Soal Jarak Pandang

Kita semua jengah menonton acara gosip. Setidaknya, asumsi penulis adalah bahwa orang yang membuka indoprogress dan Oase sudah sedemikian melek terhadap hingga emoh menonton acara yang mengumbar privasi orang yang kita sebut dengan artis.

Akan tetapi, jengah menonton infotainment bukan berarti kita tidak suka mengikuti perkembangan hidup orang lain. Saya termasuk penggemar berita transfer pemain bola, kawan yang lain hafal dengan kebiasaan musisi indie yang gonta ganti label, sementara kawan yang lainnya lebih terbiasa lagi dengan gosip-gosip kepala daerah (konon itu keterampilan yang dia pelajari selagi menjadi konsultan Pilkada). Tapi yang rasanya paling renyah akhir-akhir ini di kalangan tertentu adalah gosip soal bagi-bagi jatah komisarasi BUMN atau ada juga yang menyebutnya Komisaris independen. Gosip ini jauh mengalahkan gosip soal kemungkinan reshuffle kabinet. Kabinet sudah tentu merupakan pertarungan politik, tetapi komisaris BUMN? Rasionalisasi apa yang bisa dilakukan atas ini? Dan yang terpenting, siapa yang menentukan pembagian kue-kue jenis baru ini?

Bukan barang baru tentu, karena dalam tiap rezim, kepuasan atau ketidakpuasan jadi indicator sejauh mana sang penguasa mampu membungkam nada-nada kritis. Yang baru adalah bagaimana suara-suara kritis tetapi obyektif itu kini mereda (dibandingkan kapan). Bukan karena pemerintah berhasil membungkam mereka dengan mengalihkan isu (kecuali Anda percaya Konferensi Asia Afrika sengaja dihelat untuk mengalihkan perhatian publik), tetapi justru karena mereka yang dulu suka kritis itu, tiba-tiba ada di dalam pemerintah.

Di luar berita media utama itu, ada banyak pergunjingan yang lebih menarik lagi untuk diikuti. Pergunjingan itu beredar terbatas, karena obyek yang digunjingkan juga memang ‘barang’ terbatas. Dan mungkin ini sebabnya media utama juga tidak terlalu peduli untuk menjadikannya sebagai tajuk utama. Obyek yang dimaksud adalah orang-orang yang biasa kita kenal sebagai pelontar nada-nada kritis tersebut. Mereka ini sosok yang biasanya kita kenal dari kerja-kerja penyadaran, pengawal gagasan kritis dan penyokong ide alternatif dalam membangun ekonomi dan tatanan social yang lebih adil. Atau, jika mau dibahasakan secara popular, rekan sesama aktifis. Mereka kini mendapat giliran digunjingkan, yang dulunya , adalah teman untuk bergunjing, terutama soal pemerintah. Pejuang kebenaran pun ternyata, tidak aman dari perilaku voyeurism.

Ternyata, gosip itu, soal bagi-bagi jatah, bukanlah gosip. Yang awalnya menarik untuk dibahas lantaran belum bisa dipastikan kebenarannya, terhempas hampa karena telah menjadi kenyataan. Substansi gosip tersebut hilang. Isu soal ‘bagi-bagi jatah’ itu benar adanya. Si ini jadi komisaris, si anu jadi komisari, si itu jadi komisaris juga’, sementara saya hanya bisa membaca beritanya. Sontak, gosip dan berita itu berubah menjadi seperti berita kematian. Atau pertanda perubahan. Tergantung anda melihat gelas itu setengah kosong atau isi.

Tentu, mendengar cerita seperti ini, kita langsung ingat dengan dalih sejuta pengkhianat, yakni keinginan untuk memperbaiki dari dalam. Sebaliknya, mereka yang memilih bertahan dari luar akan berargument dengan pentingnya sikap untuk memperbaiki dengan bersikap kritis dari luar. Kita tidak akan pernah tahu seluk terdalam motif seorang individu.

Berada di dalam sistem menuntut kedewasaan berpikir dalam dua tingkat yang lebih tinggi. Sekarang Anda tidak lagi hanya bisa berkomentar, tetapi dituntut untuk bisa mengaktualkan segala kritik dan tuntutan Anda dulu itu. Hal yang sama berlaku mereka yang kemudian tidak terangkut masuk ke dalam sistem baru yang sesungguhnya lama itu. Berdamai dengan keadaan bahwa anda masih ada di luar sementara teman lama terpilih masuk, menuntut kedewasaan dua tingkat lebih pula karena rentan terjerambab dalam sindrom iri tanda tak mampu. Syukur syukur kalau anda punya manajemen impresi yang baik sehingga tidak menunjukkan kecemburuan sementara di malam hari meratapi nasib yang sejauh ini tertutupi dengan baik oleh dalih ini pilihan hidup gw.

Dalam banyak hal, enam bulan pertama pemerintahan Jokowi ini seperti menonton reality show. Nama-nama yang ada di dalamnya adalah orang-orang yang dikenal cukup baik oleh kalangan aktivis dan akademisi. Mengikuti kiprah mereka dalam bekerja untuk publik seperti sebuah reality show yang menggambarkan bagaimana sebuah negara (seklompeks Indonesia) itu (sebaiknya tidak) dikelola. Tetapi komentar-komentar yang diberikan seputarnya menjadikannya seperti sebuah infotainment. Di satu sisi kita kurang lebih mengetahui faktan yang terjadi, tetapi di sisi lain kita lebih sibuk mencari gosip-gosip yang kita sendiri ragukan kebenarannya.

Memang, keberadaan para aktifis sebagai komisaris ini patut kita pertanyakan dalam dua hal: 1) apakah proses ini membantu kita dalam menciptakan tatanan yang lebih dekat dengan gagasan ideal kita dan 2) apakah keadaan yang sekarang bisa dilihat sebagai kontinuitas upaya perbaikan, atau hanya berarti perubahan nasib individual?

Tentu, pertanyaan-pertanyaan seperti ini absah dan wajar adanya. Yang salah tempat adalah pelabelan seperti sell out atau pengkhianat dan oportunisme, yang sering menjadi awal perpecahan baru karena yang ada di luar tidak bisa menerima peran dari mereka yang ada di dalam. Jika itu yang merupakan kondisi sebenarnya, maka sejatinya status quo berlaku bagi mereka yang melihat dirinya sebagai outsider, tetapi tidak bagi mereka yang sedang diuntungkan oleh momentum. Dan, cita-cita soal tatanan yang adil menjadi sangat sumir karena ukuran yang digunakan adalah perbaikan nasib individu.

Yang paling jelas, sama seperti menggunjingkan artis, kita pun tidak akan pernah benar-benar tahu apa yang ada di dalam kepala mereka. Di situ kita sadar, kendali atas tindakan individu jarang sekali ada di tangan kita.

Rekayasa atau tidak, simulasi atau bukan, yang pasti nasib beberapa orang sudah berubah. Mereka yang ada di dalam kursi-kursi komisaris itu sebaiknya juga ingat, bahwa yang mau kita bangun itu adalah sistem, beserta institusi yang kuat. Apakah dengan hadirnya mereka dalam sistem itu bisa membantu salah mewujudkan salah satunya?

Buat beberapa orang, berada dekat -atau di tengah-tengah- lingkar kekuasaan adalah hal baru. Buat sebagian besar dari kita, memandangnya dari jauh adalah kebiasaan. Yang membingungkan adalah ketika kita berada di tengahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>