Tag Archives: Pondering

Wawancara dengan Prof Google : Wikileaks

Wawancara dengan Prof. Google : Wikileaks
 
Shalom. Pada kesempatan ini kita kembali berbincang dengan Prof Google, guru besar di universitas jagad maya. Sebelumnya, kami pernah bertemu beliau untuk membahas jasa search engine (dalam kehidupan sehari-hari. Kali ini, wartawan bawah tanah kami, yang kerap menggunakan nama samaran Iqra Bismi Rabbika (kita juga bingung bagaimana dia bisa lolos imigrasi AS), bertemu khusus dengan Prof Google di Silicon Valley, untuk membahas Wikileaks dan penggunaan Internet sebagai alat penyebar kebenaran, atau juga kebohongan. Simak!

Iqra Bismi Rabbika (I)     : Thanks for having us Mr.Google. I hope everything is going well.

Prof Google (G)               : Oh yes..quite well. Frankly, I’ve seen…..better days.

I         : Yes..they call it climate change, if I’m not mistaken. Well, if you don’t mind, we’d like to talk about the latest internet phenomenon, Wikileaks. What do you think of it?

Sawitmu, Sekolahku

"The more expensive a school is, the more crooks it has"
J.D Salinger – Catcher in the Rye

Di tengah-tengah perumahan Bumi Serpong Damai yang asri dan tertata rapih, berdirilah sebuah bangunan menawan yang jika dipandang dari kejauhan, hampir menyerupai sebuah mal. Letaknya persis di pojok, perempatan Jalan.. Posisinya yang strategis menyiratkan harga tanahnya yang pasti cukup mahal. Apalagi jika dikalikan dengan luas lahan yang ditempati.


Bangunannya sendiri mungkin hanya menempati 5/8 dari luas lahan. Tetapi, dengan tiga lantai yang dimiliki, bangunan itu pasti dapat menampung banyak ruangan dan manusia, untuk keperluan apapun. Keberadaan sebuah gedung bertingkat tiga di wilayah BSD bukan sesuatu yang luar biasa. Puluhan ruko dan sentra niaga dapat kita temui di kota satelit tersebut.

Sama halnya dengan gedung yang telah digambarkan di atas. Apa yang terdapat di dalam gedung tersebut adalah fasilitas yang sepertinya dicari-cari oleh penduduk kota tersebut. Sebuah kebutuhan utama, sekaligus hak dasar tiap warga negara Indonesia. Sesuatu yang kita namakan pendidikan. Dalam realita kebendaan, kita mengenalinya dalam bentuk ruangan segi empat yang kita namakan sekolah.
 
Ternyata, gedung bertingkat tiga di pojok jalan T.M. Pahlawan Seribu, BSD, yang ternyata merupakan sebuah sekolah itu, juga memiliki sebuah nama. Sinarmas World Academy mereka memanggilnya dan merupakan produk terbaru dari kelompok taipan Sinar Mas yang, menurut penuturan mereka, adalah wujud dari kepedulian terhadap dunia pendidikan Indonesia. Memajukan pendidikan nasional, sembari mempertahankan privilese sekelompok orang, mungkin adalah istilah yang tepat.
siapkan minimal 100 juta

Privilese ini memang sebuah kemewahan. Sebanding dengan kemegahan gedung, luas lahan dan tentu juga bayaran sekolah, adalah fasilitas yang ditawarkan Sinar Mas cs. Mulai dari satpam dengan metal detector lengkap dengan senyum hangat, hingga ke guru bule yang ga ngerti apa kata anak-anak. Sebuah keadaan yang akan semakin umum di pendidikan swasta, akibat tren sertifikasi internasional dalam dunia pendidikan. Ah, toh orang tua dari anak-anak ini memang tidak pernah berniat untuk mengajarkan anak-anak mereka untuk peduli pada lingkungan sekitar. So why should they give a damn anyway, right?

