Pak Rektor dan si iMac

Ada banyak rumor yang beredar tentang perpustakaan pusat Universitas Indonesia yang sedang dalam tahap penyelesaian pembangunan. Secara resmi, pada hari jumat 13 Mei 2011 (waw, Friday the 13th),  perpustakaan yang hanya memuat 3-5 juta buku ini (bandingkan dengan National Library of China, Beijing: 22 juta, atau Vernadsky National Scientific Library of Ukraine, Kiev dengan 13 juta buku) resmi dibuka.

Dengan semangat pembuktian berbagai rumor tersebut, saya pun mengayunkan langkah menuju mercusuar baru kampus UI.

Di tengah jalan, slogan “green campus, world class campus” pun terngiang-ngiang di benak saya. Dalam hati saya mengingat kata-kata seorang dosen yang memelesetkan istilah world class campus menjadi working class campus, mengingat kondisi para pegawainya yang carut marut. Dosen saya ini adalah mantan guru pak rektor. Terbukti memang, murid gemar kencing berlari.

Syahdan, saya memasuki perpustakaan yang terjanjikan itu. Saya berusaha untuk menjaga fikiran yang terbuka dan tidak asal mencecar tanpa dasar yang jelas. Mudah-mudahan juga tidak ada wangi kopi Starbucks yang menggoda, seperti banyak digunjingkan.  Saya juga berharap bioskop yang ramai dibicarakan itu tidak terwujud. Kalau ada saya batal shalat Jumat deh!

Begitu memasuki perpustakaan dari sisi timur, saya membaca kata-kata yang terukir di kaca dalam bahasa yang tidak saya pahami. Tapi saya yakin artinya pasti bagus. Keren. Secara arsitektur, perpustakaan ini memang patut dapat skor 3-4 dari 5 bintang. Saya hanya bisa mengomentari luas ruangan yang jauh dari kesan sempit. Sepertinya ia dirancang untuk merepresentasikan pikiran mahasiswa yang harus terbentang luas. Mungkin. Saya rasa mahasiswa arsitektur lebih patut berkomentar soal ini.

Konon pula  gedung perpustakaan ini dirancang dengan konsep sustanaible building. Apalagi, sebagian kebutuhan energi menggunakan energi surya. Mudah-mudahan juga pikiran para pengunjungnya bersifat sustainable, alias tidak sekali pakai habis. Amin.

Cita-cita untuk meningkatkan minat membaca mahasiswa memang sudah berhasil, bahkan di hari pertama. Terbukti, saya berhasil mengabadikan mahasiswi yang sedang membaca sebuah ebook berjudul facebook. Ini buku kan yah??

Saya heran dengan nada-nada sinis yang mengatakan orang Indonesia malas membaca. Ha! (maaf,sarkas memang nama belakang saya)

Setelah mengitari beberapa ruangan dan lantai di gedung tersebut, saya nyaris frustrasi mencari seorang pemandu yang menjelaskan pengunjung soal sejarah, lokasi dan fungsi ruangan yang ada. Untungnya, saya berhasil menemukan target operasi saya: komputer iMac! Saya tidak berhasil menghitung jumlahnya satu-per satu, tetapi konon jumlahnya mencapai 500. Banyak? Wah, kan katanya perpustakaan bisa menampung 10.000 pengunjung per hari. Ga sebandiing lah yaa dengan 500 komputer.

Harga sebuah iMac 21 inch seperti yang digunakan di perpustakaan UI adalah Rp 11 juta. Berarti, total biaya yang tertelan ialah 5,5 miliar. Itu hanya 5,5% dari keselurahan anggaran, yakni sekitar 110 miliar. Tidak sedikit memang, tetapi selama itu bisa meningkatkan peringkat UI di Times Higher Education Index, jalan apa pun bisa ditempuh. 500 iMac = World Class Campus. Sepertinya Itulah logika mereka.

