Tag Archives: Everything in Between

Sociosite

Sociosite

Sociosite

Dulu saya pernah bercita-cita untuk menjadikan blog ini sebagai online repository berbagai situs yang resourceful. Tapi apa daya, kemalasan saya ternyata jadi penghalang utama. Nah, beruntunglah kita karena ada situs yang bernama sociosite. Dibuat dan dikelola oleh beberapa akademisi gendeng di Amsterdam, laman ini memuat (hampir) semua hal yang esensial dalam ilmu sosial. Termasuk nerdy jokes yang hanya lucu di kalangan tertentu. A latest muse of mine.

Matikan Twittermu

Twitter hanyalah sumber kebisingan. Sungguh. Tak pernah menggunakannya secara maksimal dan menemukan kenyamanan menjadi seorang tweep. Iya, ini tentu soal preferensi dan cara pemanfaatan, tetapi eksperimen saya untuk bercericit dalam 140 karakter bisa dibilang gagal. Maka mematikan Twitter adalah pilihan yang paling masuk akal buat saya.

Omong-omong akal, saya juga tidak pernah bisa mengerti tweep yang kerjanya hanya curhat dan membuat keramaian dan menyebarkan kebodohan di twitter. Ada satu kata untuk mereka : selebtwit alias celebtwat. Harusnya orang Indonesia lebih rajin menulis buku harian daripada bercericit. Pasti Human Development Index kita akan melejit. Percaya deh.

Secara pribadi, mematikan Twitter akan membantu saya menyeleksi informasi yang saya rasakan berguna dan berarti. Tak perlu terganggu suara gaduh penuh omelan sampah. Kurasi informasi begitu penting di era ini. Karena itu saya berharap blog ini akan lebih penuh dengan catatan dan informasi menarik yang biasanya akan hilang sekejap jika dilempar di twitter. Maunya sih saya bisa mengkurasikan hal-hal yang menarik dan didokumentasikan di sini. Semacam Brainpickings KW 2. Hehe. Anyway, untuk saat ini prinsipnya adalah: Matikan Twitter, hidupkan kembali blog. Amin.

Nah, sebagai pembuka, tautan yang mau saya bagi di sini adalah wawancara Alec Baldwin dengan Thom Yorke. Sadis bukan? Semakin jarang kita menemukan sesuatu yang benar-benar mengandung kualitas dan kedalaman. Wawancara selama hampir 1 jam ini adalah pengecualian. Langsung lah dihampiri!

 

Di Peron

 

Ia diam termenung. Sesekali ia melongok ke arah kiri, berharap melihat bayangan merah yang datang menjemputnya. "Auf Gleis 2, RE 6 richtung Duisburg ueber Muelheim, Abfahrt um 12:20, heute 5 Minuten Verspaetung", terlontar dari seorang perempuan melalui pengeras suara. Lugas dengan penekanan yang jelas, menyiratkan keseriusan sekaligus ketidaktarikannya pada kata-kata yang baru saja terucap. “Tumben terlambat, biarpun lima menit”, ucapnya pelan sembari melongok ke papan pengumuman.

Deutsche Bahn telah menjadi teman barunya, setelah belakangan ini rajin menyambangi stasiun. Terutama setelah sering mengunjungi kelas di Universitaet Essen, dimana kereta menjadi sarana penghubung paling efektif, dan atraktif. Di stasiun, ia bisa menyaksikan tingkah polah ragam individu. ABG yang bertukar cerita tentang pasangan mereka, bocah belasan tahun dengan ponsel Samsung yang lebih besar dari tangannya, seorang perempuan paruh baya yang terlihat menyimpan segudang cerita namun terpaksa menahannya karena duduk di samping pemuda dengan kuping tersumbat pemutar musik. Di stasiun, ia merangkai cerita, tanpa harus menggunakan bahasa. Jika pun diperlukan, ia hanya perlu memilih dari yang tersedia: Jerman, turki, inggris, belanda, arab, dan sekian lain yang tak terjamah kuping.

