Sudahkah Manusia Indonesia Berpikir?

Catatan: tulisan ini harusnya dipublikasikan di Indoprogress, tetapi redaksi mereka sepertinya punya pertimbangan sendiri :)

Tulisan ini baiknya dibaca sebagai kelanjutan artikel Pembangunan dan Kemiskinan Imajinasi, di mana penulis berargumen bahwa salah satu penyebab carut marut pembangunan Indonesia adalah ketidakmampuan membayangkan sesuatu di luar konsepsi pembangunan yang telah ada. Bahwa kemampuan mengabstraksikan masa depan Indonesia, terutama dalam sistem ekonomi, seolah terbatas pada pilihan antara kapitalisme dan sosialisme. Di sini, persoalan lebih mendasar yang hendak diangkat ke permukaan adalah masalah eurosentrisme yang membuat kita, manusia Indonesia, tampak miskin dalam mengartikulasikan angan kita akan sesuatu yang ideal. Pengetahuan tampak terbatas, tidak membuat subyek poskolonial dapat bersuara, seperti diungkapkan Gayatri Spivak. 

Berangkat dari cara pandang tersebut, serta dalam semangat menggugat eurosentrisme,  yang selanjutnya perlu dipertanyakan adalah :“Apakah manusia Indonesia sudah berpikir?”. Tentu pertanyaan ini tidak dimaksud secara harfiah. Di dalamnya kita tidak meragukan kemampuan kognitif seseorang untuk berpikir, melainkan pernahkah ia memperoleh pengakuan atas usahanya dalam berpikir untuk dirinya sendiri dan lantas mendapatkan tempat atas pemikirannya di dalam konstelasi pengetahuan universal. Kritik terhadap eurosentrisme sendiri bisa dilihat dari beberapa argumen berikut (Lander 2002):

  • Sejarah dan pengetahuan Eropa dianggap sebagai sebuah sejarah universal
  • Perbedaan dengan yang liyan diartikan sebagai perbedaan nilai serta perbedaan jarak dan waktu untuk memandang segala sesuatu yang non-Eropa sebagai inferior
  • Perkembangan Iptek dianggap bergerak maju dalam garis yang linier untuk menggapai pengetahuan yang semakin tinggi

Dari premis di atas, Edgardo Lander (ibid.) menggarisbawahi pandangannya bahwa pengetahuan ilmiah dari Barat senantiasa dianggap sebagai mutlak, universal dan obyektif.

Tema ini, meski hanya sebatas permukaan, juga pernah dibahas oleh akademisi Singapura, Khishore Mahboubani dalam bukunya berjudul Can Asians Think?, yang sebenarnya tidak lebih dari pengagungan kinerja ekonomi macan-macan Asia tetapi tidak menggambarkan perkembangan pemikiran dalam ilmu sosial ataupun pengetahuan di benua terbesar ini.

Kritik terhadap eurosentrisme kembali digarisbawahi – dalam pandangan penulis – lantaran debat konseptual dalam situs Al Jazeera antara tiga akademisi; Santiago Zabala, Hamid Dabashi dan Walter Mignolo. Pusat perdebatan mereka, yang harusnya menjadi pemicu bagi kita untuk mempertanyakan eksistensi subyektif manusia Indonesia, adalah tentang keberadaan intelektual eropa dan non-eropa serta relevansi mereka dengan situasi dunia kekinian.

Walter Mignolo lantas memberi gambaran bahwa jarak antara pemikir Eropa dan non Eropa terletak pada relevansi mereka dengan subyek yang dibahas. Sebagai contoh, meski Zizek dianggap sebagai pemikir Eropa yang ‘paling’ berpengaruh saat ini, karya-karyanya belum tentu dapat menyentuh persoalan subyek dunia ketiga.

Kembali, kata pluriverse mencuat untuk menggambarkan kondisi dunia yang telah menanggalkan asas monolitik dalam menafsirkan realita. Mignolo memperpanjang daftar pemikir yang menjadikan dekolonisasi sebagai landasan berpikirnya. Dalam posisi yang ia ambil, Mignolo melihat bahwa upaya melepaskan tautan pemikiran eurosentrisme adalah dengan tidak mengikatkan diri pada Kapitalisme ataupun Komunisme, tetapi melihat kembali pada apa yang melekat secara lahirian pada subyek poskolonial dan bukan bawaan Eropa. Mignolo bahkan menggali kembali cita-cita konferensi Bandung dengan menyebutnya sebagai upaya dekolonisasi dan dewesternisasi, dan bukan sebagai upaya untuk harus memilih antara kapitalisme dan komunisme.

