Author Archives: Fajri Siregar

About Fajri Siregar

Fajri Siregar. Bekerja sebagai peneliti di Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG), Jakarta. Menjaga kewarasan dengan mengisi konten Primitif Zine dan blog ini.

Semakin Kenal, Semakin tak Sayang

Setelah kurang lebih empat tahun tidak berkunjung, saya akhirnya kembali ke tempat di mana saya ‘dilahirkan’. Dilahirkan dalam arti belajar, mengumpulkan pengalaman dan memperoleh gelar sarjana. Ya, ke Departemen itulah saya kembali berkunjung. Dan pengalaman yang saya peroleh hanya mengkonfirmasi asumsi saya selama ini: Bahwa manusia-manusia di dalamnya kadung nyaman dan tertidur di dalam kandangnya.

Saya, yang kemudian memang hanya bisa memandang dan berkomentar dari luar, kok malah merasa iba dengan kondisi di dalam kandang itu. Tidak ada pikiran terbuka dan apresiasi terhadap dunia yang terpancar dari manusianya. Tidak ada semangat untuk membuka diri terhadap orang baru, yang notabene adalah orang lama yang telah mereka didik. Entah dengan baik atau tidak. Yang pasti, kami bertemu sebagai orang asing yang sudah saling kenal. Seperti itulah mungkin sebaiknya hubungan ini dijaga. Demi obyektifitas yang konon harus dipelihara seorang akademisi. Karena seperti itulah mereka memandang mereka.

Modul : Dari Data ke Kebijakan

Rapid Outcome Mapping Approach

Rapid Outcome Mapping Approach

Ada sebuah buku pedoman baru yang kelihatannya berguna untuk para praktisi kebijakan dan pembangunan. Judul aslinya ROMA: A guide to policy engagement and influence. Tujuannya sederhana, yakni memberi petunjuk tentang cara mempengaruhi pembuatan kebijakan dengan metode yang praktis, namun berbasis temuan atau fakta. Sangat sejalan, atau justru didorong, dengan semakin maraknya semangat evidence-based policy. Buku pedoman ini diterbitkan oleh Overseas Development Institute yang memiliki reputasi baik dalam meneliti masalah pembangunan, khususnya dalam lingkup negara berkembang. ROMA (singkatan dari Rapid Outcome Mapping Approach) kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dapat diunduh di sini.

Selamat mengaplikasikan!

Di Manakah Institut Teknologi Kalimantan?

Artikel Wikipedia untuk Institut Teknologi Kalimantan

Artikel Wikipedia untuk Institut Teknologi Kalimantan

Ada satu lagi bukti keajaiban negeri ini. Konon, beberapa hari sebelum melepas jabatannya, SBY meresmikan universitas terbesar di Asia, yakni Institut Teknologi Kalimantan. Singkat cerita, jika Institut Teknologi Kalimantan tersebut kita cari di Google, maka yang keluar adalah janji tentang sebuah universitas maha mutakhir yang akan menjadi kebanggaan Indonesia, dan Kalimantan. Waw. Sayang saja, meski mampu membebaskan lahan seluas 300ha, para pengelolanya belum mampu mendirikan sebuah situs resmi :D

Bahkan tidak ada satupun berita (atau foto) mengenai peresmian universitas tersebut.

Muungkiiin, itu cara mereka agar orang-orang yang penasaran (seperti saya) langsung datang ke bumi Borneo untuk mencari universitas yang bersangkutan.  *nyengir*

Producing Indonesia

Producing IndonesiaAda sebuah buku menarik yang entah kapan akan saya baca. Kendalanya dua: 1. Buku ini tidak mudah didapatkan karena sejauh ini baru bisa diimpor 2. Kemalasan saya untuk menyiasati waktu yang makin lama tampak makin berkurang untuk dapat menikmati bacaan yang bermutu (Ok, masalah nomor 2 ini sebenarnya masalah saya sendiri. Objectively, waktu tidak mungkin berkurang. Atau?).

Nah, lantaran dua masalah tersebut, sayangnya saya belum mampu memberi uraian ataupun ulasan lebih lanjut atas isi dan tujuan buku tersebut. Yang saya tahu, kelihatannya ia akan sangat berguna bagi siapapun yang tertarik dengan masalah produksi pengetahuan di Indonesia maupun Indonesia sebagai sebuah obyek kajian. Buku ini tidak lagi berbicara soal Indonesia sebagai fenomena, melainkan bagaimana Indonesia dibentuk sebagai sebuah ‘disiplin ilmu’ dalam kajian kewilayahan, oleh para Indonesianis. Menarik (setidaknya bagi saya).

Nah, pertanyaan pertama yang mau saya ajukan terkait buku ini adalah:  Adakah yang punya?  #Gakmodal.

Revolusi Mental dan Pesan Mochtar Lubis

Geert-Hofstede Cultural Survey

Pendekatan kultural sebagai sebuah pisau analisis sudah lama ditanggalkan oleh ilmuwan sosial Indonesia. Menyimak perdebatan yang berkembang dalam dua sampai tiga dekade terakhir, terlihat bagaimana sebagian besar melarikan diri ke dalam perdebatan soal pembentukan diskursus (Foucaldian), tarik menarik agensi – struktur atau setia dengan mazhab marxisme dan berbagai variannya.

