Dosa Kelas Menengah

Catatan: Mengawali tahun baru dengan melampiaskan rasa kesal. Bad writing, good catharsis. 

Antri Crocs

Tiada cara yang lebih baik untuk mengawali sebuah tahun baru selain dengan mengumbar optimisme berbalut skeptisisme. 2012 adalah momen emas ekonomi Indonesia, begitu ungkap para pakar ekonomi pasar. Setelah 2011 membuktikan tajinya, 2012 adalah momen yang tepat untuk menekan gas-habis-habisan. Sampai benar-benar habis.

Sebagai seorang non ekonom (dikotomi yang paling sahih dalam dunia ilmu sosial: ekonom dan non-ekonom. Tidak ada tempat bagi antropolog, sosiolog, sejarawan.), saya merasa inilah saatnya bagi para ekonom dan pengamat pasar modal untuk tampil necis dan siap sedia membawa gel rambut, karena sepertinya di tahun shio Naga ini mereka akan sering diundang stasiun TV untuk menyihir pemirsa dengan mantra-mantra GDP, PDB, cadangan devisa, ekspor, nilai tukar,  pertumbuhan ekonomi, dll.

 

Walhasil, Indonesia tampaknya telah berhasil memenuhi janjinya, yakni menjadi salah satu motor sekaligus poros perputaran ekonomi global.  Jumlah penduduk yang kebenarannya hanya diketahui petugas sensus dan Tuhan, terbukti menjadi mantra lain yang mujarab bagi investasi asing: pasar yang tumpah ruah. 2012 akan kembali melanjutkan tren tersebut dimana uang di dalamnya terus berputar, walau hanya di tempat yang itu-itu juga.

 

 


Faktanya, uang itu hanya akan berputar di segelintir orang yang jumlahnya tidak melebihi 50% dari total penduduk yang jumlahnya hanya diketahui petugas sensus dan Tuhan tersebut. Secara sosiologis, angka yang tidak melebihi 50% tersebut akan lebih mudah dipahami dalam terminologi kelas, yakni kelas menengah. Kelas menengah adalah anomali dalam diskursus kelas ala Marxian, sebuah keniscayaan dalam konsep kelas ala Weberian, dan sekaligus kegagalan kaum post-colonial dalam menjelaskan proses modernisasi di Asia.

 

Kelas menengah yang kita kutuk sekaligus puja sehari-hari ini adalah perpanjangan dari kaum priyayi era kolonial, sekaligus wajah baru Indonesia yang mengemban etos kerja keras dan individualisme ala Amerika Serikat.

 

 

Kelas menengah yang kita bahas dari kemarin adalah manusia yang hidup dalam sebuah kesadaran palsu: tertipu ucapan “Hello Jakarta” dari puluhan band luar negeri yang numpang nyanyi dalam dua jam. Ungkapan yang paling benar, jujur, sekaligus mungkin nyinyir karena tidak habis fikir, adalah ketika David Foster konser di hadapan pengunjung yang membeli habis tiket berharga — juta.

Kelas menengah kita sepertinya hidup dalam lamunannya sendiri. Hidup di kota-kota besar yang seolah dibatasi oleh sekat-sekat kaca. Kemiskinan yang melanda di jalan-jalan tikus yang dilewati saban hari dengan Lexus dan Alphard mereka seolah sedang melewati Taman Safari.

Kelas menengah kita memang menggemaskan. Mereka bukannya tidak peduli. Mereka sangat peduli bahkan. Pada diri mereka sendiri sayangnya. Dibesarkan oleh dalam pola hidup masyarakat industri, kelas ini memiliki tabiat untuk selalu memberi tahu orang lain tentang kebaikan yang mereka lakukan. Sayangnya, ceritanya tidak seutopian film Pay it Forward. Di sini, ketika kita melakukan sesuatu yang bermanfaat, seluruh dunia perlu tahu, bila perlu kita bisa disejajarkan dengan Mario Teguh, karena semua orang dari tua hingga muda ingin menjadi bagian dari perubahan. Karena, kelas menengah kita sangat setia kawan. Ketika temannya ada yang membeli Ipad, ia pun tidak mau ketinggalan.

