Category Archives: Pendidikan

Hardiknas Minus Inspirasi

Pertama-tama, selamat hari pendidikan nasional. Ucapan tersebut perlu kita sampaikan, mengingat tanggal 2 Mei kita seolah diwajibkan untuk sekali dalam satu tahun menyisakan simpati kita pada pendidikan.  Seperti sebuah ritual, kita digiring ke lapangan upacara, mendengarkan pidato kepala sekolah, guru atau seorang pimpinan dan menundukkan kepala sejenak. Bukan karena termenung atau tertegun, tetapi karena terik matahari yang menjemur kita di siang bolong. Upacara adalah kegiatan yang sebenarnya tidak pernah disukai oleh pesertanya. Tanyakan saja kepada anak-anak. Esensi dan penjiwaan nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah upacara hilang oleh ragam formalitas dan simbol-simbol yang menyederhanakan. Nasib hardiknas pun tidak jauh berbeda. Yang ada mungkin hanyalah sebuah pengulangan.

Continue reading

Menuju Keunggulan Glokal

 

Di tengah terowongan gelap pendidikan yang seolah tak berujung, muncul cahaya kecil dari Surakarta, tepatnya dari kampus Universitas Sebelas Maret Solo. Cahaya tersebut datang berupa kabar pendirian Institut Javanologi yang bertujuan untuk memberi ruang bagi pengkajian budaya Jawa dan revitalisasi nilai luhurnya.

 Berita ini mungkin tidak terlalu menarik jika dilihat secara sempit, yakni sebatas peningkatan kualitas institusi kampus UNS, atau bahkan secara etnosentris, dengan melihatnya sebagai upaya pengagungan budaya Jawa yang mengesampingkan kajian kebangsaan dan nation building.

 Penglihatan yang lebih seksama dengan sudut pandang yang lebih luas akan melihatnya justru dengan sangat berbeda.

 Saat ini pendidikan nasional dihadapi dengan sebuah krisis identitas. Pernyataan ini didasari polemik konsep sekolah bertaraf internasional baik untuk sekolah negeri dan swasta, standarisasi yang terlalu mengacu pada tolak ukur internasional, dan kebijakan lainnya yang mengerdilkan siswa dan guru, mengekor pihak lain tanpa membangun sebuah rasa percaya diri. Akibatnya, pendidikan nasional menjadi ajang pertaruhan jati diri manusia dan bangsa Indonesia.

Continue reading

Mencermati Politik Pendidikan

 

Layaknya sebuah barang dagangan, pendidikan tidak pernah sepi pembeli. Lapak yang digelar si pedagang tidak pernah kekurangan pengunjung. Isu pendidikan memang senantiasa laku untuk dijual. Perannya yang sangat strategis dan menentukan membuat pendidikan menjadi ajang perebutan berbagai kepentingan. Dan tidak terkecuali kekuasaan. Mulai dari tingkat nasional hingga ke pelaksanaan PAUD.

Pada zaman kolonial, kebijakan politik dalam pendidikan bisa dilihat dalam penggolongan jenis sekolah sesuai dengan strata yang berlaku di dalam masyarakat. Bagi pribumi, sekolah yang dapat diakses hanyalah sekolah bumiputera, berbeda dengan sekolah bagi kaum Belanda dan timur asing, yang dapat memasuki sekolah lebih bagus seperti ELS.

Contoh kebijakan pendidikan seperti itu, oleh Louis Althusser diistilahkan dengan Ideological State Apparatus, dimana pendidikan berfungsi untuk menanamkan norma, nilai, cara pandang, kepercayaan dan moralitas penguasa ke dalam diri anak dan siswa untuk mentransmisikan dan melestarikan ideologi penguasa atau pemerintah. Juga masih cukup segar dalam ingatan, bagaimana Orde Baru menjadikan pendidikan sebagai corong untuk menyuarakan ideologi negara penguasa yang harus diamini oleh semua pihak, dimulai dari anak-anak. Dengan demikian, pendidikan berperan strategis untuk melanggengkan tampuk kepemimpinan.

