Close but not close enough

September 2021 saya memperoleh kesempatan untuk pergi ke Ceko. Utamanya, saya datang untuk mengikuti konferensi EUROSEAS yang diadakan kembali secara hibrid di Olomouc.

Tetapi saya membawa agenda terselebung saya  melakukan napak tilas. Napak tilas sebenarnya juga tidak tepat. Yang lebih tepat sebenarnya saya ingin mengetahui tempat bersejarah bagi keluarga saya, tempat di mana mendiang ayah pernah kuliah. Menziarahi masa lalu beliau.

Dari seorang peserta EUROSEAS asal Ceko yang pernah tinggal di Solo (Tomas), saya  diberi banyak tips soal interlocutor yang layak saya jumpai atau wawancara. Tomas, yang fasih berbahasa Indonesia, memberikan nama-nama yang tidak terlalu asing setelah saya coba telusuri. Internet memang lebih pandai dan membuat penelusuran jejak lampau seperti tanpa tantangan. Nama pertama yang ia sebut ternyata Ronny Marton, yang menjadi inspirasi Surat Dari Praha, kemudian Soegeng Soejono, yang kisahnya sudah cukup banyak didokumentasikan dan juga cerita  Bismo Gondokoesomo. Idenya adalah untuk pergi ke Praha selepas konferensi dan menjumpai para warga senior tersebut di kota tempat mendiang Ayah kuliah.

**

Pertalian saya dengan Praha sedikit berbeda dari kebanyakan cerita yang kita sering dengar. Seperti yang dituangkan dalam film Surat Dari Praha atau kisah Pulang karya Leila Chudori, banyak saudara tua kita yang tidak bisa kembali ke Indonesia dan mendapat label Eksil. Kisah ayah saya justru berbeda. Ia kembali ke Indonesia dengan lembaran masa lalu yang ibarat bab dalam buku, ingin cepat-cepat dilalui. Kesempatan pergi ke Praha ini seperti upaya saya untuk membaca bab tersebut secara lebih mendetil, dari orang-orang yang tidak dimunculkan di dalamnya.

Setelah pamit dengan peserta EUROSEAS (Halo Mas Rizky!) dan kota Olomouc, saya menaiki kereta untuk menuju Praha dengan rasa was-was dan ingin tahu melampaui rasa penasaran turis biasa. Bagaimanapun juga, saya tahu bahwa mereka yang bisa kembali ke Indonesia dari negara-negara Komunis pasca 1965 adalah mereka yang dianggap ‘aman’ dan tidak terafiliasi dengan PKI ataupun tidak bersimpati dengan Soekarno.

Hal ini membuat saya bimbang. Antara ingin mengetahui sejarah Ayah atau tidak. Didorong rasa penasaran, saya mencari tahu nama orang-orang yang perlu saya jumpai, lokasi-lokasi yang menjadi persinggahannya dan pernah kami datangi dulu sekeluarga.

Ibu saya menyebut, misalnya, restoran Indonesia dekat istana Praha yang dimiliki Maman. Lalu ia menyebut toko Kristal Bohemia tempat dia dulu mengambil dagangan (jastip ala nineties di negara komunis), yang letaknya tidak jauh dari stadion Sparta Praha. Entah apa hubungannya dengan masa lalu Ayah memang tidak jelas. Sebab saya juga tidak mengungkit soal itu dalam obrolan saya dengan Mama.

Ia kemudian juga menyebut nama beberapa orang yang masih ia ingat dari cerita Ayah. Salah satunya adalah Beno Tobing, anak dokter FL Tobing, sambil menambahkan iming-iming “mereka memang tidak terlibat”. Kaka saya sendiri pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Indonesia Praha (SIP), mungkin antara 1996-1998. Tetapi saya juga enggan meminta tips tentang upaya penggalian masa kuliah ayah di sana.

Sebelum saya menseriusi upaya untuk mencari jejak lampau Ayah, saya tentu menghabiskan waktu di Praha. Berkunjung ke Museum Teknologi, Museum Pertanian sepertinya adalah cara saya untuk menunda-nunda tujuan utama perjalanan. Tapi rugi besar kalau saya tidak melancong ke tempat tempat ‘eksotis’ versi saya: Museum Kafka, Lennon Wall dan Charles Bridge. Museum Kafka, cukup saya rekomendasikan bagi siapapun yang ingin memahami ‘kegelapan hangat’ yang melekat dalam karyanya. Masa kecilnya, status sebagai Yahudi di era kebangkitan Nazi di Jerman dan Bohemia, hubunganya dengan ayahnya, digambarkan dengan jelas di museum ini. Praha sendiri sangat saya rekomendasi dan sudah saatnya menggantikan status Paris sebagai kota romansa. Apalagi biaya pelesir ke sini jauh lebih murah ketimbang ke Paris yang semakin kumuh itu.

**

Metode saya untuk melakukan penelitian bermotif pribadi sangat sederhana. Saya berkunjung ke Restoran Garuda, nongkrong dengan harapan bertemu warga Indonesia, mengajak ngobrol secara kasual, dan membiarkan takdir menuntun saya ke warga senior yang masih dapat dikunjungi. Fate-based sampling.

Dan fate menentukan bahwa saya tidak bertemu siapa-siapa. Restoran Garuda pun ternyata tidak sesuai bayangan saya yang dipenuhi romantisme untuk berjumpa dengan warga Indonesia yang bersantap pulas ala warung tegal. Selesai menghabiskan satu porsi sop daging, saya memutuskan untuk kembali menjadi turis dan berhenti menjadi sejarawan amatir yang hendak menggali curriculum vitae ayahnya sendiri.

Memang,  agak disayangkan saya tidak bisa bertemu dengan para warga senior yang bisa menjadi penghubung saya dengan sejarah ayah. Tetapi sejujurnya ada sedikit kelegaan di balik kegagalan  menjumpai mereka. Saya tidak yakin apakah saya siap mendengar cerita tentang Ayah dari sudut pandang orang lain. Datang ke Praha sebenarnya adalah upaya untuk memperoleh kebenaran. Kebenaran yang belum tentu dengan mudah dapat saya telan.

Akhirnya saya merasa perjalanan itu sedikit banyak menggambarkan hubungan saya dengan mending. Close but not close enough. Sedikit banyak seperti hubungan saya dengannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.