Fenny Rose Complex

“Menyenangkan sekali ya tinggal di apartemen seperti ini….seperti di surrrgaaaa…”

“ Ya ini emang favorit untuk para ekspatriat tinggal yaa..

 “ jadi harus berburu-karena ingat, kesempatan sudah terbatas..jadi tunggu apa lagi?”

 

Ada Apa dengan Fenny?                                                                         

Feni Rose adalah sebuah fenomena. Ketika pertama kali memandu acara Silet di sebuah stasiun televisi swasta, gaya presenter acara infotainment seperti itu masih tergolong baru. Gayanya memandu juga belum pernah diperagakan oleh rekan-rekan seprofesi. Dalam waktu singkat, ia telah menciptakan trademark baru dalam dunia pertelevisian Indonesia. Pengucapan kata-kata “setajam silet”, dan dramatisasi keseluruhan yang ia bawakan mampu menghipnotis  pemirsa. Sebuah nilai jual yang oleh pihak produser digambarkan dengan “Dengan gaya bahasa yang puitis, Silet menjadikan hal-hal yang tabu menjadi layak dan patut diperbincangkan”[1]. Sedemikian besar dampak dari konsep acara tersebut, sampai-sampai pada penerimaan calon penyiar sebuah radio mahasiswa, salah satu keterampilan yang diujikan ialah menirukan gaya Feni Rose.

Lepas dari program silet, Feni kemudian muncul kembali sebagai presenter untuk advertorial pengembang properti.  Tiap sabtu dan minggu pagi kita disuguhi pemandangan seorang wanita cantik (ok, ini tentu dapat diperdebatkan) yang berbincang-bincang dengan perwakilan pihak pengembang tentang berbagai kelebihan yang dimiliki perumahan tersebut.

Perbincangan tersebut tentu bukan percakapan yang biasa. Namun, isi dialog dan juga penggunaan kata-kata serta intonasi untuk tiap kalimat sudah dipersiapkan dengan matang. Dan Fenny, bak penyanyi yang tampil memukau lewat olah vokal dengan kemampuan menjangkau nada tinggi hingga terendah sekalipun,  selalu siap menghentak pemirsa dengan “lirik” nya yang menghipnotis.

Sejujurnya, apa yang ditampilkan Feni itu luar biasa menjengkelkan. Tidak sedikit dari kita yang pasti mengganti saluran televisi ketika melihat wajahnya atau mendengar suaranya dari kejauhan. Bayangkan saja, akhir pekan, dimana kita mengharapkan program televisi yang menyegarkan, atau setidaknya membuat lapar seperti acara masak-memasak, kita justru disodori acara yang menjual rumah atau apartemen dengan pembawa acara yang kalau kita perhatikan sekilas, tidak berbeda jauh dari  gaya berjualan tukang obat di lapak pasar kaget Shalat Jumat. Dan asal tahu saja, lapak tukang obat itu tidak pernah sepi.

Lalu, apa yang sebenarnya menjengkelkan dari acara tersebut? Yang pasti, harga apartemen ataupun rumah itu sendiri yang selangit. Tetapi bukan itu yang dipermasalahkan di sini. Meskipun sebenarnya tidak ada pihak yang dirugikan secara langsung, karena toh tidak ada yang memaksa kita untuk (memantengi) acara berdurasi kurang lebih 30 menit tersebut. Namun kejengkelan tersebut tetap saja pasti memiliki sebuah alasan. Alasan tersebut yang harus kita cari. Dan, pada sisi yang lain, kejengkelan penonton juga merupakan bukti bagaimana produser, atau siapapun yang memiliki gagasan tentang acara tersebut, berhasil mencuri perhatian penonton. Lagipula, ada idiom yang mengatakan bahwa acara yang buruk tetapi mampu diingat penonton, lebih efektif ketimbang acara yang bagus tetapi hanya hinggap sementara di benak. Tentu Anda semua masih ingat model iklan yang memanfaatkan repetisi kan (berapa lapis?ratusaan..)?

Dengan demikian, apa yang sebenarnya dilakukan Fenny? Dan mengapa suaranya masih juga terngiang di kepala kita?

“Si Tukang Obat”

Bre Redana, yang menulis sebuah catatan singkat tentang objek kita ini[1], melihat bahwa acara yang dibawakan oleh Feni menunjukkan sebuah ”Edifice Complex” (semacam kompleks individu untuk memenuhi kebutuhan ego dengan terus membangun). Kebutuhan ini kemudian dibenarkan dengan dalih bahwa masyarakat kota menghadapi keterbatasan ruang (tanah) yang dapat dijadikan tempat tinggal. Pengembang dalam cerita ini kemudian menjadi seorang “juru selamat” yang memberikan berbagai pilihan tempat tinggal menarik yang mustahil dapat dimiliki warga kota dengan tangannya sendiri. Fasilitas yang disediakan pihaknya pun sesuai dengan yang dibutuhkan warga kota Jakarta dan sekitarnya. Semuanya begitu tepat, seperti potongan puzzle yang saling melengkapi.

