Sekali lagi: Pemuda

For it is the young, in their desperate need to grow up sanely amid an insane environment, who hunger for lively alternatives.

– Theodore Roszak 

Sekali lagi, dan untuk berkali-kalinya ke depan, wacana tentang pemuda dan kepemudaan perlu kita angkat dan timbang. Bukan sebagai glorifikasi atau perayaan, tetapi sebaliknya: untuk mengingatkan mereka yang merasa sebagai pemuda tentang kerentanan yang melekat pada diri mereka.

Jika bukan karena pemuda, Indonesia yang kita kenal sekarang tidak akan pernah terwujud. Dalam arti yang paling sentral: yang kita kenal sekarang.

Jika bukan karena pemuda, Indonesia (mungkin) tak akan pernah merdeka dan berdaulat, dengan segala kisah dan mitos yang telah kita pelajari dan dengar. Sebaliknya, jika bukan karena pemudanya pula Indonesia menempati peringkat 118 dari 174 negara dalam Corruption Perception Index 2012. Jika bukan karena pemudanya pula, Makassar mungkin bisa hidup tenang tanpa demonstrasi yang berbuntut kerusuhan dan kerusakan. Jika bukan karena kebuntuan pemudanya pula Indonesia mungkin sudah lebih mandiri dan memiliki berjuta-juta wirausahawan yang tidak hanya bisa berbelas kasih pada investasi asing dan bermanja pada perusahaan multinasional.

Lagipula, pemuda adalah sosok yang paling lantang teriak, tapi paling cepat tertelan ketika waktu telah menjemputnya; wisuda, gaji pertama, cicilan motor, biaya pernikahan dan KPR menghempaskannya dari peredaran dunia. Dalam sekejap, standar yang digugat bukan lagi standar kemiskinan 2$ ala World Bank, tapi standar gaji sendiri. Tak pelak, yang diharapkan dari pemuda dalam hal ini adalah konsistensi dan integritasnya dalam menyingsing fajar perubahan.

Di sisi lain, pemuda, dalam konteks gerakan sosial, sering kita dengungkan sebagai agen perubahan. Padahal, tidak ada yang lebih sementara daripada kepemudaan. Secara sosiologis, ia adalah jembatan menuju kematangan sekaligus kekerdilan.  Lantas, tulisan ini sebenarnya terangkum dalam 3 pertanyaan:

  •  Apa yang menjamin sebuah generasi akan lebih baik dari generasi sebelumnya?
  •  Apa yang menjamin generasi ini memiliki nafas yang panjang untuk perubahan?
  • Apa yang menjamin pemuda menjadi agensi yang lebih responsif terhadap kungkungan struktur?

Sebelum euforia tentang gerakan pemuda baru memabukkan, perlu diingat bahwa tidak tiap generasi akan diingat, melainkan karena kontribusinya. Tiap generasi dikenang bukan karena kesementarannya, melainkan karena jejaknya yang bisa ditelurusi dan merintis sebuah jalan perbaikan yang terbuka untuk dilewati generasi berikutnya. Seperti apa generasi ini akan berkontribusi, hanya akan bisa dijawab oleh waktu.

Maka, tawaran apa yang akan diajukan pemuda generasi pasca reformasi? Apakah pemuda angkatan ini mampu menginisiasi, misalnya, gerakan pro revolusi agraria? Atau, katakanlah, sudahkah mahasiswa STAN membuat deklarasi anti korupsi (dari semua pemuda aktifis anti korupsi, STAN yang paling bergeming. mengapa?) ? Contoh lain, apakah pemuda Islam, membuat pakta solidaritas untuk melindungi pemuda LGBT?

Tentu, kabar tentang berbagai inisiatif pemuda beserta ‘gerakan’ yang coba mereka bangun perlu ditanggapi dengan gembira, tetapi juga dengan kepala dingin. Di satu sisi hal tersebut menunjukkan geliat nyata dari berbagai kelompok anak muda yang berbeda latar belakang dan pemikiran, yang –kebetulan atau tidak- ditopang oleh ketersediaan dukungan donor, moral dan finansial. Di sisi lain, hal ini berpotensi mereplikasi problem masyarakat sipil pada umumnya, yakni konsentrasi sumber daya minus efektifitas jaringan yang berujung pada stagnasi gerakan. Istilah populernya : 7L.

Secara geografis, harusnya gerakan ini digiring keluar Jakarta dan Jawa, karena transformasi yang menjalar dari seantero pelosok niscaya akan lebih mengguncang ketimbang hanya. Tanpa kehendak perubahan yang jelas, transformasi yang tercapai mungkin hanya akan terjadi pada skala individu. Garis bawahi: Pemuda tak pernah dituntut menjadi Uebermensch, karena ini bukan tentang mereka, apa yang menjadi masalah utama harus melampaui kepentingan pemuda sendiri.

Lalu apa yang sebenarnya perlu kita bentuk dan olah dari kepemudaan ini? Sejatinya, ia diperlukan untuk menginisiasi perbaikan yang permanen, dalam arti tidak mengulang kesalahan keburukan generasi pendahulu. Lebih hebatnya, apa yang kelak tumbuh dari tangan pemuda baru ini mampu meraih batang dari pohon para generasi terdahulu, melanjutkan semua yang telah dirintis dengan ikhtiar yang lebih matang, akal yang lebih bernas, dan keyakinan yang paripurna. Dalam semua lini. Hasilnya, kita akan melihat masyarakat yang lebih rasional, dengan akal dan budi berkuasa, mengalahkan kebodohan, mengakar pada nilai kemanusiaan dan mampu mengenali seorang saudara pada tiap individu yang ia jumpai.

Syahdan, datanglah dengan mimpi yang utuh, bukan serpihan protes yang dibingkai menjadi mozaik. Ini kesalahan kita sampai sekarang: tahu yang tidak disukai tapi tak mampu mengatakan, dan menyatakan, yang dikehendaki. Jika generasi ini mampu mematangkan dirinya, hasil yang diraih tak akan perlu menunggu lebih lama.

 

Dapatkah kita melihat BERSAMA, tidak ke belakang dengan mental hukum rimba 50 juta tahun yang seharusnya sudah lewat, tetapi ke depan, ke 50 milyar tahun di muka kita?

– Y.B Mangunwijaya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.