The Wenger Complex

 

Siapapun yang pernah main Football Manager dan kemudian menonton Moneyball akan merasakan sebuah afinitas. Menyaksikan Billy Beane membawa perubahan pada dunia bisbol, seolah–olah kita bisa merasakan pahit manisnya hidup seorang manajer tim sepakbola, atau untuk ini, bisbol. Memang, bagi banyak orang, (industri) olahraga bukan sekedar masalah menang kalah. Ini soal hidup. Ini soal identitas, soal membangun sejarah, soal keindahan dan kebahagiaan. Tetapi film tersebut menyisakan sebuah pertanyaan: Benarkah hasil akhir itu tidak penting?

***

 

Perancis dikenal sebagai negerinya para filsuf kontemporer. Sartre, Camus, Derrida, Baudrillard, dan tentunya Foucault. Tetapi mereka menyimpan filsuf terbaiknya untuk hal yang paling empiris di dunia ini: sepakbola. 

Kala industri sepakbola menemukan empu barunya di tangan para Sheikh dari Arab, seorang berkebangsaan Prancis menemukan perannya yang tak tergantikan di dalam khasanah ini, yakni menjadi garda moral dan pembawa lilin dalam gelapnya arus materi industri sepakbola. Bagaimana tidak. Selama 16 tahun berkiprah dengan Arsenal London, ia tidak hanya mentransformasi klub dan tim, tetapi juga Liga Inggris secara masif.  Pria yang dijuluki The Professor ini kita kenal sebagai Arsene Wenger, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. 

Pemikiran Wenger memang banyak merubah skema sepakbola modern. Selain merupakan otak di balik pakem 4-4-2 dengan dua full back yang ofensif, Wenger juga merupakan salah satu pelatih pertama yang konsisten bermain dengan konsep 4-2-3-1 yang kini jadi pakem utama sepakbola modern. Di dalam skema yang ia bangun, sepakbola bukan hanya dimaksudkan sebagai upaya untuk mencetak lebih banyak gol dari lawan, tetapi permainan itu sendirilah yang harus dikuasai, dimana setiap inci lapangan harus dimaksimalkan demi sebuah permainan yang mengalir, baik dengan bola ataupun tanpa. Atas dasar filosofi ini pulalah Wenger mulai merubah gaya bermain Arsenal. Ia mulai mengumpulkan pemain-pemain muda dari akademi yang ia bangun dengan ketekunan. Dan obsesi. Ia meramu sebuah tim yang berisikan atlet-atlet dengan intelegensi tinggi ketimbang pesepakbola yang sudah matang. Ia mencari anak muda dengan agilitas tinggi, teknik cemerlang –terutama dalam hal kontrol bola dan presisi dalam mengoper- dan fleksibilitas serta kecepatan. Fabregas dan Walcott adalah contoh terbaiknya.

Perubahan dalam hal taktik diikuti dengan pengelolaan keuangan klub yang sangat rasional. Tidak ada belanja jor-joran untuk pemain, gaji dibatasi untuk menghindari kecemburuan dalam tim dan utang klub dihindari. Hasilnya: Arsenal adalah salah satu klub dengan keuangan yang paling sehat dan selalu membukukan laba. Wenger juga senantiasa mengingatkan pentingnya financial fair play sembari menunjuk ke klub-klub tempat cuci uang: Chelsea, Manchester City ataupun Real Madrid yang tampak bangga memiliki pasak yang lebih besar dari tiang.

Ironisnya, sejak mengintroduksi paham ini pulalah gelar juara justru semakin menjauh. Arsenal, semula bermaterikan pemain khas Inggris yang sanggup memakan lawan dan rumput dengan sekali lahap (Tony Adams, Martin Keown, Patrick Viera), berubah menjadi sekumpulan ‘Anak TK’ seperti dicibir lawan abadi mereka, Manchester United. Arsenal, menurut Wenger, harusnya menjadi contoh tentang bagaimana Sepakbola bisa menjembatani berbagai perbedaan yang ada di dunia, dan bagaimana ia bisa mempersatukan, sebagaimana ia contohkan dengan banyaknya pemain muda dari berbagai penjuru dunia yang menimba ilmu di akademi Arsenal. Baginya, sepakbola adalah alat pemersatu, dan penangkal rasisme ataupun watak kolonial masyarakat Eropa (Barat). Di sisi lain, Karl Heinz Rumenigge pernah mengkritik Wenger dengan mengatakan bahwa kebijakan Arsenal menyerupai ‘perdagangan anak’ atas nama pengembangan sepakbola.

