Gagal Move On

Mendengar kata Jerman, sang pseudo intellectual akan merasa terangsang. Di kepalanya muncul kata Marx, Hegel, teori kritis Frankfurt School, Nietzsche, Dahrendorf dan seabreg tokoh yang lazim ia gunakan sebagai wewangian dalam tulisan. Sayang, sang pseudo intellectual lupa bahwa kalender sudah mencatat tahun 2013. Sementara ia masih menganggap dirinya hidup di tahun 1950, zaman di mana Jerman masih memiliki banyak etalase pemikiran, bahkan sedang mengalami masa keemasan baru berkat proyek para pemikir mereka di Universitas Frankfurt, yang kita kenal dengan mazhab Frankfurt School. 

Ah ya, Jerman. Tanah terjanjikan bagi mereka yang gemar mencari pemikiran. Sayang, tanah subur itu sekarang semakin susah ditanami. Hal ini mungkin sulit dipercaya orang Indonesia, khususnya ilmuwan sosial yang, kala mendengar kata Jerman, sontak terhempas ke masa lalu. Bagi mereka, Jerman yang ideal adalah Jerman yang mereka kenal dalam buku teori ilmu sosial: Penuh bapak-bapak tua yang akan mengajarkan mereka idealisme soal relasi negara dan masyarakat. Sayang, mereka tidak sadar bahwa seluruh kerangka pengetahuan hasil renaissance itu sekarang justru dikikis habis oleh ilmuwan dari negara yang kita identikkan dengan tarian dan tekstil: India (dan ini akan saya jelaskan dalam artikel mendatang).

Bingung? Pasti. Apalagi Anda pasti tidak rela jika Karl Marx disejajarkan dengan Gayatri Spivak. Um Gottes Willen. Saya paham. Tapi mungkin memang perlu kebesaran untuk mengakui bahwa ilmu sosial di Jerman ibarat pohon yang sudah tidak berbuah. Saya pun perlu waktu untuk menelannya. Lalu saya melihat ke sekeliling dan mencoba membaca peta pengetahuan yang berubah begitu cepat. Mengingat keterbatasan adalah bagian dari hidup manusia, maka memilih adalah strategi yang harus ia kuasai. Pilihan yang tampak logis bagi saya adalah memilih teori baru yang tidak terlahir di Jerman, tapi di pulau-pulau pengetahuan baru yang sekarang semakin banyak bermunculan, karena kabutnya sudah tersingkap. Kembali, India adalah salah satunya, dengan gugus kajian Subaltern yang sesungguhnya sangat dahsyat dan emansipatif. Poin saya sederhana: coba lah tanggalkan teori-teori usang itu, karena di luar sana ada banyak arena bermain yang aturan mainnya jauh lebih relevan untuk pelajari dan terapkan. Di luar sana, ada daerah-daerah penghasil pengetahuan yang kelak akan membuat Anda malu bercermin karena mereka Anda cap sebagai negara tertinggal tetapi sejatinya telah  meninggalkan Anda jauh sebelum Anda memutuskan untuk beranjak dari kursi malas sewaktu membaca Die Deutsche Ideologie.

Sayangnya, saya mengenal banyak pseudo intellectual yang tampak nyaman dengan hidup di dua zaman berbeda. Keseharian yang ia lalui ia terjemahkan melalui pemikiran manusia Jerman era 1950, yang nyatanya membuat ia terjebak dalam mesin waktu yang hanya bergerak mundur. Mungkin itu cara ia menafsirkan istilah diachronic. Bagi saya ada cara yang lebih mudah untuk menjelaskan perilaku pseudo intellectual itu: Gagal move on Bro.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>