Category Archives: Food for Thought

Di dalam Luar Batang

JpegSudah delapan bulan lebih saya membiarkan blog ini terbengkalai. Begitupun dengan indera dan rasa saya. So I had to reconnect, somehow, with life. Common life. Akhirnya saya memilih untuk melarikan diri dengan tetap tinggal di kota. Pergi ke sebuah tempat di mana hidup tidak dibiarkan terbuang secara percuma. Seperti di Luar Batang. Jpeg Saya memilih untuk menjalani Shalat Jumat di Masjid Keramat Luar Batang. Meski hanya menginjakkan kaki sekilas di sana, saya bisa mulai memahami perjuangan yang dilakukan warga setempat untuk mempertahankan tempat tinggal mereka. It’s about existence. Apalagi jika kita melihat lingkungan Luar Batang yang terhimpit permukiman baru nan ‘modern’. Tidak heran jika mereka mencaci Ahok. Ahok, bagi mereka, adalah representasi orang-orang yang akan ‘menghabisi’ hidup mereka. In a sociological sense, of course.

Sayang saya tidak menyempatkan diri untuk ngobrol dengan warga setempat. Tapi melihat lingkungan Luar Batang yang terjepit pembangunan di luar kuasa mereka, saya kembali teringat akan apa yang penting untuk dilakukan jika kita memang memilih bekerja untuk kebenaran. I shouldn’t be complaining.

Menyoal Reputasi. Dan Pengetahuan

Akhir-akhir ini saya gemas melihat media massa (terutama cetak) yang tampak kehabisan stok artikel segar dan pemikiran baru. Sebagian besar penulis yang membagikan pemikirannya terdengar kadaluwarsa dan gagap dalam mengikuti perkembangan zaman. Masalahnya tidak terletak pada minimnya pemikir atau cendekiawan baru, melainkan pada keraguan para pemilik otoritas lama untuk menjaring penulis dan pemikir anyar. Well, setidaknya itu yang saya yakini. Saya menyederhanakan masalah ini pada minimnya reputasi yang dimiliki para penulis dan pemikir muda ini. Nah, kebetulan sekali saya menemukan artikel yang persis mengulas masalah ini: Reputasi.

Continue reading

Soal Jarak Pandang

Kita semua jengah menonton acara gosip. Setidaknya, asumsi penulis adalah bahwa orang yang membuka indoprogress dan Oase sudah sedemikian melek terhadap hingga emoh menonton acara yang mengumbar privasi orang yang kita sebut dengan artis.

Akan tetapi, jengah menonton infotainment bukan berarti kita tidak suka mengikuti perkembangan hidup orang lain. Saya termasuk penggemar berita transfer pemain bola, kawan yang lain hafal dengan kebiasaan musisi indie yang gonta ganti label, sementara kawan yang lainnya lebih terbiasa lagi dengan gosip-gosip kepala daerah (konon itu keterampilan yang dia pelajari selagi menjadi konsultan Pilkada). Tapi yang rasanya paling renyah akhir-akhir ini di kalangan tertentu adalah gosip soal bagi-bagi jatah komisarasi BUMN atau ada juga yang menyebutnya Komisaris independen. Gosip ini jauh mengalahkan gosip soal kemungkinan reshuffle kabinet. Kabinet sudah tentu merupakan pertarungan politik, tetapi komisaris BUMN? Rasionalisasi apa yang bisa dilakukan atas ini? Dan yang terpenting, siapa yang menentukan pembagian kue-kue jenis baru ini? Continue reading

Mencari Pengguna Riset

Permasalahan riset di Indonesia mendesak untuk ditangani. Hal ini telah diulas dengan seksama oleh beberapa penulis sebagaimana dimuat oleh Kompas (3/08/14 dan 13/08/14). Dalam paparan tersebut, terlihat bahwa masalah yang disorot adalah minimnya kualitas serta luaran dari riset di Indonesia. Dalam eksplorasi beberapa cara perbaikan serta tahapannya, terlihat bahwa pada akhirnya, kemauan politik akan kembali menjadi penentu. Memang, seperti halnya berbagai tantangan lain di negeri ini, masalahnya kembali pada persoalan struktural dan institusional, yakni dari peran negara hingga pada desain kelembagaan untuk mengatasi isu tersebut. Ini dikaitkan dengan ihwal penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang diharapkan dapat mempermudah pengelolaan dunia riset dan mendorong kualitas pelaksanaannya. Imbas praktis yang utamanya diharapkan adalah peningkatan anggaran untuk riset yang selama ini hanya berkisar 0,08 dari total pendapatan domestik bruto (PDB) pada tahun 2013.

Continue reading

Revolusi Mental dan Pesan Mochtar Lubis

Geert-Hofstede Cultural Survey

Pendekatan kultural sebagai sebuah pisau analisis sudah lama ditanggalkan oleh ilmuwan sosial Indonesia. Menyimak perdebatan yang berkembang dalam dua sampai tiga dekade terakhir, terlihat bagaimana sebagian besar melarikan diri ke dalam perdebatan soal pembentukan diskursus (Foucaldian), tarik menarik agensi – struktur atau setia dengan mazhab marxisme dan berbagai variannya.

