7 Alasan Mengapa SBY Adalah Presidennya #KelasMenengahNgehe.

Ini blog, bukan artikel jurnal. Jadi bacanya santai aja bray. Gitu.

1. SBY selalu menyelipkan, secara sadar atau tidak, bahasa inggris dalam pernyataan-pernyataannya. Konon, di Ring 1 Dino Patty Djalal yang bertindak sebagai grammar Nazi.

2. Partainya, Partai Demokrat, terang-terangan menyebut bahwa sasaran utama mereka adalah golongan tengah (secara politis). Golongan pragmatis yang tidak punya pijakan normatif dalam menelurkan kebijakan selain pilihan rasional.

3. Ibu Ani Yudhoyono main Instagram. Ibu Ani Yudhoyohono doyan motret dengan kamera DLSR. Ibu Ani Yudhoyono pernah pameran di Galeri Nasional. SBY adalah suaminya Ibu Ani Yudhoyono.

4. Ia menggunakan iPad untuk melihat catatan pidatonya.

5. Ia dikelilingi oleh akademi-akademisi kelas menengah ngehe. Yang paling mudah untuk disebut di sini adalah Julian Aldrin Pasha yang dengan terang-terangan menjelekkan masyarakat sipil, dan terutama Chatib Basri dengan kacamat hipsternya. Pasukan kanan-tengahnya bertambah lagi dengan Firmanzah. Oh hampir lupa, ia memiliki wakil presiden yang bernama Boediono.

6. SBY pengunjung Java Jazz. Masih perlu dijelasin lagi apa hubungannya sama kelas menengah ngehe?

7. Suka prihatin tetapi tidak berbuat apa-apa. Alias labil dan tidak punya pendirian layaknya kelas menengah ngehe. 

*Catatan: Tulisan ini memang subyektif. Siapapun yang mengomentari tulisan ini dalam bentuk sanggahan akan resmi dicatat sebagai perwakilan kelas menengah ngehe.

Disalip

Bekerja dalam bidang pembangunan adalah merelakan diri kita disalip oleh orang lain. Orang yang menyalip kita (secara finansial, secara sosial ) kemudian adalah mereka yang justru lebih dominan dalam mempengaruhi proses pembangunan. Yang kita lakukan adalah membersihkan sampah-sampah pemerintah. Sementara teman-teman sebaya kita dengan cepat menjadi bagian dari mereka yang menghasilkan sampah, bersama pemerintah .

Ini meletihkan, tentu. 

Namun, berada dalam posisi  disalip punya banyak keuntungan: Kita bisa melihat proses itu dengan lebih seksama. Tapi, secara simbolis, merelakan diri disalip itu juga punya satu hikmah: Kita tidak punya alasan untuk cepat-cepat sampai ke tujuan. Kecuali Anda merasa pembangunan adalah masalah perlombaan. 

Pulang Kampung

” But tomorrow I’ll be a different person, never again the person I was. Not that anyone will notice after I’m back in Japan. On the outside nothing will be different. But something inside has burned up and vanished. Blood has been shed, and something inside me has gone. Face turned down, without a word, that something makes its exit. The door opens; the door shuts. The light goes out. This is the last day for the person I am now. The very last twilight. When dawn comes, the person I am won’t be here any more. Someone else will occupy this body.”

Haruki Murakami. Sputnik Sweetheart. Page 189. 

Senjakala Chomsky

Noam Chomsky public lecture @DW Global Media Forum

Sumber/source: DW Global Media Forum 2013

Terkadang seorang intelektual atau cendekiawan tak ubahnya seorang artis. Hal ini terasa benar ketika saya menghadiri kuliah umum Noam Chomsky di Bonn, 17 Juni 2013 silam. Kata ‘peserta’ mungkin lebih tepat diganti dengan kata ‘penonton’. Karena pengalaman yang lebih pas adalah menonton Noam Chomsky, bukan mendengarkan atau menyimak.  Continue reading

Waterloo, Belgium

Lelah dengan kuliah, saya memutuskan untuk bertamasya ke daerah Benelux dengan seorang kawan. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah situs bersejarah Waterloo, tempat di mana Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan terakhirnya dan menjadi titik balik sejarah Eropa. Mind-blowing (padanan bahasa Indonesianya apa dong?)Kedahsyatan pertempuran Waterloo mungkin tidak tergambar dalam foto-foto di bawah, tapi ini lah sedikit oleh-oleh yang bisa saya bagikan. 

Butte du Lion, tugu peringatan pertempuran Waterloo. sumber : pribadi

Butte du Lion, tugu peringatan pertempuran Waterloo. sumber : pribadi

Continue reading

Statistik à la Hans Rosling

Hans Rosling. Sumber:http://www.ourprg.com/

Hans Rosling. Sumber: http://www.ourprg.com/

Mencerna data bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika data tersebut menyangkut populasi dunia dan angka kemiskinan global. Butuh keterampilan khusus untuk mampu menampilkannya secara menarik tanpa menghilangkan esensinya yang paling utama: memaparkan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Untuk itulah Hans Rosling dikenal dan dicari: untuk memudahkan kita dalam memahami tren kemiskinan dan kependudukan dunia. Bermula sebagai peneliti kesehatan, akademisi asal Swedia ini sekarang terkenal karena pendekatannya yang kreatif dalam menampilkan data statistik di berbagai forum global. 

Simak profilnya di Guardian dan presentasinya di TEDSelamat belajar dan terkesima :)

Gagal Move On

Mendengar kata Jerman, sang pseudo intellectual akan merasa terangsang. Di kepalanya muncul kata Marx, Hegel, teori kritis Frankfurt School, Nietzsche, Dahrendorf dan seabreg tokoh yang lazim ia gunakan sebagai wewangian dalam tulisan. Sayang, sang pseudo intellectual lupa bahwa kalender sudah mencatat tahun 2013. Sementara ia masih menganggap dirinya hidup di tahun 1950, zaman di mana Jerman masih memiliki banyak etalase pemikiran, bahkan sedang mengalami masa keemasan baru berkat proyek para pemikir mereka di Universitas Frankfurt, yang kita kenal dengan mazhab Frankfurt School. 

Continue reading

Sudahkah Manusia Indonesia Berpikir?

Catatan: tulisan ini harusnya dipublikasikan di Indoprogress, tetapi redaksi mereka sepertinya punya pertimbangan sendiri :)

Tulisan ini baiknya dibaca sebagai kelanjutan artikel Pembangunan dan Kemiskinan Imajinasi, di mana penulis berargumen bahwa salah satu penyebab carut marut pembangunan Indonesia adalah ketidakmampuan membayangkan sesuatu di luar konsepsi pembangunan yang telah ada. Bahwa kemampuan mengabstraksikan masa depan Indonesia, terutama dalam sistem ekonomi, seolah terbatas pada pilihan antara kapitalisme dan sosialisme. Di sini, persoalan lebih mendasar yang hendak diangkat ke permukaan adalah masalah eurosentrisme yang membuat kita, manusia Indonesia, tampak miskin dalam mengartikulasikan angan kita akan sesuatu yang ideal. Pengetahuan tampak terbatas, tidak membuat subyek poskolonial dapat bersuara, seperti diungkapkan Gayatri Spivak. Continue reading