Perlu dicatat, I have nothing against Apple. Saya sendiri pengguna Macbook. Poinnya di sini adalah, apakah harus menggunakan iMac? Bukankah komputer sejenis banyak yang lebih murah dan dapat menghemat anggaran? Belum lagi biaya perawatan komputer Mac yang relatif lebih mahal. Menurut saya, penggunaan iMac ini adalah minus besar dari segi efisiensi. Mari berharap bahwa tidak ada yang rusak dalam waktu dekat, mengingat kita (orang Indonesia) punya masalah besar dalam kultur perawatan dan pemeliharaan fasilitas publik.

Nah, yang merawat fasilitas ini siapa nanti? Saya lalu teringat dengan demonstrasi para pegawai UI pekan lalu yang menuntut kejelasan soal status kepegawaian mereka. Ironis. Di saat gedung megah ini bakal berdiri tegak, para pegawai, termasuk para pengajar, bahkan tidak tersentuh persoalan mendasarnya. Mungkin hal ini tidak terhitung dalam indikator kampus terbaik di dunia.

Lalu, apakah gedung yang dilengkapi dengan bioskop dan Starbucks adalah indikasi akan kualitas internasional? Indikator akan jeratan globalisasi dan konsumerisme sih iya. Setahu saya, di berbagai kampus skala global, kampus dengan kultur akademik yang kuat adalah universitas yang mampu menyediakan iklim belajar dan riset yang steril dari segala bentuk komersialisasi dalam kehidupan kampus keseharian.

Juga, di mana peran perpustakaan fakultas jika semua buku diborong ke perpustakaan pusat? Mengapa semuanya sekarang tersentralisasi, bahkan sampai ke urusan administratif yang justru merepotkan kegiatan belajar mengajar di tingkat fakultas?

Setelah sekitar 20 menit berpusing-pusing dalam gedung yang dicanangkan sebagai perpustakaan terbesar di Asia Tenggara, saya memutuskan untuk lanjut shalat Jumat ke MUI yang hanya berjarak satu menit. Dalam 1 menit tersebut, ada 5 poin yang terlintas di benak saya:

  

      

  1. Mudah-mudahan gosip soal Starbucks itu tidak benar

  2. Mudah-mudahan gosip soal bioskop 21 itu tidak benar

  3. Mudah-mudahan gosip soal iuran Rp 300.000,00 itu tidak benar

  4. Mudah-mudahan koleksi bukunya benar-benar mencapai 5 juta (dan lebih), yang berarti koleksi buku baru bertambah, terutama dari segi kualitas.

  5. Tamat riwayatmu jika poin 1-3 ternyata bukan gosi  p

  

Secara arif, kita harus mengakui nilai tambah yang dihasilkan perpustakaan ini. Sewajarnya, gedung ini menjadi motivasi bagi civitas akademika untuk menghasilkan karya dan inovasi yang lebih baik lagi. Ini adalah fasilitas yang harus dimanfaatkan tanpa batas. Sebaliknya, ia juga harus menjadi pengingat bahwa UI memiliki banyak prioritas lain yang selama ini terabaikan. Di balik bayang-bayang gedung ini, nasib UI dan perguruan tinggi lainnya dipertaruhkan melalui RUU Perguruan Tinggi yang akan disahkan tahun ini. Hantu komersialiasi terlihat jelas di dalamnya.

Sadarilah bahwa nasib pendidikan tinggi tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan mercusuar ala UI di bawah rektornya saat ini. Agenda utama pendidikan tinggi bukanlah mengejar peringkat, melainkan memperluas akses yang adil bagi semua lapisan masyarakat dan mendorong kampus sebagai inkubator inovasi dan di tengah masyarakat. Kalau saya ingat lagi masalah penutupun pintu Kutek dan pintu Barel, saya rasa UI malah hanya menjadi inkubator masalah bagi warga di lingkungan sekitar.