Puzzle pelengkap itu adalah Fenisendiri. Karena apa artinya sebuah obat mujarab jika ia tidak bisa dijual ke pasar? Apa yang dibutuhkan oleh sebab itu adalah seseorang yang mampu menarik orang untuk merapat ke lapak. Yang dibutuhkan adalah seseorang yang mampu meyakinkan pemirsa soal fungsi perumahan. Soal kemudahan cicilan. Soal lengkapnya fasilitas yang tersedia. Soal ampuhnya obat ini dalam menyiasati berbagai persoalan yang diderita seseorang.

Apa yang dilakukan pihak developer di sini sebenarnya hanya bagian dari strategi pemasaran yang sepele. Semua orang yang pernah berkecimpung di dunia usaha, entah itu menjual barang di dunia maya melalui forum, hingga menggelar barang dagangan minggu pagi di Senayan, menyadari kebutuhan akan marketing. Suatu kewajaran memang, karena pemasaran sering dikatakan sebagai ujung tombak dari suatu perusahaan, atau suatu produk. Pemasaran bahkan kini dianggap lebih penting daripada isi atau produk itu sendiri, sebagaimana diyakini Naomi Klein.

Tetapi kita kembali ke tesis awal, bahwa apa yang dilakukan Feni adalah luar biasa. Selain luar biasa menjengkelkan,  Feni(atau mungkin sang produser, copywriter maupun siapa saja yang bertanggung jawab atas ide acara ini), ternyata  juga menanggung sebuah “dosa” sosiologis terhadap masyarakat. Apa dan mengapa, akan penulis coba uraikan di sini.

Antara ada dan Tiada

“Apalagi soal viewnya Mba..Kita tinggal keluar ke balkon….eee.. apalagi kalo malam hari Mba, ini suasana seperti di New York..”

Menjual rumah atau apartemen adalah pekerjaan yang halal, dan sah secara hukum. Begitupula dengan menjadi presenter di televisi. Tetapi bagaimana jika seseorang menjual mimpi dan ketidakjangkauan?

Feni adalah seorang maestro dalam hal tersebut. Dengan senantiasa menekankan soal kehebatan dan keunggulan properti yang ia wakili, pemirsa dibuat mabuk kepayang oleh tawaran-tawaran yang tidak ditemukan pada properti lain. Seperti Alice yang terkagum-kegum ketika mendarat di Wonderland, kita dibuai oleh kolam renang, pusat kebugaran, pusat belanja, dsb, yang tentunya semuanya kita butuhkan. Setidaknya, itu yang diyakini Feni kepada kita. Rangkaian kata dari mulut Feni tentu tidak sepenuhnya mengandung kebenaran. Sebaliknya, ia adalah panduan dalam dunia yang hiperreal, yang menjual realitas dalam kemasan program televisi, yang menutup dunia sesungguhnya dengan tirai gorden.  

Umberto Eco, dalam Travels in Hyper-reality, menyindir sekaligus mengkritik habis budaya Amerika (Amerika Serikat) yang gemar membuat berbagai tiruan bangunan dan lingkungan sembari membanggakan kemajuan teknologi yang dimanfaatkan untuk menciptakannya. Baginya, dunia simulasi seperti yang ia temukan di Amerika, dengan pencakar langitnya, pusat perbelanjaan, Disneyland dan pelbagai wahana rekreasi, hanya ilusi yang sebenarnya menunjukkan kekosongan masyarakat dan manusianya.

Semua ini menunjukkan masyarakat yang hidup dalam mimpi yang dibangun oleh komoditi, oleh kepuasan dalam memenuhi hasrat untuk memiliki, dan kebutuhan akan eksistensi lewat kepemilikan. Adapun hal-hal yang berusaha kita miliki ini tidak lagi esensial untuk kebutuhan hidup kita, tetapi hanya pelengkap untuk mempertahankan, atau meneguhkan kekayaan yang sudah dimiliki sebagian besar orang. Karena toh, siapa yang sebenarnya membutuhkan unit apartemen kalau dia sudah punya rumah mewah di Pantai Indah Kapuk atau Kelapa Gading?

Dalam konteks yang lebih luas, Feni Rose adalah perwujudan dari apa yang disebut dengan kebudayaan bujuk rayu, dimana batas antara realitas dan fantasi hilang, seperti dijelaskan oleh Yasraf Amir Piliang. Apa yang dikerjakan Fenny, persisnya adalah menciptakan rasa keinginan, yang dalam kebudayaan bujuk rayu terus menerus diproduksi tanpa henti. Yasraf, meminjam pemikiran Baudrillard, melihat bahwa rayuan beroperasi melalui pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknananya. Sebuah tower pada unit apartemen misalnya, digambarkan sebagai kekokohan, keagungan, kemewahan. Padahal dalam realita keseharian, ia berarti pengalihfungsian lahan, kemacetan, dan segregasi tempat tinggal. Apa yang diinginkan melalui rayuan bukan sampai-tidaknya pesan dan makna-makna, melainkan munculnya keterpesonaan, ketergiuaran, dan gelora nafsu [1].

