Senjakala Chomsky

Noam Chomsky public lecture @DW Global Media Forum

Sumber/source: DW Global Media Forum 2013

Terkadang seorang intelektual atau cendekiawan tak ubahnya seorang artis. Hal ini terasa benar ketika saya menghadiri kuliah umum Noam Chomsky di Bonn, 17 Juni 2013 silam. Kata ‘peserta’ mungkin lebih tepat diganti dengan kata ‘penonton’. Karena pengalaman yang lebih pas adalah menonton Noam Chomsky, bukan mendengarkan atau menyimak.  Continue reading

Waterloo, Belgium

Lelah dengan kuliah, saya memutuskan untuk bertamasya ke daerah Benelux dengan seorang kawan. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah situs bersejarah Waterloo, tempat di mana Napoleon Bonaparte mengalami kekalahan terakhirnya dan menjadi titik balik sejarah Eropa. Mind-blowing (padanan bahasa Indonesianya apa dong?)Kedahsyatan pertempuran Waterloo mungkin tidak tergambar dalam foto-foto di bawah, tapi ini lah sedikit oleh-oleh yang bisa saya bagikan. 

Butte du Lion, tugu peringatan pertempuran Waterloo. sumber : pribadi

Butte du Lion, tugu peringatan pertempuran Waterloo. sumber : pribadi

Continue reading

Statistik à la Hans Rosling

Hans Rosling. Sumber:http://www.ourprg.com/

Hans Rosling. Sumber: http://www.ourprg.com/

Mencerna data bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika data tersebut menyangkut populasi dunia dan angka kemiskinan global. Butuh keterampilan khusus untuk mampu menampilkannya secara menarik tanpa menghilangkan esensinya yang paling utama: memaparkan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Untuk itulah Hans Rosling dikenal dan dicari: untuk memudahkan kita dalam memahami tren kemiskinan dan kependudukan dunia. Bermula sebagai peneliti kesehatan, akademisi asal Swedia ini sekarang terkenal karena pendekatannya yang kreatif dalam menampilkan data statistik di berbagai forum global. 

Simak profilnya di Guardian dan presentasinya di TEDSelamat belajar dan terkesima :)

Gagal Move On

Mendengar kata Jerman, sang pseudo intellectual akan merasa terangsang. Di kepalanya muncul kata Marx, Hegel, teori kritis Frankfurt School, Nietzsche, Dahrendorf dan seabreg tokoh yang lazim ia gunakan sebagai wewangian dalam tulisan. Sayang, sang pseudo intellectual lupa bahwa kalender sudah mencatat tahun 2013. Sementara ia masih menganggap dirinya hidup di tahun 1950, zaman di mana Jerman masih memiliki banyak etalase pemikiran, bahkan sedang mengalami masa keemasan baru berkat proyek para pemikir mereka di Universitas Frankfurt, yang kita kenal dengan mazhab Frankfurt School. 

Continue reading

Sudahkah Manusia Indonesia Berpikir?

Catatan: tulisan ini harusnya dipublikasikan di Indoprogress, tetapi redaksi mereka sepertinya punya pertimbangan sendiri :)

Tulisan ini baiknya dibaca sebagai kelanjutan artikel Pembangunan dan Kemiskinan Imajinasi, di mana penulis berargumen bahwa salah satu penyebab carut marut pembangunan Indonesia adalah ketidakmampuan membayangkan sesuatu di luar konsepsi pembangunan yang telah ada. Bahwa kemampuan mengabstraksikan masa depan Indonesia, terutama dalam sistem ekonomi, seolah terbatas pada pilihan antara kapitalisme dan sosialisme. Di sini, persoalan lebih mendasar yang hendak diangkat ke permukaan adalah masalah eurosentrisme yang membuat kita, manusia Indonesia, tampak miskin dalam mengartikulasikan angan kita akan sesuatu yang ideal. Pengetahuan tampak terbatas, tidak membuat subyek poskolonial dapat bersuara, seperti diungkapkan Gayatri Spivak. Continue reading

Matikan Twittermu

Twitter hanyalah sumber kebisingan. Sungguh. Tak pernah menggunakannya secara maksimal dan menemukan kenyamanan menjadi seorang tweep. Iya, ini tentu soal preferensi dan cara pemanfaatan, tetapi eksperimen saya untuk bercericit dalam 140 karakter bisa dibilang gagal. Maka mematikan Twitter adalah pilihan yang paling masuk akal buat saya.