Mari berharap perpustakaan ini tidak menjadi simbolilasi dari sebuah menara gading baru. Syukurlah, saya tidak sendirian dengan opini tersebut. Beberapa kawan dari BEM UI membentangkan spanduk di stasiun yang berisikan komentar-komentar ini:

Lalu, apa sebenarnya pelajaran yang bisa kita petik dari pembangunan gedung ini? Bagi saya sangat sederhana namun sangat prinsipil dan dapat menggambarkan karakter dan cara pandang seseorang. Yakni kepekaan, kejelian, dan kepedulian seorang pemimpin. Saya mengakui rektor UI saat ini memiliki visi yang jelas, dan mengetahui di mana ia ingin melihat kampus dan dirinya dalam beberapa tahun ke depan. Tetapi di situ ia perlu menyeimbangkan visi tersebut dengan kepekaan dalam membaca prioritas yang dihadapi secara operasional, dan problem struktural yang menjerat pendidikan tinggi. Sayangnya, beliau tampak hanya sibuk mengurus halaman depan dan mengabaikan kebun belakang. Padahal, dari kebun belakang itulah ia memetik sayur dan buah yang memenuhi kebutuhan pangan sehari-harinya.

Melihat sepak terjang rektor ini, saya jadi ingat seorang presiden di negeri antah berantah yang dicecar oleh rakyatnya karena ketidakpekaan, tetapi disanjung oleh dunia internasional karena sikapnya yang patuh dan penuh hormat. Konon, presiden tersebut yang akan meresmikan perpustakaan ini nantinya. Wah, kebetulan sekali yaaa?

Saya jadi ingat lagi kutipan dosen saya yang mengingat kata-kata pak rektor: “Saya hanya punya dua pilihan: meninggalkan sesuatu untuk UI tetapi dibenci, atau disukai oleh orang-orang tanpa meninggalkan apa-apa.”

Tenang. iMacnya ga bakal dibenci kok Pak.

 

2 thoughts on “Pak Rektor dan si iMac

  1. esotericafra

    Soal iMac:
    Sebenernya klo pake iMac sih enak, nggak ada virus dan nggak perlu sering2 maintenance untuk re-install dan performance-nya lebih stabil. Ini menurut pengalaman saya yah… :p
    Tapi pertanyaan konyol saya adalah:
    1. Emang semua orang familiar sama Mac OS??? No offense loh! Tapi kan pengunjung perpustakaan UI nggak semuanya berstatus A, B dan punya Blackberry plus iPod. Atau mungkin karena pemilihan Mac disesuaikan dengan status UI sebagai world class university yang hanya bisa dimasukin sama orang-orang sekelas produk-produknya Apple? (baca: middle class atau upper class bahkan) Jadi diasumsikan dengan adanya 500 iMac, UI sudah berhasil mencitrakan dirinya sebagai Universitas Kelas SES B ke atas. Atau mungkin si Pak GUmilar sang rektor, fans beratnya Steve Jobs dan pengen diingat sekeren dia? Hmmm…
    2. Dari mana asalnya 500 Mac tersebut??? Saya sih lebih penasaran siapa yang kebagian tender-nya trus gimana transparansi publik pengadaan barangnya. Yang jelas paling nggak dapet bonus iPod touch atau Mac TV lah setidaknya :p

    Soal gedung perpustakaan:
    Ngomong-ngomong soal sustainable building, klo sampai menghabiskan dana ratusan milyar, lagi-lagi patut dipertanyakan juga tuh transparansi anggarannya. Soalnya klo saya baca di majalah2 arsitektur modern, sustainable itu bukan ttg high-cost tapi tentang low-energy.
    Lagipula yang mahasiswa dambakan dari perpustakaan itu simpel kok: mudah diakses, koleksi banyak dan beragam, klasifikasinya rapih, dan ruangan enak untuk baca & kerja kelompok. Tapi klo liat semua anak UI harus ke perpus pusat, kayanya nggak mungkin enjoy deh hunting bukunya…
     
     
     

  2. Pingback: Inilah Hasil Wawancara BMKG Tentang Kebiasaan Mahasiswa di Pagi Hari - anakUI.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>