Roadtrip #8 – Norway

Awalnya saya berniat untuk membawa si Alfa Romeo keliling Eropa. Jalan jauh sendirian kayak di Into the Wild atau Motorcycle Diaries. Rute yang terbayang adalah start dari Amsterdam – Wolfsburg – Berlin – Olomouc (tempat konferensi EUROSEAS), lalu mulai trip liburan via Warsaw – Danzig – feri menuju Stockholm – Oslo – Gotheburg (museum Volvo) – lalu turun ke Hamburg dan kembali ke Amsterdam.

Phew. Terdengar ambisius dan memang demikian. Sebulan sebelum EUROSEAS dimulai, si Alfa Romeo mutung dan pesakitan. Aki lah, oli lah. Untung tidak jadi 😅. Rute panjang dari Eropa Timur ke Utara akhirnya dibatalkan. Setelah membolak balik halaman Epic Drives of the World nya Lonely Planet, akhirnya saya memutuskan untuk bermain-main di Norway saja. Pilihan jalur roadtripnya banyak, dan untuk menentukan rute mana yang akan saya tempuh, saya menghabiskan beberapa hari untuk browsing dan membandingkan jalur.

Pertimbangannya beberapa: kemurahan akomodasi perjalanan dan pemandangan yang mau dicari. Norway memang tidak terlalu besar, tetapi kota yang bisa disinggahi juga tidak terlalu banyak. Ditambah dengan biaya hidup (pengeluaran) yang sangat tinggi, perjalanan di Norway bisa bikin tekor kalau tidak dipertimbangkan dengan baik. Yang jelas, saya ke Norway bukan untuk mencari Aurora seperti kebanyakan orang Indonesia yang mulai pergi ke Tromso berjamaah.

Akhirnya, ini rute yang saya pilih:

Oslo – Bergen – Geiranger – Trollstigen – Kristiansund – Lillehammer – Oslo

Total enam hari perjalanan, dengan jarak tempuh keseluruhan sekitar 1200 km. Adapun perjalanan dari Amsterdam ke Oslo saya lalui dengan Norwegian Air, dengan biaya sekitar 140 Euro PP.

Yang mendorong saya untuk akhirnya memilih berkelana di Norway adalah janji akan scenic routes: coba lihat situs mereka ini.  Norwegia memang gudangnya jalur pemandangan indah. Ada beberapa jalur yang kalau mau diseriusi, bisa memakan waktu sampai lima hari. Sementara saya hanya merencanakan libur untuk satu minggu. Jadi terpaksa harus memilih satu jalur saja dari beberapa pilihan yang tersedia. Fokus saya akhirnya jatuh pada jalur Northwest, atau banyak juga yang menyebutnya sebagai jalur Norwegian Atlantic Road / Highway. Rute ini strategis bagi saya karena bisa digabung dengan interseksi Geiranger – Trollstigen yang seru pisan. Lebih pas lagi karena jalur ini dimulai dari kota Bergen yang unch, kampungnya Kings of Convenience dan berbeda dari kota Oslo nan metropolitan.

Bergen sangat mungil dan layak dikunjungi, tetapi satu pengalaman yang justru membekas adalah ketika bermalam di rumah warga setempat via Airbnb. Si pemilik rumah memiliki Golden Retriever bernama Jupiter yang sangat aktif. Pengalaman pertama saya bercakap-cakap dengan si pemilik rumah membawa kesan bahwa orang Norwegia sangat hangat dan siap menemani para tamunya – sebelum diberi tahu bahwa aslinya, karakter mereka cenderung berkebalikan.

**

Cerita ini baru saya peroleh di penginapan malam ketiga di Alfoten, sewaktu bertamu di keluarga Belanda yang migrasi sejak awal 2000 ke Norwegia (kalau tidak salah). Demi mencari penghidupan gaji yang lebih baik, keluarga Belanda ini pindah dan merasa tidak kerasan karena seperti terasing dan tidak diterima. “Ya mereka memang tidak mudah menerima orang baru, seperti tidak ingin berkenalan”. Ada perbedaan watak yang cukup mendasar antara orang Belanda dan Norwegia ternyata, meski bagi kita, mereka sama saja “orang Eropa”. Tetapi watak orang Norwegia yang cenderung tertutup dan tidak mudah bergaul dengan orang asing saja menyulitkan bagi orang Belanda (yang memang umumnya terbuka dan ramah). Pelajaran yang menarik dari penginapan di Airbnb malam ini.

