Meliput Berlinale 2013

Dapat kejutan di awal tahun: diminta untuk meliput Berlin International Film Festival 2013 untuk seorang kawan di Jakarta. Permintaan seperti ini mah tidak mungkin ditolak. Alhasil, hanya beberapa hari setelah mengerjakan ujian akhir semester, saya berangkat ke Berlin, kota yang selalu menerima saya dengan tangan terbuka. 

Sayang, ketika tanggal 13 Februari tiba, sebagian besar artis yang saya nantikan sudah kembali meninggalkan acara tersebut. Artis dan sutradara seperti Ethan Hawke, Julie Delpy, Michael Winterbottom atau Richard Linklater sudah terlanjur pulang. Ah, tapi tak apa, saya datang untuk mencari sensasinya, bukan artisnya. Dan memang, meski bukan merupakan festival film megah dan bertabur bintang Hollywood, Berlinale sudah memiliki resep sendiri yang membuatnya dekat dengan komunitas pembuat dan pencinta film.

Resep ini terus dipertahankan dan memberinya sebuah rasa yang tak bisa ditiru festival lain. Minim pernak-pernik yang berlebihan, Berlinale selalu mencari sesuatu yang kerap diabaikan ketika kita bicara film: kemampuan untuk mengangkat harkat mereka yang senantiasa terpinggirkan dari panggung utama hidup. Tema festival ini konsisten; mencari film yang berani dan rela untuk mengalah pada ketenaran, tetapi memihak pada realita dan kebenaran. Pilihan yang tidak mudah untuk sebuah festival film. Maka tidak heran jika pendanaan Berlinale banyak bergantung pada donasi yayasan ketimbang sponsor, meskipun tahun ini mereka didukung oleh BMW, L'oreal dan ZDF (stasiun televesi publik Jerman). 

Anyway, cerita menjadi wartawan sekaligus fotografer dadakan adalah pengalaman yang mungkin sekali seumur hidup buat saya. Percaya deh, ternyata memang ada adrenalin tersendiri ketika mengincar foto dari artis yang telah ditunggu-tunggu. Terutama di Red Carpet. Semua wartawan berlomba mendapat gambar terbaik, meskipun kita tidak mengenal sosok yang lagi berdiri dengan pedenya di karpet itu. Yang lebih gila lagi, saya cuma mengandalkan Canon EOS 500D sementara fotografer lain..ya kebayang lah fotografer dengan lensa sebesar gajah itu.  

Sebagai wartawan gadungan, saya merasa sangat terbantu dengan kerapihan kerja panitia dan press office Berlinale. Semuanya teratur, terprediksi dan terencana. Meskipun anak baru, saya bisa mengikuti jalannya acara dengan cukup cepat dan mudah mengakses semua informasi yang ada. Tipikal orang Jerman, Anda mungkin berkata, tapi memang begitu seharusnya perhelatan internasional dijalankan. Bahkan, sejujurnya, jika Anda hanya ingin menulis ulang informasi penting dari Berlinale, Anda cukup membuka situsnya tanpa perlu mengirim wartawan ke sini.

 

Hanya ada satu hal yang saya sesalkan: tidak sempat menonton Before Midnight di pemutaran terakhirnya pukul 23.30. Just before midnight. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>