Di tengah dinamika yang sebenarnya tidak dinamis-dinamis amat itu, beberapa pekerjaan rumah yang dititipkan oleh Mochtar Lubis kepada kita tak kunjung tersentuh. Tahun 1977, ia berseloroh secara serius tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang menjengkelkan dan menghambat laju peradaban kita. Koentjaraningrat pun pernah membahasnya lewat buku Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.

Kala itu, pandangan kedua pemuka opini ini cukup diperhatikan, tetapi tidak ditindaklanjuti, meski menjadi catatan perjalanan bangsa yang cukup signifikan. Yang gagal dilakukan oleh Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat adalah membuktikan, atau setidaknya, mengumpulkan bukti yang cukup dengan kaidah ilmiah, yang dapat menjadi rujukan tentang karakter orang Indonesia, di kemudian hari. Continue reading

Mau Pinter? Denger Guster

The Music Map

The Music Map

Maksa ya judulnya. Tapi pada intinya sih, konon, ada beberapa jenis musik yang menandakan kecerdasan seseorang. Menurut riset yang dibikin si Virgil Griffith, Radiohead (dan Guster) adalah beberapa artis yang didengarkan orang pintar. Beyonce dan T.I, ehem, sebaliknya (padahal ada The Used juga. Dan dulu pas masih pakai putih abu-abu, gw ngeband bawain mereka, haha).

Jadi, yang penasaran sama selera musik dan kadar kecerdasannya, monggo klik di sini.

On Ariel

Dalam Can There Be Southeast Asians in Southeast Asian Studies, Ariel Heryanto, dengan begitu apik bertutur tentang terpinggirkannya akademisi Asia Tenggara dalam kajian Asia Tenggara. Tanpa bermaksud untuk menjadi sebuah kritik poskolonial, beliau menulis sebuah esai dengan argumentasi yang kokoh sekaligus begitu mengalir. Tulisan ini, jika dibaca secara reflektif, merupakan tamparan keras, terutama bagi akademisi Indonesia yang berniat untuk mempelajari negerinya mengandalkan legitimasi gelar dari universitas terkemuka di Barat.

Saya tidak akan mencoba merangkum 76 paragraf beliau dalam beberapa poin, tetapi saya hanya ingin mengutip satu kalimat dari artikel tersebut. Poin tersebut sudah lama menjadi kritik saya sendiri terhadap perspektif, gaya dan keyakinan yang dianut cukup banyak akademisi Indonesia dalam menjawab persoalan di negeri sendiri. 

” [..] in the hands of some children of the same dominant West (i.e., Southeast Asianists), these new approaches (post-isms) have been twisted not only to make “smart, useful remarks” (Reynolds 1995: 439) or a “new canon of self-referential theory” (Reid 1999:148), but to be a hand methodological instrument both for ridiculing post-colonial despots,” and depreciating those who live under these despots, while at the same time “enhancing professional credentials in the increasingly competitive academic industrial complex”. […] One must go far beyond them (post-ism) for any radical examination of the way power and dominant discourses operate in many post-colonial societies of Southeast Asia.

 Lalu, mengutip Jeremy Clarkson,  on that bombshell, it is time to end.

#Menolaklupa – Catatan untuk Sendiri

Mei selalu mengajak kita untuk ingat. Terlebih sekarang, saat kita harus berhadapan dengan seorang Capres yang membuka kembali ingatan soal Orde Baru dan berbagai peristiwa seputar 1998. #Menolaklupa menjadi sebuah keharusan dalam situasi demikian. 

Buat saya sendiri, menolak lupa memiliki makna yang berbeda. Saya tidak dalam kapasitas untuk mengomentari peristiwa Reformasi karena ingatan yang tidak mendukung untuk itu. #Menolaklupa justru merupakan renungan pribadi untuk terus mengingat alasan saya untuk bekerja demi perubahan.  Continue reading

Now brewing: Mapping think tanks in Post-Soeharto Indonesia

I am currently working on a rather unexplored theme, namely the role of think tanks in producing knowledge within the post-Soeharto era. One of the central questions that I’m asking is how think tanks influence the policymaking process with regard to their ideological position, provided they have any. Hence, the key to answering this question is by locating them on a well-calibrated left to right scale, measuring their disposition through publications, mission statement and other recent works.

This study will be conducted independently and is not commissioned by the organization to which I’m currently attached. If you have any ideas or insights on how I could approach this work, feel free to contact me. I will welcome any kind of input as it can only enrich my perspective. Cheers!

Disalip

Bekerja dalam bidang pembangunan adalah merelakan diri kita disalip oleh orang lain. Orang yang menyalip kita (secara finansial, secara sosial ) kemudian adalah mereka yang justru lebih dominan dalam mempengaruhi proses pembangunan. Yang kita lakukan adalah membersihkan sampah-sampah pemerintah. Sementara teman-teman sebaya kita dengan cepat menjadi bagian dari mereka yang menghasilkan sampah, bersama pemerintah .

Ini meletihkan, tentu. 

Namun, berada dalam posisi  disalip punya banyak keuntungan: Kita bisa melihat proses itu dengan lebih seksama. Tapi, secara simbolis, merelakan diri disalip itu juga punya satu hikmah: Kita tidak punya alasan untuk cepat-cepat sampai ke tujuan. Kecuali Anda merasa pembangunan adalah masalah perlombaan.