Wacana Pendidikan Alternatif Indonesia

 

Tidak ada yang perlu didefinisikan secara baku di bawah istilah pendidikan alternatif. Yang ada sebenarnya hanyalah ekspektasi akan sebuah bentuk pendidikan yang berbeda dari yang kita kenal (pendidikan formal/schooling) pada umumnya.  Secara sosio-historis, pendidikan direduksi fungsi dan maknanya sebagai sebuah bentuk penyekolahan semata, sebagai akibat dari industrialisasi dan modernisasi. Arti pendidikan yang secara luas adalah pembelajaran manusia sebagai upaya terus menerus untuk mengenal diri dan dunianya dalam rangka memerdekakan dirinya sebagai sebuah subyek, direduksi menjadi pembelajaran formal di dalam sekolah, dengan kebutuhan untuk melengkapi diri dengan keahlian formal yang memungkinkan seseorang untuk kemudian ikut serta dalam lapangan kerja.

Selayang Pandang Pendidikan Nasional

Di Indonesia, pendidikan formal menemukan bentuknya pada masa kolonial, didorong oleh politik etis pemerintah kolonial yang sesungguhnya juga dipicu oleh kebutuhan tenaga pribumi administratif terdidik murah (clerk), selain karena desakan dari tokoh-tokoh liberal Belanda pada saat itu. Adapun tokoh lokal/nasional yang dapat dikatakan sebagai perintis pendidikan formal di Indonesia sebelum masa kemerdekaan adalah KH Ahmad Dahlan yang pada 1918 mendirikan sekolah formal Madrasah Muallimin Muhammadiyah sebagai sekolah kader di Yogyakarta, dan juga Ki Hajar Dewantara yang mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1922.


Pasca kemerdekaan dan periode-periode berikutnya, pemerintah Indonesia mencoba membentuk sebuah sistem pendidikan yang komprehensif namun terlalu banyak melewati proses trial and error, dengan keterbatasan infrastruktur dan pengajar yang mumpuni untuk mencetak manusia Indonesia baru. Kritik terbesar yang dialamatkan kepada pemerintah adalah sifatnya yang hanya meneruskan sistem pendidikan warisan kolonialisme, dan tidak pernah mampu merancang bangunan pendidikan yang berpijak pada lokalitas dan kekhasan yang dimiliki masyarakat Indonesia. Nasibnya pun kian diperparah oleh politisasi era Orde Baru, dimana pendidikan dimanfaatkan untuk mempertahankan status quo dan menjadi alat penamanan ideologi tunggal Pancasila serta mengekang wacana pembelajaran alat kritis dan cenderung lebih berat pada pemanfaataan otak kiri.

Rendahnya perhatian pada pembangunan sosial dan alokasi anggaran pendidikan dan sektor publik lainnya, menjadi benih ketidakmerataan pendidikan dan minimnya aksesibilitas. Di sinilah pendidikan alternatif mengambil perannya. Walau akhirnya dipandang sebatas sebagai pendidikan non-formal, pendidikan alternatif muncul dalam ragam bentuk dan pola.

Pendidikan Alternatif di Indonesia

 

Pendidikan alternatif hadir untuk menjawab kebutuhan tertentu, dan juga tujuan-tujuan khusus dari sebuah kelompok masyarakat. Istilah alternatif sekaligus menandakan keterbatasan bahwa ia memang tidak bisa menampung segenap anggota masyarakat/anak yang ada.

Di Indonesia, keberadaan pendidikan alternatif dapat diidentifikasi dalam bentuk-bentuk berikut:

-          taman bacaan

-          sanggar anak

-          sekolah alam

-          home schooling

Sebuah Perbandingan Sederhana: Pendidikan Alternatif Indonesia & AS

Wacana pendidikan alternatif yang berkembang di negara industri maju dan negara berkembang cukup berbeda, dilihat dari latar belakang dan tujuannya:

A. AS : Lahir sebagai akibat dari kegagalan pasar dalam memenuhi kebutuhan khusus à cenderung melahirkan model sekolah swasta alternatif