Di tengah dinamika yang sebenarnya tidak dinamis-dinamis amat itu, beberapa pekerjaan rumah yang dititipkan oleh Mochtar Lubis kepada kita tak kunjung tersentuh. Tahun 1977, ia berseloroh secara serius tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang menjengkelkan dan menghambat laju peradaban kita. Koentjaraningrat pun pernah membahasnya lewat buku Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.

Kala itu, pandangan kedua pemuka opini ini cukup diperhatikan, tetapi tidak ditindaklanjuti, meski menjadi catatan perjalanan bangsa yang cukup signifikan. Yang gagal dilakukan oleh Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat adalah membuktikan, atau setidaknya, mengumpulkan bukti yang cukup dengan kaidah ilmiah, yang dapat menjadi rujukan tentang karakter orang Indonesia, di kemudian hari. Continue reading

Sociosite

Sociosite

Sociosite

Dulu saya pernah bercita-cita untuk menjadikan blog ini sebagai online repository berbagai situs yang resourceful. Tapi apa daya, kemalasan saya ternyata jadi penghalang utama. Nah, beruntunglah kita karena ada situs yang bernama sociosite. Dibuat dan dikelola oleh beberapa akademisi gendeng di Amsterdam, laman ini memuat (hampir) semua hal yang esensial dalam ilmu sosial. Termasuk nerdy jokes yang hanya lucu di kalangan tertentu. A latest muse of mine.

Mau Pinter? Denger Guster

The Music Map

The Music Map

Maksa ya judulnya. Tapi pada intinya sih, konon, ada beberapa jenis musik yang menandakan kecerdasan seseorang. Menurut riset yang dibikin si Virgil Griffith, Radiohead (dan Guster) adalah beberapa artis yang didengarkan orang pintar. Beyonce dan T.I, ehem, sebaliknya (padahal ada The Used juga. Dan dulu pas masih pakai putih abu-abu, gw ngeband bawain mereka, haha).

Jadi, yang penasaran sama selera musik dan kadar kecerdasannya, monggo klik di sini.

On Ariel

Dalam Can There Be Southeast Asians in Southeast Asian Studies, Ariel Heryanto, dengan begitu apik bertutur tentang terpinggirkannya akademisi Asia Tenggara dalam kajian Asia Tenggara. Tanpa bermaksud untuk menjadi sebuah kritik poskolonial, beliau menulis sebuah esai dengan argumentasi yang kokoh sekaligus begitu mengalir. Tulisan ini, jika dibaca secara reflektif, merupakan tamparan keras, terutama bagi akademisi Indonesia yang cialis prix berniat untuk mempelajari negerinya mengandalkan legitimasi gelar dari universitas terkemuka di Barat.

Saya tidak akan mencoba merangkum 76 paragraf beliau dalam beberapa poin, tetapi saya hanya ingin mengutip satu kalimat dari artikel tersebut. Poin tersebut sudah lama menjadi kritik saya sendiri terhadap perspektif, gaya dan keyakinan yang dianut cukup banyak akademisi Indonesia dalam menjawab persoalan di negeri sendiri. 

” [..] in the hands of some children of the same dominant West (i.e., Southeast Asianists), these new approaches (post-isms) have been twisted not only to make “smart, useful remarks” (Reynolds 1995: 439) or a “new canon of self-referential theory” (Reid 1999:148), but to be a hand methodological instrument both for ridiculing post-colonial despots,” and depreciating those who live under these despots, while at the same time “enhancing professional credentials in the increasingly competitive academic industrial complex”. […] One must go far beyond them (post-ism) for any radical examination of the way power and dominant discourses operate in many post-colonial societies of Southeast Asia.

 Lalu, mengutip Jeremy Clarkson,  on that bombshell, it is time to end.

#Menolaklupa – Catatan untuk Sendiri

Mei selalu mengajak kita untuk ingat. Terlebih sekarang, saat kita harus berhadapan dengan seorang Capres yang membuka kembali ingatan soal Orde Baru dan berbagai peristiwa seputar 1998. #Menolaklupa menjadi sebuah keharusan dalam situasi demikian. 

Buat saya sendiri, menolak lupa memiliki makna yang berbeda. Saya tidak dalam kapasitas untuk mengomentari peristiwa Reformasi karena ingatan yang tidak mendukung untuk itu. #Menolaklupa justru merupakan renungan pribadi untuk terus mengingat alasan saya untuk bekerja demi perubahan.  Continue reading

Now brewing: Mapping think tanks in Post-Soeharto Indonesia

I am currently working on a rather unexplored theme, namely the role of think tanks in producing knowledge within the post-Soeharto era. One of the central questions that I’m asking is how think tanks influence the policymaking process with regard to their ideological position, provided they have any. Hence, the key to answering this question is by locating them on a well-calibrated left to right scale, measuring their disposition through publications, mission statement and other recent works.

This study will be conducted independently and is not commissioned by the organization to which I’m currently attached. If you have any ideas or insights on how I could approach this work, feel free to contact me. I will welcome any kind of input as it can only enrich my perspective. Cheers!