Omong-omong akal, saya juga tidak pernah bisa mengerti tweep yang kerjanya hanya curhat dan membuat keramaian dan menyebarkan kebodohan di twitter. Ada satu kata untuk mereka : selebtwit alias celebtwat. Harusnya orang Indonesia lebih rajin menulis buku harian daripada bercericit. Pasti Human Development Index kita akan melejit. Percaya deh.

Secara pribadi, mematikan Twitter akan membantu saya menyeleksi informasi yang saya rasakan berguna dan berarti. Tak perlu terganggu suara gaduh penuh omelan sampah. Kurasi informasi begitu penting di era ini. Karena itu saya berharap blog ini akan lebih penuh dengan catatan dan informasi menarik yang biasanya akan hilang sekejap jika dilempar di twitter. Maunya sih saya bisa mengkurasikan hal-hal yang menarik dan didokumentasikan di sini. Semacam Brainpickings KW 2. Hehe. Anyway, untuk saat ini prinsipnya adalah: Matikan Twitter, hidupkan kembali blog. Amin.

Nah, sebagai pembuka, tautan yang mau saya bagi di sini adalah wawancara Alec Baldwin dengan Thom Yorke. Sadis bukan? Semakin jarang kita menemukan sesuatu yang benar-benar mengandung kualitas dan kedalaman. Wawancara selama hampir 1 jam ini adalah pengecualian. Langsung lah dihampiri!

 

Referensi Poskolonialisme dan Pembangunan

Akhir-akhir ini saya banyak menggeluti teori poskolonial dalam kaitannya dengan kritik pembangunan. Ada kemungkinan saya akan menggunakan perspektif ini untuk seterusnya dalam membedah dan mengkritisi pembangunan di Indonesia. Tetapi itu persoalan konsistensi pemikiran.

Untuk sementara, saya mencantumkan beberapa referensi yang saya anggap berguna sebagai pisau bedah. Perlu dicatat di sini bahwa kajian poskolonial yang saya gunakan berbeda dengan kritik poskolonial dalam sastra atau teori budaya sebagaimana lazim dikenal. Di sini, secara khusus, poskolonialisme ditekankan sebagai kritik terhadap teori pembangunan Barat, yang lantas berupaya mengemansipasi subyek pembangunan di negara ‘Dunia Ketiga’. Maka, tidak semua bacaan poskolonialisme tepat sebagai referensi kritik pembangunan. Gagasan ini baiknya dilengkapi dengan gagasan post-development, yang akan memperkaya kritik tersebut dengan terapi kontra-pembangunan. Tapi tentu ini adalah daftar bacaan subyektif dari pandangan saya semata. Semoga bermanfaat! Continue reading

Satudarah di Duisburg

Cerita ini antara penting dan tidak. Jadi, di Duisburg, kota kecil tempat saya menimba ilmu yang sering saya bandingkan dengan Cikarang, rupanya ada juga tawuran antar geng. Geng motor lebih tepatnya. Bukan sesuatu yang menghebohkan memang, tapi lumayan juga untuk menghilangkan rasa sepi. Kalau di Jakarta bikin kesal, di sini, berita semacam ini bikin hidup terasa lebih berdenyut. Jarang bre!

Nah, yang bikin lebih penasaran adalah oknum yang terlibat tawuran: Satudarah dan Bandidos. Satudarah? Yap, persis. Reaksi saya pun sama. Apalagi ketika melihat emblem geng motor tersebut:

Continue reading

Meliput Berlinale 2013

Dapat kejutan di awal tahun: diminta untuk meliput Berlin International Film Festival 2013 untuk seorang kawan di Jakarta. Permintaan seperti ini mah tidak mungkin ditolak. Alhasil, hanya beberapa hari setelah mengerjakan ujian akhir semester, saya berangkat ke Berlin, kota yang selalu menerima saya dengan tangan terbuka. 

Sayang, ketika tanggal 13 Februari tiba, sebagian besar artis yang saya nantikan sudah kembali meninggalkan acara tersebut. Artis dan sutradara seperti Ethan Hawke, Julie Delpy, Michael Winterbottom atau Richard Linklater sudah terlanjur pulang. Ah, tapi tak apa, saya datang untuk mencari sensasinya, bukan artisnya. Dan memang, meski bukan merupakan festival film megah dan bertabur bintang Hollywood, Berlinale sudah memiliki resep sendiri yang membuatnya dekat dengan komunitas pembuat dan pencinta film. Continue reading