan dahaga. Di tengah kerinduan Anda untuk berbuka dengan kolak buatan ibunda tercinta, saya bertaruh Anda akan bertemu dengan ini :

Kemacetan, sederhananya, adalah  ekses dari ketidakmampuan dalam menahan diri. Dalam hal ini, menahan diri untuk membeli kendaraan bermotor tanpa mempertimbangkan segala akibat sosialnya. Menahan diri untuk membawa pulang Ford Fiesta dengan DP 30 Juta. Memboyong Yamaha Vixion dengan DP 1 Juta. Petaka seperti gambar di atas dapat saja dihindari, jika beberapa pihak rela untuk puasa membeli Vellfire 2011.

Atau, demi perbaikan sistem transportasi yang harus menjadi jawaban atas kemacetan Ibu kota, relakah Anda berkorban dan membayar Pajak Kendaraan Bermotor dalam jumlah yang lebih besar..?

Selamat berpuasa. Keikhlasan untuk berkorban adalah esensi sesungguhnya. Agar anda tidak terjebak seperti pada gambar di atas, dan terpaksa berbuka di tengah kemacetan. 

Revisiting Our Schools

 

Indonesia is at the brink of an economic upturn. Several outlooks and comments have predicted a bright year for Indonesia in 2011, in terms of investment and economic growth. The term CIVET, an abbreviation for Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey,South Africa, is said to be the new magical word, replacing BRIC (Brazil, Russia, India, China) as the well-known term for emerging countries in the global economic map.
 
It is of course pleasing to know that Indonesia is stepping up the global ladder. But merely relying on economic results and performance to measure a country’s progress would show a one-sided way of thinking.We would become one dimensional men, as Herbert Marcuse suggested. Thus,even if economic growth would hit 6-6,3% in this year as officially targeted, what significance would it have to the society and its welfare? Can economic improvement assure social improvements?
 
 

A Reminder

 Young people are trapped in a vicious circle of not being able to effectively bring about social change as they are limited to take on positions as volunteers, interns and community service workers. As a result, development as a profession ranks much lower for young people than joining the private sector or government. Being associated with organizations such as NGO and CSO are considered 'un-cool' by their peers and has negative connotations as organizations that are commonly know as irrationally radical and uncompromising.

Worse still, jobs are badly paid. In Asia, where family influence is still paramount, it is extremely rare for families to encourage their children to join development sector because of the lack of growth opportunities, low pay and little social recognition that if offers. As a result, capable young people become disinterested in pursuing development as a profession."   

(Source: Startup and Change the World; A Guide for Young Social Entrepreneurs.)

Saya menghayati betul pernyataan di atas. Sebagai seorang anak muda yang secara sadar memilih untuk menempuh jalan terjal di sektor non profit, saya hanya bisa mengamini pandangan tentang “trapped in a vicious circle of not being able to effectively bring about social change”. Padahal, mimpi atau dorongan untuk menghasilkan perubahan sosial itulah yang membawa saya ke tempat di mana saya sekarang berpijak.

Umur itu Relatif.

Dalam olahraga catur, usia muda adalah belasan.

Di cabang tenis, atlit dianggap muda jika berumur 15 – 20.

Dalam sepakbola, seseorang dianggap belia jika belum berusia 24.

Dunia/industri hiburan dan layar kaca memberi Anda predikat 'muda', jika berkisar 18-26 tahun.

Dalam wilayah akademik (baca:dosen), darah Anda dianggap segar jika belum menapaki usia 30.

Dekan termuda sekarang maksimal berumur 35.

Sementara seorang diplomat diberi label muda jika belum mencapai usia 40.

Lain lagi dengan kelompok 'intelektual' atau cendekiawan. Umur 45 pun terkadang disebut muda.

Negarawan? Asal belum nyampe gocap deh….

Yang paling heboh? Istri muda. Yang umur 50 aja ada.

——-
* maklum. penulis baru saja menambah usianya. sedang mencari pembenaran bahwa dia masih muda.mudah-mudahan awet spirit pemudanya. Amiiiiiinnn