Hal ini masih tampak terlalu abstrak bagi kita, yang melihat Eropa kontinental sebagai sumber ilmu dan pencerahan. Mignolo, dan juga Dabashi, menganggap pandangan Zizek bahwa komunisme akan menjadi pilihan akhir sebagai keniscayaan yang mungkin berlaku buat Eropa, tetapi tidak serta merta untuk negara lain. Bagi Mignolo, negara dunia ketiga memiliki tuntutan yang berbeda terhadap para pemikirnya, dan Zizek tidak bisa dikatakan berkontribusi terhadap perdebatan tersebut.

Lantas, mengapa kita – subyek poskolonial – tidak mengaplikasikan pemikiran yang kita miliki? Pemikiran dan pengetahuan tidak dipertanyakan universalitasnya, melainkan titik pijak kita dalam menggunakannya. Bagi Dabashi, pertanyaannya adalah klaim pemikir Eropa yang melabeli (sebagai contoh) sumber pengetahuan di Afrika, Amerika atau Asia dengan imbuhan etno. Filsafat dari Asia disebut Etnophilosophy, musik dari Afrika dikaji dengan Etnomusicology dan sebagainya.

Bagi pemikir non-Eropa, tantangannya adalah untuk mencapai kesadaran paripurna tentang pandangan alternatif yang mengakar pada kehidupan sehari-hari para subyek kolonial – mereka yang hidup di Afrika, Asia dan Amerika-. Yang patut dipetik dari Dabashi adalah bahwa globalisasi merupakan keniscayaan, tetapi tidak demikian dengan globality. Sudah bukan saatnya membiarkan orang lain berpikir untuk kita, melainkan menjadikan diri kita sebagai pusat universum. Tidak ada lagi tempat bagi eurosentrisme untuk melanggengkan para pemikirnya sebagai intelektual publik, tidak ada lagi klaim bagi filsafat Barat untuk menamakan dirinya filsafat, melainkan hanya bagi kalangannya.

Dalam nafas yang sama, seharusnya kita mulai mempertanyakan kemandegan pemikiran di Indonesia. Di sinilah pentingnya produksi pengetahuan. Menyambut polisentrisme, produksi pengetahuan harus terus ditempa dengan mendokumentasikan kisah-kisah dari kenyataan subyektif para pelakunya. Runtuhnya universalitas Barat seharusnya disertai dengan kemampuan subyek poskolonial untuk menemukan keutuhan imaji tentang dirinya. Di Indonesia, kisah ini bertebaran tetapi tidak pernah dianggap sebagai kenyataan ilmiah yang perlu dijadikan landasan berpikir dan bertindak. Sebaliknya, kita justru sibuk mendiskusikan konsep yang tak mengakar pada pengalaman keseharian kita. Kembali, gugatan terbesar yang hendak diajukan di sini adalah tentang ‘yang tak terlihat’: bagaimana kita melihat Indonesia masa depan sangat tergantung dari cara kita membandingkannya dengan yang ada di depan mata: konsepsi, atau tipe ideal kita terbentuk oleh eurosentrisme.

Syahdan, pengetahuan tak sepenuhnya lepas dari konsepsi ‘kesadaran’, di mana yang terakhir tak lepas dari norma. Jika pengetahuan ditelaah secara fenomenologis, maka universalitasnya akan runtuh. Paradoks berpikir negara ‘dunia ketiga’, ungkap Dipesh Chakrabarty dalam bukunya Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference, adalah kenyataan bahwa teori dan ilmu yang dihasilkan para filsuf dan pemikir Eropa membantu untuk memahami masyarakat ‘kita’, meski ‘kita’ sebenarnya diabaikan dalam penyusunannya, dengan dampak perolehan pengetahuan yang membatasi dan mengeksklusi (Ziai 2010:5).

Kita (baca: orang Indonesia) tidak meragukan kemampuan diri kita berpikir, melainkan apakah kemampuan tersebut dapat melahirkan sebuah suara. Jika dibalik, pertanyaannya adalah: Suara siapakah yang kita dengar sewaktu berpikir? Bertolak dari kerancuan tersebut, tantangannya adalah menciptakan ‘pengetahuan yang autentik’; pengetahuan yang diolah subyek emansipasi untuk berpijak di atas tanahnya, dan bukan berpijak di atas tanah yang tidak kita kuasai (eurosentrisme). Pun bangunan berpikir kita hanya terdiri atas material yang sudah disediakan sebelumnya. Jika demikian adanya, akankah ia berdiri kokoh?

Referensi

  1. Mignolo, Walter. 2013. Yes, we can: Non-European thinkers and philosophers.
  2. Dabashi, Hamid. 2013. Can non Europeans think?
  3. Zabala, Santiago. 2012. Slavoj Zizek and the role of the philosopher
  4. Ziai, Aram. 2010. Beyond post-development: postcolonial perspectives on ‘development . (tidak dipublikasikan).
  5. Lander, Edgardo. 2002. Eurocentrism, Modern Knowledges, and the “Natural” Order of Global Capital. Nepantla: Views from South. 3 (2). 245-268.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>