Author Archives: Fajri Siregar

About Fajri Siregar

Fajri Siregar. Bekerja sebagai peneliti di Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG), Jakarta. Menjaga kewarasan dengan mengisi konten Primitif Zine dan blog ini.

Menguji Daya Saing Akademisi Indonesia

Pengumuman pemerintah untuk mendatangkan dosen asing membenturkan akademisi Indonesia dengan realitas. Internasionalisasi tidak bisa ditunda lagi. Malahan, di mata pemerintah, ia dianggap sebagai jurus jitu untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara drastis.

Sama halnya dengan internasionalisasi di sektor lain, kebijakan ini tentu akan memancing penolakan, terutama di tahap awal. Penolakan yang muncul saya bagi berdasarkan dua bentuk, yakni penolakan dengan alasan subyektif, dan penolakan atas dasar substantif. Continue reading

Transparansi Demi Kemandirian Universitas

Rendahnya kualitas pendidikan tinggi Indonesia bersumber dari manajemen buruk dalam universitas itu sendiri. Hal ini terungkap dalam indeks yang disusun oleh konsorsium Universitas 21. Indeks yang mengkaji kualitas sistem pendidikan tinggi secara global itu, menempatkan Indonesia pada peringkat 50 dari 50 negara. Posisi buncit diperoleh lantaran rendahnya output yang dihasilkan universitas kita dibandingkan dengan modal yang tersedia sebagai input (kapital dan sumber daya manusia).

Continue reading

Mengurai Kemacetan dengan Data

Catatan: Artikel singkat ini ditulis saat mengikuti lokakarya penulisan Tempo Institute. Maksud hati untuk diterbitkan di salah satu media namun kembali terganjal faktor kemalasan. #Dibuangsayang

Jakarta ibarat sebuah laboratorium percobaan akhir-akhir ini. Parahnya tingkat kemacetan mendorong Pemprov DKI untuk menguji beberapa terobosan drastis yang belum menuai hasil. Sebagian terobosan ini seperti tidak  melalui proses perencanaan yang matang lantaran bersifat bongkar-pasang. Alhasil, jalan-jalan utama terasa semakin sesak. Di saat yang sama, bis gratis serta trayek baru yang diperkenalkan secara mendadak,  terkadang malah kosong melompong.

Hal ini tentu memancing pertanyaan warga DKI akan kemampuan pemimpin mereka dalam mengatasi kemacetan secara jitu. Pertanyaan lain yang lebih menggelitik adalah, apakah Pemprov DKI sebenarnya memiliki data yang dibutuhkan untuk memahami pangkal masalah kemacetan? Continue reading

Ulasan Buku: Ilmu Sosial di Indonesia

Data Buku

  • Judul buku                   : Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan
  • Penyunting                  : Widjajanti Mulyono Santoso
  • Penerbit                      : Yayasan Obor
  • Tahun terbit                : 2016
  • Jumlah halaman         : 455 + ix

Ilmu sosial di Indonesia tidak banyak diperbincangkan setelah memasuki era reformasi. Ironis, mengingat kajian sosial dan humaniora seharusnya paling banyak memperoleh manfaat dari hilangnya sebuah rezim yang represif. Asumsinya, reformasi membawa kebebasan akademik serta keterbukaan informasi yang menjadi ladang subur bagi berkembangnya ilmu sosial. Memang, jumlah dosen, peneliti beserta mahasiswa yang berkecimpung dalam ilmu sosial terus bertambah dan mendorong dinamika di dalam ilmu itu sendiri. Namun, sejauh mana pertumbuhan itu pada akhirnya memperkaya pemahaman kita akan manusia dan masyarakat Indonesia, belumlah banyak direnungi.

Hal inilah yang persis hendak diperiksa oleh Buku Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan. Ia hadir dengan ajakan untuk merefleksikan perkembangan ilmu sosial di Indonesia pasca turunnya Orde Baru. Duapuluh sembilan dosen atau peneliti dari dua puluh institusi menyumbangkan pemikirannya ke dalam lima bagian yang disunting oleh dua peneliti senior LIPI. LIPI pula yang memprakarsai kelahiran bunga rampai ini melalui sebuah seminar nasional bertajuk Refleksi Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan, tahun 2014 silam. Beragam artikel ilmiah yang dipresentasikan pada seminar tersebut kemudian disunting oleh LIPI sehingga melahirkan buku setebal 455 halaman ini.

Continue reading

Di dalam Luar Batang

JpegSudah delapan bulan lebih saya membiarkan blog ini terbengkalai. Begitupun dengan indera dan rasa saya. So I had to reconnect, somehow, with life. Common life. Akhirnya saya memilih untuk melarikan diri dengan tetap tinggal di kota. Pergi ke sebuah tempat di mana hidup tidak dibiarkan terbuang secara percuma. Seperti di Luar Batang. Jpeg Saya memilih untuk menjalani Shalat Jumat di Masjid Keramat Luar Batang. Meski hanya menginjakkan kaki sekilas di sana, saya bisa mulai memahami perjuangan yang dilakukan warga setempat untuk mempertahankan tempat tinggal mereka. It’s about existence. Apalagi jika kita melihat lingkungan Luar Batang yang terhimpit permukiman baru nan ‘modern’. Tidak heran jika mereka mencaci Ahok. Ahok, bagi mereka, adalah representasi orang-orang yang akan ‘menghabisi’ hidup mereka. In a sociological sense, of course.

