Category Archives: None of the Above

Mengurai Kemacetan dengan Data

Catatan: Artikel singkat ini ditulis saat mengikuti lokakarya penulisan Tempo Institute. Maksud hati untuk diterbitkan di salah satu media namun kembali terganjal faktor kemalasan. #Dibuangsayang

Jakarta ibarat sebuah laboratorium percobaan akhir-akhir ini. Parahnya tingkat kemacetan mendorong Pemprov DKI untuk menguji beberapa terobosan drastis yang belum menuai hasil. Sebagian terobosan ini seperti tidak  melalui proses perencanaan yang matang lantaran bersifat bongkar-pasang. Alhasil, jalan-jalan utama terasa semakin sesak. Di saat yang sama, bis gratis serta trayek baru yang diperkenalkan secara mendadak,  terkadang malah kosong melompong.

Hal ini tentu memancing pertanyaan warga DKI akan kemampuan pemimpin mereka dalam mengatasi kemacetan secara jitu. Pertanyaan lain yang lebih menggelitik adalah, apakah Pemprov DKI sebenarnya memiliki data yang dibutuhkan untuk memahami pangkal masalah kemacetan? Continue reading

Universities in Indonesia: Overcoming Inertia  

Spanduk Mahasiswa FISIPOL UGM

A banner at FISIPOL UGM (Credit: Author)

Indonesia’s higher education is in dire need of an overhaul. To describe the current situation as a crisis, as done by Jonathan Pincu in his article, might however be a slight exaggeration. A more thorough comprehension is needed to be able to pinpoint the roots of persisting issues.

Since the central government introduced autonomy for seven state universities at the beginning of the new Millennium, the regulatory framework of Indonesia’s higher education institutions altered. The management of state universities is now decentralized, with the promise of greater academic freedom and financial independency. Universities were allowed, and required, to seek their own funds and adapt to market mechanisms. However, over the years, failure in raising and managing funds efficiently also meant that universities were forced to raise tuition fees as a means of covering operational costs.

Established universities, particularly the Gang of Four (UI, ITB, UGM, IPB) capitalized on this newly gained autonomy by improving their marketability. These four entities have the liberty to maximize their political capital in pursuing commercial interests, often neglecting students who seem rather hapless (but often also disinterested) in resisting disempowering policies. Campaigns to become world universities were launched while at the same time, peripheral universities -a term used to describe any university based outside of Java- are having a hard time catching up with even national standards.

Continue reading

Semakin Kenal, Semakin tak Sayang

Setelah kurang lebih empat tahun tidak berkunjung, saya akhirnya kembali ke tempat di mana saya ‘dilahirkan’. Dilahirkan dalam arti belajar, mengumpulkan pengalaman dan memperoleh gelar sarjana. Ya, ke Departemen itulah saya kembali berkunjung. Dan pengalaman yang saya peroleh hanya mengkonfirmasi asumsi saya selama ini: Bahwa manusia-manusia di dalamnya kadung nyaman dan tertidur di dalam kandangnya.

Saya, yang kemudian memang hanya bisa memandang dan berkomentar dari luar, kok malah merasa iba dengan kondisi di dalam kandang itu. Tidak ada pikiran terbuka dan apresiasi terhadap dunia yang terpancar dari manusianya. Tidak ada semangat untuk membuka diri terhadap orang baru, yang notabene adalah orang lama yang telah mereka didik. Entah dengan baik atau tidak. Yang pasti, kami bertemu sebagai orang asing yang sudah saling kenal. Seperti itulah mungkin sebaiknya hubungan ini dijaga. Demi obyektifitas yang konon harus dipelihara seorang akademisi. Karena seperti itulah mereka memandang mereka.

Di Manakah Institut Teknologi Kalimantan?

Artikel Wikipedia untuk Institut Teknologi Kalimantan

Artikel Wikipedia untuk Institut Teknologi Kalimantan

Ada satu lagi bukti keajaiban negeri ini. Konon, beberapa hari sebelum melepas jabatannya, SBY meresmikan universitas terbesar di Asia, yakni Institut Teknologi Kalimantan. Singkat cerita, jika Institut Teknologi Kalimantan tersebut kita cari di Google, maka yang keluar adalah janji tentang sebuah universitas maha mutakhir yang akan menjadi kebanggaan Indonesia, dan Kalimantan. Waw. Sayang saja, meski mampu membebaskan lahan seluas 300ha, para pengelolanya belum mampu mendirikan sebuah situs resmi :D

Bahkan tidak ada satupun berita (atau foto) mengenai peresmian universitas tersebut.

Muungkiiin, itu cara mereka agar orang-orang yang penasaran (seperti saya) langsung datang ke bumi Borneo untuk mencari universitas yang bersangkutan.  *nyengir*

Sociosite

Sociosite

Sociosite

Dulu saya pernah bercita-cita untuk menjadikan blog ini sebagai online repository berbagai situs yang resourceful. Tapi apa daya, kemalasan saya ternyata jadi penghalang utama. Nah, beruntunglah kita karena ada situs yang bernama sociosite. Dibuat dan dikelola oleh beberapa akademisi gendeng di Amsterdam, laman ini memuat (hampir) semua hal yang esensial dalam ilmu sosial. Termasuk nerdy jokes yang hanya lucu di kalangan tertentu. A latest muse of mine.