Continue reading

Revisiting Our Schools

 

Indonesia is at the brink of an economic upturn. Several outlooks and comments have predicted a bright year for Indonesia in 2011, in terms of investment and economic growth. The term CIVET, an abbreviation for Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey,South Africa, is said to be the new magical word, replacing BRIC (Brazil, Russia, India, China) as the well-known term for emerging countries in the global economic map.
 
It is of course pleasing to know that Indonesia is stepping up the global ladder. But merely relying on economic results and performance to measure a country’s progress would show a one-sided way of thinking.We would become one dimensional men, as Herbert Marcuse suggested. Thus,even if economic growth would hit 6-6,3% in this year as officially targeted, what significance would it have to the society and its welfare? Can economic improvement assure social improvements?
 
 

Wacana Pendidikan Alternatif Indonesia

 

Tidak ada yang perlu didefinisikan secara baku di bawah istilah pendidikan alternatif. Yang ada sebenarnya hanyalah ekspektasi akan sebuah bentuk pendidikan yang berbeda dari yang kita kenal (pendidikan formal/schooling) pada umumnya.  Secara sosio-historis, pendidikan direduksi fungsi dan maknanya sebagai sebuah bentuk penyekolahan semata, sebagai akibat dari industrialisasi dan modernisasi. Arti pendidikan yang secara luas adalah pembelajaran manusia sebagai upaya terus menerus untuk mengenal diri dan dunianya dalam rangka memerdekakan dirinya sebagai sebuah subyek, direduksi menjadi pembelajaran formal di dalam sekolah, dengan kebutuhan untuk melengkapi diri dengan keahlian formal yang memungkinkan seseorang untuk kemudian ikut serta dalam lapangan kerja.

Selayang Pandang Pendidikan Nasional

Di Indonesia, pendidikan formal menemukan bentuknya pada masa kolonial, didorong oleh politik etis pemerintah kolonial yang sesungguhnya juga dipicu oleh kebutuhan tenaga pribumi administratif terdidik murah (clerk), selain karena desakan dari tokoh-tokoh liberal Belanda pada saat itu. Adapun tokoh lokal/nasional yang dapat dikatakan sebagai perintis pendidikan formal di Indonesia sebelum masa kemerdekaan adalah KH Ahmad Dahlan yang pada 1918 mendirikan sekolah formal Madrasah Muallimin Muhammadiyah sebagai sekolah kader di Yogyakarta, dan juga Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922.


Pasca kemerdekaan dan periode-periode berikutnya, pemerintah Indonesia mencoba membentuk sebuah sistem pendidikan yang komprehensif namun terlalu banyak melewati proses trial and error, dengan keterbatasan infrastruktur dan pengajar yang mumpuni untuk mencetak manusia Indonesia baru. Kritik terbesar yang dialamatkan kepada pemerintah adalah sifatnya yang hanya meneruskan sistem pendidikan warisan kolonialisme, dan tidak pernah mampu merancang bangunan pendidikan yang berpijak pada lokalitas dan kekhasan yang dimiliki masyarakat Indonesia. Nasibnya pun kian diperparah oleh politisasi era Orde Baru, dimana pendidikan dimanfaatkan untuk mempertahankan status quo dan menjadi alat penamanan ideologi tunggal Pancasila serta mengekang wacana pembelajaran alat kritis dan cenderung lebih berat pada pemanfaataan otak kiri.

Rendahnya perhatian pada pembangunan sosial dan alokasi anggaran pendidikan dan sektor publik lainnya, menjadi benih ketidakmerataan pendidikan dan minimnya aksesibilitas. Di sinilah pendidikan alternatif mengambil perannya. Walau akhirnya dipandang sebatas sebagai pendidikan non-formal, pendidikan alternatif muncul dalam ragam bentuk dan pola.