Selama ini ia menganggap stasiun sebagai persinggahan. Tetapi lambat laun makna subyektifnya telah berubah. Continue reading

The Wenger Complex

 

Siapapun yang pernah main Football Manager dan kemudian menonton Moneyball akan merasakan sebuah afinitas. Menyaksikan Billy Beane membawa perubahan pada dunia bisbol, seolah–olah kita bisa merasakan pahit manisnya hidup seorang manajer tim sepakbola, atau untuk ini, bisbol. Memang, bagi banyak orang, (industri) olahraga bukan sekedar masalah menang kalah. Ini soal hidup. Ini soal identitas, soal membangun sejarah, soal keindahan dan kebahagiaan. Tetapi film tersebut menyisakan sebuah pertanyaan: Benarkah hasil akhir itu tidak penting?

***

Continue reading

Pemudanya Sama Saja

Belum lama ini kita telah menziarahi Sumpah Pemuda, hari dimana golongan muda sontak menjadi protagonis baru dalam lakon perjalanan bangsa. Pemuda, menjadi harapan semua orang, mulai dari orang tua hingga orang utan, untuk menyemai kehidupan yang lebih baik. Sesuatu yang patut, dan wajar.

Tiada rasa yang lebih nyaman ketimbang diberi kepercayaan oleh mereka yang selama ini tidak bisa dipercaya. Dan kepercayaan ini merupakan modal yang tidak bisa dibeli karena sifatnya yang merupakan pemberian.

Lalu, seperti apakah pemuda kita akan mengolah modal tersebut?

Sayangnya, dengan mengembalikannya kepada mereka yang kita sebut pemilik modal.

Ada yang merasa tersinggung?

Wajar.

Darah muda.

Tidak terima?

Silahkan mengadu di linimasa. Continue reading

Puasa dan Pajak Kendaraan Bermotor

Selamat. Anda telah bertemu kembali dengan ritual tahunan menahan lapar dan dahaga. Di tengah kerinduan Anda untuk berbuka dengan kolak buatan ibunda tercinta, saya bertaruh Anda akan bertemu dengan ini :

Kemacetan, sederhananya, adalah  ekses dari ketidakmampuan dalam menahan diri. Dalam hal ini, menahan diri untuk membeli kendaraan bermotor tanpa mempertimbangkan segala akibat sosialnya. Menahan diri untuk membawa pulang Ford Fiesta dengan DP 30 Juta. Memboyong Yamaha Vixion dengan DP 1 Juta. Petaka seperti gambar di atas dapat saja dihindari, jika beberapa pihak rela untuk puasa membeli Vellfire 2011.

Atau, demi perbaikan sistem transportasi yang harus menjadi jawaban atas kemacetan Ibu kota, relakah Anda berkorban dan membayar Pajak Kendaraan Bermotor dalam jumlah yang lebih besar..?

Selamat berpuasa. Keikhlasan untuk berkorban adalah esensi sesungguhnya. Agar anda tidak terjebak seperti pada gambar di atas, dan terpaksa berbuka di tengah kemacetan. 

A Reminder

 Young people are trapped in a vicious circle of not being able to effectively bring about social change as they are limited to take on positions as volunteers, interns and community service workers. As a result, development as a profession ranks much lower for young people than joining the private sector or government. Being associated with organizations such as NGO and CSO are considered 'un-cool' by their peers and has negative connotations as organizations that are commonly know as irrationally radical and uncompromising.

Worse still, jobs are badly paid. In Asia, where family influence is still paramount, it is extremely rare for families to encourage their children to join development sector because of the lack of growth opportunities, low pay and little social recognition that if offers. As a result, capable young people become disinterested in pursuing development as a profession."   

(Source: Startup and Change the World; A Guide for Young Social Entrepreneurs.)

