Category Archives: Musik

Mau Pinter? Denger Guster

The Music Map

The Music Map

Maksa ya judulnya. Tapi pada intinya sih, konon, ada beberapa jenis musik yang menandakan kecerdasan seseorang. Menurut riset yang dibikin si Virgil Griffith, Radiohead (dan Guster) adalah beberapa artis yang didengarkan orang pintar. Beyonce dan T.I, ehem, sebaliknya (padahal ada The Used juga. Dan dulu pas masih pakai putih abu-abu, gw ngeband bawain mereka, haha).

Jadi, yang penasaran sama selera musik dan kadar kecerdasannya, monggo klik di sini.

Menafsirkan Lirik Lagu SBY

Halo dan selamat datang. Kali ini saya hendak mengajak Anda untuk menafsirkan lirik dari singer cum songwriter kita, yang kebetulan juga berprofesi sebagai presiden, Susilo Bambang Yudhoyono. Pilihan jatuh pada lagu 'Ku Yakin Sampai di Sana', karena judulnya yang memotivasi saya untuk menerobos kemacetan Ibukota.

Bagaimana cara menafsirkan lirik tersebut? Dan bagaimana cara pembaca memahami tafsir saya atas lirik tersebut? Mudah saja. Klik pada link yang sudah tertera pada tiap kata/bait/frase dalam lirik lagu tersebut. Itulah tafsiran naif saya atas karya musikal nan politis ini. Ok, sekian dari saya. Karena ku yakin sampai di sini saja. 

SBY - Ku Yakin Sampai Di sana

meskipun berat

mesti kulakukan

kupilih jalan yang ku yakini

jangan paksakan yang tak kan mungkin

hidupku mesti lurus dan benar

seribu jalan menuju roma

entahlah mana yang paling baik

ada begitu banyak pilihan

engkaulah yang akan menentukan



telah kupilih jalanku sendiri   

dalam prinsip kehidupanku 

meski tak selalu mudah

aku yakin sampai di sana

Memperkenalkan: Jamie Lidell

Namanya Jamie. Nama yang cukup menjanjikan di dalam dunia hiburan (Jamie Aditya, Jamie Cullum, Jamie Carragher..eh yang terakhir itu pemain bola..). Nama belakangnya Lidell. Belum pernah dengar? Ga apa-apa. Saya juga baru beberapa bulan ini mulai akrab dengan dirinya. Maksud saya, musiknya.

Talenta  ini pertama kali hinggap di kuping saya via siaran radio NME. Musiknya dipastikan mencolok karena berbeda dengan yang diputar di NME Radio. Saat Anda menanti-nanti kocokan gitar Britpop yang dibalut aksen cockney medok ala The Pigeon Detectives, tiba-tiba muncul penyanyi yang berdendang tengil ala DefJam Records. Dari nyanyiannya Anda membayangkan seseorang berkulit hitam pekat dan memakai topi seperti musisi Soul pada era keemasannya. Jaman dulu banget dah pokoknya. Sontak, dunia seperti kembali menjadi hitam putih, seperti layar televisi pada saat musik Soul masih soulful.

NME Radio salah putar nih, pikir Anda. Tetapi itu pada saat lagu baru berjalan satu menit. Pada saat lagu selesai, anda langsung mencari nama Jamie Lidell di Google dan menyadari bahwa ia adalah musisi kulit putih dari Manhattan yang langka. Ya karena itu tadi, ia menyanyikan musik Soul, dan tidak dengan sembarangan.

Saya sendiri tidak terlalu paham soal musik Soul , jadi saya tidak akan berusaha untuk menggambarkan kualitas Jamie Lidell dengan kata-kata dewa. Yang saya tahu, Neyo atau Akon mah kayak nyanyian anak TK kalau dibandingin sama Bang Jamie. Boleh juga nih cek video pas dia manggung:

 

[vimeo 1965260]

Drive Like Jehu

Album lawas yang disajikan pada kesempatan ini adalah album Yank Crime milik band Drive Like Jehu. Band yang lahir di San Diego tahun 1990 ini hanya bertahan selama lima tahun, namun sempat menelurkan album yang cukup berpengaruh di kalangan pemerhati musik post punk / post hardcore. Selain itu, album Yank Crime juga dianggap berpengaruh terhadap genre Emo dalam hal pola permainan sound maupun beat.
 
Bagi mereka yang besar di era awal milennium baru, atau sekitar awal tahun 2000, musik Drive Like Jehu akan sangat terasa familiar, karena sebagian besar akan mengingatkan pada permainan Omar Rodriguez semasa di At the Drive In. Bahwa kedua band sama-sama menggunakan kata ‘Drive’ memang murni sebuah kebetulan, karena mereka tidak memiliki keterkaitan apa pun, kecuali mungkin personil ATDI pernah mendengar rekaman Drive Like Jehu. Memang, dari segi permainan, Drive Like Jehu terdengar mirip dengan ATDI. Mulai dari ketukan patah alias ganjil tapi upbeat, permainan gitar yang saling berbalapan dengan sound terdistorsi, dan vokal apik yang mengingatkan pada Cedric Bixter. Keseluruhan sound yang mereka hasilkan juga terasa berisik sehingga orang juga mengelompokkan musik mereka ke dalam ‘noise rock’.
 
