Tag Archives: Development Issues

Pontianak

Jujur, rasa penasaran saya lebih besar daripada pengetahuan saya tentang Pontianak. Yang saya tahu hanya bahwa Pontianak merupakan ibukota Kalimantan Barat, dan dilewati sebuah sungai. Belakangan saya baru ingat, bahwa sungai itu bernama Kapuas.Yah begitulah, pengetahuan geografi saya memang tidak terlalu membanggakan. 

Tiba di Pontianak, saya disuguhi pemandangan bandara yang mungil alias kecil. Taksi yang berkeliaran di kota pun juga kecil, yakni Daihatsu Ceria. Berbeda dengan sungai Kapuas yang sangat lebar dan menjadi urat nadi transportasi Kalimantan Barat. Sebelum menginjakkan kaki di hotel, saya dibawa ke tugu Khatulistiwa, penanda posisi kota Pontianak yang persis berada di garis khatulistiwa. 

Jujur, tidak banyak hal yang saya ketahui tentang ibukota Kalimantan Barat ini; kecuali tentang ekspansi lahan kelapa sawit yang gila-gilaan di wilayah ini. Sama dengan daerah lainnya di Borneo, Kalimantan Barat menyimpan segudang potensi, namun menampakkan wajah yang penuh ironi, seperti daerah Singkawang yang dihiasi kemiskinan dan cerita soal perdagangan manusia di wilayah perbatasannya. Potensi wisata juga tersimpan di daerah ini, tetapi sayangnya belum dikelola dengan baik. Hal ini terlihat dari obyek wisata keraton Kadariyah yang menyimpan banyak fakta historis menarik, tetapi dibiarkan berdebu dan terlupakan.

Selain sejarah yang menyisakan sebuah keraton, Pontianak juga memiliki minuman yang unik, yakni lidah buaya. Pelepas dahaga yang biasa disajikan di warung-warung makan ini dari rasa dan rupanya menyerupai nata de coco. Pelengkap jajanan khas Pontianak adalah kue Bingka, kue yang mengingatkan pada…ah saya pun tidak bisa menyamakannya dengan kue-kue sejenis. 

Sementara di sore hari, kegiatan yang paling asyik adalah memandangi aktifitas di sungai Kapuas sambil menunggu perginya matahari.

 

Terakhir, sebagai penutup, yang merangkum perjalanan singkat ke Kalimantan, saya melihat-lihat dan mencoba merasakan tinggal di rumah Dayak. Walau tidak mendapatkan imajinasi tersebut karena hanya merupakan simulasi atas kehidupan yang tidak terbayangkan oleh orang kota, saya cukup senang melihat arsitektur dan hiasannya. Lumayan, daripada lumanyun. :)

Sayang, saya tidak sempat melihat perkebunan sawit yang mengepung wilayah Kalimantan Barat. Karena di sanalah terdapat kehidupan yang sesungguhnya. Sementara Pontianak hanyalah potret atas impian untuk menjadi sebuah kota metropolitan yang tidak pantas untuk dikejar.

Kerajaan Pangan

http://www.thejakartaglobe.com/media/images/large/20100304230612536.jpg
Tanpa sepengetahuan banyak orang, diam-diam di tanah Indonesia sedang didirikan beberapa kerajaan. Kerajaan ini dinamakan food estate, dan dibangun secara legal karena terlindungi, bahkan didorong, oleh Instruksi Presiden no 5 tahun 2008. Status kerajaan ini layak disematkan mengingat besarnya keluwesan dalam pengelolaan lahan produksi pangan yang diperoleh dan ambisi untuk menjadikannya sebagai lumbung pangan nasional. Keistimewaan ini juga terekam pada Pameran Pangan Nasional Pasok Dunia (29/1) dimana Presiden SBY menegaskan sektor usaha sebagai ”the players, the real actor”dan harus membantu pemerintah untuk merumuskan kebijakan dan strategi yang tepat dan realistik (www.setneg.go.id).

Janji Pembangunan Inklusif
Kehadiran food estate mulai memicu pro dan kontra, meskipun dia merupakan lagu lama yang berulang kali dinyanyikan, yakni soal peran korporasi besar dalam sektor yang menentukan hajat hidup mayoritas penduduk Indonesia: pertanian. Namun, mengingat food estate ini merupakan pembangunan industri pangan terintegrasi pertama di Indonesia, perhatian lebih memang sepantasnya kita berikan.

Wacana Food Estate ini harus dilihat dari beberapa perspektif. Dari sisi pemerintah dan pelaku usaha, ia adalah peluang yang menimbulkan air liur. Tidak hanya investor lokal yang sudah siap memasang papan nama mereka di wilayah Merauke, Jepang dan UEA pun sudah antri giliran . Jelas, ini akan menghasilkan keuntungan jangka pendek yang besar dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal-nasional secara signifikan, mengingat insentif yang dijanjikan pemerintah. Bagi Deptan, ini jelas akan mendorong produktifitas dan perluasan lahan yang selama ini dibiarkan menganggur. Food Estate bagaikan alat kosmetik bagi strategi pencitraan pemerintah yang kerap mengedepankan angka produktifitas pertanian ketimbang nilai pendapatan petani. Kehadiran perusahaan besar ini juga sejalan dengan tujuan pemerintah yang mendorong peningkatan nilai ekspor sebagai penentu arah perekonomian makro.

Di sisi lain, food estate ini justru menimbulkan pertanyaan soal target kedaulatan pangan dan janji duet SBY – Boediono soal pembangunan yang inklusif. Dari segi kedaulatan pangan, food estate tidak berkontribusi banyak, karena bagaimanapun juga, dia tidak lahir dari tangan rakyat yang berdaulat atas tanah dan sumber daya alam di wilayahnya. Food estate adalah pengambil alihan produksi pangan oleh pemilik modal besar, yang didukung oleh negara, dengan memanfaatkan ketidakberdayaan masyarakat lokal dalam mengolah potensi sumber daya yang sudah tersedia. Ironiini akan semakin menjadi-jadi jika food estate ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal dan nasional terlebih dahulu. Continue reading