Dan Feni melakukannya dengan menciptakan idiom visual dan verbal, yang mencetak makna-makna baru bagi pemirsa televisi, seperti  “setajam silet”. Juga ketika ia dengan suara kencang mengucapkan nama pengembang, mengulang kata-kata ”tunggu apa lagi”, dan berbicara dalam nada kekaguman, ketakjuban. Ia menciptakan makna atau nilai budaya baru. Contoh yang bisa dilihat adalah ketika pihak pengembang mengatakan,“tinggal di apartemen emang jadi gaya hidup baru buat warga Jakarta, atau, “angka 8 yang membawa hoki”. Semuanya adalah “simsalabim” yang diucapkan di layar kaca.

Fenny, Agung (Podhomoro) dan Kota

Selain menampilkan bujuk rayu yang menggiring masyarakat ke dalam sebuah kesadaran yang palsu, implikasi lain adalah dampak dari semakin maraknya perumahan di tengah kota oleh pengembang yang mengontrak Feniitu sendiri. Meskipun tidak secara langsung menjadi tanggung jawab dari Fenny, tapi keseluruhan isi acara yang ia bawakan membawa dampak tertentu bagi perkembangan kota (Jakarta).

Bahaya pertama terletak pada arah perkembangan kota yang mengikuti kehendak pemilik modal. Artinya, mereka yang tidak mampu melawan, atau setidaknya bertahan terhadapnya, akan tergerus, dan terpaksa menyingkir ke luar dari pusat kota, atau bertahan di wilayah yang tidak bertuan. Sementara pembangunan kota tidak muncul dari bawah, dari upaya masyarakat dalam membangun apa yang ia butuhkan, tetapi dari apa yang dianggap perlu oleh pemilik modal. Mereka yang memiliki sumber daya akan menentukan apa yang diperlukan kota, di mana kita harus tinggal, dan bagaimana kita hidup di antara empat dinding dan atap kita. Feni adalah juru bicara mereka.

Bahaya lain dari penyiaran advertorial seperti ini ialah bahwa ia seolah mencerminkan kehendak mayoritas, sementara mereka yang memang menerima pesan dan manfaat dari acara ini hanyalah segelintir orang. Bandingkan antara persentase mereka yang memang benar-benar mampu membeli sebuah unit apartemen dengan persentase jumlah orang yang mampu menonton acara ini. Ilusi ini mempertontonkan sesuatu yang bertolak belakang dengan realita empirik. Dan karena ini disiarkan di televisi, puluhan juta bola mata akan menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan. Pemirsa yang berada di wilayah Jakarta dan pulau Jawa dimana pembangunan masih tertatih-tatih, akan menganggap bahwa apartemen, mall dan bangunan lainnya adalah prasyarat kemajuan. Bahwa kota yang maju adalah yang memiliki apartemen dan pencakar langit.

Penutup

Apa yang telah dijabarkan di atas tentu bukan merupakan kritik terhadap Feni secara personal, tetapi terhadap tokoh yang ia ”peragakan”, terhadap tugas yang ia kerjakan, terhadap apa yang tidak disadari telah ia jalankan. Karena, sadar ataupun tidak, televisi senantiasa menciptakan sebuah teks yang tidak selalu dibaca dengan aktif oleh pembacanya. Sesuai dengan kata “complex”, apa yang kita tonton bukan hanya soal Feni, bukan hanya soal televisi. Ini adalah soal penciptaan permintaan, soal produksi kebutuhan semu.

Di kemudian hari, ini adalah soal banjir akibat drainase yang buruk. Soal semakin susahnya mencari permukiman bagi kelas menengah ke bawah. Soal semakin terhimpitnya kota akibat perputaran modal yang “di situ-situ saja”. Soal hutan beton yang semakin subur. Soal kita yang masih saja menatap Feni di tivi, sementara lapangan sepak bola di seberang sudah ditancapi tiang beton bakal apartemen baru.




[1]

Yasraf Amir Piliang. Dunia Yang Dilipat. Jalasutra.


[1] Judul yang mirip pernah digunakan oleh Bre Redana, “Kompleks FeniRose”, dalam harian Kompas 28 Maret 2010. Tetapi tulisan ini sama sekali tidak bermaksud untuk meniru isu ataupun ide tulisan yang bersangkutan. Bre Redana, “Kompleks FeniRose”, dalam harian Kompas 28 Maret 2010


 

[1] www.rcti.tv

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.