Category Archives: Literatur

Modul : Dari Data ke Kebijakan

Rapid Outcome Mapping Approach

Rapid Outcome Mapping Approach

Ada sebuah buku pedoman baru yang kelihatannya berguna untuk para praktisi kebijakan dan pembangunan. Judul aslinya ROMA: A guide to policy engagement and influence. Tujuannya sederhana, yakni memberi petunjuk tentang cara mempengaruhi pembuatan kebijakan dengan metode yang praktis, namun berbasis temuan atau fakta. Sangat sejalan, atau justru didorong, dengan semakin maraknya semangat evidence-based policy. Buku pedoman ini diterbitkan oleh Overseas Development Institute yang memiliki reputasi baik dalam meneliti masalah pembangunan, khususnya dalam lingkup negara berkembang. ROMA (singkatan dari Rapid Outcome Mapping Approach) kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dapat diunduh di sini.

Selamat mengaplikasikan!

Producing Indonesia

Producing IndonesiaAda sebuah buku menarik yang entah kapan akan saya baca. Kendalanya dua: 1. Buku ini tidak mudah didapatkan karena sejauh ini baru bisa diimpor 2. Kemalasan saya untuk menyiasati waktu yang makin lama tampak makin berkurang untuk dapat menikmati bacaan yang bermutu (Ok, masalah nomor 2 ini sebenarnya masalah saya sendiri. Objectively, waktu tidak mungkin berkurang. Atau?).

Nah, lantaran dua masalah tersebut, sayangnya saya belum mampu memberi uraian ataupun ulasan lebih lanjut atas isi dan tujuan buku tersebut. Yang saya tahu, kelihatannya ia akan sangat berguna bagi siapapun yang tertarik dengan masalah produksi pengetahuan di Indonesia maupun Indonesia sebagai sebuah obyek kajian. Buku ini tidak lagi berbicara soal Indonesia sebagai fenomena, melainkan bagaimana Indonesia dibentuk sebagai sebuah ‘disiplin ilmu’ dalam kajian kewilayahan, oleh para Indonesianis. Menarik (setidaknya bagi saya).

Nah, pertanyaan pertama yang mau saya ajukan terkait buku ini adalah:  Adakah yang punya?  #Gakmodal.

Sudahkah Manusia Indonesia Berpikir?

Catatan: tulisan ini harusnya dipublikasikan di Indoprogress, tetapi redaksi mereka sepertinya punya pertimbangan sendiri :)

Tulisan ini baiknya dibaca sebagai kelanjutan artikel Pembangunan dan Kemiskinan Imajinasi, di mana penulis berargumen bahwa salah satu penyebab carut marut pembangunan Indonesia adalah ketidakmampuan membayangkan sesuatu di luar konsepsi pembangunan yang telah ada. Bahwa kemampuan mengabstraksikan masa depan Indonesia, terutama dalam sistem ekonomi, seolah terbatas pada pilihan antara kapitalisme dan sosialisme. Di sini, persoalan lebih mendasar yang hendak diangkat ke permukaan adalah masalah eurosentrisme yang membuat kita, manusia Indonesia, tampak miskin dalam mengartikulasikan angan kita akan sesuatu yang ideal. Pengetahuan tampak terbatas, tidak membuat subyek poskolonial dapat bersuara, seperti diungkapkan Gayatri Spivak. Continue reading

Referensi Poskolonialisme dan Pembangunan

Akhir-akhir ini saya banyak menggeluti teori poskolonial dalam kaitannya dengan kritik pembangunan. Ada kemungkinan saya akan menggunakan perspektif ini untuk seterusnya dalam membedah dan mengkritisi pembangunan di Indonesia. Tetapi itu persoalan konsistensi pemikiran.

Untuk sementara, saya mencantumkan beberapa referensi yang saya anggap berguna sebagai pisau bedah. Perlu dicatat di sini bahwa kajian poskolonial yang saya gunakan berbeda dengan kritik poskolonial dalam sastra atau teori budaya sebagaimana lazim dikenal. Di sini, secara khusus, poskolonialisme ditekankan sebagai kritik terhadap teori pembangunan Barat, yang lantas berupaya mengemansipasi subyek pembangunan di negara ‘Dunia Ketiga’. Maka, tidak semua bacaan poskolonialisme tepat sebagai referensi kritik pembangunan. Gagasan ini baiknya dilengkapi dengan gagasan post-development, yang akan memperkaya kritik tersebut dengan terapi kontra-pembangunan. Tapi tentu ini adalah daftar bacaan subyektif dari pandangan saya semata. Semoga bermanfaat! Continue reading

Primitif Zine Vol 004 !

Ya! Penantian panjang itu telah berakhir. Primitif Zine edisi 4 sudah beredar.

Silahkan unduh filenya di sini atau di situs Primitif Zine. Atau nantikan kehadiran kami di acara-acara underrated sekitar Jabodetabek. Oh iya, jangan lupa juga untuk mendonasikan penghasilan Anda ke Primitif Store, divisi pengumpulan dana Primitif Zine. Sekian iklan layanan sosial dari kami!

Makan Yuk

‘I say. ‘ Helmholtz exclaimed solicitously, ‘ you do look ill, John! ‘
’Did you eat something that didn’t agree with you?’ asked Bernard.

The Savage nodded. ‘I ate civilization.’

Dikutip dari novel karya Aldous Huxley,” Brave New World”. Buku ini bercerita tentang distopia dunia modern dengan segala rekayasa yang memungkinkan manusia untuk mendekati “kesempurnaan”. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari kisah yang ditulis pada kurun waktu 1930-an ini. Selamat mencari!