B. Indonesia (negara berkembang)            : Lahir sebagai akibat dari kebutuhan dan hak warga negara yang tidak terpenuhi, dan kegagalan negara dalam menjalankan fungsi pelayanan publiknya. Kebutuhan akan pendidikan dirasakan oleh semua orang, termasuk kelompok terpinggirkan yang dinafikkan hak atas pendidikannya. Dengan demikian, pendidikan alternatif merupakan jawaban masyarakat sebagai bentuk inisiatif warga negara dalam menyediakan kebutuhan bagi sesamanya. Dukungan komunitas merupakan modal utama untuk menjalankan pembelajaran bersama. Berbagai contoh pendidikan alternatif di Indonesia muncul atas inisiatif satu-dua individu yang tergerak untuk membantu saudara, tetangga atau komunitas di mana ia berkecimpung. Hal ini kemudian dikembangkan lebih lanjut melalui partisipasi bersama dan melahirkan gerakan-gerakan sosial kewirausahaan.

 

Belajar dari Sekolah Romo Mangun dan Sanggar Anak Akar[1]

SD Mangunan di Yogyakarta:

 

 

  • Obsesi Romo Mangunwijaya, yakni pendidikan yang membebaskan nuansa kebebasan untuk menghindari tumbuhnya rasa takut pada anak
  • Program-program pembebasan, di antaranya Kotak Pertanyaan.
  • Setiap hari Senin-Kamis, semua murid di SD Mangunan diwajibkan mencari pertanyaan di luar pelajaran.

Sanggar Anak Akar (Gudang Seng, Jakarta Timur):

  • Metode lebih bersifat dialogis: mengajak anak belajar sambil bermain 
  •  pendekatan emosional yang mengarahkan anak pada hal-hal yang disukainya.
  • Boleh duduk lesehan, tengkurap.
  •  Materi wajib yang harus di ikuti: Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia.
  •   Materi lainnya: Musik, Lukis, Patung dan Kerajinan tangan.

 

Arah Pendidikan: Kembali Ke Komunitas?

Hambatan atau halangan yang dihadapi pendidikan alternatif dalam mengembangkan dirinya adalah problem institutisionalisasi. Problem pertama bersifat internal, yakni kebutuhan akan pelembagaan itu sendiri, dimana pelaku pendidikan alternatif seiring dengan kemajuan lembaga pendidikan yang ia asuh akan dihadapi pada pilihan dan kebutuhan untuk memformalisasi lembaga tersebut. Konsekuensi dari kondisi tersebut adalah keharusan untuk menyertakan unsur-unsur pendidikan formal ke dalam tubuh lembaga pendidikan, seperti kurikulum, tenaga pengajar,  materi pengajaran dan akreditasi. Walau dilandasi dengan semangat kebebasan dan pembebasan, pendidikan alternatif akhirnya dihadapi pada kondisi eksternal berupa modernisasi dan formalisasi dalam masyarakat yang mensyaratkan credentials (ijazah, IPK, rapor) bagi individu untuk mengambil peran serta yang lebih besar di dalam masyarakat.

Inilah problem kedua, yakni kebutuhan yang tidak terpenuhi jika pelaku pendidikan alternatif tetap berdiri di luar ranah pendidikan formal. Sementara struktur pendidikan formal tidak akomodatif, tidak adaptatif terhadap perkembangan pendidikan alternatif.

Pendidikan alternatif dalam taraf tertentu berhasil menantang tatanan sosial yang sudah ajeg, namun sangat terbatas dari lingkup ruang hidup (komunitas,kewilayahan) dan ranah akademis. Di Indonesia, praktik pendidikan alternatif belum dapat dikatakan berhasil menjadi sebuah subkultur pendidikan, atau bahkan sebuah wacana tandingan.

Berkaca dari perdebatan seputar homeschooling, konklusi sementara yang paling konstruktif untuk pendidikan nasional adalah untuk memprioritaskan metode dan materi pelajaran alternatif di dalam pendidikan formal. Tanpa inovasi dan keberanian untuk mendobrak kebuntuan dalam pendidikan formal, pendidikan alternatif selamanya hanya akan menjadi periferi dalam wacana besar pendidikan dan pembangunan nasional.

Referensi:

Buchori, Mochtar. Evolusi Pendidikan di Indonesia. Insist Press. Yogyakarta

Van Scotter, Richard D. et all. Social Foundations of Education. Prentice Hall

Tilaar, H.A.R. Manifesto Pendidikan Nasional. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. 2005.

www.id.wikipedia.org

 


 

 
 

 

[1] Disadur dari beberapa sumber di Internet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>