Sayang saya tidak menyempatkan diri untuk ngobrol dengan warga setempat. Tapi melihat lingkungan Luar Batang yang terjepit pembangunan di luar kuasa mereka, saya kembali teringat akan apa yang penting untuk dilakukan jika kita memang memilih bekerja untuk kebenaran. I shouldn’t be complaining.

Menyoal Reputasi. Dan Pengetahuan

Akhir-akhir ini saya gemas melihat media massa (terutama cetak) yang tampak kehabisan stok artikel segar dan pemikiran baru. Sebagian besar penulis yang membagikan pemikirannya terdengar kadaluwarsa dan gagap dalam mengikuti perkembangan zaman. Masalahnya tidak terletak pada minimnya pemikir atau cendekiawan baru, melainkan pada keraguan para pemilik otoritas lama untuk menjaring penulis dan pemikir anyar. Well, setidaknya itu yang saya yakini. Saya menyederhanakan masalah ini pada minimnya reputasi yang dimiliki para penulis dan pemikir muda ini. Nah, kebetulan sekali saya menemukan artikel yang persis mengulas masalah ini: Reputasi.

Continue reading

Universities in Indonesia: Overcoming Inertia  

Spanduk Mahasiswa FISIPOL UGM

A banner at FISIPOL UGM (Credit: Author)

Indonesia’s higher education is in dire need of an overhaul. To describe the current situation as a crisis, as done by Jonathan Pincu in his article, might however be a slight exaggeration. A more thorough comprehension is needed to be able to pinpoint the roots of persisting issues.

Since the central government introduced autonomy for seven state universities at the beginning of the new Millennium, the regulatory framework of Indonesia’s higher education institutions altered. The management of state universities is now decentralized, with the promise of greater academic freedom and financial independency. Universities were allowed, and required, to seek their own funds and adapt to market mechanisms. However, over the years, failure in raising and managing funds efficiently also meant that universities were forced to raise tuition fees as a means of covering operational costs.

Established universities, particularly the Gang of Four (UI, ITB, UGM, IPB) capitalized on this newly gained autonomy by improving their marketability. These four entities have the liberty to maximize their political capital in pursuing commercial interests, often neglecting students who seem rather hapless (but often also disinterested) in resisting disempowering policies. Campaigns to become world universities were launched while at the same time, peripheral universities -a term used to describe any university based outside of Java- are having a hard time catching up with even national standards.

Continue reading

Soal Jarak Pandang

Kita semua jengah menonton acara gosip. Setidaknya, asumsi penulis adalah bahwa orang yang membuka indoprogress dan Oase sudah sedemikian melek terhadap hingga emoh menonton acara yang mengumbar privasi orang yang kita sebut dengan artis.

Akan tetapi, jengah menonton infotainment bukan berarti kita tidak suka mengikuti perkembangan hidup orang lain. Saya termasuk penggemar berita transfer pemain bola, kawan yang lain hafal dengan kebiasaan musisi indie yang gonta ganti label, sementara kawan yang lainnya lebih terbiasa lagi dengan gosip-gosip kepala daerah (konon itu keterampilan yang dia pelajari selagi menjadi konsultan Pilkada). Tapi yang rasanya paling renyah akhir-akhir ini di kalangan tertentu adalah gosip soal bagi-bagi jatah komisarasi BUMN atau ada juga yang menyebutnya Komisaris independen. Gosip ini jauh mengalahkan gosip soal kemungkinan reshuffle kabinet. Kabinet sudah tentu merupakan pertarungan politik, tetapi komisaris BUMN? Rasionalisasi apa yang bisa dilakukan atas ini? Dan yang terpenting, siapa yang menentukan pembagian kue-kue jenis baru ini? Continue reading

Mencari Pengguna Riset

Permasalahan riset di Indonesia mendesak untuk ditangani. Hal ini telah diulas dengan seksama oleh beberapa penulis sebagaimana dimuat oleh Kompas (3/08/14 dan 13/08/14). Dalam paparan tersebut, terlihat bahwa masalah yang disorot adalah minimnya kualitas serta luaran dari riset di Indonesia. Dalam eksplorasi beberapa cara perbaikan serta tahapannya, terlihat bahwa pada akhirnya, kemauan politik akan kembali menjadi penentu. Memang, seperti halnya berbagai tantangan lain di negeri ini, masalahnya kembali pada persoalan struktural dan institusional, yakni dari peran negara hingga pada desain kelembagaan untuk mengatasi isu tersebut. Ini dikaitkan dengan ihwal penggabungan Kementerian Riset dan Teknologi dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang diharapkan dapat mempermudah pengelolaan dunia riset dan mendorong kualitas pelaksanaannya. Imbas praktis yang utamanya diharapkan adalah peningkatan anggaran untuk riset yang selama ini hanya berkisar 0,08 dari total pendapatan domestik bruto (PDB) pada tahun 2013.

Continue reading