Tetapi Wenger tidak peduli. Ia terus berjalan tegak meski oleh orang-orang di luar lingkungannya kerap dianggap skizofrenik atau bahkan sudah kehilangan sentuhan realita, karena tidak mau mengakui kekeliruan yang sudah ia lakukan. The Professor tetaplah The Boss, sebagaimana ia dipanggil di markas Arsenal.

Dan tidak sedikit pelatih muda yang berguru padanya. Tidak kurang dari Pep Guardiola dan Joachim Loew dikenal sebagai pengagum teknik dan taktik melatih Arsene Wenger. Dan bahkan, kesuksesan timnas Jerman dalam meramu gaya bermain seperti saat ini – dinamis, ofensif dan cepat- adalah berkat Wenger pula.

Tahun 2002, Jerman pulang dengan kepala tegak dari Piala Dunia meski kalah 2:0 dari Brasil di Final. Mereka tahu bahwa kejayaan akan hinggap kembali. Jerman memang belajar dari pola pengembangan pemain muda ala Arsenal dan menggelontorkan puluhan ribu Euro untuk membangun akademi di seluruh penjuru negeri. Jurgen Klinsmann dan Joachim Loew lah yang kemudian memetik hasilnya, dan segera merevolusi permainan Jerman yang bisa dilihat hasilnya pada Piala Dunia 2006 di kandang mereka sendiri. Hasilnya pun terlihat dalam wujud para Podolski, Schweinsteiger, Lahm, Thomas Mueller atau Toni Kroos.

Tidak dipungkiri, ketika menyaksikan Borussia Dortmund atau timnas Jerman bertanding, aura Wenger segera terasa. Orkestrasi cepat, tangkas nan dinamis dan terkadang menyihir itu adalah hasil kontemplasi mendalam Arsene Wenger tentang hakikat sepakbola yang hendak ia bangun. Jerman turut memetik hasilnya. Hasil itu pula lah yang paling mutlak berbicara: mereka tak kunjung menjadi juara.

Di situ lah terkadang kita turut mempertanyakan esensi yang dikehendaki seorang Arsene Wenger. Tak satu pun trofi berhasil ia genggam dalam 7 tahun terakhir. Bahkan, di final Carling Cup 2010, Arsenal yang sudah unggul  justru dikadali oleh Birmingham City -dan kecerobohan mereka sendiri-. 2011, ketika sudah unggul 4:0 atas Newcastle, mereka mempermalukan diri sendiri kala dibalap menjadi 4:4. 2012 mencatat sejarah kelam: kekalahan telak 2:8 dari seteru abadi Setan Merah.

Jurgen Klinsmann tidak lebih beruntung dari Wenger. Timnya harus puas dengan urutan ke-3 di PD 2006. Joachim Loew baru mampu membawa juara 2 di Piala Eropa 2008 dan juara 3 di PD 2010. Revolusinya tak kunjung mencapai puncak kegemilangan. Pep Guardiola? Ia memiliki senjata pemusnah massal bernama Lionel Messi.

***

Lalu, apa kaitan Moneyball dengan Arsene Wenger? Ternyata, Billy Beane, seorang manajer tim gurem yang menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut, mengagumi sosok Wenger. Ia mengaku sebagai murid filosofis Wenger, dimana ia mengutamakan value for money seorang pemain dan mengandalkan bibit muda yang siap diasah. Persamaan lainnya dengan Wenger? Billy Beane sampai detik ini belum merasakan juara bisbol di AS, meski strategi transfernya menjadi cetak biru untuk semua tim bisbol saat ini. It all adds up.

Tidak perlu ditanya lagi. Kita, penikmat bola yang sok-sokan netral tetapi di dalam hati menyimpan jagoannya masing-masing, tentu juga berharap: bahwa keindahan dapat bersanding dengan kemenangan. Bahwa filosofi Wenger bukan utopia dalam opera sabun sepakbola. Namun, semua penggemar sepakbola yang arif juga tahu, olahraga yang satu ini tidak pernah tentang mutlak-mutlakan. Hanya terkadang kita terlalu sering dibuat geregetan olehnya. Itulah hadiah terbaik Arsene Wenger bagi penggemar sepakbola dalam 7 tahun terakhir ini. 

 

  

2 thoughts on “The Wenger Complex

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>