Category Archives: Food for Thought

Senjakala Chomsky

Noam Chomsky public lecture @DW Global Media Forum

Sumber/source: DW Global Media Forum 2013

Terkadang seorang intelektual atau cendekiawan tak ubahnya seorang artis. Hal ini terasa benar ketika saya menghadiri kuliah umum Noam Chomsky di Bonn, 17 Juni 2013 silam. Kata ‘peserta’ mungkin lebih tepat diganti dengan kata ‘penonton’. Karena pengalaman yang lebih pas adalah menonton Noam Chomsky, bukan mendengarkan atau menyimak.  Continue reading

Statistik à la Hans Rosling

Hans Rosling. Sumber:http://www.ourprg.com/

Hans Rosling. Sumber: http://www.ourprg.com/

Mencerna data bukanlah perkara yang mudah. Apalagi jika data tersebut menyangkut populasi dunia dan angka kemiskinan global. Butuh keterampilan khusus untuk mampu menampilkannya secara menarik tanpa menghilangkan esensinya yang paling utama: memaparkan apa yang telah, sedang, dan akan terjadi. Untuk itulah Hans Rosling dikenal dan dicari: untuk memudahkan kita dalam memahami tren kemiskinan dan kependudukan dunia. Bermula sebagai peneliti kesehatan, akademisi asal Swedia ini sekarang terkenal karena pendekatannya yang kreatif dalam menampilkan data statistik di berbagai forum global. 

Simak profilnya di Guardian dan presentasinya di TEDSelamat belajar dan terkesima :)

Gagal Move On

Mendengar kata Jerman, sang pseudo intellectual akan merasa terangsang. Di kepalanya muncul kata Marx, Hegel, teori kritis Frankfurt School, Nietzsche, Dahrendorf dan seabreg tokoh yang lazim ia gunakan sebagai wewangian dalam tulisan. Sayang, sang pseudo intellectual lupa bahwa kalender sudah mencatat tahun 2013. Sementara ia masih menganggap dirinya hidup di tahun 1950, zaman di mana Jerman masih memiliki banyak etalase pemikiran, bahkan sedang mengalami masa keemasan baru berkat proyek para pemikir mereka di Universitas Frankfurt, yang kita kenal dengan mazhab Frankfurt School. 

Continue reading

Sudahkah Manusia Indonesia Berpikir?

Catatan: tulisan ini harusnya dipublikasikan di Indoprogress, tetapi redaksi mereka sepertinya punya pertimbangan sendiri :)

Tulisan ini baiknya dibaca sebagai kelanjutan artikel Pembangunan dan Kemiskinan Imajinasi, di mana penulis berargumen bahwa salah satu penyebab carut marut pembangunan Indonesia adalah ketidakmampuan membayangkan sesuatu di luar konsepsi pembangunan yang telah ada. Bahwa kemampuan mengabstraksikan masa depan Indonesia, terutama dalam sistem ekonomi, seolah terbatas pada pilihan antara kapitalisme dan sosialisme. Di sini, persoalan lebih mendasar yang hendak diangkat ke permukaan adalah masalah eurosentrisme yang membuat kita, manusia Indonesia, tampak miskin dalam mengartikulasikan angan kita akan sesuatu yang ideal. Pengetahuan tampak terbatas, tidak membuat subyek poskolonial dapat bersuara, seperti diungkapkan Gayatri Spivak. Continue reading

Referensi Poskolonialisme dan Pembangunan

Akhir-akhir ini saya banyak menggeluti teori poskolonial dalam kaitannya dengan kritik pembangunan. Ada kemungkinan saya akan menggunakan perspektif ini untuk seterusnya dalam membedah dan mengkritisi pembangunan di Indonesia. Tetapi itu persoalan konsistensi pemikiran.

Untuk sementara, saya mencantumkan beberapa referensi yang saya anggap berguna sebagai pisau bedah. Perlu dicatat di sini bahwa kajian poskolonial yang saya gunakan berbeda dengan kritik poskolonial dalam sastra atau teori budaya sebagaimana lazim dikenal. Di sini, secara khusus, poskolonialisme ditekankan sebagai kritik terhadap teori pembangunan Barat, yang lantas berupaya mengemansipasi subyek pembangunan di negara ‘Dunia Ketiga’. Maka, tidak semua bacaan poskolonialisme tepat sebagai referensi kritik pembangunan. Gagasan ini baiknya dilengkapi dengan gagasan post-development, yang akan memperkaya kritik tersebut dengan terapi kontra-pembangunan. Tapi tentu ini adalah daftar bacaan subyektif dari pandangan saya semata. Semoga bermanfaat! Continue reading

Sekali lagi: Pemuda

For it is the young, in their desperate need to grow up sanely amid an insane environment, who hunger for lively alternatives.

- Theodore Roszak 

Sekali lagi, dan untuk berkali-kalinya ke depan, wacana tentang pemuda dan kepemudaan perlu kita angkat dan timbang. Bukan sebagai glorifikasi atau perayaan, tetapi sebaliknya: untuk mengingatkan mereka yang merasa sebagai pemuda tentang kerentanan yang melekat pada diri mereka.

