Revolusi Mental dan Pesan Mochtar Lubis

Geert-Hofstede Cultural Survey

Pendekatan kultural sebagai sebuah pisau analisis sudah lama ditanggalkan oleh ilmuwan sosial Indonesia. Menyimak perdebatan yang berkembang dalam dua sampai tiga dekade terakhir, terlihat bagaimana sebagian besar melarikan diri ke dalam perdebatan soal pembentukan diskursus (Foucaldian), tarik menarik agensi – struktur atau setia dengan mazhab marxisme dan berbagai variannya.

Di tengah dinamika yang sebenarnya tidak dinamis-dinamis amat itu, beberapa pekerjaan rumah yang dititipkan oleh Mochtar Lubis kepada kita tak kunjung tersentuh. Tahun 1977, ia berseloroh secara serius tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang menjengkelkan dan menghambat laju peradaban kita. Koentjaraningrat pun pernah membahasnya lewat buku Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.

Kala itu, pandangan kedua pemuka opini ini cukup diperhatikan, tetapi tidak ditindaklanjuti, meski menjadi catatan perjalanan bangsa yang cukup signifikan. Yang gagal dilakukan oleh Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat adalah membuktikan, atau setidaknya, mengumpulkan bukti yang cukup dengan kaidah ilmiah, yang dapat menjadi rujukan tentang karakter orang Indonesia, di kemudian hari. Continue reading

Sociosite

Sociosite

Sociosite

Dulu saya pernah bercita-cita untuk menjadikan blog ini sebagai online repository berbagai situs yang resourceful. Tapi apa daya, kemalasan saya ternyata jadi penghalang utama. Nah, beruntunglah kita karena ada situs yang bernama sociosite. Dibuat dan dikelola oleh beberapa akademisi gendeng di Amsterdam, laman ini memuat (hampir) semua hal yang esensial dalam ilmu sosial. Termasuk nerdy jokes yang hanya lucu di kalangan tertentu. A latest muse of mine.

Mau Pinter? Denger Guster

The Music Map

The Music Map

Maksa ya judulnya. Tapi pada intinya sih, konon, ada beberapa jenis musik yang menandakan kecerdasan seseorang. Menurut riset yang dibikin si Virgil Griffith, Radiohead (dan Guster) adalah beberapa artis yang didengarkan orang pintar. Beyonce dan T.I, ehem, sebaliknya (padahal ada The Used juga. Dan dulu pas masih pakai putih abu-abu, gw ngeband bawain mereka, haha).

Jadi, yang penasaran sama selera musik dan kadar kecerdasannya, monggo klik di sini.

On Ariel

Dalam Can There Be Southeast Asians in Southeast Asian Studies, Ariel Heryanto, dengan begitu apik bertutur tentang terpinggirkannya akademisi Asia Tenggara dalam kajian Asia Tenggara. Tanpa bermaksud untuk menjadi sebuah kritik poskolonial, beliau menulis sebuah esai dengan argumentasi yang kokoh sekaligus begitu mengalir. Tulisan ini, jika dibaca secara reflektif, merupakan tamparan keras, terutama bagi akademisi Indonesia yang berniat untuk mempelajari negerinya mengandalkan legitimasi gelar dari universitas terkemuka di Barat.

Saya tidak akan mencoba merangkum 76 paragraf beliau dalam beberapa poin, tetapi saya hanya ingin mengutip satu kalimat dari artikel tersebut. Poin tersebut sudah lama menjadi kritik saya sendiri terhadap perspektif, gaya dan keyakinan yang dianut cukup banyak akademisi Indonesia dalam menjawab persoalan di negeri sendiri. 

” [..] in the hands of some children of the same dominant West (i.e., Southeast Asianists), these new approaches (post-isms) have been twisted not only to make “smart, useful remarks” (Reynolds 1995: 439) or a “new canon of self-referential theory” (Reid 1999:148), but to be a hand methodological instrument both for ridiculing post-colonial despots,” and depreciating those who live under these despots, while at the same time “enhancing professional credentials in the increasingly competitive academic industrial complex”. […] One must go far beyond them (post-ism) for any radical examination of the way power and dominant discourses operate in many post-colonial societies of Southeast Asia.

 Lalu, mengutip Jeremy Clarkson,  on that bombshell, it is time to end.

#Menolaklupa – Catatan untuk Sendiri

Mei selalu mengajak kita untuk ingat. Terlebih sekarang, saat kita harus berhadapan dengan seorang Capres yang membuka kembali ingatan soal Orde Baru dan berbagai peristiwa seputar 1998. #Menolaklupa menjadi sebuah keharusan dalam situasi demikian. 

