Hardiknas Minus Inspirasi

Pertama-tama, selamat hari pendidikan nasional. Ucapan tersebut perlu kita sampaikan, mengingat tanggal 2 Mei kita seolah diwajibkan untuk sekali dalam satu tahun menyisakan simpati kita pada pendidikan.  Seperti sebuah ritual, kita digiring ke lapangan upacara, mendengarkan pidato kepala sekolah, guru atau seorang pimpinan dan menundukkan kepala sejenak. Bukan karena termenung atau tertegun, tetapi karena terik matahari yang menjemur kita di siang bolong. Upacara adalah kegiatan yang sebenarnya tidak pernah disukai oleh pesertanya. Tanyakan saja kepada anak-anak. Esensi dan penjiwaan nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah upacara hilang oleh ragam formalitas dan simbol-simbol yang menyederhanakan. Nasib hardiknas pun tidak jauh berbeda. Yang ada mungkin hanyalah sebuah pengulangan.

Memang, mendengar kata hardiknas, saya merasa mendengar sebuah lagu lama yang dinyanyikan ulang, mungkin hanya dengan sebuah aransemen yang sedikit berbeda. Toh bait-baitnya masih menceritakan hal yang sama. Metode pengajaran yang monoton, kurikulum yang tidak menjawab kebutuhan dan persoalan di masyarakat, proses pembelajaran yang hanya dihargai dalam bentuk angka, angka ujian yang bisa dimanipulasi, dan juga anggaran pendidikan yang angkanya bisa dipermainkan. Belum lagi soal birokrasi pendidikan yang dituding penuh politisasi, dan juga politik yang gemar mempermainkan pendidikan. Setiap tahun rasanya kita berkutat dengan hal yang sama.

Pengulangan adalah kegiatan yang membosankan. Ia mematikan rasa penasaran dan ingin tahu, serta ketertarikan kita terhadap sesuatu. Ia menghilangkan minat dan kemauan kita untuk berupaya lebih atas suatu tindakan. Ketika hari yang didedikasikan khusus untuk pendidikan sudah dianggap membosankan, maka ini menjadi alarm yang serius. Karena hari pendidikan nasional bisa jadi justru merupakan hari puncak kejenuhan, keengganan dan keletihan kita terhadap berbagai problem yang mendera pendidikan. Hari yang seharusnya penuh dengan inspirasi ini bisa jadi adalah puncak perayaan frustrasi oleh pihak-pihak yang begitu mencintai pendidikan, tetapi tidak terbalas cintanya.

Maka sangatlah rasional ketika hari pendidikan nasional lebih strategis untuk melakukan demonstrasi dan orasi, ketimbang upacara dan pidato. Pilihan pertama diambil oleh mereka yang gundah, khawatir dan melihat memprediksi nasib pendidikan dalam dua-tiga langkah ke depan. Pilihan kedua diambil oleh mereka yang menampik kenyataan, merasa nyaman bekerja di dalam ilusi atau kebohongan. Pilihan tersebut sangatlah bergantung pada kejujuran kita dalam memandang suatu persoalan. Sebuah hal yang konon diajarkan tatkala kita duduk di bangku sekolah.

Seharusnya, momen hari pendidikan nasional menjadi kesempatan untuk secara terbuka bergulat dan mempertarungkan ide-ide yang bisa menyelamatkan pendidikan kita. Tetapi, karena kita sudah dibiasakan untuk hidup dengan falsafah harmoni, maka perbedaan pun sebaiknya ditiadakan. Satu untuk semua, semua untuk satu, walau kita semakin menjauh dari kebenaran. Semua untuk Ujian Nasional, Ujian Nasional untuk semua, walaupun ia menyalahi kebenaran. Dengan sudut pandang seperti ini, hardiknas tidak menjadi momen bagi kita untuk membuka mata dan mengakui kesalahan yang telah terjadi. Ia tidak memberi kita manfaat yang lebih selain untuk mengingat jasa Ki Hajar Dewantara.

Kata peringatan memang seharusnya kita artikan secara harafiah. Ia harus dilihat sebagai sebuah pertanda bahaya, membuat kita mawas dan eling akan berbagai risiko yang menanti, akan jebakan yang tersembunyi.  Peringatan berarti bahwa kita harus sadar akan sebuah konsekuensi, dan segera mengambil sikap atau keputusan dalam menanggapinya. Dalam hal hardiknas, kita (mereka) haruslah segera mengambil sikap atas segala persoalan di dalam pelaksanaan dan isi pendidikan, mulai dari kesejahteraan guru, pelaksanaan ujian nasional, penyelenggaraan SBI, hingga pada penyelewangan dana BOS. 

Jadikan hardiknas ini sebagai awal dari sebuah kontrak baru, dimana ultimatum untuk memperbaiki kinerja dan profesionalisme, serta dedikasi terhadap hakikat pendidikan diukur melalui hasil kerja nyata dalam satu tahun ke depan, dan akan diukur tepat pada hardiknas berikutnya. Setidaknya, momentum hardiknas menjadi lebih bermakna jika dijadikan sebagai momen pengukuran, momen evaluasi, yang bukan disia-siakan untuk umbar janji.

Jika itu pun masih dirasa sulit, maka cobalah melihat Hardiknas sebagai momen untuk meminta maaf kepada mereka yang sudah terlampau mencintai pendidikan, tetapi tidak dicintai kembali. Yakni guru-guru kita yang belum juga memiliki kejelasan soal statusnya, anak didik kita yang menangis karena UN, dan para orang tua yang tertipu oleh sekolah-sekolah bertarif internasional. Lalu lakukanlah sesuatu, agar hardiknas tahun berikutnya tidak berisikan hal yang sama kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>