Pemudanya Sama Saja

Belum lama ini kita telah menziarahi Sumpah Pemuda, hari dimana golongan muda sontak menjadi protagonis baru dalam lakon perjalanan bangsa. Pemuda, menjadi harapan semua orang, mulai dari orang tua hingga orang utan, untuk menyemai kehidupan yang lebih baik. Sesuatu yang patut, dan wajar.

Tiada rasa yang lebih nyaman ketimbang diberi kepercayaan oleh mereka yang selama ini tidak bisa dipercaya. Dan kepercayaan ini merupakan modal yang tidak bisa dibeli karena sifatnya yang merupakan pemberian.

Lalu, seperti apakah pemuda kita akan mengolah modal tersebut?

Sayangnya, dengan mengembalikannya kepada mereka yang kita sebut pemilik modal.

Ada yang merasa tersinggung?

Wajar.

Darah muda.

Tidak terima?

Silahkan mengadu di linimasa.

Harian Kompas edisi Selasa, 22 November 2011 memuat artikel yang seharusnya, menohok manusia-manusia yang mengaku sebagai pemuda ini. Judulnya : ‘Kesadaran kritis masyarakat terhadap RUU PT rendah’. Yang dipertaruhkan ? Masa depan pendidikan tinggi, dan sekaligus nasib generasi pemuda/i berikutnya. Yang bersuara? Aktor-aktor tua. Sementara pemudanya sendiri tidak sadar bahwa ancaman terbesar ada di dalam sarang yang selama ini memberinya perlindungan:  kampus.

Satu tahun silam, Inggris membara. Keputusan pemerintah konservatif untuk meniadakan subsidi pendidikan tinggi berujung kekecawaan, dalam bentuknya yang paling nyata: ribuan pemuda tanpa dikomandoi oleh kepentingan politik,  elit-elit kampus ataupun lembaga donor, turun menghirup mesiu dan menatap maut untuk menghindari maut yang lainnya: hilangnya kesempatan mengecap pendidikan tinggi.

Perlawanan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya menjalar, menyiratkan sebuah pesan dan pelajaran: Resistensi itu selalu nyata. Dengan (dan sebaiknya) atau tanpa kekerasan, dirinya harus selalu hadir, maujud, dipertahankan namun juga bersifat rasional. Ketika pemuda inggris menolak kenaikan biaya kuliah, maka pilihan untuk turun dan berdemonstrasi menjadi logika yang diterima oleh semua pihak yang terkena dampak tersebut: pemuda itu sendiri.

Ada sebuah gambar yang terasa begitu kontras tatkala disandingkan: Inggris, yang secara inferior selalu kita sebut negara maju nan demokratis, masih mampu mewarisi pemuda/i yang siap untuk menuntut hak asasinya, dalam bentuk-bentuk yang paling primitif dan non-konformis.

Sementara di sini, dengan rasa percaya diri yang terlalu tinggi akan janji demokratisasi, pemuda seolah terbius buaian status pahlawan muda: manusia teladan era konsumerisme. Benderaku adalah apapun/siapapun yang bisa menambah nilai tambah untuk tiap twit berbayar.  Selamat, Anda adalah contoh sempurna tentang subyek yang terkomodifikasi. 

 

 

 

 

Di bawah langit Indonesia yang selama satu dekade ini menjadi semakin liberal, pemuda tampaknya justru gamang dalam memandang horizon di depan mereka. Singkatnya, horizon itu tidak terbaca lagi. Mungkin karena retina mereka lebih terbiasa menatap layar smartphone.

Katanya, pemuda adalah pewaris sekaligus penantang zamannya. Pemuda kita memang mampu memanfaatkan ICT, tetapi tidak mau (atau tidak bisa) mengakui musuh barunya: rezim korporasi.

Tulisan ini bukan tentang pentingnya sebuah ideologi. Perdebatan itu sudah usang, katanya. Goresan ini hanya tentang pentingnya melihat dunia dengan kedua belah mata, bukan hanya dengan salah satu mata yang bersembunyi di balik bingkai kacamata nan tebal.

Jika saya hanya menggunakan mata kiri, yang terlihat hanya peliknya relasi kuasa dan penguasaan faktor produksi yang terpusat pada satu kelas. Sementara mata sebelah kanan hanya mampu menunjukkan pentingnya emansipasi dan kebebasan individual, yang menuntut peran yang besar bagi pasar untuk mengupayakan peningkatan kesejahteraan dengan menimalkan peran pemerintah.

Sayangnya, saya lebih banyak menemui pemuda yang menangkap realita dengan mata kanan. Pemuda-pemudi FI-FE (Freedom Institute-Fakultas Ekonomi), saya melabelinya, hanya untuk sekedar memudahkan pemetaan. Subyektif memang, tapi buktikan saya salah.

Melihat dunia dengan mata kanan memang lebih menyenangkan.  Perubahan terlihat lebih pasti, dengan banyaknya korporasi yang siap menggelontorkan dana untuk mengadakan konferensi, seminar, sayembara penulisan atau dana reboisasi dan menanam pohon. Biaya perjalanan tiket untuk mengikuti konferensi internasional pun bisa diperoleh. Abstraksi perubahan sosial terjawab sudah, dengan menggandeng tangan (sembari merogoh kantong) ayahanda swasta. Dunia menjadi tidak rumit, dan harum mewangilah namamu dalam memori kolektif Generasi Y dan Z.

Mata kiri juga tidak sempurna.  Di balik perihnya pasir Kulon Progo, atau lumpur Lapindo, kita cenderung lupa bahwa pemerintah hadir untuk turut diajak dalam melakukan emansipasi. Karena, emansipasi kolektif mengandaikan perbaikan nasib semesta, dan bukan hanya kelompok yang tertindas. Emansipasi yang hanya mengandaikan perbaikan dan kepemimpinan satu kelompok, hanyalah emansipasi yang semu.

 

Dengan menggunakan kedua mata, kita akan lebih jernih memandang kasus-kasus yang tidak pernah diangkat oleh Provocative Proactive: Kegagalan desentralisasi di balik pembukaan lahan tambang dan sawit(salut untuk anak muda yang mau menjadi relawan Jatam), urbanisasi dan buruh migran, korporasi dan praktik green wash, atau kebijakan pangan nasional.

Kembali pada contoh kasus RUU PT. Sebenarnya, masih ada beberapa penggiat muda yang mau ambil pusing dengan pendidikan tinggi di Indonesia. Hanya saja, follower mereka di twitter tidak sebanyak para penggiat Obsat. Popularitas individual tidak pernah menjadi tujuan suatu perubahan. Maka, ketika penggiat muda itu sendiri sudah menyebut dirinya sebagai ‘presiden’, maka perubahan apa yang hendak diraih?

Melihat dunia dengan mata manapun adalah pilhan subyektif, yang tentu sangat dipengaruhi oleh latar belakang personal sang pemuda/i. Tetapi, selagi kedua mata masih berfungsi dengan baik, tidak ada salahnya untuk menggunakannya secara lebih seksama. Hanya dengan demikian, pemuda bisa bertindak adil sedari dalam fikiran, dan terutama dalam perbuatan (Pramoedya A.Toer).

Jika tidak, manusia-manusia yang membanggakan dirinya sebagai pemuda, tidaklah berbeda dari mereka yang  dianggap sebagai akar masalah selama ini. 

Sekarang saya haus. Mungkin sekaleng Cola-Cola bisa membantu saya melakukan perubahan. Glekk.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>