Menuju Keunggulan Glokal

 

Di tengah terowongan gelap pendidikan yang seolah tak berujung, muncul cahaya kecil dari Surakarta, tepatnya dari kampus Universitas Sebelas Maret Solo. Cahaya tersebut datang berupa kabar pendirian Institut Javanologi yang bertujuan untuk memberi ruang bagi pengkajian budaya Jawa dan revitalisasi nilai luhurnya.

 Berita ini mungkin tidak terlalu menarik jika dilihat secara sempit, yakni sebatas peningkatan kualitas institusi kampus UNS, atau bahkan secara etnosentris, dengan melihatnya sebagai upaya pengagungan budaya Jawa yang mengesampingkan kajian kebangsaan dan nation building.

 Penglihatan yang lebih seksama dengan sudut pandang yang lebih luas akan melihatnya justru dengan sangat berbeda.

 Saat ini pendidikan nasional dihadapi dengan sebuah krisis identitas. Pernyataan ini didasari polemik konsep sekolah bertaraf internasional baik untuk sekolah negeri dan swasta, standarisasi yang terlalu mengacu pada tolak ukur internasional, dan kebijakan lainnya yang mengerdilkan siswa dan guru, mengekor pihak lain tanpa membangun sebuah rasa percaya diri. Akibatnya, pendidikan nasional menjadi ajang pertaruhan jati diri manusia dan bangsa Indonesia.

Pendirian Institut Javanologi ini kemudian menjadi sebuah oase di tengah gurun pasir. Membangun sebuah pusat kajian yang mendalami kebudayaan dan sejarah peradaban lokal adalah langkah yang sangat strategis untuk menghasilkan sebuah nilai tambah, baik dalam hal produksi pengetahuan maupun sebagai modal untuk menghadapi persaingan global mengingat keberadaan pendidikan yang tidak terlepas dari institusi lain seperti ekonomi, maupun politik.

 Selama ini kita mengartikan globalisasi dan internasionalisasi secara inferior. Segala sumber daya yang kita miliki, alam dan manusia, diolah hanya untuk dapat mengikuti aturan main yang ada. Tetapi kita abai untuk menciptakan sebuah medan permainan sendiri. Globalisasi menjadikan kita sebagai sebuah alat, dan pendidikan menjadi buku panduannya.

 Istilah lain yang kemudian menyertai proses penyeragaman dunia ini adalah “glokal”, perpaduan kata global dan lokal. Sementara glokalisasi, istilah yang digunakan sosiolog kenamaan dari AS, George Ritzer, dimaksudkan untuk menggambarkan penyatuan aspek lokal dengan global dalam sendi-sendi kehidupan. Proses yang ditandai oleh hilangnya segala batas dan jarak di antaranya serta bagaimana segala unit kehidupan, wilayah dan gagasan yang ada di dalamnya menjadi sebuah bagian tak terpisahkan dari kehidupan seluruh umat manusia melalui jejaring teknologi komunikasi, media dan transportasi.

 Kata glokalilasi juga mewakili hilang atau meleburnya identitas suatu masyarakat beserta budayanya ke dalam suatu kebudayaan yang lebih luas, hibrid, atau lebih dominan (cultural hybridization). Hal ini kerap terjadi melalui proses komodifikasi budaya, dimana nilai dan produk budaya suatu masyarakat direka ulang untuk konsumsi masyarakat dunia.

 Keunggulan yang bisa dihasilkan kembali dalam skala luas ini lah yang juga diwakili kata glokalisasi. Globalisasi memaksa tiap negara untuk mencari celah untuk bersaing, untuk menemukan keunggulan komparatifnya. Di dalam pendidikan, persaingan itu terlihat dalam lomba penjaringan mahasiswa dan pembentukan pusat-pusat riset unggulan. Pun universitas yang bersangkutan akan berlomba untuk meraih status World Class University, tidak berbeda jauh dengan adik-adiknya di SMP dan SMA.

Istilah World Class tidak melulu harus diterjemahkan dalam standarisasi, sertifikasi atau pemeringkatan oleh lembaga tertentu. Keunggulan tersebut harus dibangun, dengan mengangkat potensi lokal ke dalam level yang lebih tinggi, ke dalam arena persaingan global. Membangun sebuah pusat kajian unggulan untuk itu memerlukan cara berfikir yang terbalik. Ketimbang berlomba dalam persaingan yang asimetris, dimana modal awal untuk bersaing sudah timpang, maka logikanya adalah memberi nilai tambah pada keunggulan, keunikan dan aset yang tidak dimiliki pihak lain.

Pendirian pusat kajian seperti Institut Javanologi menjadi contoh yang tepat akan pentingnya sebuah sikap dalam menghadapi arus pendidikan internasional yang mendorong penyeragaman proses penyemaian pengetahuan. Ketika perguruan tinggi lain berlomba untuk menyamakan dirinya dengan kampus di belahan negara lain, dengan mengacu pada standar internasional yang ada, maka membangun sebuah identitas yang tidak tertandingi adalah pilihan yang rasional untuk menyamakan derajat. Ketimbang berpacu dalam lomba yang tidak adil akibat regulasi perdagangan bebas, pilihan yang tepat adalah membangun spesialisasi yang mendorong orang untuk datang belajar pada yang bersangkutan. Karena efek langsung dari globalisasi adalah spesialisasi, di mana tiap negara, masyarakat dan komunitas harus memiliki sebuah kekhususan yang membedakan dirinya dengan pihak lain dalam sebuah arena perebutan sumber daya.

Dan Indonesia memiliki potensi berlimpah ruah. Jika UNS berani mendirikan sebuah institut Javanologi, maka tidak ada alasan untuk mengikuti model yang sama. Kalimantan, dapat saja mendirikan pusat kajian Borneo Center, Sulawesi Selatan membangun Institut Pelayaran atau Maluku membangun Pusat Kajian Maritim berdasarkan sejarah dan kebudayan di masing-masing wilayah. Dan Papua membangun Pusat Etnologi Indonesia Timur. Inilah nilai tambah yang tidak mungkin dimiliki bangsa lain.

Gagasan ini semestinya menjadi otak dan jantung dalam meningkatkan pendidikan agar bersaing secara internasional, yakni dengan memberi nilai tambah pada corak dan keunggulan yang sudah dimiliki. Bukan untuk sekedar mengikuti sebuah standar internasional, yang akhirnya hanya menyedot dana pendidikan dan menguntungkan agen wisata atas keharusan melakukan studi banding di luar negeri.  Karena seharusnya, esensi dalam peningkatan kualitas institusi pendidikan ke jenjang global adalah peningkatan rasa percaya diri dengan menonjolkan potensi bangsa, bukan sebaliknya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>