Category Archives: Food for Thought

Menguji Daya Saing Akademisi Indonesia

Pengumuman pemerintah untuk mendatangkan dosen asing membenturkan akademisi Indonesia dengan realitas. Internasionalisasi tidak bisa ditunda lagi. Malahan, di mata pemerintah, ia dianggap sebagai jurus jitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara drastis.

Sama halnya dengan internasionalisasi di sektor lain, kebijakan ini tentu akan memancing penolakan, terutama di tahap awal. Penolakan yang muncul saya bagi berdasarkan dua bentuk, yakni penolakan dengan alasan subyektif, dan penolakan atas dasar substantif. Continue reading

Transparansi Demi Kemandirian Universitas

Rendahnya kualitas pendidikan tinggi Indonesia bersumber dari manajemen buruk dalam universitas itu sendiri. Hal ini terungkap dalam indeks yang disusun oleh konsorsium Universitas 21. Indeks yang mengkaji kualitas sistem pendidikan tinggi secara global itu, menempatkan Indonesia pada peringkat 50 dari 50 negara. Posisi buncit diperoleh lantaran rendahnya output yang dihasilkan universitas kita dibandingkan dengan modal yang tersedia sebagai input (kapital dan sumber daya manusia).

Continue reading

Ulasan Buku: Ilmu Sosial di Indonesia

Data Buku

  • Judul buku                   : Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan
  • Penyunting                  : Widjajanti Mulyono Santoso
  • Penerbit                      : Yayasan Obor
  • Tahun terbit                : 2016
  • Jumlah halaman         : 455 + ix

Ilmu sosial di Indonesia tidak banyak diperbincangkan setelah memasuki era reformasi. Ironis, mengingat kajian sosial dan humaniora seharusnya paling banyak memperoleh manfaat dari hilangnya sebuah rezim yang represif. Asumsinya, reformasi membawa kebebasan akademik serta keterbukaan informasi yang menjadi ladang subur bagi berkembangnya ilmu sosial. Memang, jumlah dosen, peneliti beserta mahasiswa yang berkecimpung dalam ilmu sosial terus bertambah dan mendorong dinamika di dalam ilmu itu sendiri. Namun, sejauh mana pertumbuhan itu pada akhirnya memperkaya pemahaman kita akan manusia dan masyarakat Indonesia, belumlah banyak direnungi.

Hal inilah yang persis hendak diperiksa oleh Buku Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan. Ia hadir dengan ajakan untuk merefleksikan perkembangan ilmu sosial di Indonesia pasca turunnya Orde Baru. Duapuluh sembilan dosen atau peneliti dari dua puluh institusi menyumbangkan pemikirannya ke dalam lima bagian yang disunting oleh dua peneliti senior LIPI. LIPI pula yang memprakarsai kelahiran bunga rampai ini melalui sebuah seminar nasional bertajuk Refleksi Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan, tahun 2014 silam. Beragam artikel ilmiah yang dipresentasikan pada seminar tersebut kemudian disunting oleh LIPI sehingga melahirkan buku setebal 455 halaman ini.

Sebagai sebuah bunga rampai, buku ini cukup beragam namun tidak berhasil dirajut dalam sebuah alur berpikir yang runut. Keragaman topik yang dibahas memberi warna yang menarik namun tidak semuanya menangkap keragaman realita sosial di Indonesia, baik secara geografis, maupun dalam hal kekhasan modal budaya (mengisi apa yang disebut sociological imagination).

Untungnya, keragaman penulis dalam buku ini menjadi contoh baik untuk mendobrak ciri insuler yang melekat dalam ilmu sosial Indonesia hingga hari ini. Ketiadaan upaya untuk berpikir dan bekerja secara lintas disiplin dan lintas kepentingan, utamanya pada level institusi, bisa jadi merupakan faktor utama mengapa ilmu sosial kita seolah lari di tempat. Buku ini, sebagai hasil sebuah seminar, mengizinkan kita untuk mengintip hasil jerih payah meneliti para ilmuwan sosial dari berbagai institusi, dan tidak didominasi empat perguruan tinggi utama Indonesia (ITB, UGM, IPB, UI) yang semuanya terletak di pulau Jawa.

