Category Archives: Food for Thought

#Menolaklupa – Catatan untuk Sendiri

Mei selalu mengajak kita untuk ingat. Terlebih sekarang, saat kita harus berhadapan dengan seorang Capres yang membuka kembali ingatan soal Orde Baru dan berbagai peristiwa seputar 1998. #Menolaklupa menjadi sebuah keharusan dalam situasi demikian. 

Buat saya sendiri, menolak lupa memiliki makna yang berbeda. Saya tidak dalam kapasitas untuk mengomentari peristiwa Reformasi karena ingatan yang tidak mendukung untuk itu. #Menolaklupa justru merupakan renungan pribadi untuk terus mengingat alasan saya untuk bekerja demi perubahan.  Continue reading

Now brewing: Mapping think tanks in Post-Soeharto Indonesia

I am currently working on a rather unexplored theme, namely the role of think tanks in producing knowledge within the post-Soeharto era. One of the central questions that I’m asking is how think tanks influence the policymaking process with regard to their ideological position, provided they have any. Hence, the key to answering this question is by locating them on a well-calibrated left to right scale, measuring their disposition through publications, mission statement and other recent works.

This study will be conducted independently and is not commissioned by the organization to which I’m currently attached. If you have any ideas or insights on how I could approach this work, feel free to contact me. I will welcome any kind of input as it can only enrich my perspective. Cheers!

Disalip

Bekerja dalam bidang pembangunan adalah merelakan diri kita disalip oleh orang lain. Orang yang menyalip kita (secara finansial, secara sosial ) kemudian adalah mereka yang justru lebih dominan dalam mempengaruhi proses pembangunan. Yang kita lakukan adalah membersihkan sampah-sampah pemerintah. Sementara teman-teman sebaya kita dengan cepat menjadi bagian dari mereka yang menghasilkan sampah, bersama pemerintah .

Ini meletihkan, tentu. 

Namun, berada dalam posisi  disalip punya banyak keuntungan: Kita bisa melihat proses itu dengan lebih seksama. Tapi, secara simbolis, merelakan diri disalip itu juga punya satu hikmah: Kita tidak punya alasan untuk cepat-cepat sampai ke tujuan. Kecuali Anda merasa pembangunan adalah masalah perlombaan. 

Senjakala Chomsky

Noam Chomsky public lecture @DW Global Media Forum

Sumber/source: DW Global Media Forum 2013

Terkadang seorang intelektual atau cendekiawan tak ubahnya seorang artis. Hal ini terasa benar ketika saya menghadiri kuliah umum Noam Chomsky di Bonn, 17 Juni 2013 silam. Kata ‘peserta’ mungkin lebih tepat diganti dengan kata ‘penonton’. Karena pengalaman yang lebih pas adalah menonton Noam Chomsky, bukan mendengarkan atau menyimak.  Continue reading

Statistik à la Hans Rosling

Hans Rosling. Sumber:http://www.ourprg.com/

Hans Rosling. Sumber: http://www.ourprg.com/

Mencerna data bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika data tersebut menyangkut populasi dunia dan angka kemiskinan global. Butuh keterampilan khusus untuk mampu menampilkannya secara menarik tanpa menghilangkan esensinya yang paling utama: memaparkan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Untuk itulah Hans Rosling dikenal dan dicari: untuk memudahkan kita dalam memahami tren kemiskinan dan kependudukan dunia. Bermula sebagai peneliti kesehatan, akademisi asal Swedia ini sekarang terkenal karena pendekatannya yang kreatif dalam menampilkan data statistik di berbagai forum global. 

Simak profilnya di Guardian dan presentasinya di TEDSelamat belajar dan terkesima :)

Gagal Move On

Mendengar kata Jerman, sang pseudo intellectual akan merasa terangsang. Di kepalanya muncul kata Marx, Hegel, teori kritis Frankfurt School, Nietzsche, Dahrendorf dan seabreg tokoh yang lazim ia gunakan sebagai wewangian dalam tulisan. Sayang, sang pseudo intellectual lupa bahwa kalender sudah mencatat tahun 2013. Sementara ia masih menganggap dirinya hidup di tahun 1950, zaman di mana Jerman masih memiliki banyak etalase pemikiran, bahkan sedang mengalami masa keemasan baru berkat proyek para pemikir mereka di Universitas Frankfurt, yang kita kenal dengan mazhab Frankfurt School. 