Yank Crime adalah album yang dianggap paling canggih dalam merekam permainan Drive Like Jehu. Dalam album yang awalnya dirilis oleh Interscope Records tahun 1995 ini, Drive Like Jehu memperkenalkan unsur unsur mathrock maupun noise rock kepada massa mainstream. Namun, permainan mereka yang sedikit banyak dipengaruhi oleh musik ala Sonic Youth, Fugazi, Mission of Burma, ternyata kalah tenar dengan teman-teman di Seattle yang menikmati popularitas musik Grunge. Tidak heran, bubarnya Drive Like Jehu ternyata juga tidak banyak diperhatikan oleh media, meskipun pengaruh mereka bisa ditemui hingga sekarang, karena salah satu personil mereka banyak membantu dalam produksi album Jimmie Eat World ataupun Blink 182
 
Akhir kata, album Yank Crime pantas digoogle dan didengarkan. Kalau kantong kebetulan mengizinkan, album yang sempat dirilis ulang oleh Swami Records ini juga sangat layak untuk dibeli dan bukan hanya diunduh (baca:download). Sekedar untuk membuktikan bahwa Drive like Jehu sudah lebih unggul pada zamannya, dan tetap tidak terdengar jadul di kuping penggemar Thrice, ataupun Protest the Hero sekalipun.

Deerhoof

Bosen dengerin band-band indie pop manis? Kalau begitu silahkan cicipi Deerhoof, band yang sulit untuk dikategorikan ke genre manapun, tetapi kalau dilihat dari labelnya (Kill Rock Stars) ) mau ga mau kita golongin ke dalam band indie. Beranggotakan empat orang, dengan vokalis cewe yang keturunan Asia, Satomi Matsuzaki (juga memainkan bass), Deerhoof memainkan musik unik yang sedikit mengingatkan kita akan attitude YeahYeahYeahs, Pavement dan juga Asobi Seksu lantaran warna vokalisnya.
 
Kuartet yang berasal dari San Francisco ini memang beda dari band-band indie yang sekarang menjamur. Pola permainan mereka khas : tidak ada ciri khasnya. Pattern lagu yang susah ditebak, bahkan terkadang tidak ada reffnya sama sekali,dibalut dengan melodi-melodi ringan dan senandung dalam bahasa Inggris tetapi beraksen Jepang, menjadi daya tarik tersendiri. Permainan gitarnya pun sebenarnya tergolong tidak istimewa,tetapi warnanya yang kasar dan terkadang noisy berhasil menjadikan musik Deerhoof terdengar lebih hidup daripada band-band Indiepop Kanada.
 
Lantas, tema apa yang sering mereka bahas di lagu-lagunya? Kalo dilihat dari judul lagu-lagunya sih,tidak ada tema umum. Simak saja judul judul lagunya di Album Apple O’, yaitu album yang menjadi referensi penulis : Panda Panda Panda, Dummy Discards a Heart, Blue Cash. Permainan musik mereka yang unik juga tercermin dalam liriknya, yang sangat singkat dan kalau disimak terkesan tidak bermakna apa-apa kalau kita tidak mengetahui isi kepala Satomi Matsuzaki.
 
Bahkan,bisa dibilang lagu-lagu tersebut tidak berisikan sebuah lirik, tetapi hanya kata kata atau frase yang diulang-ulang oleh Satomi dengan nada nada manis ala anak kecil.
 
Akhir kata, Deerhoof layak untuk Didownload.Atau setidaknya dinanti-nanti untuk mengisi soundtrack film indie berikutnya.Karena potensi untuk menjadi sebuah band non-komersil yang ngecult di antara peernya tersendiri sangat dimiliki band ini.

The Most Serene Republic

 
Lagi lagi kita disuguhi sebuah band ciamik dari negeri Kanada. The Most Serene Republic namanya dan belakangan ini rajin nongkrong di playlist gw. Mungkin kita sudah mulai terbiasa dengan kehadiran band-band dari Kanada yang nyuguhin permainan manis ala Indiepop sampai pada aransamen njlimet nan megah ala Broken Social Scene atau Arcade Fire. Meskipun The Most Serene Republic (MSC) lebih menghadirkan yang terakhir, di kuping kita mereka akan tetap terdengar melodius. MSC terbentuk di Milton, Ontario, oleh 6 orang yang bosan mengejar pendidikan pasca sarjana dan akhirnya memutuskan untuk mengejar mimpi seniman mereka.
 
Dibentuk pada tahun 2003 , MSC mengeluarkan album pertama Underwater Cinematographer, pada tahun 2004 di bawah Sunday League Records . 1 tahun kemudian mereka digaet label Arts & Crafts. The Most Serene Republic menjadi band pertama Arts & Crafts yang tidak memiliki hubungan apapun dengan Broken Social Scene
 
Tahun 2006 kelompok ini menelurkan Phages, EP.yang pada tahun 2007 diikuti oleh album anyar Population dan menjadi rujukan terbaru penulis dalam hal band-band aneh dan berkualitas.
 
Terdengar seperti : 6 orang yang memainkan musiknya sendiri tetapi bertemu dalam nada dasar yang sama. We Followed Tigers ditambah sentuhan Jazz dan vokalis cewe.