Kehadiran buku ini harusnya menjadi momentum yang baik untuk mempertanyakan kembali situasi terkini ilmu sosial di Indonesia. Di era 1980, perdebatan ini justru lebih mengemuka dengan adanya ajakan untuk memerhatikan masalah ‘indigenisasi ilmu sosial’ Indonesia. Ajakan tersebut masih amat relevan, terutama dari kacamata pasca-kolonial, di mana ilmu sosial Indonesia tertinggal jauh dari, katakanlah, ilmu sosial di India yang banyak mempertanyakan identitas sosial budaya mereka lantaran lebih banyak dibentuk oleh ilmuwan non-India. Kajian pasca-kolonial menjadi mahzab yang digeluti secara ketat sampai-sampai turut membentuk identitas ilmuwan sosial India di aras internasional. Ketiadaan ciri khusus ilmu sosial Indonesia secara individu maupun institusi adalah salah satu kekurangan yang perlu diakui secara bersama. Hal tersebut juga tercermin dalam buku ini, yang kurang mampu menunjukkan agenda keseluruhan ilmu sosial di bumi Indonesia dalam konteks pasca-otoritarianisme.

Agenda yang dihadapai ilmu sosial Indonesia justru dapat ditemukan dalam beberapa literatur. Ilmu Sosial di Asia Tenggara (1997) dan Social Science and Power in Indonesia (2005) misalnya, mampu mendudukkan ilmu sosial ke dalam konteks yang tegas sehingga lebih mudah dipercakapkan dan kemudian, direfleksikan. Ilmu Sosial di Asia Tenggara misalnya, banyak membahas soal tegangan yang dihadapi ilmuwan sosial di Indonesia, Filipina dan Malaysia dalam pilihan mereka menghadapi developmentalisme. Sementara, Social Science and Power merefleksikan lebih mendalam pembentukan ilmu sosial dalam relasinya dengan kuasa negara. Meski sama-sama merupakan bunga rampai, kedua buku tersebut lebih mampu menunjukkan nasib terkini ilmu sosial, di dalam konteks waktu masing-masing.

Hal tersebut tidak ditemukan dalam buku yang diterbitkan Yayasan Obor ini. Buku ini minim kebaharuan dan tidak menunjukkan di mana persisnya ‘perkembangan’ ilmu sosial Indonesia itu terjadi. Ia seolah mengamini bahwa stagnasi adalah masalah utama yang dihadapi ilmu sosial beserta para pelakunya. Ada sebuah kontradiksi yang kemudian terbacca di sini: Sebagaimana sering diutarakan oleh Ignas Kleden, ilmu sosial di era Orde Baru menjalankan fungsi legitimasi di mana seharusnya, ia menjalankan fungsi kritis. Ironinya, di era Reformasi, karya ilmu sosial di era Orde Baru kini justru lebih terlihat berwarna tinimbang produk ilmu sosial dewasa ini, yang tidak tampak semakin kritis.

Dalam hal praktik, satu-satunya penulis dalam buku ini yang menawarkan sebuah pendekatan untuk menjawab masalah indigenisasi ilmu sosial adalah Wayan Suyadnya, yang mendorong riset etnografi sebagai satu metode kunci dalam memahami bumi dan manusia Indonesia. Kemudian, satu-satunya artikel yang menawarkan sebuah pembacaan mengenai kondisi saat ini dan nanti dari ilmu sosial di Indonesia hanyalah tulisan Rochman Achwan, yang mengajak para ilmuwan sosial untuk berpikir secara outside of the box.

Ada banyak alasan mengapa ilmuwan sosial Indonesia lupa berbincang mengenai kondisi ilmu sosial itu sendiri. Alasan klise adalah ketiadaan waktu lantaran kesibukan ilmuwan sosial dalam mengajar dan mengerjakan riset berbasis proyek (Rakhmani dan Siregar, 2016). Alasan lainnya, bisa jadi karena tidak ada landasan berdiskusi mengenai situasi umum yang ada lantaran ketiadaan dokumentasi atas ilmu sosial Indonesia pasca-reformasi. Untuk sementara, buku ini bisa menjawab permasalahan tersebut. Meski bisa dikatakan terlambat, setidak-tidaknya, kehadiran buku ini mengisi lubang besar dalam percakapan ilmiah mengenai ilmu sosial Indonesia dewasa ini.

