Category Archives: None of the Above

Di Peron

 

Ia diam termenung. Sesekali ia melongok ke arah kiri, berharap melihat bayangan merah yang datang menjemputnya. "Auf Gleis 2, RE 6 richtung Duisburg ueber Muelheim, Abfahrt um 12:20, heute 5 Minuten Verspaetung", terlontar dari seorang perempuan melalui pengeras suara. Lugas dengan penekanan yang jelas, menyiratkan keseriusan sekaligus ketidaktarikannya pada kata-kata yang baru saja terucap. “Tumben terlambat, biarpun lima menit”, ucapnya pelan sembari melongok ke papan pengumuman.

Deutsche Bahn telah menjadi teman barunya, setelah belakangan ini rajin menyambangi stasiun. Terutama setelah sering mengunjungi kelas di Universitaet Essen, dimana kereta menjadi sarana penghubung paling efektif, dan atraktif. Di stasiun, ia bisa menyaksikan tingkah polah ragam individu. ABG yang bertukar cerita tentang pasangan mereka, bocah belasan tahun dengan ponsel Samsung yang lebih besar dari tangannya, seorang perempuan paruh baya yang terlihat menyimpan segudang cerita namun terpaksa menahannya karena duduk di samping pemuda dengan kuping tersumbat pemutar musik. Di stasiun, ia merangkai cerita, tanpa harus menggunakan bahasa. Jika pun diperlukan, ia hanya perlu memilih dari yang tersedia: Jerman, turki, inggris, belanda, arab, dan sekian lain yang tak terjamah kuping.

Selama ini ia menganggap stasiun sebagai persinggahan. Tetapi lambat laun makna subyektifnya telah berubah. Continue reading

Juggling

Juggling adalah sebuah Faehigkeit. Etwas dass you need to train, dengan penuh Geduld. Keahlian itu kommt nicht von allein, but with time. Und dengan persistence. Sama seperti languange lernen und sprechen. In this case, wenn man zwischen 3 bahasa jonglieren muss. At first bringt es nur Frust dan kesal. Sebal because alles kommt durch einander. Hin und her between overlapping words and frase, ataupun kalimat. You feel seperti tidak bisa in di Reihe kriegen. Aber with time wird alles lebih baik. Man muss es simply zeit geben, dan menjaga ketenangan. Master your Zeit, master dein mind. Dan bersabar with dich selbst. And it will eventually klappen. Semoga.  

The Wenger Complex

 

Siapapun yang pernah main Football Manager dan kemudian menonton Moneyball akan merasakan sebuah afinitas. Menyaksikan Billy Beane membawa perubahan pada dunia bisbol, seolah–olah kita bisa merasakan pahit manisnya hidup seorang manajer tim sepakbola, atau untuk ini, bisbol. Memang, bagi banyak orang, (industri) olahraga bukan sekedar masalah menang kalah. Ini soal hidup. Ini soal identitas, soal membangun sejarah, soal keindahan dan kebahagiaan. Tetapi film tersebut menyisakan sebuah pertanyaan: Benarkah hasil akhir itu tidak penting?

***

Continue reading

Menafsirkan Lirik Lagu SBY

Halo dan selamat datang. Kali ini saya hendak mengajak Anda untuk menafsirkan lirik dari singer cum songwriter kita, yang kebetulan juga berprofesi sebagai presiden, Susilo Bambang Yudhoyono. Pilihan jatuh pada lagu 'Ku Yakin Sampai di Sana', karena judulnya yang memotivasi saya untuk menerobos kemacetan Ibukota.

Bagaimana cara menafsirkan lirik tersebut? Dan bagaimana cara pembaca memahami tafsir saya atas lirik tersebut? Mudah saja. Klik pada link yang sudah tertera pada tiap kata/bait/frase dalam lirik lagu tersebut. Itulah tafsiran naif saya atas karya musikal nan politis ini. Ok, sekian dari saya. Karena ku yakin sampai di sini saja. 

SBY - Ku Yakin Sampai Di sana

meskipun berat

mesti kulakukan

kupilih jalan yang ku yakini

jangan paksakan yang tak kan mungkin

hidupku mesti lurus dan benar

seribu jalan menuju roma

entahlah mana yang paling baik

ada begitu banyak pilihan

engkaulah yang akan menentukan



telah kupilih jalanku sendiri   

dalam prinsip kehidupanku 

meski tak selalu mudah

aku yakin sampai di sana

Primitif Zine Vol 004 !

Ya! Penantian panjang itu telah berakhir. Primitif Zine edisi 4 sudah beredar.

Silahkan unduh filenya di sini atau di situs Primitif Zine. Atau nantikan kehadiran kami di acara-acara underrated sekitar Jabodetabek. Oh iya, jangan lupa juga untuk mendonasikan penghasilan Anda ke Primitif Store, divisi pengumpulan dana Primitif Zine. Sekian iklan layanan sosial dari kami!

Revisiting Our Schools

 

Indonesia is at the brink of an economic upturn. Several outlooks and comments have predicted a bright year for Indonesia in 2011, in terms of investment and economic growth. The term CIVET, an abbreviation for Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey,South Africa, is said to be the new magical word, replacing BRIC (Brazil, Russia, India, China) as the well-known term for emerging countries in the global economic map.
 
