Adythia Utama: A Man For All Occasions

 

Di balik lensa, di depan komputer, di atas panggung, ataupun di meja makan penjaja kuliner ibukota, Adythia Utama adalah sosok yang dapat memberikan sensasi tersendiri dalam berbagai situasi di atas. Ya, anak muda yang satu ini memang membagi bakatnya ke dalam banyak bidang. Film, musik, penulisan and whatnot. Tokoh muda yang banyak menginspirasi sesamanya.

“I’m everything you’re not”, ujarnya mantap, ketika diminta menggambarkan dirinya dalam tiga kata oleh wartawan everlastinggaze. Well, melebihi tiga kata sih, tetapi cukup dahsyat bukan? Yeah, we do think so.  Setidaknya dia tidak sok merendah dengan menyebut dirinya sebagai ordinary man/boy. Kalau semua orang dalam profil facebook mereka mengaku sebagai manusia biasa, maka Adit adalah contoh anak muda dengan kepercayaan diri yang sehat. Dalam hal ini Anda tidak perlu membuang waktu mendengarkan Mario Teguh, tiru saja kawan kita yang satu ini. Penuh imajinasi, ramah dan pemalu adalah kesan pertama yang terpancar dari balik kaca matanya. “Dibeliin nyokap kok”, ungkapnya polos.

Lajang yang menempuh studi perfilman di Institut Kesenian Jakarta ini terbilang giat dalam berkesenian. Selain menggeluti bidang film, utamanya dokumenter, ia juga meramaikan kancah musik lokal dengan dua proyek utamanya : Individual Distortion dan Depriver. Eksperimentasi musik era digital yang tinggal diperhalus di beberapa bagian. Apa sih sebenarnya yang  membuat Adit begitu mencintai musik? “Listen to the beat. If it moves you, it’s good. If not, it ain’t worth shit”, ujarnya dalam bahasa inggris aksen Amerika, yang sontak mengingatkan saya pada pembawa acara Paranoia. Lantas ia menyebutkan nama beberapa musisi favoritnya. Beruntung, beberapa dari mereka ada yang kami kenal sehingga obrolan pun mengalir dengan baik.

Selain musik? Makan!! Adit, yang di kalangan pengguna internet juga banyak dikenal dengan nama disasterhead, adalah pendiri dan pengasuh blog pengulas makanan Jajalable. Janjinya untuk menghadirkan kuliner cult memang berhasil ditepati. Selain sukses mengulas makanan yang variatif, ia juga mengundang berbagai kalangan (utamanya wanita muda) untuk menulis sehingga menu yang ditampilkan tidak monoton. Tidak lupa, karya akhirnya semasa di IKJ juga berhubungan dengan makanan, dan kampung halamannya,  Sumatera Barat. Judulnya: tambuah ciek! Bukti bahwa anak muda metropolitan seperti Adit tidak lupa pada tanah kelahirannya.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, Adit memang tidak menutup diri dan mata terhadap berbagai hal baru. Jika perempuan menutup hatinya terhadap Adit, itu adalah perkara lain. Perkara yang juga enggan dibahas oleh Adit. “No komen.. ”. Mudah-mudahan kami tidak terlalu menyinggung perasaannya.

Memang, ketika ditanya tentang wanita yang sedang dekat dengan dirinya, ia hanya  menjawab, “Tai ah”, sembari membuang muka. Dan tertawa lepas beberapa saat kemudian. Tawa yang menandakan sebuah kebahagiaan terdalam, sekaligus mengakhiri wawancara singkat ini dengan riang. Setelah diam sesaat, dan mendengar suara jangkrik, Adit lantas bangkit berdiri dan berkata: “Laper dah gw. Cari makan yuk. Gw traktir dah.”  sembari mengajak kami mencari gerai Seven Eleven terdekat.

2 thoughts on “Adythia Utama: A Man For All Occasions

  1. disasterhead

    HEH! , KAPAN GUA NRAKTIR LU sama ngomong “Listen to the beat. If it moves you, it’s good. If not, it ain’t worth shit”, TERUS KENAPA FOTONYA YG ITU…. :(

  2. Fajri

    Hahaha, namanya juga wawancara fiktif. Emang pernah gitu gw wawancara elo? 
    Fotonya gw pilih yang kira2 cocok buat profil artis gitu, kayak di majalah Hai ato Esquire..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>