Di dalam Luar Batang

JpegSudah delapan bulan lebih saya membiarkan blog ini terbengkalai. Begitupun dengan indera dan rasa saya. So I had to reconnect, somehow, with life. Common life. Akhirnya saya memilih untuk melarikan diri dengan tetap tinggal di kota. Pergi ke sebuah tempat di mana hidup tidak dibiarkan terbuang secara percuma. Seperti di Luar Batang. Jpeg Saya memilih untuk menjalani Shalat Jumat di Masjid Keramat Luar Batang. Meski hanya menginjakkan kaki sekilas di sana, saya bisa mulai memahami perjuangan yang dilakukan warga setempat untuk mempertahankan tempat tinggal mereka. It’s about existence. Apalagi jika kita melihat lingkungan Luar Batang yang terhimpit permukiman baru nan ‘modern’. Tidak heran jika mereka mencaci Ahok. Ahok, bagi mereka, adalah representasi orang-orang yang akan ‘menghabisi’ hidup mereka. In a sociological sense, of course.

Sayang saya tidak menyempatkan diri untuk ngobrol dengan warga setempat. Tapi melihat lingkungan Luar Batang yang terjepit pembangunan di luar kuasa mereka, saya kembali teringat akan apa yang penting untuk dilakukan jika kita memang memilih bekerja untuk kebenaran. I shouldn’t be complaining.

Menyoal Reputasi. Dan Pengetahuan

Akhir-akhir ini saya gemas melihat media massa (terutama cetak) yang tampak kehabisan stok artikel segar dan pemikiran baru. Sebagian besar penulis yang membagikan pemikirannya terdengar kadaluwarsa dan gagap dalam mengikuti perkembangan zaman. Masalahnya tidak terletak pada minimnya pemikir atau cendekiawan baru, melainkan pada keraguan para pemilik otoritas lama untuk menjaring penulis dan pemikir anyar. Well, setidaknya itu yang saya yakini. Saya menyederhanakan masalah ini pada minimnya reputasi yang dimiliki para penulis dan pemikir muda ini. Nah, kebetulan sekali saya menemukan artikel yang persis mengulas masalah ini: Reputasi.

Continue reading

Soal Jarak Pandang

Kita semua jengah menonton acara gosip. Setidaknya, asumsi penulis adalah bahwa orang yang membuka indoprogress dan Oase sudah sedemikian melek terhadap hingga emoh menonton acara yang mengumbar privasi orang yang kita sebut dengan artis.

Akan tetapi, jengah menonton infotainment bukan berarti kita tidak suka mengikuti perkembangan hidup orang lain. Saya termasuk penggemar berita transfer pemain bola, kawan yang lain hafal dengan kebiasaan musisi indie yang gonta ganti label, sementara kawan yang lainnya lebih terbiasa lagi dengan gosip-gosip kepala daerah (konon itu keterampilan yang dia pelajari selagi menjadi konsultan Pilkada). Tapi yang rasanya paling renyah akhir-akhir ini di kalangan tertentu adalah gosip soal bagi-bagi jatah komisarasi BUMN atau ada juga yang menyebutnya Komisaris independen. Gosip ini jauh mengalahkan gosip soal kemungkinan reshuffle kabinet. Kabinet sudah tentu merupakan pertarungan politik, tetapi komisaris BUMN? Rasionalisasi apa yang bisa dilakukan atas ini? Dan yang terpenting, siapa yang menentukan pembagian kue-kue jenis baru ini? Continue reading

Mencari Pengguna Riset

Permasalahan riset di Indonesia mendesak untuk ditangani. Hal ini telah diulas dengan seksama oleh beberapa penulis sebagaimana dimuat oleh Kompas (3/08/14 dan 13/08/14). Dalam paparan tersebut, terlihat bahwa masalah yang disorot adalah minimnya kualitas serta luaran dari riset di Indonesia. Dalam eksplorasi beberapa cara perbaikan serta tahapannya, terlihat bahwa pada akhirnya, kemauan politik akan kembali menjadi penentu. Memang, seperti halnya berbagai tantangan lain di negeri ini, masalahnya kembali pada persoalan struktural dan institusional, yakni dari peran negara hingga pada desain kelembagaan untuk mengatasi isu tersebut. Ini dikaitkan dengan ihwal penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang diharapkan dapat mempermudah pengelolaan dunia riset dan mendorong kualitas pelaksanaannya. Imbas praktis yang utamanya diharapkan adalah peningkatan anggaran untuk riset yang selama ini hanya berkisar 0,08 dari total pendapatan domestik bruto (PDB) pada tahun 2013.