7 Alasan Mengapa SBY Adalah Presidennya #KelasMenengahNgehe.

Ini blog, bukan artikel jurnal. Jadi bacanya santai aja bray. Gitu.

1. SBY selalu menyelipkan, secara sadar atau tidak, bahasa inggris dalam pernyataan-pernyataannya. Konon, di Ring 1 Dino Patty Djalal yang bertindak sebagai grammar Nazi.

2. Partainya, Partai Demokrat, terang-terangan menyebut bahwa sasaran utama mereka adalah golongan tengah (secara politis). Golongan pragmatis yang tidak punya pijakan normatif dalam menelurkan kebijakan selain pilihan rasional.

3. Ibu Ani Yudhoyono main Instagram. Ibu Ani Yudhoyohono doyan motret dengan kamera DLSR. Ibu Ani Yudhoyono pernah pameran di Galeri Nasional. SBY adalah suaminya Ibu Ani Yudhoyono.

4. Ia menggunakan iPad untuk melihat catatan pidatonya.

5. Ia dikelilingi oleh akademi-akademisi kelas menengah ngehe. Yang paling mudah untuk disebut di sini adalah Julian Aldrin Pasha yang dengan terang-terangan menjelekkan masyarakat sipil, dan terutama Chatib Basri dengan kacamat hipsternya. Pasukan kanan-tengahnya bertambah lagi dengan Firmanzah. Oh hampir lupa, ia memiliki wakil presiden yang bernama Boediono.

6. SBY pengunjung Java Jazz. Masih perlu dijelasin lagi apa hubungannya sama kelas menengah ngehe?

7. Suka prihatin tetapi tidak berbuat apa-apa. Alias labil dan tidak punya pendirian layaknya kelas menengah ngehe. 

*Catatan: Tulisan ini memang subyektif. Siapapun yang mengomentari tulisan ini dalam bentuk sanggahan akan resmi dicatat sebagai perwakilan kelas menengah ngehe.

Disalip

Bekerja dalam bidang pembangunan adalah merelakan diri kita disalip oleh orang lain. Orang yang menyalip kita (secara finansial, secara sosial ) kemudian adalah mereka yang justru lebih dominan dalam mempengaruhi proses pembangunan. Yang kita lakukan adalah membersihkan sampah-sampah pemerintah. Sementara teman-teman sebaya kita dengan cepat menjadi bagian dari mereka yang menghasilkan sampah, bersama pemerintah .

Ini meletihkan, tentu. 

Namun, berada dalam posisi  disalip punya banyak keuntungan: Kita bisa melihat proses itu dengan lebih seksama. Tapi, secara simbolis, merelakan diri disalip itu juga punya satu hikmah: Kita tidak punya alasan untuk cepat-cepat sampai ke tujuan. Kecuali Anda merasa pembangunan adalah masalah perlombaan. 

Pulang Kampung

” But tomorrow I’ll be a different person, never again the person I was. Not that anyone will notice after I’m back in Japan. On the outside nothing will be different. But something inside has burned up and vanished. Blood has been shed, and something inside me has gone. Face turned down, without a word, that something makes its exit. The door opens; the door shuts. The light goes out. This is the last day for the person I am now. The very last twilight. When dawn comes, the person I am won’t be here any more. Someone else will occupy this body.”

Haruki Murakami. Sputnik Sweetheart. Page 189. 

Matikan Twittermu

Twitter hanyalah sumber kebisingan. Sungguh. Tak pernah menggunakannya secara maksimal dan menemukan kenyamanan menjadi seorang tweep. Iya, ini tentu soal preferensi dan cara pemanfaatan, tetapi eksperimen saya untuk bercericit dalam 140 karakter bisa dibilang gagal. Maka mematikan Twitter adalah pilihan yang paling masuk akal buat saya.

Omong-omong akal, saya juga tidak pernah bisa mengerti tweep yang kerjanya hanya curhat dan membuat keramaian dan menyebarkan kebodohan di twitter. Ada satu kata untuk mereka : selebtwit alias celebtwat. Harusnya orang Indonesia lebih rajin menulis buku harian daripada bercericit. Pasti Human Development Index kita akan melejit. Percaya deh.

Secara pribadi, mematikan Twitter akan membantu saya menyeleksi informasi yang saya rasakan berguna dan berarti. Tak perlu terganggu suara gaduh penuh omelan sampah. Kurasi informasi begitu penting di era ini. Karena itu saya berharap blog ini akan lebih penuh dengan catatan dan informasi menarik yang biasanya akan hilang sekejap jika dilempar di twitter. Maunya sih saya bisa mengkurasikan hal-hal yang menarik dan didokumentasikan di sini. Semacam Brainpickings KW 2. Hehe. Anyway, untuk saat ini prinsipnya adalah: Matikan Twitter, hidupkan kembali blog. Amin.

Nah, sebagai pembuka, tautan yang mau saya bagi di sini adalah wawancara Alec Baldwin dengan Thom Yorke. Sadis bukan? Semakin jarang kita menemukan sesuatu yang benar-benar mengandung kualitas dan kedalaman. Wawancara selama hampir 1 jam ini adalah pengecualian. Langsung lah dihampiri!