Continue reading

Sawitmu, Sekolahku

"The more expensive a school is, the more crooks it has"
J.D Salinger – Catcher in the Rye

Di tengah-tengah perumahan Bumi Serpong Damai yang asri dan tertata rapih, berdirilah sebuah bangunan menawan yang jika dipandang dari kejauhan, hampir menyerupai sebuah mal. Letaknya persis di pojok, perempatan Jalan.. Posisinya yang strategis menyiratkan harga tanahnya yang pasti cukup mahal. Apalagi jika dikalikan dengan luas lahan yang ditempati.


Bangunannya sendiri mungkin hanya menempati 5/8 dari luas lahan. Tetapi, dengan tiga lantai yang dimiliki, bangunan itu pasti dapat menampung banyak ruangan dan manusia, untuk keperluan apapun. Keberadaan sebuah gedung bertingkat tiga di wilayah BSD bukan sesuatu yang luar biasa. Puluhan ruko dan sentra niaga dapat kita temui di kota satelit tersebut.

Sama halnya dengan gedung yang telah digambarkan di atas. Apa yang terdapat di dalam gedung tersebut adalah fasilitas yang sepertinya dicari-cari oleh penduduk kota tersebut. Sebuah kebutuhan utama, sekaligus hak dasar tiap warga negara Indonesia. Sesuatu yang kita namakan pendidikan. Dalam realita kebendaan, kita mengenalinya dalam bentuk ruangan segi empat yang kita namakan sekolah.
 
Ternyata, gedung bertingkat tiga di pojok jalan T.M. Pahlawan Seribu, BSD, yang ternyata merupakan sebuah sekolah itu, juga memiliki sebuah nama. Sinarmas World Academy mereka memanggilnya dan merupakan produk terbaru dari kelompok taipan Sinar Mas yang, menurut penuturan mereka, adalah wujud dari kepedulian terhadap dunia pendidikan Indonesia. Memajukan pendidikan nasional, sembari mempertahankan privilese sekelompok orang, mungkin adalah istilah yang tepat.
siapkan minimal 100 juta

Privilese ini memang sebuah kemewahan. Sebanding dengan kemegahan gedung, luas lahan dan tentu juga bayaran sekolah, adalah fasilitas yang ditawarkan Sinar Mas cs. Mulai dari satpam dengan metal detector lengkap dengan senyum hangat, hingga ke guru bule yang ga ngerti apa kata anak-anak. Sebuah keadaan yang akan semakin umum di pendidikan swasta, akibat tren sertifikasi internasional dalam dunia pendidikan. Ah, toh orang tua dari anak-anak ini memang tidak pernah berniat untuk mengajarkan anak-anak mereka untuk peduli pada lingkungan sekitar. So why should they give a damn anyway, right?

Di wilayah bumi lain, ribuan kilometer dari sekolah tersebut, di tengah hamparan hutan dan belantara rimba, berjejerlah ratusan, dan bahkan ribuan pohon kelapa sawit. Kelapa sawit adalah versi lain dari kisah soal blood diamond. Ini adalah cerita soal lingkungan alam dan sosial yang terlantar akibat pengerukan sumber daya yang meresahkan. Dan, pemilik perkebunan tersebut adalah tangan-tangan yang menggelontorkan miliaran rupiah untuk membangun sebuah world academy. Meja dan bangku di sekolah tersebut adalah hasil dari pembabatan paru-paru masyarakat di sebuah wilayah yang hanya mereka kenal dari foto di buku. Itu juga kalau kurikulumnya mengizinkan mereka untuk belajar soal Geografi Indonesia.
 

Ah, tapi saya sudah kebayang koq bagaimana guru mereka akan mengajarkan geografi. Dalam bahasa Inggris tulen, berujarlah guru pirang mereka : “Kids, this area here is Riau. That is where you can find palm oil and tropical rainforest. Both are natural resources which are good for the economy. “

That is where your daddy got the money to pay your ridiculous tuition fee.

Identitaet

I frequently use English in my everyday conversation.

But yet, Bataknese equals gibberish to me.

And what makes me that?

A modern Indonesian.
———-
bagi kawan-kawan yang kerap mengalami krisis dalam bercermin sebagai orang Indonesia, tidak ada salahnya membaca buku di bawah ini. selamat berproses.