#Roadtrip 7 – To Switzerland and back

Ada satu peristiwa di 2019 yang membuat keputusan untuk berjalan jauh menjadi mudah. Menyetir sendiri sepertinya mewakili peristiwa tersebut. Dan menyetir sendiri menjadi terapi. Seperti itulah kira-kira saya menjelaskannya ke diri sendiri. I just had to do it. Jadi, setelah mengumpulkan draf Bab pertama disertasi saya (yang tentunya tidak layak untuk dapat disebut sebagai Bab), saya mencari rute yang ringan tetapi sekaligus cukup menantang. Ada perasaan seperti ingin mendaki gunung tetapi tidak membuat jantung berdebar. Ada juga perasaan ingin menjajal tempat baru tetapi masih familiar. Akhirnya pilihan saya jatuhkan kepada rute berikut:

Amsterdam-Nürburgring-Black Forest-Zürich-Interlaken-Bastogne War Museum-Amsterdam

Semua dalam kurun waktu enam hari. Trayek perdana adalah Amsterdam – Nürburgring. Dari dulu saya tidak pernah terlalu paham lokasi persis sirkuit terkenal di Jerman ini. Dari namanya saya dulu menduga dia dekat dengan kota Nuremberg. Ternyata salah besar karena ternyata posisinya malahan dekat dengan perbatasan Belanda. Dus, rute ini saya lalui dengan cukup cepat. Memasuki sore hari, saya sudah siap mengantri untuk masuk ke Nordschleife Nurburgring yang di lingkaran penggemar otomotif sering disebut the Green Hell. Ya, dan kocaknya lagi, saya menjajal trek tersebut menggunakan si mungil Fiat 500 😅. Si pemilik AirBnB tempat saya menginap mungkin mengajukan pertanyaan yang mewakili perasaan pemirsa: “kamu masuk ke Nurburgring bukan dengan mobil ini kan?”. Oh yes I did 😎.

Keesokan harinya saya lanjut ke Schwarzwald alias Black Forest. Betul, daerah yang namanya sama dengan si kue tar terkenal itu. Sebab, di sinilah resep kue tersebut ditemukan alias ini tanah kelahirannya. Saya juga akan mengunjungi Cafe di mana konon ia pertama kali menjadi tersohor. Kota yang paling sering direkomendasikan untuk dikunjungi di Black Forest adalah Baden-Baden, atau Freiburg. Tetapi saya menginap di wilayah yang lebih ndeso dan lebih dekat nuansa alamnya. Kalau mau mampir ke Jerman dan menikmati suasana yang jauh dari kota dan modern-industrial, Schwarzwald sangat layak karena memberikan pengalaman yang berbeda jauh dan bertolak belakang dari imaji mengenai ‘Jerman’. Ada rasa tradisional dan alami yang rasanya tidak bisa kita temukan di wilayah lain di negara pasca-industrial ini. Baden Wuttemberg memang terkenal makmur, dan mungkin ini tercermin dari kemampuan mereka meramu ekonomi modern dengan nuansa tradisional yang cukup kental, hingga ke pelosok desa-desa mereka.

Lepas dari Schwarzwald, saya melanjutkan ke negara yang lebih makmur lagi, yaitu Swiss. Kemakmuran mereka menyebabkan kebolongan di kantong saya, karena sebagaimana yang kita mungkin pernah dengar, berwisata ke Swiss tidaklah murah. Hiks. Tapi setidaknya pemandangan yang kita peroleh seperti ini:

 

Ya paling tidak dapat beberapa wallpaper baru untuk laptop. Luar biasa memang. Saya menghabiskan dua malam di Mountain Hostel Gimmelwald   dan berbagi ruangan dengan pelancong dari berbagai penjuru dunia. Tetapi ngobrol dengan turis Amerika selalu berkesan karena terkadang, apa yang mereka utarakan memang mencerminkan cara mereka melihat orang lain: “Oh wow, your English is very good”, begitu ketakjuban si ABG ketika berbasa-basi dengan saya. Begitulah. Selain menjadi tempat perjumpaan dengan backpacker kere, di jalan menuju Interlaken saya juga mampir ke Zürich dan celingak celinguk melihat kotanya.

Kenyang mengisi paru-paru dengan udara bersih Swiss, saya mengejar waktu agar bisa tiba sore hari di Bastogne War Museum, pemberhentian terakhir. Ini tempat yang tidak umum bagi turis. Tetapi bagi penggemar Band of Brothers, tempat ini pasti tidak asing dan cukup spesial untuk disinggahi. Sayangnya, selain museum ini sendiri, tidak banyak tempat lain yang bisa dilihat. Mencari makan pun saya agak bingung.

Setelah mengisi bensin kesekian kalinya (mobil kecil = tanki kecil = sering isi bensin), saya kembali ke Amsterdam. Ada banyak bab lain yang menunggu untuk ditulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.