**

Esok paginya saya bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju Geirangjerfjord dan Trollstigen. Sayangnya  saya terlambat mengejar feri yang membawa kendaraan ke Geiranger dan terpaksa mengubah skenario. Rute Geiranger – Trollstigen yang seharusnya menjadi highlight perjalanan keseluruhan, saya belokkan ke arah Alesund dan langsung lanjut ke Farstad. Batin tidak keberatan, jadi langsung saja Suzuki S Cross dibawa jalan. Di Alesund, yang secara administratif bukan kota tetapi municipality, saya mendapat pemandangan yang cukup berkesan. Karena toh tidak banyak yang bisa dilihat juga, perjalanan langsung diteruskan ke arah Farstad, penginapan Airbnb yang kembali berkesan.

Di Farstad, yang hanya berjarak 10km dari jembatan tol Atlantic Highway nan terkenal itu, kami ngobrol semalaman dengan Stine-Mari yang pernah dibonceng naik motor di Garut dan  pernah diving di Raja Ampat 😀. Si mba pemilik rumah ini keliatannya akan saya ingat cukup lama karena ceritanya dan pembawaannya yang ramai, seolah dia menghibur dirinya sendiri dengan kedatangan tamunya dari berbagai pelosok dunia. Indonesia, sepertinya, adalah salah satu tempat favorit yang pernah dia singgahi, bersama dengan beberapa negara Amerika Latin. Belum selesai dia cerita soal naik bis di Jawa Barat, sudah sampai kita pada topik kultus Black Metal di Norwegia era 90an. “Ayok kapan-kapan kamu harus ke Copenhell. Bareng kita!” ajaknya penuh semangat. Sementara mata saya sudah saya tahan agar tidak terlihat mengantuk. “Besok pagi masih 1000km lagi ini perjalanan”, ungkap batin. Rumah si Mba ini unyu, by the way. Makin membekas jadinya.

Untungnya highlight hari ke-empat memang pagi-pagi, yakni mengabadikan diri di Atlantic Highway. Jepret. Langsung lanjut ke Lillehammer, sambil menyelinap ke sisi seberang Trollstigen yang tidak sempat dilalui dari ujung-ujung. Lillehammer memang dikenal sebagai tempat perhelatan Winter Olympic 1994. Demikian kota ini membekas dalam memori kolektif warga Norwegia. Tetapi ada museum terbuka bernama Maihaugen yang menarik untuk disinggahi.

**

Lepas dari alam raya Norway yang dahsyat dan membuat puas, saya menghabiskan sisa dua hari di ibukota. Di Oslo, salah satu titik yang saya niatkan untuk singgahi adalah toko musik Noseblod, sentranya Black Metal. Saya tiba di sana tepat 16:59, hanya untuk melihat penjaganya menutup toko. Telat satu menit bos!

Tapi tidak apa, di Oslo ada banyak pilihan untuk wisatawan. Tipikal, saya memilih untuk mampir ke Museum Nobel Perdamaian. Bagi yang mau foto-foto, gedung Opera dan deretan museum Fram merupakan pilihan yang menarik. Yang agak jarang direkomendasikan tetapi sebenarnya sangat menarik adalah Vigeland Park, dengan berbagai patungnya.

**

Secara keseluruhan, rute yang ditempuh sedikit berbeda dari rencana awal, sehingga jadinya seperti ini:

Oslo – Bergen – Alfoten – Alesund – Farstad (Atlantic Highway) –  Lillehammer – Oslo

Di hari ke-7, lengkap dengan pengalaman di tengah alam (yang justru adalah peradaban mereka) dan pusat kehidupan modern di Osli, mobilpun saya kembalikan di bandara Oslo Lufthavn. Sembari berdoa agar tidak mendapat speeding ticket. Kalaupun iya satu aja, jangan banyak-banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.