Roadtrip #6 | Surabaya-Banyuwangi-Bali PP

Tambal ban Ertiga. Foto heboh biar clickbait.

Aneh rasanya menulis tentang perjalanan ini. Sebab, saya menulisnya di penghujung 2021, alias empat tahun setelah saya melakukan perjalanan tersebut. Tapi saya rasa merasa ini hutang yang harus dilunasi. Sewaktu melakukan road trip tersebut, saya sudah berniat untuk mendokumentasikan cerita yang saya alami agar tidak menguap begitu saja. Tapi ya, namanya juga nawaitu. Kapan itu dikerjakan memang perkara lain. Menulis ini ibarat menciptakan mesin waktu dalam bentuk WordPress.

Jadi, di penghujung 2017 saya memutuskan untuk berjalan jauh. Awalnya keinginan saya hanya untuk singgah ke Taman Nasional Baluran, yang foto-fotonya mulai banyak berseliweran di kanal media sosial. Sudah saatnya melihat langsung, gumam saya. Ketika memeriksa lokasi Baluran di Googlemaps, saya mendapati perasaan tanggung. Baluran terletak antara Surabaya dan Banyuwangi, meski secara jarak lebih dekat ke kabupaten. Saya tidak terlalu tertarik untuk menghabiskan waktu di ibukota Jatim, tetapi terpikat untuk mampir di Banyuwangi yang sedang naik daun itu. Akhirnya saya memutuskan untuk membuat jalur Bandara Juanda – Taman Nasional Baluran – Bali (via Ketapang-Gilimanuk) Banyuwangi -Bandara Juanda sebagai rute utama trip berdurasi enam hari ini.

Persinggahan pertama di Taman Nasional Baluran sangat berkesan. Saya berkesempatan untuk mengobrol dengan si Bapak Penjaga Taman (sayangnya saya lupa namanya – padahal sempat bertukar nomor hape),  yang curcol banyak tentang pengelolaan taman nasional. Malamnya saya menginap di dalam wisma dengan alunan suara alam yang..susah bikin tidur. Salah sendiri. Tapi tidak apa. Paling tidak jadi bikin semangat bangun pagi dan lekas cabut ke destinasi berikutnya. Ini beberapa foto-fotonya sebagai sampel.Lepas dari Baluran, langsung cabut ke Pelabuhan Ketapang untuk naik feri ke Gilimanuk. Pengalaman perdana masukin mobil ke dalam feri dan turun lagi. Yeay!

Ini beberapa foto (dua) dari Kawah Ijen. Waktu itu padahal saya ngobrol banyak sama para penambang belerang yang mempertaruhkan kesehatan mereka untuk imbalalan yang tidak sebanding, tetapi sekarang saya sudah lupa detilnya. Ini mengapa tidak disarankan untuk menulis blog empat tahun setelah perjalanan.

Persinggahan terakhir saya di rute pulang sebenarnya terlalu tragis untuk dijadikan tempat wisata, tetapi maksudnya memang bukan untuk hiburan, tetapi pengingat bahwa ada banyak nasib manusia yang tergadaikan di Sidoarjo. Tempat yang dimaksud tentu adalah bekas wilayah ledakan lumpur di Porong. Setelah dihantui perasaan bersalah (padahal pelakunya saja belum melunasi hutang mereka ke warga), saya melajukan Ertiga kembali ke Bandara Juanda. Mengembalikan mobil dan cus kembali ke Jakarta. Kesimpulan. It was a lot of fun. Biasakan untuk menulis beberapa saat setelah perjalanan. Jangan tunggu sampai empat tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.