Jika bukan karena pemuda, Indonesia yang kita kenal sekarang tidak akan pernah terwujud. Dalam arti yang paling sentral: yang kita kenal sekarang. Continue reading

Post Development: Apa dan Mengapa

Pekerja proyek Gandaria City. 2011

Di Indonesia, kata dan konsepsi ‘pembangunan’ teramat keramat. Padahal, maknanya tidak pernah dimengerti, apalagi digugat. Pembangunan sebenarnya memiliki arti yang bersayap. Ia tidak semestinya dianggap berkesudahan, alias final. Sebagai sebuah kata kerja, dan aktifitas, membangun juga menyiratkan sebuah kelanjutan. Coba gunakan kata memelihara, merawat atau pun membongkar, merusak, menghancurkan, atau merubuhkan sebagai tindak lanjut membangun. Logikanya, secara konseptual, dalam risalah ‘pembangunan’, perlu ada cara pandang alternatif yang menanggapi stagnasi gagasan pembangunan.

Hal ini terlebih relevan, jika pembangunan yang kita kenal ternyata hanya membangun, tetapi tidak menghidupi. Lebih-lebih jika pembangunan hanya berlaku untuk segelintir, dan tidak sesama, apalagi semua. Di sinilah makna kata membangun perlu dibongkar, atau setidaknya ditinjau kembali.

Continue reading

Mengawal RUU PT: Sebuah Refleksi

Dan RUU itu pun berkurang satu huruf.

Setelah lebih dari satu tahun dirumuskan di DPR, RUU Pendidikan Tinggi resmi disahkan pada Jumat (13/07) silam. Banyak pelajaran yang bisa dipetik dalam perjalanan advokasi RUU tersebut, dan inilah saat yang tepat untuk merefleksikan prosesnya demi perbaikan sistem pendidikan nasional.

Perdebatan soal substansi dan eksistensi UU ini saya anggap final. Palu telah diketuk, dan mereka yang berkepentingan dengan UU ini, baik pro maupun kontra, telah mengambil sikap. Saya pun demikian. Tak perlu dipertanyakan, regulasi apapun yang mempertaruhkan nasib pendidikan (tinggi) dari segi aksesibilitas dan kualitas tidak perlu didukung.

Namun, pelajaran yang seharusnya kita ambil masihlah sangat saru. Benarkah kita telah melawan dengan cara-cara yang tepat? Apakah ‘amunisi’ itu telah kita arahkan pada sasaran yang sesungguhnya? Hal ini, misalnya, bisa diterjemahkan ke dalam satu pertanyaan sederhana: ‘Benarkah RUU ini murni inisiatif DPR?’ Continue reading

A Paradox Called MP3EI

The world has gathered in Rio de Janeiro to discuss the future of mankind. Despite ending without clear results, Rio+20 revolved around the green economy as a major theme, in the context of sustainable development and poverty eradication. When delivering his speech at the conference, president Susilo Bambang Yudhoyono viewed that the current challenge is in combining “sustainable growth” with “equity”, stating that “We need to move from a ‘greed’ economy to a ‘green’ economy,”.

Indeed, twenty years after the 1992 Rio Conference, the world has gone through many lessons in democracy and development. If there is one thing that shall be highlighted, then it is the fact that we are in a high time of altering our views on development. In recent decades, the development paradigm has clearly shifted away from the one dimensional ‘economic-growth’ approach. Since scholars and policy makers became more aware of the importance in embracing people’s participation and putting emphasis on the sustainabilty of progress, doing development has become a more delicate task to do. But apparently, not every country has the awareness and capacity, or will, to make a U-turn in terms of development. Continue reading

Antara Robin Hood dan Mahatma Gandhi

Beberapa waktu yang lalu saya mengunjungi Riau, sebuah provinsi yang kaya akan sumber daya alam dan kaya akan orang kaya (baru). Jangan tanya saya soal korupsi, biarkan itu diurus oleh mereka yang berwenang. Di sana, saya bertemu dengan seorang, katakanlah aktifis, yang mendedikasikan waktu dan keringatnya untuk 'menyuarakan mereka yang tak bersuara'. Dalam sebuah percakapan, ia berkata: "ya kita punya rencana untuk mendirikan beberapa radio komunitas di Riau, karena belum ada.  Kebetulan kemarin kita dapat program dari…yaa itulah perusahaan-perusahaan itu kan memang punya kegiatan untuk itu. Ya emang bermasalah lah itu, tapi ya kita pokoknya kayak Robin Hood aja. Jadi mau kita bikin radio komunitas dengan itu…"

Dalam kesempatan yang lain, seorang teman mengajak bergosip. Tentu tidak saya tolak. Alamak, ternyata gosipnya tentang Walhi yang dapat dana UN-REDD. Saya pikir tentang apa. Dengan pikiran kosong saya hanya bisa menanggapi: "Ya ilah, AMAN aja juga dapat dana bantuan dari Bank Dunia". Jujur, saya pun tidak tahu harus berkata apa mengenai konflik nilai yang terjadi pada diri saya saat itu. Dan Ini bukan kali pertama saya mendengar cerita-cerita sejenis. Saya pun yakin bahwa suatu saat saya akan berhadapan dengan dilema 'uang haram' dan 'uang halal' semacam itu. 

Lalu saya mengambil analogi sederhana tentang Robin Hood yang merampok si kaya untuk membantu si miskin, dan Mahatma Gandhi yang konon teguh dalam menolak bekerja sama dengan siapapun yang merampas kemerdekaannya. Tidak ada yang bisa mematahkan prinsip dan pendiriannya. 

Tidak perlu penjelasan panjang atas analogi ini. Saya hanya ingin mengajak kawan-kawan untuk bertanya: Bukankah Robin Hood itu hanya tokoh fiksi? Pernahkah ia benar-benar hadir di tengah-tengah kita dalam wujud seseorang? Atau lembaga?

***