Di wilayah bumi lain, ribuan kilometer dari sekolah tersebut, di tengah hamparan hutan dan belantara rimba, berjejerlah ratusan, dan bahkan ribuan pohon kelapa sawit. Kelapa sawit adalah versi lain dari kisah soal blood diamond. Ini adalah cerita soal lingkungan alam dan sosial yang terlantar akibat pengerukan sumber daya yang meresahkan. Dan, pemilik perkebunan tersebut adalah tangan-tangan yang menggelontorkan miliaran rupiah untuk membangun sebuah world academy. Meja dan bangku di sekolah tersebut adalah hasil dari pembabatan paru-paru masyarakat di sebuah wilayah yang hanya mereka kenal dari foto di buku. Itu juga kalau kurikulumnya mengizinkan mereka untuk belajar soal Geografi Indonesia.
 

Ah, tapi saya sudah kebayang koq bagaimana guru mereka akan mengajarkan geografi. Dalam bahasa Inggris tulen, berujarlah guru pirang mereka : “Kids, this area here is Riau. That is where you can find palm oil and tropical rainforest. Both are natural resources which are good for the economy. “

That is where your daddy got the money to pay your ridiculous tuition fee.

Kerajaan Pangan

http://www.thejakartaglobe.com/media/images/large/20100304230612536.jpg
Tanpa sepengetahuan banyak orang, diam-diam di tanah Indonesia sedang didirikan beberapa kerajaan. Kerajaan ini dinamakan food estate, dan dibangun secara legal karena terlindungi, bahkan didorong, oleh Instruksi Presiden no 5 tahun 2008. Status kerajaan ini layak disematkan mengingat besarnya keluwesan dalam pengelolaan lahan produksi pangan yang diperoleh dan ambisi untuk menjadikannya sebagai lumbung pangan nasional. Keistimewaan ini juga terekam pada Pameran Pangan Nasional Pasok Dunia (29/1) dimana Presiden SBY menegaskan sektor usaha sebagai ”the players, the real actor”dan harus membantu pemerintah untuk merumuskan kebijakan dan strategi yang tepat dan realistik (www.setneg.go.id).

Janji Pembangunan Inklusif
Kehadiran food estate mulai memicu pro dan kontra, meskipun dia merupakan lagu lama yang berulang kali dinyanyikan, yakni soal peran korporasi besar dalam sektor yang menentukan hajat hidup mayoritas penduduk Indonesia: pertanian. Namun, mengingat food estate ini merupakan pembangunan industri pangan terintegrasi pertama di Indonesia, perhatian lebih memang sepantasnya kita berikan.

Wacana Food Estate ini harus dilihat dari beberapa perspektif. Dari sisi pemerintah dan pelaku usaha, ia adalah peluang yang menimbulkan air liur. Tidak hanya investor lokal yang sudah siap memasang papan nama mereka di wilayah Merauke, Jepang dan UEA pun sudah antri giliran . Jelas, ini akan menghasilkan keuntungan jangka pendek yang besar dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal-nasional secara signifikan, mengingat insentif yang dijanjikan pemerintah. Bagi Deptan, ini jelas akan mendorong produktifitas dan perluasan lahan yang selama ini dibiarkan menganggur. Food Estate bagaikan alat kosmetik bagi strategi pencitraan pemerintah yang kerap mengedepankan angka produktifitas pertanian ketimbang nilai pendapatan petani. Kehadiran perusahaan besar ini juga sejalan dengan tujuan pemerintah yang mendorong peningkatan nilai ekspor sebagai penentu arah perekonomian makro.

Di sisi lain, food estate ini justru menimbulkan pertanyaan soal target kedaulatan pangan dan janji duet SBY – Boediono soal pembangunan yang inklusif. Dari segi kedaulatan pangan, food estate tidak berkontribusi banyak, karena bagaimanapun juga, dia tidak lahir dari tangan rakyat yang berdaulat atas tanah dan sumber daya alam di wilayahnya. Food estate adalah pengambil alihan produksi pangan oleh pemilik modal besar, yang didukung oleh negara, dengan memanfaatkan ketidakberdayaan masyarakat lokal dalam mengolah potensi sumber daya yang sudah tersedia. Ironiini akan semakin menjadi-jadi jika food estate ternyata tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan lokal dan nasional terlebih dahulu. Continue reading