Continue reading

Sudahkah Manusia Indonesia Berpikir?

Catatan: tulisan ini harusnya dipublikasikan di Indoprogress, tetapi redaksi mereka sepertinya punya pertimbangan sendiri :)

Tulisan ini baiknya dibaca sebagai kelanjutan artikel Pembangunan dan Kemiskinan Imajinasi, di mana penulis berargumen bahwa salah satu penyebab carut marut pembangunan Indonesia adalah ketidakmampuan membayangkan sesuatu di luar konsepsi pembangunan yang telah ada. Bahwa kemampuan mengabstraksikan masa depan Indonesia, terutama dalam sistem ekonomi, seolah terbatas pada pilihan antara kapitalisme dan sosialisme. Di sini, persoalan lebih mendasar yang hendak diangkat ke permukaan adalah masalah eurosentrisme yang membuat kita, manusia Indonesia, tampak miskin dalam mengartikulasikan angan kita akan sesuatu yang ideal. Pengetahuan tampak terbatas, tidak membuat subyek poskolonial dapat bersuara, seperti diungkapkan Gayatri Spivak. Continue reading

Referensi Poskolonialisme dan Pembangunan

Akhir-akhir ini saya banyak menggeluti teori poskolonial dalam kaitannya dengan kritik pembangunan. Ada kemungkinan saya akan menggunakan perspektif ini untuk seterusnya dalam membedah dan mengkritisi pembangunan di Indonesia. Tetapi itu persoalan konsistensi pemikiran.

Untuk sementara, saya mencantumkan beberapa referensi yang saya anggap berguna sebagai pisau bedah. Perlu dicatat di sini bahwa kajian poskolonial yang saya gunakan berbeda dengan kritik poskolonial dalam sastra atau teori budaya sebagaimana lazim dikenal. Di sini, secara khusus, poskolonialisme ditekankan sebagai kritik terhadap teori pembangunan Barat, yang lantas berupaya mengemansipasi subyek pembangunan di negara ‘Dunia Ketiga’. Maka, tidak semua bacaan poskolonialisme tepat sebagai referensi kritik pembangunan. Gagasan ini baiknya dilengkapi dengan gagasan post-development, yang akan memperkaya kritik tersebut dengan terapi kontra-pembangunan. Tapi tentu ini adalah daftar bacaan subyektif dari pandangan saya semata. Semoga bermanfaat! Continue reading

Sekali lagi: Pemuda

For it is the young, in their desperate need to grow up sanely amid an insane environment, who hunger for lively alternatives.

- Theodore Roszak 

Sekali lagi, dan untuk berkali-kalinya ke depan, wacana tentang pemuda dan kepemudaan perlu kita angkat dan timbang. Bukan sebagai glorifikasi atau perayaan, tetapi sebaliknya: untuk mengingatkan mereka yang merasa sebagai pemuda tentang kerentanan yang melekat pada diri mereka.

Jika bukan karena pemuda, Indonesia yang kita kenal sekarang tidak akan pernah terwujud. Dalam arti yang paling sentral: yang kita kenal sekarang. Continue reading

Post Development: Apa dan Mengapa

Pekerja proyek Gandaria City. 2011

Di Indonesia, kata dan konsepsi ‘pembangunan’ teramat keramat. Padahal, maknanya tidak pernah dimengerti, apalagi digugat. Pembangunan sebenarnya memiliki arti yang bersayap. Ia tidak semestinya dianggap berkesudahan, alias final. Sebagai sebuah kata kerja, dan aktifitas, membangun juga menyiratkan sebuah kelanjutan. Coba gunakan kata memelihara, merawat atau pun membongkar, merusak, menghancurkan, atau merubuhkan sebagai tindak lanjut membangun. Logikanya, secara konseptual, dalam risalah ‘pembangunan’, perlu ada cara pandang alternatif yang menanggapi stagnasi gagasan pembangunan.

Hal ini terlebih relevan, jika pembangunan yang kita kenal ternyata hanya membangun, tetapi tidak menghidupi. Lebih-lebih jika pembangunan hanya berlaku untuk segelintir, dan tidak sesama, apalagi semua. Di sinilah makna kata membangun perlu dibongkar, atau setidaknya ditinjau kembali.

Continue reading