Studying abroad. Should we?

Melanjutkan kuliah di luar negeri setelah menempuh pendidikan sarjana merupakan pilihan yang sangat menggiurkan bagi banyak orang. Wajar saja, sebab berkuliah di luar negeri dianggap memberikan banyak keuntungan yang rasa-rasanya sayang jika diabaikan begitu saja. Di antara keuntungan tersebut ialah kesempatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sulit ditemukan di tanah air sendiri, prestise serta credential yang seolah menjamin keberhasilan di kemudian hari, serta tentu pengalaman berada di luar negeri itu sendiri dengan segala kesempatan yang tidak terdapat di Indonesia (mulai dari nonton konser sampai memburu sneakers langka). Singkat kata, siapa juga sih yang ngga mau kuliah di seberang sono?
 
 
 
Ya. Siapa ya yang ngga mau? Mungkin pertanyaan ini sebaiknya saya ajukan kepada Edward Said, Mba Spivak, atau mungkin kepada Samir Amin, Arief Budiman, atau juga Hanneman Samuel. Mengapa? Karena dari merekalah saya mendapat inspirasi kuat untuk tidak perlu melanjutkan studi di luar negeri, jika yang dikejar adalah ilmu-ilmu sosial. Mudah saja. Kalau kita memang ingin konsisten dengan masalah sikap mengenai pengetahuan dan identitas, baik itu identitas diri maupun bangsa, maka untuk apa kita repot-repot mencari ilmu di seberang sana dan kembali ke tanah air hanya untuk menggunakan ilmu tersebut sebagai hamba pada perusahaan multinasional. Semuanya menjadi tidak masuk akal ketika kita berbicara mengenai post colonialism tetapi toh tetap memelas mencari beasiswa untuk belajar di Eropa atau Amerika. Saya selalu mengingat ucapan Hanneman Samuel di salah satu surat kabar : “Kepala kita terlalu banyak diisi puisi orang lain”. Wajar saja karena puisi-puisi merekalah yang kita agungkan, karena baru setelah membaca puisi mereka kita mau berusaha menulis puisi sendiri. Karena kita tidak pernah menghargai puisi sendiri selayaknya puisi orang Barat.
 
 
Barat.Barat.Barat.
Adakah yang berani untuk tidak mencari pengetahuan dan kearifan dari para pemikir Barat? Adakah yang berani untuk tidak konform pada nilai yang ditanamkan oleh Barat? Adakah yang berani untuk murni menggarap pengetahuan yang sudah dihasilkan oleh STA hingga Buya Hamka, dari Bung Hatta hingga YB Mangunwijaya, tetapi pada saat yang bersamaan tetap menghargai Aristoteles hingga Chomsky?
 
Saya yakin ada. Dan semua orang juga bisa melakukannya karena hal tersebut tidaklah terlalu sulit. Yang sulit adalah untuk membayangkan nasib jika hanya bisa melanjutkan kuliah di dalam negeri karena, lagi-lagi kita dicekoki pandangan bahwa keberhasilan seseorang di dalam masyarakat ditentukan oleh pernah tidaknya kuliah di luar negeri,khususnya di negara-negara Eropa dan Amerika atau Australia. Dan disitulah letak permasalahannya. Pilihan kita untuk melanjutkan studi ke negara-negara Barat menunjukkan hegemoni Barat yang begitu kuat dan mengakar (internalized) ke dalam diri individu sehingga memaksa kita untuk mengambil pilihan-pilihan yang bagi sebagian besar orang bahkan terjadi tanpa sadar. Bagi mereka yang mampu, kuliah di luar negeri sudah sama hukumnya seperti naik Haji.
 
Ya ya ya.
Lantas apa counterhegemony dari itu ? Gampang. Pilihannya adalah untuk mengambil studi ilmu-ilmu sosial di Amerika Latin, India atau mungkin UGM karena sejauh ini lebih pantas diperhitungkan ketimbang UI dalam hal membicarakan ilmu kerakyatan. Tetapi….seperti yang sudah saya bahas di atas : Hal tersulit bukanlah pelaksanaannya, tetapi membayangkan nasib diri sendiri jika harus menempuh studi di dalam negeri ketika semua kompetitor anda menempuh pascasarjana di Eropa atau Amerika. Mungkin keadaannya bisa dianalogikan dengan laptop dalam negeri yang harus bersaing dengan laptop-laptop luar negeri. Apakah anda akan memilih untuk menjadi laptop buatan dalam negeri atau laptop luar negari? Silahkan anda bayangkan dan tafsirkan sendiri.
 
Singkatnya, berbicara mengenai post colonialism dan juga masalah konstruksi pengetahuan dan identitas yang senantiasa bias Barat, maka tindakan logis yang semestinya mengikuti adalah untuk sekalian saja tidak kuliah ke benua putih, tetapi mendingan bertukar ilmu dengan sesama negara yang konon masih berkembang atau bertahan dengan kuliah di kampus-kampus yang berseliweran di tanah air.
Tetapi sayapun mengakui bahwa perang besar berkecamuk dalam diri saya. Pihak pertama berjuang untuk berhenti mengagungkan studi di Eropa, dan berharap bisa merasakan kedekatan studi pembangunan atau ilmu sosial di negara Amerika Latin. Pihak kedua adalah ‘paksaan’, baik dari dalam maupun luar diri saya (kerennya : struktur) untuk mencoba melanjutkan studi di negara-negara kulit putih. Dan saya tahu. Kemungkinan besar saya akan kalah telak dalam perang tersebut.
Oleh pihak kedua.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.