Revolusi Mental dan Pesan Mochtar Lubis

Geert-Hofstede Cultural Survey

Pendekatan kultural sebagai sebuah pisau analisis sudah lama ditanggalkan oleh ilmuwan sosial Indonesia. Menyimak perdebatan yang berkembang dalam dua sampai tiga dekade terakhir, terlihat bagaimana sebagian besar melarikan diri ke dalam perdebatan soal pembentukan diskursus (Foucaldian), tarik menarik agensi – struktur atau setia dengan mazhab marxisme dan berbagai variannya.

Di tengah dinamika yang sebenarnya tidak dinamis-dinamis amat itu, beberapa pekerjaan rumah yang dititipkan oleh Mochtar Lubis kepada kita tak kunjung tersentuh. Tahun 1977, ia berseloroh secara serius tentang ciri-ciri manusia Indonesia yang menjengkelkan dan menghambat laju peradaban kita. Koentjaraningrat pun pernah membahasnya lewat buku Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan.

Kala itu, pandangan kedua pemuka opini ini cukup diperhatikan, tetapi tidak ditindaklanjuti, meski menjadi catatan perjalanan bangsa yang cukup signifikan. Yang gagal dilakukan oleh Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat adalah membuktikan, atau setidaknya, mengumpulkan bukti yang cukup dengan kaidah ilmiah, yang dapat menjadi rujukan tentang karakter orang Indonesia, di kemudian hari.

Sebenarnya ada beberapa alat ukur yang dapat disandingkan dengan cara pandang Koentjaraningrat dan Mochtar Lubis. Salah satunya adalah Index Geert-Hofstede, yang mengumpulkan data terkait karakter sebuah masyarakat. Meski data yang disajikan cukup uzur, dimensi yang mereka ukur sangat relevan dengan bingkai Revolusi Mental yang dicanangkan pemerintahan Jokowi.

Menurut data tersebut, Indonesia adalah negara dengan skor individualisme yang rendah, kolektivisme tinggi, dan orientasi jangka panjang yang rendah. Hal ini tidak mengejutkan karena sejalan dengan berbagai kritik terhadap budaya patron-klien yang mengakar dalam bidang bidang. Tetapi yang paling mencolok adalah aspek power distance yang sangat kentara. Angka ini menunjukkan derajat kesetaraan sebuah masyarakat. Semakin besar angkanya, semakin tidak egaliter masyarakatya. Artinya, relasi kawula-gusti tetap terpelihara dan sudah mengakar dalam struktur sosial. Hal ini kemudian tercermin dalam tingkat individualisme yang rendah pula.

Hantu nrimo itu muncul lagi dalam masalah indulgence. Kita ternyata masih terpaksa menahan diri dan terkungkung oleh konservatifisme, dogma, ataupun tradisi. Ini sejalan dengan hasil World Value Survey binaan Ronald Inglehart yang menunjukkan bagaimana masyarakat Indonesia belum mampu mengembangkan self-expression values.

Yang cukup di luar dugaan adalah skor yang cukup tinggi dalam hal pragmatisme, yang didefinisikan sebagai persepsi terhadap kekinian, keyakinan bahwa kebenaran tergantung pada situasi, konteks dan waktu. Ini berkebalikan dari anggapan Koentjaraningrat, di mana kultur nrimo dianggap sebagai penghambat kemajuan. Angka pragmatisme yang cukup tinggi justru menunjukkan bahwa orang Indonesia memiliki kemauan yang cukup kuat untuk ingin ‘maju’.

Di sini lah pentingnya pengukuran baru terhadap manusia Indonesia abad-21. Seperti telah dibahas di atas, pada dasarnya terdapat berbagai metode yang dapat digunakan untuk menakar sejauh mana manusia Indonesia telah bertransformasi (atau tidak). Index Geert-Hofstede dan World Value Survey ala Ronald Inglehart hanya salah dua dari sekian banyak pilihan. Jika Mochtar Lubis masih hidup, ia pasti akan menggebu-gebu mengerjakannya. Atau setidaknya, mencari surveyor yang mampu menangkap spirit pembuktian kebenaran itu. Ada yang tertarik (lirik ke Puan Maharani) ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>