A Reminder

 Young people are trapped in a vicious circle of not being able to effectively bring about social change as they are limited to take on positions as volunteers, interns and community service workers. As a result, development as a profession ranks much lower for young people than joining the private sector or government. Being associated with organizations such as NGO and CSO are considered 'un-cool' by their peers and has negative connotations as organizations that are commonly know as irrationally radical and uncompromising.

Worse still, jobs are badly paid. In Asia, where family influence is still paramount, it is extremely rare for families to encourage their children to join development sector because of the lack of growth opportunities, low pay and little social recognition that if offers. As a result, capable young people become disinterested in pursuing development as a profession."   

(Source: Startup and Change the World; A Guide for Young Social Entrepreneurs.)

Saya menghayati betul pernyataan di atas. Sebagai seorang anak muda yang secara sadar memilih untuk menempuh jalan terjal di sektor non profit, saya hanya bisa mengamini pandangan tentang “trapped in a vicious circle of not being able to effectively bring about social change”. Padahal, mimpi atau dorongan untuk menghasilkan perubahan sosial itulah yang membawa saya ke tempat di mana saya sekarang berpijak.

Apakah, dan adakah, yang sudah berubah?
Banyak.
 
Yang tidak berubah?
Hampir segalanya.

Memilih untuk bekerja di sektor non profit dengan segala pandangan yang disematkan oleh masyarakat, keluarga, teman, dan orang tua, menjadikan ini pekerjaan yang tidak ditakdirkan untuk menjadi mudah. Senyum simpul multitafsir yang sering mereka (masyarakat, keluarga, teman) sunggingkan ketika mengetahui saya bekerja di LSM dan berupaya menjadi seorang ilmuwan sosial adalah bukti yang tidak mungkin tidak terbaca.

Memangnya apa yang mereka tawarkan sebagai resep jitu untuk menjadi manusia sukses?

Lulus.Wisuda.Menganggur.Cari kerja.JobsDB. JobsStreet.JobExpo.Kirim CV. Beli kemeja dan dasi. Potong rambut dan merawat diri.Gunting kuku dan sikat gigi. Wawancara. Gaji pertama. Cicilan motor. Lembur. Lembur. Lembur. Lembur. Lembur. Lembur. Lembur.
Dijodohin.Nabung.Tanam modal di skema investasi MLM. Nabung lagi. Kenaikan gaji. Nunggak pajak. Mengecam masyarakat. Mengumpat pemerintah. Buang sampah di got. Memaki banjir. Nikah. Cari gedung resepsi. Bulan madu di Bali. Pasang kontrasepsi. Kondom bocor, cari nama bayi. Cari KPR. Tawaran di perusahaan multinasional. Gaji naik 200%. Asuransi pendidikan. Mengumpat pemerintah lagi. Memaki kemacetan. Kredit mobil. Gaji babysitter naik. Mengumpat pemerintah. Beli TV 32’ inci. Naik gaji. Nambah anak lagi. Cari guru ngaji.
Anak masuk High Scope, Al Azhar atau Tarki?

Dan sisa umur Anda dipenuhi dengan pertanyaan : Apa yang sudah saya perbuat dalam hidup ini ya? Jawabannya anda temukan pada diri Mario Teguh. Ha!

Lalu apa yang istimewa dari yang jalan saya tempuh ini?

Lulus. Wisuda. Mengumpat pemerintah. Mengumpat pemerintah. Meneliti. Demonstrasi. Mengumpat pemerintah. Mematikan tv pada saat Mario Teguh mulai bicara. Dan jika diberi kesempatan, berdiskusi langsung dengan pemerintah. Setidaknya tidak hanya mengumpat.
Dan sesekali beli beras merah untuk ibu. Sembari berusaha untuk menjadi manusia yang memiliki integritas dengan bersikap jujur atas apa yang ia jalani.

Ada banyak sekali manusia cerdas yang saya ketahui. Namun hanya beberapa yang saya kenal memiliki integritas. Jari saya bahkan tidak berani untuk menghitung jumlahnya. Kesedihan atas kenyataan ini tidak bisa saya tutupi.

Dua tahun sudah berlalu semenjak kelulusan. Dari mereka yang saya kenal, ada yang memilih untuk mengikuti resep manusia sukses, dan ada juga yang mencoba untuk menulis resepnya sendiri. Saya menghargai pilihan semua kawan-kawan saya, dan berharap sebaliknya. Dengan atau tanpa senyum simpul.

Lalu, apakah, dan adakah, yang sudah berubah?
           
Jadilah perubahan tersebut. Pada akhirnya manusia dinilai atas perbuatannya. Bukan atas retorika yang berhasil ia bangun untuk meyakinkan orang di sekelilingnya terhadap apa yang ia miliki.

Yang tidak berubah?

Mimpi yang saya pendam. Dan segala prinsip serta penghayatan yang mengantarkan saya untuk tetap bertahan di jalan ini.

Ada yang berkata bahwa mimpi tersebut terlalu muluk. Namun saya tidak peduli. Toh jika apa yang saya impikan itu bisa terwujud, kebaikannya bukan untuk saya nikmati sendiri.
 
 
Jakarta, 15 Desember 2010 (dua tahun pasca sidang skripsi)
——————————-
Selamat tahun baru. Semoga 2011 akan membawa kita semakin dekat ke mimpi-mimpi yang terpendam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>