 

Identitaet

I frequently use English in my everyday conversation.

But yet, Bataknese equals gibberish to me.

And what makes me that?

A modern Indonesian.
———-
bagi kawan-kawan yang kerap mengalami krisis dalam bercermin sebagai orang Indonesia, tidak ada salahnya membaca buku di bawah ini. selamat berproses.

Telaah Telat atas Freakonomics

Mari kita mencoba menelaah ulang buku freakonomics yang telah menjadikan penulisnya, Steven D. Levitt dan Stephen J.Dubner sebagai ekonom terpandang dan tersohor, dengan berbagai sanjungan dan gugatan terhadapnya. Kedua penulis tersebut memang menawarkan sesuatu yang berbeda jika dibandingkan dengan buku- buku ekonomi lainnya yang mungkin pernah kita dengar. Buku ini sangat jauh dari karakter buku teks ekonomi, tetapi juga bukan merupakan fiksi. Ia populer, namun juga akademis pada saat yang bersamaan. Ia bisa dibaca seperti novel detektif, tetapi juga bisa dikutip untuk keperluan ilmiah. Buku ini mengernyitkan dahi kita, tetapi juga membuat kita tertawa. Sebuah fenomena? Mungkin. Sangat tergantung kepada pembacanya.
 
Satu hal yang pasti, buku ini menjadi sangat popular. Buktinya, ia menjadi New York Times Bestseller dan juga telah dicetak ulang pada tahun 2006. Buku ini memang dianggap telah berhasil memberikan wajah yang lebih humoris kepada ilmu ekonomi yang mungkin, sebagian dari kita samakan dengan wajah bapak-bapak setengah baya dengan kacamata tebal dan rambut beruban (atau botak sekalian).
 
Kedua penulis, yang merupakan duet antara ekonom dan wartawan, berhasil meracik sebuah buku yang manis dan cukup ringan dibaca untuk ukuran sebuah buku non-fiksi. Dengan mengambil kasus-kasus yang dekat dengan kehidupan masyarakat, mereka berhasil menunjukkan bahwa ilmu ekonomi tidak hanya berguna dalam menghitung inflasi ataupun laba bersih perusahaan dalam setahun. Sebaliknya, kedua penulis mengajak kita untuk meyakini bahwa ilmu ekonomi mampu menjelaskan fenomena sosial (sosiologis) dengan menggunakan data- data univariat sederhana yang umumnya dianalisa secara historis.
 
Di sini kedua penulis mulai bermain dengan api. Keberhasilan mereka dalam ‘membumikan’ ilmu ekonomi harus dibayar dengan keskeptisan dalam penyajian dan penyimpulan data. Bagaimana tidak, karena dalam kasus-kasus yang mereka bahas, tidak terlihat suatu validitas dalam menyajikan dan menganalisa data. Mungkin karena ingin memaparkan dengan cara yang lebih sederhana, Steven D. Levitt menghindari penggunaan alat analisa berupa penghitungan korelasi dengan tabel ataupun statistik, yang merupakan nenek moyang dari alat ukur dalam ekonomi. Akibatnya, secara metodologis, kasus-kasus yang dibahas dalam Freakonomics lebih banyak mengandalkan ‘hubungan yang dibuat-buat’ dan didasari pengamatan serta kejenakaan Levitt.
 
Jujur saja, fenomena yang dibahas olehnya sama sekali belum tentu berhubungan. Yang ada sebenarnya ialah data yang kebetulan menguatkan argumen mereka. Padahal, jika data tersebut diberikan kepada orang lain, kesimpulan yang akan muncul belum tentu akan sama. Alasannya sangat sederhana, karena dari segi metode dan analisa, Levitt memang tidak terlalu mengandalkan pendekatan ilmiah. Ia memang tidak terlihat mengandalkan pendekatan positivistik. Namun, kalau kita baca sepintas, seolah penjelasan mereka itu fundamental dan tetap bermain- main dengan logika positivistik, tetapi hanya dengan mengandalkan data univariat.
 
Yang akhirnya muncul ialah suatu pendekatan ilmiah dengan daya khayl tinggi. Bagaimanapun juga, Steven D. Levitt mengakui bahwa ia bukan merupakan akademisi textbook , tetapi lebih menyerupai seseorang yang memiliki rasa penasaran tinggi dan memiliki cara-cara unik dalam memenuhi rasa penasaran tersebut.
 
Akhirnya, meskipun buku ini menyajikan sesuatu yang baru, tetapi secara keseluruhan saya tidak terlalu takjub dengannya. Justru impresi yang saya dapatkan ialah buku ini jatuh ke tangan pembaca yang tidak siap dengan membaca keadaan masyarakatnya. Atau dengan kata lain, buku ini hanya menggambarkan betapa masyarakat Amerika pada khususnya begitu ‘polos’ dalam membaca lingkungan sekitarnya. Mereka tampaknya selama ini menerima kondisi masyarakatnya dengan sikap taken for granted , sehingga ketika kedua pemuda ini melempar penjelasan-penjelasan imajinatif, penjelasan tersebut langsung disambut dengan tangan terbuka.
 
Tetapi buku ini memberi suatu pelajaran yang harus kita terima, dan mungkin juga bisa diterapkan untuk ilmu sosiologi. Mengapa tidak, untuk menjelaskan berbagai kasus di masyarakat dengan mengurangi gaya ilmiah, dan lebih menggunakan pendekatan populer. Setidaknya, dengan cara tersebut, kita bisa lebih mendekatkan masyarakat dengan ilmu sosiologi.