Kelas menengah kita mungkin hanya ingin diterima apa adanya dan dimengerti. Mungkin, kita harus mencoba mengerti mengapa mereka tidak mengerti peliknya masalah konflik tenurial dan mengapa yang pada akhirnya menderita adalah manusia-manusia yang mereka namakan wong cilik. Wong dari ukuran tubuhnya mereka sama-sama cilik. Mungkin kita juga harus mencoba mengerti mengapa ketika seseorang membeli Ford Fiesta, tergugah keinginan mereka untuk memiliki mobil yang sama, hanya dalam warna yang berbeda.

Biar bagaimanapun, perlu ada penelusuran yang lebih mendalam mengenai fenomena kelas menengah ini. Tesisnya, pasca reformasi Indonesia memang terbuka secara ekonomi untuk kelahiran kelompok-kelompok baru yang mengambil keuntungan surplus modal sosial, kultural dan ekonomi yang selama ini tidak tereksplorasi lantaran rezim yang otoriter.

Persilangan ekonomi pasar, globalisasi dan kebebasan berekspresi, mutlak dalam melahirkan kelas baru yang tidak baru ini. Secara sosiologis, sangatlah menarik untuk mencoba menggambarkan lapis baru dalam tatanan masyarakat Indonesia (urban) pasca reformasi. Secara historis, periode pertumbuhan ini juga sangat menarik untuk didokumentasikan karena majemuknya dampak yang ditimbulkan.

Dari segi pembangunan, dominasi kelas menengah sangat terasa dalam berbagai UU yang sangat membantu kelompok pengusaha. Bisa dikatakan bahwa berbagai saluran pengambilan keputusan, baik yang formal dan tidak, legal dan tidak, sangat dipengaruhi oleh kepentingan kelas menengah. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa kelas menengah belum mempraktikkan good citizenship karena sebagian besar praktik korupsi juga dilandasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat para pengusaha kelas menengah.

Dalam tataran empirik, tidaklah sulit untuk mendeteksi kebohongan-kebohongan kelas menengah. Singkatnya, lihat poin-poin berikut dan pikirkan sendiri apa yang berusaha saya sampaikan:

-       penyumbang kemacetan

-       penjaga malam; midnight shopping

-       pemilik lahan sawit tanpa rasa bersalah

-       pendorong terjadinya konflik tambang

-       pembabat hutan di kalimantan

-       hooligan blackberry

-       pembeli apartemen yang kemudian menyewakannya kembali. Dan ujung-ujungnya beli rumah di suburb

-       penyebab bubble economics

-       FIRE: Finance, Insurance, Real Estate. Semuanya lahan empuk kelas menengah.

-       Di Mal Ambassador ada counter untuk mindahin data untuk ke Iphone, karena banyak yang beli Iphone tapi ngga ngerti gimana cara makenya.

Sifatnya yang hanya membela kepentingan sendiri sudah mengakar terlampau jauh. Bahkan akademisinya sama saja. Jauh dari rakyat, dekat dengan penguasa. Tersebutlah seorang Julian Adrin Pasha atau Daniel Sparringa, prototip terciamik akademisi kelas menengah yang tidak faham tentang peran masyarakat sipil dalam bernegara.

Jadi, biarkanlah mereka berdiri di atas panggung utama Indonesia untuk saat ini. Beri mereka kesempatan untuk mengajar di Indonesia Mengajar, menjadi relawan yang menanam pohon sembari menjadi advokat di konsultan tambang, menjadi pegawai bank sembari mencicil Nissan Juke, berkicau di twitter tentang orang utan sembari menabung di bank Sinarmas. Ngeblog tentang Lapindo dengan modem Aha.

Setidaknya mereka semua mendukung timnas ketika bertanding di GBK. Setidaknya.

 

4 thoughts on “Dosa Kelas Menengah

  1. Haluci

    Ah! Kenapa diriku baru menemukan tulisan tentang "kelas menengah ngehek" yg begitu menendang ini sekarang yah… 
     
    Nice bung fajri ;)

  2. Meicky

     
    Hmm…Cuma org yang otaknya keren yg bisa  di bawah. Well done.
    ______________
    Jadi, biarkanlah mereka berdiri di atas panggung utama Indonesia untuk saat ini. Beri mereka kesempatan untuk mengajar di Indonesia Mengajar, menjadi relawan yang menanam pohon sembari menjadi advokat di konsultan tambang, menjadi pegawai bank sembari mencicil Nissan Juke, berkicau di twitter tentang orang utan sembari menabung di bank Sinarmas. Ngeblog tentang Lapindo dengan modem Aha.
    Setidaknya mereka semua mendukung timnas ketika bertanding di GBK. Setidaknya.
     
     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>