Continue reading

Revolusi Mental dan Pesan Mochtar Lubis

Geert-Hofstede Cultural Survey

Pendekatan kultural sebagai sebuah pisau analisis sudah lama ditanggalkan oleh ilmuwan sosial Indonesia. Menyimak perdebatan yang berkembang dalam dua sampai tiga dekade terakhir, terlihat bagaimana sebagian besar melarikan diri ke dalam perdebatan soal pembentukan diskursus (Foucaldian), tarik menarik agensi – struktur atau setia dengan mazhab marxisme dan berbagai variannya.

Di tengah dinamika yang sebenarnya tidak dinamis-dinamis amat itu, beberapa pekerjaan rumah yang dititipkan oleh Mochtar Lubis kepada kita tak kunjung tersentuh. Tahun 1977, ia berseloroh secara serius tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang menjengkelkan dan menghambat laju peradaban kita. Koentjaraningrat pun pernah membahasnya lewat buku Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.

Kala itu, pandangan kedua pemuka opini ini cukup diperhatikan, tetapi tidak ditindaklanjuti, meski menjadi catatan perjalanan bangsa yang cukup signifikan. Yang gagal dilakukan oleh Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat adalah membuktikan, atau setidaknya, mengumpulkan bukti yang cukup dengan kaidah ilmiah, yang dapat menjadi rujukan tentang karakter orang Indonesia, di kemudian hari. Continue reading

Mau Pinter? Denger Guster

The Music Map

The Music Map

Maksa ya judulnya. Tapi pada intinya sih, konon, ada beberapa jenis musik yang menandakan kecerdasan seseorang. Menurut riset yang dibikin si Virgil Griffith, Radiohead (dan Guster) adalah beberapa artis yang didengarkan orang pintar. Beyonce dan T.I, ehem, sebaliknya (padahal ada The Used juga. Dan dulu pas masih pakai putih abu-abu, gw ngeband bawain mereka, haha).

Jadi, yang penasaran sama selera musik dan kadar kecerdasannya, monggo klik di sini.

On Ariel

Dalam Can There Be Southeast Asians in Southeast Asian Studies, Ariel Heryanto, dengan begitu apik bertutur tentang terpinggirkannya akademisi Asia Tenggara dalam kajian Asia Tenggara. Tanpa bermaksud untuk menjadi sebuah kritik poskolonial, beliau menulis sebuah esai dengan argumentasi yang kokoh sekaligus begitu mengalir. Tulisan ini, jika dibaca secara reflektif, merupakan tamparan keras, terutama bagi akademisi Indonesia yang cialis prix berniat untuk mempelajari negerinya mengandalkan legitimasi gelar dari universitas terkemuka di Barat.

Saya tidak akan mencoba merangkum 76 paragraf beliau dalam beberapa poin, tetapi saya hanya ingin mengutip satu kalimat dari artikel tersebut. Poin tersebut sudah lama menjadi kritik saya sendiri terhadap perspektif, gaya dan keyakinan yang dianut cukup banyak akademisi Indonesia dalam menjawab persoalan di negeri sendiri. 

” [..] in the hands of some children of the same dominant West (i.e., Southeast Asianists), these new approaches (post-isms) have been twisted not only to make “smart, useful remarks” (Reynolds 1995: 439) or a “new canon of self-referential theory” (Reid 1999:148), but to be a hand methodological instrument both for ridiculing post-colonial despots,” and depreciating those who live under these despots, while at the same time “enhancing professional credentials in the increasingly competitive academic industrial complex”. […] One must go far beyond them (post-ism) for any radical examination of the way power and dominant discourses operate in many post-colonial societies of Southeast Asia.

 Lalu, mengutip Jeremy Clarkson,  on that bombshell, it is time to end.