Saya menghayati betul pernyataan di atas. Sebagai seorang anak muda yang secara sadar memilih untuk menempuh jalan terjal di sektor non profit, saya hanya bisa mengamini pandangan tentang “trapped in a vicious circle of not being able to effectively bring about social change”. Padahal, mimpi atau dorongan untuk menghasilkan perubahan sosial itulah yang membawa saya ke tempat di mana saya sekarang berpijak.

Yang Kami Rindukan di Afrika Selatan!!

Rooney, Messi, Cristiano Ronaldo, Torres, dan lagi-lagi Rooney. Tidakkah Anda bosan mendengar nama-nama itu? Sepertinya media Indonesia (dan juga dunia) hanya mengenal pesepakbola yang itu-itu saja. Setiap kali ada pertanyaan "siapa yang akan menjadi bintang di PD 2010", maka nama-nama di atas dipastikan akan muncul. Men, sepakbola kayaknya bukan cuma soal Wayne Rooney deh (Aduh, maaf ya, saya memang tidak pernah terlalu suka  striker MU ini.hehe)

Tetapi, ajang bal-balan terbesar di dunia ini memang terancam kehilangan sihirnya lantaran absennya sejumlah bintang akibat cedera. Sebut saja Michael Ballack, Michael Essien, David Beckham, Rio Ferdinand, Nani dll. Makan sop tanpa garam saja tidak enak, apalagi nonton bola tanpa Beckham (maksudnya sih mo nyindir anak cewe yang nonton bola gara-gara Beckham.hehehe).

Di luar para pesakitan yang terpaksa nonton bola dari layar kaca, kita sebagai penonton juga kehilangan beberapa aktor sepakbola handal  di Afsel. Ya, sejumlah pemain yang kita tunggu-tunggu di Liga Inggris, Itali, Spanyol dan UEFA Champions League harus rela menunggu untuk (setidaknya) bisa tampil di Piala Dunia berikutnya. Dan yang dirugikan bukan hanya mereka, tetapi pencinta sepak bola seantero jagat, karena tidak bisa menyaksikan sentuhan ajaib mereka pada si kulit bundar.

Kenapa mereka tidak bisa tampil? Macem-macem. Ada yang timnasnya tidak lolos, tidak cocok dengan skema permainan pelatih, penampilan yang dianggap menurun (oleh si pelatih), dianggap sudah terlalu tua, dan juga beberapa alasan pribadi (baca : Wayne Bridge). Apapun itu, Piala Dunia tahun ini pasti akan lebih ciamik jika diikuti oleh pemain-pemain dan pelatih di bawah ini.

Tentu, ini adalah Dream Team versi saya. Yang tidak setuju, silahkan susun Dream Team versi Anda dan nanti akan kita adu di FM, atau di Winning Eleven. Yuuk Mariii

Continue reading

Umur itu Relatif.

Dalam olahraga catur, usia muda adalah belasan.

Di cabang tenis, atlit dianggap muda jika berumur 15 – 20.

Dalam sepakbola, seseorang dianggap belia jika belum berusia 24.

Dunia/industri hiburan dan layar kaca memberi Anda predikat 'muda', jika berkisar 18-26 tahun.

Dalam wilayah akademik (baca:dosen), darah Anda dianggap segar jika belum menapaki usia 30.

Dekan termuda sekarang maksimal berumur 35.

Sementara seorang diplomat diberi label muda jika belum mencapai usia 40.

Lain lagi dengan kelompok 'intelektual' atau cendekiawan. Umur 45 pun terkadang disebut muda.

Negarawan? Asal belum nyampe gocap deh….

Yang paling heboh? Istri muda. Yang umur 50 aja ada.

——-
* maklum. penulis baru saja menambah usianya. sedang mencari pembenaran bahwa dia masih muda.mudah-mudahan awet spirit pemudanya. Amiiiiiinnn