Buat saya sendiri, menolak lupa memiliki makna yang berbeda. Saya tidak dalam kapasitas untuk mengomentari peristiwa Reformasi karena ingatan yang tidak mendukung untuk itu. #Menolaklupa justru merupakan renungan pribadi untuk terus mengingat alasan saya untuk bekerja demi perubahan.  Continue reading

Now brewing: Mapping think tanks in Post-Soeharto Indonesia

I am currently working on a rather unexplored theme, namely the role of think tanks in producing knowledge within the post-Soeharto era. One of the central questions that I’m asking is how think tanks influence the policymaking process with regard to their ideological position, provided they have any. Hence, the key to answering this question is by locating them on a well-calibrated left to right scale, measuring their disposition through publications, mission statement and other recent works.

This study will be conducted independently and is not commissioned by the organization to which I’m currently attached. If you have any ideas or insights on how I could approach this work, feel free to contact me. I will welcome any kind of input as it can only enrich my perspective. Cheers!

7 Alasan Mengapa SBY Adalah Presidennya #KelasMenengahNgehe.

Ini blog, bukan artikel jurnal. Jadi bacanya santai aja bray. Gitu.

1. SBY selalu menyelipkan, secara sadar atau tidak, bahasa inggris dalam pernyataan-pernyataannya. Konon, di Ring 1 Dino Patty Djalal yang bertindak sebagai grammar Nazi.

2. Partainya, Partai Demokrat, terang-terangan menyebut bahwa sasaran utama mereka adalah golongan tengah (secara politis). Golongan pragmatis yang tidak punya pijakan normatif dalam menelurkan kebijakan selain pilihan rasional.

3. Ibu Ani Yudhoyono main Instagram. Ibu Ani Yudhoyohono doyan motret dengan kamera DLSR. Ibu Ani Yudhoyono pernah pameran di Galeri Nasional. SBY adalah suaminya Ibu Ani Yudhoyono.

4. Ia menggunakan iPad untuk melihat catatan pidatonya.

5. Ia dikelilingi oleh akademi-akademisi kelas menengah ngehe. Yang paling mudah untuk disebut di sini adalah Julian Aldrin Pasha yang dengan terang-terangan menjelekkan masyarakat sipil, dan terutama Chatib Basri dengan kacamat hipsternya. Pasukan kanan-tengahnya bertambah lagi dengan Firmanzah. Oh hampir lupa, ia memiliki wakil presiden yang bernama Boediono.

6. SBY pengunjung Java Jazz. Masih perlu dijelasin lagi apa hubungannya sama kelas menengah ngehe?

7. Suka prihatin tetapi tidak berbuat apa-apa. Alias labil dan tidak punya pendirian layaknya kelas menengah ngehe. 

*Catatan: Tulisan ini memang subyektif. Siapapun yang mengomentari tulisan ini dalam bentuk sanggahan akan resmi dicatat sebagai perwakilan kelas menengah ngehe.

Disalip

Bekerja dalam bidang pembangunan adalah merelakan diri kita disalip oleh orang lain. Orang yang menyalip kita (secara finansial, secara sosial ) kemudian adalah mereka yang justru lebih dominan dalam mempengaruhi proses pembangunan. Yang kita lakukan adalah membersihkan sampah-sampah pemerintah. Sementara teman-teman sebaya kita dengan cepat menjadi bagian dari mereka yang menghasilkan sampah, bersama pemerintah .

Ini meletihkan, tentu. 

Namun, berada dalam posisi  disalip punya banyak keuntungan: Kita bisa melihat proses itu dengan lebih seksama. Tapi, secara simbolis, merelakan diri disalip itu juga punya satu hikmah: Kita tidak punya alasan untuk cepat-cepat sampai ke tujuan. Kecuali Anda merasa pembangunan adalah masalah perlombaan. 

Pulang Kampung

” But tomorrow I’ll be a different person, never again the person I was. Not that anyone will notice after I’m back in Japan. On the outside nothing will be different. But something inside has burned up and vanished. Blood has been shed, and something inside me has gone. Face turned down, without a word, that something makes its exit. The door opens; the door shuts. The light goes out. This is the last day for the person I am now. The very last twilight. When dawn comes, the person I am won’t be here any more. Someone else will occupy this body.”

Haruki Murakami. Sputnik Sweetheart. Page 189.