It is of course pleasing to know that Indonesia is stepping up the global ladder. But merely relying on economic results and performance to measure a country’s progress would show a one-sided way of thinking.We would become one dimensional men, as Herbert Marcuse suggested. Thus,even if economic growth would hit 6-6,3% in this year as officially targeted, what significance would it have to the society and its welfare? Can economic improvement assure social improvements?
 
 

Adythia Utama: A Man For All Occasions

 

Di balik lensa, di depan komputer, di atas panggung, ataupun di meja makan penjaja kuliner ibukota, Adythia Utama adalah sosok yang dapat memberikan sensasi tersendiri dalam berbagai situasi di atas. Ya, anak muda yang satu ini memang membagi bakatnya ke dalam banyak bidang. Film, musik, penulisan and whatnot. Tokoh muda yang banyak menginspirasi sesamanya.

“I’m everything you’re not”, ujarnya mantap, ketika diminta menggambarkan dirinya dalam tiga kata oleh wartawan everlastinggaze. Well, melebihi tiga kata sih, tetapi cukup dahsyat bukan? Yeah, we do think so.  Setidaknya dia tidak sok merendah dengan menyebut dirinya sebagai ordinary man/boy. Kalau semua orang dalam profil facebook mereka mengaku sebagai manusia biasa, maka Adit adalah contoh anak muda dengan kepercayaan diri yang sehat. Dalam hal ini Anda tidak perlu membuang waktu mendengarkan Mario Teguh, tiru saja kawan kita yang satu ini. Penuh imajinasi, ramah dan pemalu adalah kesan pertama yang terpancar dari balik kaca matanya. “Dibeliin nyokap kok”, ungkapnya polos.

Lajang yang menempuh studi perfilman di Institut Kesenian Jakarta ini terbilang giat dalam berkesenian. Selain menggeluti bidang film, utamanya dokumenter, ia juga meramaikan kancah musik lokal dengan dua proyek utamanya : Individual Distortion dan Depriver. Eksperimentasi musik era digital yang tinggal diperhalus di beberapa bagian. Apa sih sebenarnya yang  membuat Adit begitu mencintai musik? “Listen to the beat. If it moves you, it’s good. If not, it ain’t worth shit”, ujarnya dalam bahasa inggris aksen Amerika, yang sontak mengingatkan saya pada pembawa acara Paranoia. Lantas ia menyebutkan nama beberapa musisi favoritnya. Beruntung, beberapa dari mereka ada yang kami kenal sehingga obrolan pun mengalir dengan baik.

Selain musik? Makan!! Adit, yang di kalangan pengguna internet juga banyak dikenal dengan nama disasterhead, adalah pendiri dan pengasuh blog pengulas makanan Jajalable. Janjinya untuk menghadirkan kuliner cult memang berhasil ditepati. Selain sukses mengulas makanan yang variatif, ia juga mengundang berbagai kalangan (utamanya wanita muda) untuk menulis sehingga menu yang ditampilkan tidak monoton. Tidak lupa, karya akhirnya semasa di IKJ juga berhubungan dengan makanan, dan kampung halamannya,  Sumatera Barat. Judulnya: tambuah ciek! Bukti bahwa anak muda metropolitan seperti Adit tidak lupa pada tanah kelahirannya.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, Adit memang tidak menutup diri dan mata terhadap berbagai hal baru. Jika perempuan menutup hatinya terhadap Adit, itu adalah perkara lain. Perkara yang juga enggan dibahas oleh Adit. “No komen.. ”. Mudah-mudahan kami tidak terlalu menyinggung perasaannya.

Memang, ketika ditanya tentang wanita yang sedang dekat dengan dirinya, ia hanya  menjawab, “Tai ah”, sembari membuang muka. Dan tertawa lepas beberapa saat kemudian. Tawa yang menandakan sebuah kebahagiaan terdalam, sekaligus mengakhiri wawancara singkat ini dengan riang. Setelah diam sesaat, dan mendengar suara jangkrik, Adit lantas bangkit berdiri dan berkata: “Laper dah gw. Cari makan yuk. Gw traktir dah.”  sembari mengajak kami mencari gerai Seven Eleven terdekat.

A Reminder

 Young people are trapped in a vicious circle of not being able to effectively bring about social change as they are limited to take on positions as volunteers, interns and community service workers. As a result, development as a profession ranks much lower for young people than joining the private sector or government. Being associated with organizations such as NGO and CSO are considered 'un-cool' by their peers and has negative connotations as organizations that are commonly know as irrationally radical and uncompromising.

Worse still, jobs are badly paid. In Asia, where family influence is still paramount, it is extremely rare for families to encourage their children to join development sector because of the lack of growth opportunities, low pay and little social recognition that if offers. As a result, capable young people become disinterested in pursuing development as a profession."   

(Source: Startup and Change the World; A Guide for Young Social Entrepreneurs.)

Saya menghayati betul pernyataan di atas. Sebagai seorang anak muda yang secara sadar memilih untuk menempuh jalan terjal di sektor non profit, saya hanya bisa mengamini pandangan tentang “trapped in a vicious circle of not being able to effectively bring about social change”. Padahal, mimpi atau dorongan untuk menghasilkan perubahan sosial itulah yang membawa saya ke tempat di mana saya sekarang berpijak.