Category Archives: Film

Taking Woodstock

Saya tidak mau membuat Anda bosan dengan ulasan film yang terlalu panjang. Jadi, saya kasih kumpulan tag yang mungkin cukup mewakili film garapan sutradara Brokeback Mountain, Ang Lee, ini.

Woodstock. Retro. Flower Generation.Sixties.Sixties Revival.Vietnam War. Acid. Speed. LCD. Beatniks. Volkswagen. Janis Joplin. Bob Dylan.

Ang Lee.Dimitri Martin. Paul Dano.
Wit. Satire. Comedy

Menyenangkan untuk ditonton.
Plus, ada nenek-nenek nyebelin yang bikin grrrr…

3,8 dari 5.

Waltz with Bashir

Saya membeli dvd film ini dengan dua perasaan. Pertama, dengan sebuah rasa terima kasih karena ada juga yang mau membajak film non komersil ini. Kedua, sebuah rasa penasaran yang besar karena beberapa hari sebelumnya saya membaca sebuah ulasan tentang film ini, ditambah dengan fakta dinominasikannya film asal Israel ini di ajang Academy Awards. Meskipun akhirnya kalah dalam kategori best foreign picture, tetapi film ini patut diberi perhatian yang lebih besar.

Bagaimana tidak, film ini sudah menuai atensi (dan kontroversi) dari latar belakang pembuatannya. Mengambil kisah perang Israel Lebanon 1982, ia menjadi semacam ‘Jarhead’ dalam balutan animasi yang aduhai.

Hal menarik lainnya ialah, film ini dibuat oleh orang Israel yang mengkritisi perang dan negaranya sendiri. Kita mungkin sudah terbiasa dengan film hollywood yang mencoba menangkap sisi lain perang Vietnam, tetapi sebuah film Israel yang mengkritik perang dan ideologi negaranya sendiri masih bisa dihitung dengan jari.

Film ini memang memiliki beberapa keunikan. Pertama adalah sudut pandang yang ia ambil, karena sebenarnya mengisahkan cerita pribadi dari sang sutradara, Ari Folman, yang mencoba untuk menggali kembali memorinya (mirip Memento) pada saat menjadi prajurit Israel berumur 19 tahun dalam Perang Israel-Lebanon. Kedua, film ini sebenarnya lebih menyerupai sebuah dokumenter ketimbang film fiksi, sehingga semua karakter dalam film ini diambil dari kehidupan nyata yang dicoba digali kembali oleh Ari Folman. Ketiga, semua ini digarap dalam teknik animasi yang mengingatkan kita pada film seperti A Scanner Darkly atau Renaissance.

Waltz with Bashir tidak hanya menarik dari segi teknis, tetapi juga dari pesan utama film tersebut. Motivasi utama Ari Folman untuk menceritakan pergulatan pribadinya dengan masa lalu bisa kita pertanyakan, namun apa yang ia tampilkan memberi kita sebuah kesempatan untuk memahami perspektif tentara Israel dalam menjalankan tugasnya di Lebanon. Dengan mengambil setting perang Israel Lebanon pada tahun 1982, film ini tidak mungkin menghindari sebuah muatan politis, dan juga historis, dimana ia juga mengabadikan kronologi pertumpahan darah besar yang dikenang dengan nama Sabra and Shatila massacre. Dan inilah inti dari keseluruhan cerita dalam film, yaitu usaha Ari untuk menghadapi masa lalu yang selama lebih dari 20 tahun ia abaikan.

Namun, cara ia membalut cerita tersebut sama sekali bukan sebuah usaha pembenaran apalagi pembelaan atas keterlibatan tentara Israel dalam peristiwa tersebut. Sebaliknya, dari keseluruhan adegan yang ada, tersirat usaha Ari untuk bisa jujur terhadap dirinya maupun penonton.

Secara keseluruhan, film ini sangat layak untuk ditonton. Tidak hanya karena kita disuguhi sebuah pesta animasi, tetapi juga karena belum banyak film dokumenter yang benar-benar menangkap kisah di Timur Tengah, terutama yang melihatnya dari sisi tentara Israel.